
Kiana menarik diri dari pelukan Agha untuk melihat wajah suaminya dari dekat. Lalu, wanita cantik itu mengusap wajah tampan suaminya dengan penuh kasih dan cinta. Agha tersenyum lalu ia pun wajah Kiana dengan penuh kasih dan cinta.
Namun, di saat Agha ingin mengecup bibir Kiana, ibu mertuanya langsung berteriak, "Stop! Jangan bermesraan di depan Ibu!"
Agha merangkul bahu Kiana lalu berbalik badan dengan perlahan untuk menatap ibu mertuanya.
"Kenapa tidak boleh, Ibu? Kiana dan Mas Agha sudah menikah"
"Agha belum lulus ujian seratus persen. Ibu masih perlu memberikan beberapa tes pada Agha"
Agha dan Kiana sontak bersitatap dengan wajah penuh tanda tanya.
"Tes? Tertulis apa lisan tesnya, Ibu?" Tanya Agha kemudian.
"Lihat saja nanti. Masih aku pikirkan. Sekarang kalian berdua ikut aku!"
"Ke mana, Ibu?" Tanya Kiana.
"Ke pondok. Ibu pengen mempertemukan kamu dengan seseorang"
Agha dan Kiana kembali bersitatap dan Agha langsung membopong Kiana lalu menyusul terbang saat ia melihat ibu mertuanya telah melesat kencang ke langit luas.
Sementara itu, Agni dan Bora sudah sampai di pondok terlebih dahulu. Jenggot api memberikan air murni pegunungan yang sangat segar dan singkong rebus. Lalu jenggot api pergi lagi untuk berjaga di posnya.
"Wah, tinggal di sini sangat enak. Sejuk, semua makanan tersedia tinggal petik dan tangkap. Lalu, yang paling enak itu, kita tidak perlu memikirkan politik dan masalah duniawi" Ucap Agni.
"Kalau semua masalah kita di atas sana sudah kelar, aku akan ajak kamu tinggal di sini. Mau?"
"Mau, dong. Mau banget" Sahut Agni dengan wajah ceria.
Bora lalu menarik Agni untuk dia peluk dan sambil mengelus lembut bahu Agni dia berkata, "Aku janji akan menepi dan hidup damai di tempat seperti ini bersama kamu nanti kalau semua urusan di atas sudah kelar"
Agni mencium pipi Bora lalu berkata, "Terima kasih. Aku mencintaimu"
__ADS_1
Bora mencium kening Agni dan berkata, "Aku juga mencintaimu"
Agni kemudian menarik diri dari pelukannya Bora lalu bangkit berdiri untuk melihat ke dalam pondok, "Eh, di dalam pondok ada enam kamar dan di tengah ruangan sepertinya ada kakek-kakek tiduran di sana. Siapa Kakek itu? Jangan-jangan Kakek itu..........."
"Iya, benar. Kakek itu Kakeknya Kiana" Sahut ibunya Kiana yang sudah mendaratkan kedua kakinya di belakang Agni.
Bora sontak bangkit berdiri dan membungkukkan badannya. Agni sontak ikut membungkukkan badan dan Kiana sontak berteriak kaget, "Apa?! Apa yang barusan Ibu bilang?"
Agha menurunkan Kiana dengan pelan di atas tanah dan Ibundanya Kiana langsung berkata, "Ikut Ibunda masuk ke dalam. Ibu akan ceritakan semuanya di dalam"
Kiana menoleh ke Agha dan dengan tersenyum penuh cinta Agha berkata, "Masuklah! Aku akan menunggu kamu di sini"
Kiana tersenyum dan berkata, "Baiklah" Lalu, wanita cantik itu bergegas menyusul langkah ibundanya.
Beberapa jam kemudian, Kiana menyentuh tangan kakek yang terbaring di atas dipan yang terletak di tengah ruangan pondok sambil berkata, "Jadi, ini Kakek Kiana. Kiana ternyata masih punya Kakek"
Sementara itu Agha menyuruh Agni dan Bora diam, Lalu, Agha memajukan wajahnya dan berbisik, "Jangan membahas soal Kakeknya Kiana dan jangan bilang ke Kiana kalau Kakeknya Kiana adalah tabib kejam yang pernah menculik aku dan merubahku menjadi naga hitam. Jangan bilang juga ke Kiana kalau tabib kejam itu juga yang telah membunuh Ibunda Ratu, Ibu kandungku. Aku tidak ingin Kiana sedih karena aku. Aku sudah memaafkan Kakeknya"
Agni dan Bora hanya bisa menganggukkan wajah mereka tanda setuju. Agni dan Bora seketika merasa bersyukur seklaigus takjub karena seorang Agha Caraka yang pendendam bisa memaafkan Kakeknya Kiana padahal kakeknya Kiana telah berbuat banyak sekali kejahatan yang tidak bisa ditolerir oleh siapa pun di dunia ini. Namun, berkat cinta, seorang Agha Caraka mampu mentolerir semua kejahatan kakeknya Kiana.
