
"Ti....tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Anda adalah teman saya. Anda tidak mungkin mencintai saya" Kiana kembali melangkah mundur, menatap Adnan dengan sorot mata tidak percaya, dan terus menggelengkan kepala.
"Tapi, itu benar. Aku jatuh cinta padamu sejak kamu menolongku. Sejak kamu membawaku ke kediaman Papa kamu. Dan semakin mencintai kamu saat kita bertemu tidak sengaja di hutan dan kamu masuk ke kereta kudaku. Kau cantik banget saat itu. Bahkan saat tubuh kamu masih penuh ruam, kau cantik. Kecantikan kamu terpancar dari kemurnian hati kamu" Ucap Adnan dengan sorot mata sendu.
"Nggak! Anda tidak boleh mencintai saya. Saya sudah menikah dan maafkan saya kalau saya tidak mencintai Anda, Yang Mulia Putra Mahkota" Kiana terus melangkah mundur sampai punggungnya membentur jeruji besi.
Adnan tersenyum penuh harap, "Cinta akan timbul karena terbiasa. Maka ikutlah denganku, maka aku yakin kalau nanti, lambat laun, kau pasti bisa mencintai aku dan........"
"Jangan Kiana! Jangan ikut orang gila itu. Dia berhati kejam seperti Ibundanya. Jangan ikut dia!" Teriak Ayahandanya Kiana.
"Cepat ambil keputusan! Aku mendengar derap langkah kaki menuju ke sini. Aku yakin itu Ibunda bersama dengan para prajurit" Sahut Adnan.
"Bebaskan dulu Ayahku, Bora, dan Agni!" Kiana menghujamkan tatapan tajam ke Adnan.
"Jangan dekati saya!" Teriak Kiana dengan cepat saat ia melihat Adnan mulai melangkah pelan mendekatinya.
Adnan sontak menghentikan langkahnya lalu menoleh ke anak buahnya, "Bawa Bora, Agni, dan Ayah mertuaku ke tempat yang aman dan kalian tahu di mana itu"
"Baik, Yang Mulia" Sahut kesepuluh pria berbadan tegap dan berbaju serba hitam.
__ADS_1
Salah satu penjaga penjara yang adalah orangnya Adyaksa, langsung melipir dan melesat pergi untuk memberitahukan kabar penting ke pangeran Adyaksa secepatnya.
"Aku bukan Ayah mertua kamu! Camkan itu! Tidak sudi aku punya menantu kejam dan tidak berbudi pekerti seperti kamu!" Teriak tabib Danur.
Kelima anak buahnya Adnan langsung menarik tabib Danur ke belakang penjara sedangkan yang kelima lainnya membawa Bora dan Agni ke arah yang sama.
Tabib Danur berteriak dan terus meronta, "Lepaskan aku! Jangan bawa Putriku! Sial! Kiana! Jangan ikut dengannya! Kau dengar Ayah, Nak! Jangan ikut dengannya!" Tabib Danur tiada hentinya meronta dan berteriak kencang.
Kiana hanya bisa bersitatap pasrah dengan ayahandanya.
Adnan tersenyum lebar ke Kiana, "Bagaimana? Mau aku bopong, aku gendong di punggung, atau aku gandeng tangan kamu?"
Adnan tersenyum lebar dan langsung mengekor langkah kIana dengan hati yang sangat gembira. Akhirnya dia bisa membawa wanita pujaan hatinya pergi bersama dirinya dengan rela hati. Ya, itu pikiran yang ada di benak Adnan, Kiana pergi dengan rela hati.
Aku akan membuatmu bahagia hidup bermasalah, Kiana. Aku nggak akan biarkan kamu sedetik pun menyesali keputusan kamu ini, Cantikku, Kiana-ku. Batin Adnan dengan langkah ringan dan senyum lebar.
Sementara itu Kiana melangkah dengan berdebar-debar. Dia merasa takut dan sangat khawatir. Dia akan pergi bersama dengan pria yang tidak ia kenal. Dia takut akan nasibnya ke depan di dalam cengkeraman pria itu. Dia berharap suaminya datang di saat yang tepat sebelum ia naik ke kereta kuda sang Putra Mahkota.
Namun, sampai pada akhirnya kereta kudanya Putra Mahkota berjalan meninggalkan halaman belakang istana, Agha tidak menampakkan batang hidungnya.
__ADS_1
Permaisuri dan semua anak buahnya terkejut mendapati semua sel telah kosong. Permaisuri sontak berteriak, "Kenapa mereka bisa melarikan diri dari penjara yang super ketat ini?!"
"Putra Mahkota membebaskan Bora, Agni, dan tabib Danur, sementara Non Kiana dibawa pergi sama Putra Mahkota" Sahut salah satu dari penjaga penjara.
"Dasar bocah bodoh!!!!!!" Permaisuri berteriak dengan wajah merah padam penuh amarah.
"Di mana Istriku!" Suara Agha menggema didalam penjara dan Permaisuri menoleh dengan perlahan lalu menyeringai penuh kebencian di depan Agha.
"Katakan! Atau aku tidak segan membunuh kamu!" Agha melotot penuh amarah.
Adyaksa mengumpat kesal saat ia melihat Agha melesat pergi dan pamannya Agha itu langsung mengekor arah terbangnya Agha.
Adyaksa berpapasan dengan anak buahnya yang ia tanam di penjara istana untuk menjaga Kiana, Bora, Agni, dan tabib Danur. Lalu, adik kandungnya kaisar itu melesat ke arah penjara istana dengan kecepatan kilat setelah ia mendengar info dari anak buahnya kalau Kiana dibawa kabur Putra mahkota.
Semoga aku belum terlambat menyuruh Agha menyusul dan menyelamatkan Kiana. Gumam Adyaksa sambil melesat lebih cepat lagi ke penjara istana.
Sementara itu, Bayu melesat ke keberadaan Ibundanya Kiana untuk memberitahukan ke ibundanya Kiana bahwa Kiana dibawa kabur Putra Mahkota ke arah timur.
Semoga semuanya selamat di hari ini. Batin Bayu.
__ADS_1