
Agha, Kiana, Alvin, dan Jenderal Luis, sampai di paviliun utama istana naga. Paviliun utama adalah bangunan paling besar di istana naga dan paviliun itu adalah tempat kesepuluh tetua para naga tinggal.
Agha, Kiana, Alvin, dan Luis, seketika ternganga melihat kesepuluh tetua naga tergeletak di atas lantai dengan mata melotot dan tubuh kejang-kejang sementara itu Sofie berdiri tegak di depan para tetua itu dengan tawa membahana.
Kiana langsung berteriak, "Mas Agha bantu Jenderal Luis untuk menangani Sofie. Aku dan Alvin harus segera menolong para tetua"
Agha dan Luis otomatis saling pandang lalu kedua pria tampan dan gagah itu saling melengos kemudian berlari ke arah yang berlawanan.
Luis menuju ke Sofie dan Agha menghadang tentara bayarannya Sofie dengan dibantu prajurit istana naga yang masih setia pada Alaric dan masih bisa berdiri tegak.
Kiana langsung berlari untuk memasukan pil yang dia buat di bumi beberapa hari yang lalu untuk berjaga-jaga ke dalam mulut semua tetua dengan kecepatan seperti kilat.
Lalu, Alvin memeriksa satu per satu para tetua sambil menusukkan jarum di kening para tetua dengan kecepatan seperti kilat pula.
Lalu, Alvin berdiri di dekat kIana untuk bertanya, "Pil apa yang kau masukkan tadi?"
"Pil buatanku sendiri dan kebetulan aku bikin pas sepuluh butir. Pil itu adalah pil penawar segala racun. Semoga para tetua masih sempat tertolong dengan pil itu" Sahut Kiana.
"Untung ada kau Kiana yang selalu sedia payung sebelum hujan. Aku sudah menahan aliran darah ke titik penting seperti jantung, otak, dan hati. Aku rasa para tetua akan tertolong"
Setelah memukul tengkuk Sofie dan Sofie jatuh pingsan di atas lantai. Luis membantu Agha dan para tentara istana naga melawan tentara bayarannya Sofie.
Dua jam berlalu dan akhirnya pertempuran sengit itu dimenangkan oleh Agha, Luis, dan para tentara istana naga. Sofie dan antek-anteknya yang masih hidup dijebloskan ke dalam penjara. Dan para tetua naga berhasil diloloskan dari jerat maut racun mematikannya Sofie.
Pengadilannya Sofie menunggu para tetua sadar dari tidur panjang mereka.
Setelah menunggu hampir setengah hari, tepat di jam sembilan malam, tetua naga bangun dan mereka langsung memberi perintah, "Segera adili Sofie dan antek-anteknya sekarang juga!"
Sofie dan antek-anteknya kemudian digelandang ke aula pengadilan. Wanita cantik itu diikat di tiang kayu yang kokoh dan Sofie membeliak kaget, "Kau! Kiana! Kenapa kau masih hidup dan raja Alaric, kenapa Anda bisa ada di sini?"
Kiana hanya menghela napas panjang dan Alaric berteriak kesal, "Memangnya aku seharusnya ada di mana, hah?! Tentu saja aku ada di sini untuk mengadili kamu, cih!"
"Apa kabar Sofie? Aku masih sangat mencintai kamu meskipun kamu jahat dan kejam seperti ini" Sahut Luis.
Sofie kemudian menoleh secara perlahan ke arah suara dan seketika wanita cantik itu ternganga dan membeliak kaget.
"Iya, ini aku. Aku Jenderal Luis dan aku adalah suami sah kamu, Sofie. Aku masih hidup. Kau kaget, ya, Sayangku?" Sahut Luis dengan senyum getir.
"Kau! Kenapa kau masih hidup? Kau bukan suamiku! Suamiku adalah raja Alaric! Aku hanya mencintai raja Alaric dan bukan kau!" Teriak Sofie dengan mata melotot dan tubuh meronta-ronta.
"Tapi, aku tidak mencintai kamu!" Teriak Alaric sambil bangkit berdiri. "Pernikahan Alaric dan Sofie tidak sah!" Ucap Alaric sambil berjalan ke depan kursi para tetua.