"Baik, Kak" Sahut Agni.
Lalu, Agni berkata, "Kakek Cermin, apa Kakek bisa mengantarkan kamu pulang sekarang tanpa Kak Kiana?"
"Bisa. Tentu saja, bisa" Teriak Kakek cermin dengan suara menggema yang bersahaja.
Kemudian di dalam hitungan detik Agni dan Bora menghilang dari hadapan Agha.
"Ibunda ingin kamu membantu Ibunda menyembuhkan Kakek kamu karena hanya Kakek kamu yang tahu ramuan teratai jingga yang bisa menyembuhkan rabun langka yang ada di dalam tubuh Yang Mulia Kaisar"
"Ibu tahu soal itu?"
"Tahu. Meskipun Ibu tinggal di sini tapi Ibu selalu memantau apa yang terjadi di atas sana lewat kupu-kupu yang Ibu kirim"
__ADS_1
"Kakek kenapa?"
"Dia kena panah emas milik permaisuri. Panah emas itu bisa membunuh kaum setengah dewa dan teman-teman Ibu yang berada di hutan ini. Kau bisa bayangkan kondisi Kakek kamu saat ini. Sekarang sudah mendingan. Waktu Ibu temukan Kakek kamu sebulan yang lalu, kondisinya sangat parah. Untungnya Kakek kamu selalu memakai rompi peraknya. Kalau enggak, Kakek kamu pasti sudah mati"
"Baiklah. Kita harus bergegas mengobati Kakek supaya Yang Mulia Kaisar cepat sembuh dari racun langka"
"Kamu obati Kakek kamu dan Ibu akan bantu kamu mencarikan bahan herbalnya. Ibu sudah menyerah mengobati Kakek kamu. Segala pikiran sudah Ibu kerahkan tapi tetap saja Kakek kamu belum sadarkan diri"
"Baik, Ibu. Tapi ijinkan Kiana menemui Mas Agha sebentar di luar"
"Hmm. Temui dia. Ibu akan siapkan kamar untuk kalian berdua"
"Terima kasih Ibu"
Agha langsung bangkit berdiri dan merentangkan kedua tangannya saat ia melihat Kiana berlari keluar ke arahnya.
Kiana langsung melompat dengan wajah ceria dan memeluk leher Agha sambil berkata dengan nada suara penuh kebahagiaan, "Kakek Kiana masih hidup, Mas. Kiana ternyata masih punya Kakek"
Agha tersenyum dan sambil mengelus rambut indahnya Kiana, Agha berkata penuh dengan ketulusan, "Syukurlah! Aku ikut bahagia kamu bisa bertemu dengan Kakek kandung kamu"
Kiana menarik diri dari pelukannya Agha lalu menggenggam tangan Agha dan menariknya pelan sambil berkata, "Ayo masuk ke dalam, Mas! Aku akan pertemukan Mas dengan Kakek"
Agha hanya bisa tersenyum, menganggukkan kepala dan pasrah saat Kiana menarik tangannya.
Meskipun Agha sudah berkata ikhlas memaafkan tabib kejam yang ternyata adalah kakeknya Kiana, namun seluruh indranya bergetar hebat dan perutnya bergolak kencang saat ia berdiri di depan tabib kejam itu. Tanpa Agha minta tubuhnya gemetar makin lama semakin kencang.
Kiana sontak menoleh ke suami tampannya saat ia merasakan tangan suaminya yang masih ia genggam gemetaran dan semakin lama semakin kencang. "Mas? Mas kenapa? Mas sakit?" Kiana mengusap wajah Agha yang tiba-tiba penuh dengan keringat.
Agha menepis pelan tangan Kiana dari keningnya, lalu menarik tangannya secara perlahan dari genggaman tangan Kiana sambil berkata, "Aku lapar mungkin. Ya, aku mungkin lapar. Makanya tanganku gemetaran seperti ini" Agha meremas tangannya kemudian berusaha untuk tersenyum di depan Kiana.
"Ah, maafkan aku, Mas, saking bahagianya aku bertemu lagi dengan Kakek kandungku, aku lupa menyiapkan makanan untuk Mas. Ayo, kita ke depan lagi, aku akan siapkan makanan dan menemani Mas makan"
Agha menganggukkan kepala dengan cepat dan terus meremas tangannya yang masih saja gemetaran sangat kencang.
__ADS_1
"Mas duduk dulu di bangku. Kiana akan ambilkan makanan. Ah, Kiana rasa itu adalah dapur" Kiana lalu berlari ke pondok yang mirip dapur.
Agha melangkah gontai menuju ke bangku dan saat dirinya sampai di bangku yang ada di depan pondok, Agha duduk lemas dan langsung menarik napas sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya dengan pelan-pelan untuk melepaskan traumanya. Dia tidak ingin Kiana tahu kalau ia masih belum siap jika harus melihat tabib kejam itu. Agha tidak ingin Kiana tahu kalau ternyata Kakek kandungnya itu pria yang sangat kejam.