Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Bertanya-tanya


__ADS_3

Kiana menghentikan langkah lebarnya saat ia melihat bibi Sum duduk di salah satu bangku yang ada di halaman belakang dengan kepala tertunduk dan pundak bergetar.


Agni yang berhasil menyusul Kiana, berdiri di samping Kiana, merangkul bahu Kiana, lalu bertanya, "Kakak lihat apa?"


Kiana menunjuk ke sisi selatan dan berkata, "Bibi Sum sepertinya sedang menangis. Ayo kita dekati" Kiana langsung meraih tangan Agni yang ada di pundaknya, lalu menggenggam tangan itu dan menarik Agni ke sisi selatan taman yang yang ada di halaman belakang kediaman Caraka.


Agni menyentuh pelan pundak bibi Sum dan wanita paruh baya kepercayaan nyonya besar di kediaman Caraka sontak menoleh ke belakang dan segera bangkit berdiri.


Bibi Sum kemudian membungkukkan badan di depan Agni dan Kiana sambil berkata, "Ada titah apa Nona muda dan Nyonya muda ke sini mencari saya?"


"Kenapa Bibi menangis?" Tanya Kiana dengan penuh kelembutan.


Bibi Sum langsung mengajak wajahnya lalu menggelengkan kepala dan sambil mengusap kedua matanya perempuan paruh baya itu berkata, "Saya cuma kelilipan. Saya tidak menangis"


"Mana ada kelilupan bahunya sampai bergetar hebat tadi. Bibi pasti menangis. Ada apa? Katakan saja. Aku dan Kak Kiana mau menolong Bibi" Sahut Agni.


"Iya, Bi. Jangan sungkan. Katakan saja! Saya akan menolong Bibi"


Bibi Sum menatap Kiana dan seketika di dalam hatinya ia merasa menyesal telah bersekongkol dengan junjungannya untuk mencelakai Kiana.


Kiana menyentuh lembut bahu bibi Sum San kembali berkata, "Katakan saja, Bi. Saya akan menolong Bibi"


Akhirnya perempuan paruh baya itu berkata dengan kepala tertunduk, "Anak laki-laki saya satu-satunya tiba-tiba lumpuh. Kakinya lemas dan tidak memiliki daya untuk melangkah. Semua tabib telah menyerah mengobatinya dan saya sudah kehabisan uang sekarang ini karena biaya tabib dan pengobatan sangat mahal dan sekarang ini pengobatan terpaksa saya hentikan karena saya sudah kehabisan uang padahal anak laki-laki saya masih lumpuh"


"Kenapa nggak minta sama Ibu atau Kak Agha?"


Bibi Sum menggelengkan kepala dan berkata, "Nyonya besar dan Yang Mulia Agha sudah banyak memberikan uang ke saya. Saya sungkan kalau harus meminta tolong lagi"


"Sudah berapa lama putra Bibi mengalami lumpuh?"


"Sudah satu bulan ini"


"Saya akan memeriksanya, Bi. Ajak saya ke rumah Bibi"

__ADS_1


Bibi Sum langsung mengangkat wajahnya dan menatap Kiana dengan kaget.


"Aku juga ikut" Sahut Agni dengan senyum lebar. "Aku tahu sedikit pengobatan dan aku rasa aku bisa membantu Kak Kiana"


Kiana menoleh ke Agni dan dengan senyum lebar ia menganggukkan kepala ke Agni sambil berkata, "Baiklah"


"Ta......tapi, kalau Yang Mulia Agha mencari Anda bagaimana, Nyonya muda?"


"Yang Mulia Agha tidak akan mencari saya, Bi. Dia tengah sibuk dengan teman masa kecilnya. Ayo kita pergi sekarang!" Kiana merangkul bahu bibi Sum dan mengajak bibi Sum melangkah pergi menuju ke gerbang depan.


Bora yang tengah memberikan pengarahan ke anak buahnya yang bertugas jaga di gerbang depan malam itu, langsung berteriak, "Tunggu!" Saat ia melihat nona muda dan nyonya muda kediaman Caraka melangkah keluar bersama dengan bibi Sum.


Bora langsung berlari mendekati tiga wanita itu.


Kiana, Agni, dan bibi Sum mengentikan oangkah mereka dan menunggu Bora berhenti di depan mereka.


Bora berhenti di depan Kiana dan langsung bertanya dengan terngah-engah setelah ia berlari kencang, "Anda mau ke mana malam-malam begini Nyonya muda?" Lalu Bora menoleh ke Agni, "Nona muda juga?"


Agni yang menyahut, "Kak Kiana akan pergi ke rumah Bibi Sum untuk mengobati putranya Bibi Sum dan aku akan ikut. Aku bisa sedikit pengobatan dan bisa membantu Kak Kiana dan aku bisa belas diri, aku bisa menjaga Kak Kiana"


"Lebih baik kita kembali ke dalam saja, Nyonya muda" Sahut Bibi Sum.


"Nggak, Bi. Saya harus segera tahu kondisi Putra Bibi" Sahut Kiana.