"Tentu saja sah! Kita menikah sesuai dengan adat istiadat istana naga!" Teriak Sofie.
Agha mengabaikan teriakannya Sofie lalu berkata ke para tetua, "Kenapa saya katakan kalau pernikahan Alaric dengan Sofie tidak sah? Pertama, saya dipaksa menjadi Alaric dan dipaksa menikah dengan Sofie dalam keadaan hilang ingatan bahkan saya diberikan nama dan identitas baru yang harus dengan sangat terpaksa saya terima karena saya tidak ingat siapa diri saya saat itu. Kedua, suami sahnya Sofie masih hidup. Soal pemaksaan identitas baru dan pernikahan para tetua juga bersalah dalam hal ini. Saya sudah pelajari dalam kasus yang saya alami para tetua telah melanggar hukum langit dan seharusnya menerima hukuman dicambuk petir sebanyak satu kali kalau saya laporkan hal ini kaisar langit"
Para tetua langsung tersentak kaget dan ketua dari para tetua itu langsung menyahut, "Jangan laporkan soal ini ke kaisar langit! Katakan apa mau kamu!"
"Saya sudah ingat siapa saya sebenarnya, emm, beberapa hari yang lalu. Namun, saya masih harus menahan diri untuk tetap berperan menjadi Alaric karena Jenderal Luis masih belum pulih benar. Saya adalah Agha Caraka dan saya berasal dari negeri manusia. Saya tidak akan mempermasalahkan soal pemberian identitas paksaan ke saya asalkan saya dan istri saya Kiana diijinkan kembali pulang ke negeri manusia"
Sofie ternganga kaget mendengar ucapannya Alaric, lalu wanita itu langsung berteriak, "Tidak bisa! Kau adalah suamiku! Selamanya adalah suamiku!"
Luis yang menyahut, "Aku adalah suami kamu, Sofie! Camkan itu baik-baik!"
Ketua dari para tetua naga langsung bertanya ke Agha, "Lalu, bagaimana dengan tahta istana naga? Kalau kamu balik ke negeri kamu lalu siapa yang akan menggantikan kamu?"
"Alvin. Tunjuk Alvin menjadi pengganti saya. Dia sangat bijaksana, penyabar, ahli pengobatan, dan dia sudah banyak membantu istana langit ini" Sahut Agha.
Alvin tersentak kaget dan langsung menyahut, "Tidak! Saya tidak pantas menjadi raja dan ........."
__ADS_1
Agha langung melesat ke Alvin untuk menepuk pundak Alvin dan berkata, "Alvin pantas menjadi raja. Dia masih muda, gagah, berhati bersih dan jujur. Dia juga bijak dan sabar. Kalau Alvin butuh bantuan, maka Agha Caraka dengan senang hati akan membantunya. Negeri manusia dan negeri naga bisa bersatu saling bantu"
Ketua dari para tetua naga akhirnya menyetujui permintaannya Agha Caraka.
"Tidak! Kenapa jadi seperti ini? Tidak!!!!!!!" Jerit Sofie.
Keesokan harinya, Agha dan Kiana berpamitan kepada Alvin setelah Alvin dilantik menjadi raja mengantikan Alaric karena sesungguhnya nama Alaric itu tidak ada yang ada itu Agha Caraka.
Alvin memeluk Agha cukup lama dan setelah melepaskan pelukannya Alvin berkata, "Aku tidak akan sungkan menemui kamu kalau aku butuh bantuan kamu"
"Pintu rumahku selalu terbuka untukmu, teman" Sahut Agha.
Alvin kemudian menjabat tangan Kiana sambil berkata, "Terima kasih sudah menjadi teman terbaikku selama ini Kiana"
"Terima kasih juga banyak memberikan aku ilmu baru di bidang pengobatan. Senang memiliki teman seperti kamu, Bun" Sahut Kiana.
Agha lalu menarik tangan Kiana sambil berkata, "Jangan lama-lama jabat tangannya"
Luis menjabat tangan Agha dan berkata, "Aku masih kesal sama kamu tapi aku akan tetap berterima kasih padamu"
"Hmm" Sahut Agha sambil membalas jabat tangannya Luis.
Namun, saat Luis ingin menjabat tangan Kiana, Agha melarangnya.
