Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Bodo Amat!


__ADS_3

Di sebuah kamar VVIP yang besar dan wangi dengan dekorasi feminin nan seksi, Agni dan Bora berdiri mematung. Mereka berdua sama mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar VVIP itu dan terus bersikap waspada.


Agni menoleh tajam ke Bora, "Ada poci tiga poci arak. Jangan diminum! Kita sedang menjalankan misi. Jadi, dilarang minum arak dan mabuk!"


"Baik, Non" Sahut Bora.


Tiba-tiba muncul seorang wanita bertubuh ramping dengan lekuk tubuh bak gitar spanyol dari tirai yang ada di samping kanan Bora dan Agni. Wanita itu tersenyum dan senyumannya mampu menghipnotis pria manapun.


Sial! Dia memang cantik dan anggun. Senyumannya benar-benar mampu memabukkan pria manapun Kecuali Kak Agha. Aku yakin Kak Agha tidak akan tergoda dengan senyuman itu. Lalu, sial! Bora! Agni sontak menoleh tajam ke Bora dan Agni langsung menghela napas lega saat ia melihat Bora tidak terpana dengan senyuman maut wanita penghibur itu.


Bora dan Agni menatap wanita yang berjalan dengan lemah gemulai mendekati mereka. Agni dan Bora mematung dan tidak membalas senyuman maut wanita yang bekerja sebagai primadona di paviliun Arjuna.


"Selamat datang Tuan muda. Kalian berdua sangat tampan. Saya tersanjung terpilih menjadi wanita yang akan melayani Anda berdua. Kita mau duduk dulu untuk minum dan bercengkerama sebentar, atau kita mau langsung ke ranjang dan bermain asyik bertiga" Wanita itu mengerling dengan senyuman menggoda.


Agni refleks menutup kedua mata Bora dengan telapak tangan kanannya dan Bora sontak berteiak, "Nona! Kenapa mata saya ditutup?"


Agni langsung berbisik di telinga Bora, "Dia tersenyum dan kalau dia tersenyum sangat cantik. Aku nggak ingin kamu melihat senyuman wanita itu"


Bora sontak bertanya, "Kenapa?"


"Aku nggak suka kamu melihat senyuman wanita lain, titik!" Bisik Agni dengan kesal dan Bora langsung melukis senyum geli di wajah tampannya.


"Bora? Apa kamu Bora?" Wanita penghibur yang sangat cantik dan anggun itu melangkah lebar dan berhenti di depan Bora dengan jarak yang sangat dekat.


Agni tersentak kaget dan sontak menarik tangannya dari kedua mata Bora, lalu ia mendelik ke wanita itu, "Kau kenal Bora?"


Bora sontak mundur dan bersembunyi di balik punggung Agni sambil berkata, "Aku tidak mengenalnya. Sungguh! Aku tidak mengenalnya!"

__ADS_1


Agni yang terbakar cemburu dan mengira Bora pria hidung belang yang suka bermain di tempat pelesiran, langung menarik tangan Bora dan membanting tubuh Bora ke lantai.


Wanita penghibur yang berdiri di depan Agni dan Bora sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar.


Agni masih memegang tangan Bora dan langsung menekan dada Bora dengan lutut kanan sambil berteriak garang, "Katakan sejujurnya! Kamu pria hidung belang, ya?! Wajah sok polos dan lugu ternyata kamu suka main ke tempat seperti ini"


"A......aku tidak pernah main ke tempat seperti ini. Aku tidak kenal sama dia. Hei! Kenapa kau bisa tahu namaku?" Bora melotot ke wanita penghibur yang berdiri di belakang Agni dengan mulut yang masih ternganga lebar.


Agni terus menarik tangan Bora dan Bora berteriak kesakitan, "Aaaaaa!"


Wanita penghibur itu langsung menutup rapat mujurnya dan segera menyahut sebelum tangan pria itu patah, "Dia tidak pernah datang kemari. Aku tahu namanya karena Bora adalah tetanggaku dulu"


Agni menoleh ke belakang dan langsung melepaskan Bora untuk bangkit berdiri dan menghadap ke wanita penghibur itu.


