Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Hukuman


__ADS_3

Di salah satu kamar tamu yang ada di dalam istana megahnya raja Abimantya, Kendra masih belum sadar dari pingsannya meskipun demamnya sudah hilang. Tabib Danur langsung mengompres perut Kendra dengan kain hangat dan mengusapnya sambil menenangkan Kendra, "Kak Kiana sebentar lagi datang, Sayang. Sabar, ya" Karena Kendra, terus memanggil-manggil Kiana.


"Apakah, Mas, ada rahasia lain?" Tanya Kiana dengan sorot mata penuh selidik.


"Nggak ada. Sumpah!" Agha sontak mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas dengan sorot mata serius dan wajah polos tanpa dosa.


Kiana langsung menurunkan tangan Agha dengan lembut dan berkata dengan lembut pula "Mas, jangan mengucapkan kata sumpah sembarangan. Itu nggak baik"


"Aku berkata begitu supaya kamu percaya padaku. Aku nggak punya rahasia lagi" Sahut Agha.


"Nggak usah bersumpah aku sudah bisa melihat kejujuran di mata, Mas, kok" Sahut Kiana dengan senyum bahagia.


"Benarkah? Kamu bisa lihat semuanya hanya dari kedua mataku ini" Agha membeliak kaget.


"Hmm" Kiana tersenyum geli melihat tingkah polos suaminya.


Agha Kemudian menopang dagu dengan dua telapak tangan dan menatap Kiana yang duduk di depannya dengan senyum lebar.


"Mas, apa yang Mas lakukan sekarang?" Kiana mengulum bibir menahan geli.


"Tebak ada apa di mataku sekarang?"


Kiana ikutan menopang dagu dengan du telapak tangan lalu berkata dengan senyum lebar, "Ada kejujuran dan cinta untukku?"


"Wah, tepat sekali" Agha kemudian mengerjapkan mata sebanyak dua kali lalu bertanya kembali, "Sekarang ada apa di dalam mataku?"


Kiana bangkit berdiri dan sontak Agha menegakkan wajahnya dan pandangan matanya mengikuti arah geraknya Kiana.


Langkah kIana berakhir di depan pangkuan Agha, lalu wanita cantik itu duduk di atas pangkuan suaminya.


Agha terkejut tapi langsung membeliak senang dan memeluk erat tubuh ramping istrinya sambil bertanya, "Kamu ingin melihat kedua mataku dari jarak dekat, ya?"


Kiana menggelengkan kepalanya dengan tersipu malu.


Melihat istrinya tersipu malu, Agha sontak mencubit mesra dagu Kiana lalu bertanya, "Apa yang membuat kamu merona malu secantik ini, Sayang?"

__ADS_1


"Aku melihat bola mata, Mas, menggelap. Maaf kalau aku salah, tapi apa benar kalau Mas menginginkan aku saat ini?" Kiana menunduk malu dan Agha langsung menahan dagu Kiana agar dia tetap bisa melihat wajah cantik istrinya yang tengah merona malu.


Agha tersenyum lebar lalu berkata, "O, o, o, aku ketahuan. Aku pantas dihukum Nyonya karena ketahuan menginginkan Anda.


Kiana semakin merona malu dan berkata dengan suara lirih, "Hukuman apa yang Anda inginkan, Tuan?"


"Terserah Nyonya. Aku pasrahkan diriku sepenuhnya pada Nyonya" Agha memajukan dadanya dan berkata dengan wajah memelas.


Kiana langsung menyembunyikan wajahnya yang terasa semakin panas di dada suaminya lalu berkata di sana sambil memainkan jari jemarinya di sana, "Apa saja?"


Agha memeluk erat tubuh ramping istrinya sambil menyahut, "Hmm, apa saja"


Kiana lalu duduk tegak dan menarik lepas syal yang menutupi leher cantiknya. Lalu, Kiana memakai syal itu untuk mengikat tangan suaminya.


Agha membeliak kaget dan langsung bertanya, "Kenapa kau mengikat tanganku, Sayang? Apa yang kau...... hmpppttthhh!"


Kiana langsung membungkam bibir suaminya dengan bibirnya.


Agha menyeringai senang dan bergumam di sela pagutan istri cantiknya, "Wah, kamu penuh kejutan, Sayang. Aku nggak nyangka kamu punya fantasi seliar ini. Aku suka"


Kiana tersenyum di atas bibir suaminya dan berkata, "Ini hukuman untuk Suami tampanku yang suka Semau Gue"


Fakta bahwa dirinya tidak bisa menggerakkan tangan di lekuk seksi dan tonjolan indah istri kecilnya karena kedua tangannya diikat oleh Kiana membuat Agha justru semakin bergairah. Agha semakin frustasi saat ia melihat Kiana menurunkan bibir hingga sampai ke bawah. Agha menunduk dan bertanya, "A......apa yang akan kau lakukan, Sayang?"