"Kenapa nggak boleh! Alvin boleh" Sembur Luis dengan wajah kesal.
"Beda. Kamu dan Alvin beda" Sembur Agha dengan tak kalah kesalnya.
Alvin dan Kiana sontak terkekeh geli melihat sikap konyolnya Agha dan Luis.
Akhirnya Luis hanya bisa mengucapkan. terima kasih ke Kiana tanpa berjabat tangan.
Lalu, Agha berubah menjadi naga hitam. Setelah Kiana melompat naik ke punggungnya dan berpegangan erat, Agah melesat ke angkasa luas meninggalkan negeri para naga.
"Iya, Mas!" Sahut Kiana dari atas punggungnya Agha yang tengah tebang dalam wujud naga hitam.
Agha akhirnya menukik lalu mendarat mulus di atas Padang rumput dan setelah Kiana turun dari atas punggung naga hitam jelmaan suaminya, Agha langsung menggoyang-goyangkan kepalanya lalu berubah kembali menjadi sosok laki-laki tampan yang sangat Kiana cintai.
Kiana langsung berlari menubruk suaminya dan Agha tertawa lalu memeluk erat tubuh ramping dan mungil milik istri kecilnya yang sangat cantik.
Agha lalu mengangkat tubuh Kiana dan berputar dengan tawa bahagia sambil berteriak, "Aku mencintaimu, Kiana!!!!!!"
Kiana menyusul berteriak, "Aku juga mencintai kamu, Mas Agha!!!!!"
Agha lalu menghentikan putaran badannya dan menurunkan kaki Kiana yang dibalut sepatu kain dengan sulaman bunga yang sangat cantik di atas rumput.
Agha menunduk dan dengan sorot mata dan senyuman penuh cinta, Agha terus menatap Kiana.
Karena canggung terus ditatap oleh suaminya, Kiana merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan permen karet berbentuk bulat berwarna cokelat. Kiana lalu menempelkan permen karet itu di bibir Agha dan sambil tersenyum perempuan cantik itu berkata, "Daripada menatapku terus lebih baik Mas makan permen karet ini"
Agha merapatkan bibir dan menggelengkan kepala lalu berkata, "Aku tidak suka makan permen karet"
"Ini manis, Mas. Makanlah" Kiana mengetukkan pelan permen karet itu di bibir suaminya.
Agha yang masih tersenyum dan menatap Kiana dengan sorot mata penuh cinta, mengambil permen karet itu dan memasukkan permen itu ke dalam mulutnya Kiana.
Kiana tersentak kaget dan langsung berkata, "Kenapa malah dimasukkan ke mulutku, Mas?"
"Karena aku mau makan permen itu kalau aku mengambilnya dengan sedikit berusaha?" Agha menyeringai jahil.
__ADS_1
"Sedikit berusaha? Apa maksud Mas?" Kiana sontak menautkan kedua alisnya.
"Seperti ini" Agha memagut bibir Kiana, lalu mengetukkan lidahnya di bibir Kiana agar bibir itu merekah indah. Saat bibir ranum itu merekah indah, Lidah Agha menyusup masuk, lalu mencari dan akhirnya berhasil mengambil permen karet dari dalam mulutnya Kiana.
Kiana langsung lemas lututnya mendapatkan serangan sensual dari suaminya.
Setelah permen karet itu berpindah dari dalam mulut Kiana ke dalam mulutnya, Agha menarik bibirnya, menatap Kiana dengan senyum penuh kemenangan, dan berkata sambil mengunyah permen karet itu, "Permen ini rasanya sangat manis"
Kiana menepuk dada suaminya dan dengan rona malu di wajah, perempuan cantik berkulit putih seputih salju itu berkata, "Katanya nggak suka makan permen karet?"
Agha tersenyum menggoda dan berkata, "Aku suka semua yang aku ambil dari dalam mulut kamu"
Kiana langung menyusupkan wajahnya yang terasa panas di dada bidang suaminya dan Agha langsung memeluk tubuh mungil istrinya dengan tawa membahana.
Agha kemudian mendorong pelan kedua bahu Kiana dan berkata, "Kamu tunggu di sini! Aku akan cari kayu bakar"
Kiana menganggukkan kepalanya.
