
Kiana terkekeh geli melihat wajah cemberut suaminya, lalu ia memagut bibir manyun ciami tampannya yang sangat menggemaskan itu. Agha sontak membeliak senang dan meladeni permainan ciuman istrinya. Lalu, Agha mendorong pelan kedua bahu Kiana kemudian dia bangun karena ia ingin tidur dia atas pangkuannya Kiana.
Kiana menunduk heran dan tersenyum lebar saat ia melihat suaminya mengusap lembut perutnya sambil berkata, "Nak, Ayah harus puasa saat ini. Ayah akan jadi anak baik dan kamu juga harus jadi anak baik, ya?! Jangan bikin Ibu kamu kesusahan. Jangan bikin Ibu kamu ngidam yang berat-berat. Bantu Ibu membuat obat untuk menyembuhkan banyak orang, ya"
Kiana tersenyum lebar dan sambil mengusap lembut pipi suami tampannya, Kiana berkata, "Iya, Ayah. Aku akan jadi anak baik dan nggak akan menyusahkan Ibu"
Agha tersenyum lebar lalu ia mengecup bibir Kiana kemudian mencium perut Kiana yang masih terlihat rata dan berkata di sana, "Ayah sayang banget sama kamu dan Ibu kamu. Kamu sehat-sehat di dalam perut Ibu, ya, kalau pengen apa-apa langsung minta sama Ayah. Ayah akan langsung mencarikannya untuk kamu, oke, Nak?"
Kiana mengusap lembut kepala Agha dan dengan senyum bahagia ia berkata, "Iya, Ayah. Ayah juga harus selalu sehat biar bisa jaga aku dan Ibu, oke, Ayah?"
Agha mendongak dan menatap wajah cantik istri kecilnya lalu berkata dengan wajah serius, "Kamu juga harus sehat. Kamu nggak boleh pingsan lagi kayak tadi!"
"Iya, Maaf, Mas, aku, kan belum tahu kalau aku hamil. Karena sekarang sudah tahu ada buah cinta kita di dalam perutku ini, maka aku akan menjaga baik-baik kesehatanku dan kesehatan anak kita, Mas"
Agha mencium bibir Kiana lalu melepaskannya dengan cepat dan berkata, "Istirahatlah dulu setelah minum vitamin yang Ayah buatkan untuk kamu. Aku akan ke depan dulu menemui Paman Adyaksa"
"Baik, Mas" Sahut Kiana.
Agha melangkah keluar dari dalam kamar dan langsung mendapatkan tatapan khawatir dari Adyaksa, Bora, Agni, dan Ibundanya.
Agha duduk di depan semuanya lalu tersenyum lebar, "Kiana baik-baik saja. Kiana hamil"
__ADS_1
"Waaahhhhh!!!!! Selamat" Sahut semuanya dengan wajah gembira.
Ibundnya Agha langsung bangkit berdiri dan Agha sontak bertanya, "Ibu mau ke mana?"
"Tentu saja menemui menantu cantikku. Aku mau berbagi pengalamanku pas hamil" Sahut ibundnya Agha dengan langkah lebar dan Agni langsung melompat, "Aku juga mau ikut Ibunda. Bentar lagi aku nikah, aku perlu belajar tentang kehamilan juga"
Agah, Bora, dan Adyaksa hanya bisa menghela napas panjang lalu tersenyum geli melihat tingkah dua perempuan itu.
"Paman, bagaimana ini? Kiana hamil dan Langit raja brengsek itu menuntut Kiana datang ke sana dua Minggu lagi" Agha mendengus kesal.
"Tapi, itu demi menghindari peperangan, Yang Mulia. Kalau terjadi perang, kasihan para prajurit dan semua rakyat" Sahut Bora.
"Bora benar. Kiana itu kuat dan cerdas. Lagipula kita ke sana mengantar Kiana. Kiana pasti aman dan Raja Langit tidak akan berani macam-macam sama Kiana" Sahut Adyaksa.
"Kalau Raja Langit tahu Kiana hamil dan Kiana bisa menyembuhkan Neneknya, dia pasti berpikir dua kali untuk nekat mengejar Kiana" Sahut Adyaksa.
"Semoga itu benar" Sahut Agha dengan helaan napas panjang. "Kalau sampai dia nekat ngejar Kiana, maka aku akan......"
"Agha jaga ucapan kamu! Istri sedang hamil suami, tuh, harus jaga ucapannya" Sahut Adyaksa dengan cepat.
"Paman Anda benar, Yang Mulia" Sahut tabib Danur yang muncul tiba-tiba sambil meraba nampan berisi vitaminnya Kiana.
__ADS_1
Agha sontak mengerucutkan bibir dan berucap, "Oke, aku akan jaga ucapanku mulai sekarang dan zzzzzzzzz" Setelah mengucapkan kata itu, Agha yang merasa sangat lelah, akhirnya jatuh ketiduran di atas meja.
Bora dan Adyaksa terkekeh geli. Adyaksa langsung berkata lirih, "Dasar gila! Bisa-bisanya dia jatuh tertidur begitu cepatnya. Di atas meja pula"
Tabib Danur langsung berkata, "Cepat papah Yang Mulia Raja ke kamar! Kasihan beliau kelelahan, tuh. Kok, kalian malah ngetawain beliau"
"Iya, Paman Tabib. Ini juga mau dipapah" Sahut Adyaksa sambil mengulum bibir menahan senyum.
Adyaksa mengajak Bora memapah Agha ke kamar. Lalu, merebahkan Agha di atas kasur saat Kiana tengah meminum vitaminnya.
Setelah mengabiskan vitaminnya, Kiana berkata ke Ayahnya, "Terima kasih Ayah"
"Iya, jaga kesehatan kamu dan calon anak kamu dengan baik" Sahut Tabib Danur.
"Baik, Ayah"
Ibundanya Agha dan Agni langsung bangkit berdiri, "Agha tidur. Kalau begitu Ibu dan Agni keluar dulu. Besok Ibu ke sini lagi untuk menemani kamu"
Agni melambaikan tangan ke Kiana dengan senyum lebar.
"Baik, Ibu" Lalu, Kiana melambaikan tangannya ke Agni dengan senyum lebar pula.
__ADS_1
Setelah semuanya keluar dari dalam kamarnya, Kiana naik ke ranjang, menyelimuti suaminya, dan setelah mengecup pipi suami tampannya, Kiana melangkah keluar dari dalam kamar untuk melanjutkan membuat obat wabah Misterius yang disebabkan oleh gigitan lebah dari kerajaan Padang Pasir.
Kiana menutup pintu kamar tanpa mengeluarkan suara lalu melangkah pelan ke divisi medis kerajaan Pusat. Tanpa Kiana sadari, ada seekor burung yang terus mengikuti dan mengawasinya.