"Menghukum Suami tampanku" Kiana berkata dengan nada tegas, namun wajahnya merona imut dan itu membuat Agha mengulum bibir menahan geli lalu berkata, "Oke, hukum aku, Nyonya! Hukum aku lebih kejam lagi, Nyonya!" Agha berkata dengan bibir mewek dan wajah memohon.


"Aku akan menghukum kamu lebih kejam lagi, Tuan" Kiana lalu bermain liar di pusaka sakti kebanggaannya Agha.


Agha sontak menengadah dan bergelinjang sambil berteriak, "Aaaaahhhh! Nyonya! Anda sungguh hebat! Ah, ah, ah, ahhhhhhh!!!!!"


Sementara itu Pak kusir kuda sontak menoleh kaget ke Bora dan langsung bertanya, "Suara apa itu? Yang Mulia Raja kenapa?"


Bora menutupi wajahnya yang memerah karena suara yang ia dengar membuatnya sontak memiliki fantasi liar pada Agni. Bora langsung memalingkan wajahnya sambil menyahut, "Abaikan saja! Yang Mulia Raja sedang berlatih tenaga dalam"


"Oh, Baik Jendral" Sahut Pak Kusir sambil mengarahkan pandangannya kembali ke depan.

__ADS_1


Bora mengusap wajah tampannya dengan kasar dan langsung mengibaskan telapak tangan di depan wajahnya karena tiba-tiba dia merasa kegerahan dan tiba-tiba ingin segera menikah dengan Agni. Pria tampan kekasihnya Agni itu masih duduk membelakangi pak kusir yang sedang bekerja mengendalikan kuda terbaik kerajaan pusat agar kereta kuda termahal di kerajaan pusat bisa berjalan dengan baik dan benar.


Sementara itu, sang pemilik suara yang sudah membuat Bora dan pak kusir merasa resah itu tengah menjulurkan tangannya dan berkata ke istrinya yang sudah memuaskan dirinya di ronde pertama permainan hukum menghukum mereka, "Kau hebat Nyonya"


"Mau aku lepaskan?" Kiana yang masih duduk di atas pangkuannya Agha dan masih berhadapan dengan Agha langsung bertanya, "Mau aku lepaskan ikatannya, Tuan?" Kiana berkata dengan suara terengah-engah.


Agha menganggukan kepalanya dengan mantap.


"Kalau begitu, katakan dulu apakah hukuman saya sangat kejam?" Kiana masih berkata dengan suara yang terengah-engah setelah ia bermain liar di atas pangkuan suaminya.


Agha kembali menganggukkan kepalanya dengan mantap.


Kiana tersenyum bangga. Lalu ia melepaskan ikatan di tangan suaminya.


Begitu tangannya bebas dari ikatan, Agha langsung membopong Kiana ke ranjang sambil berkata, "Aku akan membayar dengan benar hukuman Anda yang sangat kejam tadi, Nyonya, bersiaplah!"


"Aaahhhh! Kenapa lanjut, Mas? Aku capek" Kiana membeliak kaget.


"Aku tidak bisa berhenti Nyonya, Maafkan aku, Nyonya" Agha langsung menyusupkan wajahnya di leher cantik Kiana dan Kiana langsung bergumam, "Ahhhhhh!!!! Bakal remuk redam punggungku"


Agha menyeringai senang di atas leher Kiana.


Pak Kusir menepuk pundak Bora yang masih duduk membelakanginya.


Bora menoleh kaget dan bertanya, "Ada apa?"


"Ada gempa atau kudanya capek, ya, Jenderal? Kenapa kereta kudanya goyang-goyang begini?"


Bora langsung menepuk jidatnya dan berkata, "Udah jalan saja dan abaikan apa yang kamu rasakan!"


"Baik, Jendral" Sahut Pak kusir sambil mengarahkan pandangannya kembali ke depan.


Sementara itu di kereta kudanya Aisyah, Aisyah tengah menunggu kabar dari burung Beo kesayangannya. "Katakan apa yang kau lihat dan kau dengar?" Burung Beo itu Aisyah utus untuk bertengger di kereta kudanya Agha dan Kiana.


Burung Beo itu langsung mengicaukan apa yang dia dengar secara detail. Bahkan burung Beo itu tidak lupa menirukan lenguhannya Agha. Aisyah langsung berteriak, "Cukup! Hentikan!" Sebelum burung Beo kesayangannya meneruskan kicauannya.

__ADS_1


Aisyah langsung mencengkeram belati pemberiannya Agha sambil menggeram, "Kurang ajar kau Kiana. Kau boleh bersenang-senang dengan Agha sementara ini, tapi sebentar lagi kau akan menangis darah karena kehilangan cinta Agha. Aku akan membuat Agha menikahiku lalu aku akan membuat Agha melupakan dirimu setelah Agha menikah denganku, hahahahahaha!"


Saha yang duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja mengendali kuda supaya baik jalannya itu hanya bisa menghela napas panjang dan bergumam, "Semoga sebelum semua rencanamu berhasil, kau sadar akan cintaku padamu Aisyah"


__ADS_2