Agha masih ragu untuk melangkah dan meninggalkan Kiana sendirian. Lalu, pria tampan itu berkata Kembali, " Nggak! Kamu ikut aja. Aku nggak tenang meninggalkan kamu sendirian di tempat asing ini"
Kiana langsung mengapit lengan suaminya dan berkata, "Kamu manis banget pas kamu mengkhawatirkan aku seperti ini, Mas"
Agha tersenyum lalu bertanya, "Kau suka?"
"Iya. Aku sangat suka" Kiana lalu berjinjit untuk mencium leher Agha. Perempuan cantik itu menciumi leher Agha sambil berkata, "Kamu juga sangat wangi, Mas"
"Kau suka?" Tanya Agha dengan suara serak menahan gairah.
"Iya. Aku sangat suka" Kiana berkata di atas kulit lehernya Agha dan masih asyik melakukan aktivitas panas menggigit pelan leher Agha lalu mengusapkan bibirnya di bekas gigitannya.
Agha mengerang lalu ia menggendong Kiana dan melesat terbang untuk mencari kayu bakar sambil mengajak Kiana berciuman. Ciuman yang panas dan menggebu-nggebu.
Kiana menggelar selimut di atas tanah. Selimut tipis berukuran sedang dan hanya bisa dipakai alas tidur dua orang itu dia ambil dari dalam buntalan kain yang dia bawa dari istana naga.
Kiana kemudian merebahkan diri di atas selimut itu dan memakai kedua lengannya sebagai bantal.
Agha memilih duduk di depan pohon yang berada tidak jauh dari tempat Kiana menggelar selimut dan merebahkan diri.
Kiana menoleh ke suaminya, "Tidurlah di sebelahku, Mas! Kita melihat bintang sambil rebahan seperti ini"
"Aku tidak mau tidur di atas tanah. Aku punya batasan dan tidak pernah mau tidur di atas tanah" Sahut Agha.
"Sudah aku gelar selimut. Ini tidak tidur di atas tanah tapi di atas selimut" Sahut Kiana.
"Sama aja. Selimut itu tipis. Aku tetap tidak mau tidur di sana" Sahut Agha.
"Bahkan di malam secantik ini, Mas? Di malam penuh bintang begini?" Tanya Kiana.
"Hmm. Aku akan tidur sambil duduk dan bersandar di pohon seperti ini" Sahut Agha.
Kiana lalu mengarahkan pandangannya kembali ke bintang-bintang sambil berkata, "Oh, benarkah? Padahal aku saat ini tengah menikmati indahnya bintang, lalu aku bisa mendengar suara samar air sungai yang bisa meninabobokan kita dan aku mendambakan tubuh kita saling menghangatkan lalu ........."
Grab! Agha yang telah melompat ke selimut langsung memeluk perut rampingnya Kiana dan langsung menatap Kiana dari jarak yang sangat dekat untuk bertanya, "Lalu, apakah aku ada di dalam semua bayangan kamu tadi?"
Kiana mengulum bibir menahan geli melihat suaminya dengan cepat berpindah tempat dan kini memeluknya. Padahal di beberapa menit yang lalu, Agha Caraka benar-benar menolak tidur di atas selimut tipis yang Kiana gelar di atas tanah.
Agha mengecup bibir Kiana lalu dengan senyum dan tatapan penuh cinta, pria tampan dan gagah itu berkata, "Kau sudah banyak mengubahku, Sayang. Kau luar biasa. Kau perempuan yang sangat luar biasa karena kau sudah mampu mengubah Agha Caraka menjadi pribadi yang lebih.........."
Kiana menangkup wajah tampan suaminya dan bertanya, "Lebih apa?"
__ADS_1
Agha menggedikkan kedua bahunya dan dengan masih mengusap lembut pipi Kiana Agha berkata, "Entahlah. Aku tidak bisa menilai diriku sendiri. Kau yang bisa menilaiku"
Kiana mengangkat kepalanya untuk mengecup bibir suaminya lalu dengan senyum cantik ia berkata, "Berubah lebih manis, lebih menggemaskan, dan........ah! Mas Agha!" Kiana tersentak kaget dan refleks menahan tangan Agha yang menyibak roknya Kiana.