Bora bangun lalu bangkit berdiri. Bora langsung memegang pundak dan mengayunkan tangan ke segala arah untuk melepaskan rasa pegal dan nyeri.


"Kamu nggak bohong, kan?" Tanya Agni dengan bersedekap.


Bora mengerutkan alisnya dan bertanya dengan masih memijat pundak dan melangkah mundur menjauhi Agni, "Apa kau Seruni?"


"Iya, aku Seruni. Nama Kenanga adalah nama pemberian dari pemilik paviliun ini. Aku senang bisa bertemu lagi denganmu Bora. Aku sekaligus malu sama kamu karena aku berkerja menjadi wanita penghibur"


"Kenapa harus malu? Yang penting kamu bekerja dengan halal dan......." Bora tidak melanjutkan ucapannya saat ia melihat Agni menoel tajam ke arahnya.


Agni kemudian menoleh ke wanita penghibur yang bernama Kenanga, "Jangan berhubungan dengan Bora setelah ini! Aku dan Bora ke sini bukan untuk bermain-main denganmu. Aku kasih uang 10 tael perak dan kamu harus katakan ke aku apakah ada di sini seorang wanita yang kurus dengan tinggi badan seratus enam puluh dan........"


"Ada. Aku rasa wanita yang Anda maksudkan itu adalah Mawar. Dia salah satu primadona di sini. Tepi, dia keluar dari sini beberapa hari yang lalu. Katanya dia harus merawat neneknya di desa" Sahut Kenanga sambil memasukkan Kantong yang berisi sepuluh tael perak

__ADS_1


"Apa kau tahu di mana asal gadis itu dan nama asli gadis itu?"


"Nama aslinya Rara. Dia berasal dari desa embun bening yang ada di selatan hutan hantu" Sahut Kenanga.


Bora tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Bora takut salah ucap dan kembali dibanting oleh nona mudany. Oleh karena itu, Bora membiarkan Agni terus menginterogasi wanita penghibur yang ternyata adalah teman di masa kecilnya dulu.


"Siapa nama nenek dari gadis itu? Apa kau tahu?"


"Nama neneknya, nenek Atma"


"Oke. Terima kasih" Agni langsung melangkah mundur untuk menggenggam tangan Bora dan menarik tangan Bora sambil menoleh ke Kenanga, "Jangan hubungi Bora lagi! Bora adalah pacarku. Kalian hanya bisa berteman di masa kecil dan tidak akan aku biarkan kalian melanjutkan pertemanan kalian di masa kini"


"Baik, Tuan muda"


Bora hanya bisa pasrah melihat Kenanga menatapnya dengan sorot mata aneh.


Kenanga pasti mengira aku pria tidak normal karena menyukai sesama jenis. Sial! Ah! Bodo amat! Lagian aku dan Kenanga, eh, Seruni, nggak akan bertemu lagi. Batin Bora dengan wajah mewek.


"Non! Kenapa bilang ke Kenanga kalau kita berpacaran pas Nona menyamar menjadi pria seperti ini, sih?!" Bora langsung protes saat ia dan Agni telah duduk berhadapan di dalam. kereta kuda.


"Memang kenapa? Apa bedanya? Yang penting dia tahu kamu sudah punya pacar dan ridak akan menggangu kamu ke depannya" Agni berucap dengan santainya.


"Tapi, martabat saya sebagai pria normal ternodai, Non! Dia pasti mengira saya penyuka sesama jenis" Bora masih berani menyemburkan protes.


"Bodo amat! Yang penting kamu aman dari godaan wanita lain, titik!"


Bora hanya bisa menghela napas panjang dan kembali mewek.

__ADS_1


"Kita ke desa Embun Bening sekarang juga"


"Terserah Anda saja, Non" Sahut Bora dengan wajah pasrah.


__ADS_2