Iya, lebih baik aku memeriksa pasien dan memakai waktuku malam ini untuk berbuat hal yang berguna daripada aku mengurung diri di kamar sambil membayangkan suamiku tengah berduaan dengan wanita lain. Batin Kiana.


Mendengar ucapan bibi Sum dan Kiana, Agni langsung mendelik ke Bora, "Minggir! Jangan halangi kami. Kalau kamu halangi kami maka aku akan ajak kamu duel dan........"


Bora akhirnya menghela napas.panjang dan berkata, "Baiklah" Sambil mengangkat tangan untuk memanggil semua anak buahnya yang berjaga di gerbang depan.


Bora memerintahkan anak buahnya yang ada di gerbang depan untuk mengawal kereta kuda yang membawa bibi Sum, nyonya muda, dan nona muda, ke rumah bibi Sum.


Setelah anoa buah dan kereta kuda itu pergi meninggalkannya, Bora memanggil anoa buahnya yang lain untuk berjaga di gerbang depan dan ia langsung berlari masuk ke ruang kerja junjungannya untuk memberikan laporan.

__ADS_1


Sementara itu, Maharani merasa kecewa karena Agha menolak membahas taktik perang di kamar pribadinya Agha padahal di sana, Maharani telah mempersiapkan lilin khusus yang jika lilin itu dinyalakan akan mengeluarkan asap dan asap itu mampu membuat pria lupa diri, mabuk kebayang, dan menuntut untuk dipuaskan.


Maharani terpaksa mengikuti Agha ke.ruang kerjanya Agha sambil berkata di dalam hatinya, oke, malam ini boleh gagal. Tapi, aku masih punya banyak malam selanjutnya. Cepat atau lambat Kak Agha akan ditemukan berada di atas ranjang dengan memeluk diriku dengan begitu, mau tidak mau Kak Agha harus menikahiku.


Agha berteriak, "Biarkan pintunya terbuka lebar! Jangan ditutup!"


"Tapi, kita akan membahas taktik perang, Mas. Kenapa tidak tidak ditutup saja pintunya?"


"Tidak ada yang paham soal taktik orang di sini dan Bora sudah menyisir bersih semua orang yang ada di kediaman ini. Tidak ada mata-mata. Jadi, biarkan saja pintunya terbuka lebar!"


Maharani kembali menghela kecewa. Dia ingin menutup rapat pintu itu, merayu Agha dan ia ingin mengajak Agha berciuman dengan dirinya. Namun, rencana keduanya ini pun harus gagal karena kalau pintu ruang kerjanya Agha terbuka lebar akan ada banyak mata melihat aksinya, maka ia yang terkenal anggun dan bermartabat tinggi akan terlihat murahan di mata banyak orang dan dia tidak mau hal itu terjadi.


Akhirnya Maharani membahas taktik perang bersama Agha dari jarak yang cukup jauh karena Agha terus menggeser kakinya kalau Maharani melangkah mendekatinya.


"Mas, kalau membahas taktik perang dari jarak jauh begini, kurang paham nanti"


"Ada tongkat panjang, kan? Kita pakai tongkat ini aja untuk menunjuk papan. Sekarang rilis strategi apa yang kamu sarankan di papan itu!" Perintah Agha.


Maharani kembali menghela napas kecewa dan menulis di papan dengan kesal.


Bora tiba-tiba berhenti di depan Agha dan dengan napas.yanh masih terengah-engah dia memberikan laporan, "Yang Mulia, emm, Nyonya muda, dia......."


"Apa Istri Kak Agha membuat keonaran lagi?" Sahut Maharani dengan lancangnya.


Agha mengabaikan ucapan Maharani dan ia langsung menoleh ke Bora dengan wajah panik, "Ada apa dengan Kiana? Dia ada di kamarmya, kan? Apa dia sakit?" Agha melangkah lebar hendak meninggalkan Bora dan Bora langsung berlari di depan Agha lalu menahan dada Agha sambil berkata, "Nyonya muda dan Nona muda pergi memeriksa putranya bibi Sum. Mereka pergi ke rumah Bibi Sum. Saya sudah menyuruh lima anak buah terbaik saya untuk mengawal mereka.


Agha menghela napas panjang dan berkata, "Biarkan Kiana melakukan yang ia sukai daripada ia mengurung diri di kamar tanpa aku karena aku harus lembur malam ini bersama dengan wanita lain meskipun wanita itu hanyalah teman masa kecilku. Pergilah!"


"Baik, Yang Mulia" Bora langsung pamit dan pergi keluar dari ruang kerjanya Agha.


Agha kemudian duduk terhenyak di bangku dan melamun. Apa Kiana marah sama aku? Apa dia sudah ada rasa sama aku? Kenapa dia menatapku dengan kecewa tadi? Apa dia cemburu? Apa benar dia cemburu tadi? Benak Agha mulai bertanya-tanya.


"Mas, Mas Agha?! Mas, Agha kenapa melamun? Mas Agha!" Maharani berteriak lebih kencang di panggilannya yang terakhir.

__ADS_1


Agha sontak menoleh ke Maharani dan dengan menautkan kedua alisnya jenderal gagah dan sangat tampan itu bertanya, "Sejak kapan kau memanggilku, Mas?"


.


__ADS_2