
Putra mahkota Adnan yang menyamar dengan memakai setelan bangsawan biasa, melangkah masuk ke kediamannya tabib Danur setelah pintu gerbang terbuka lebar untuknya.
Komala tertegun melihat ketampanannya pemuda yang berdiri sopan di depan ibundanya.
"Siapa kamu? Dari keluarga bangsawan mana kamu? Kenapa sepagi ini bertamu di kediaman ini?" Ibundanya Komala menatap wajah tampan Adnan penuh selidik.
Syukurlah kumis ini berguna untuk menutupi wajahku. Wanita tua yang jahat ini tidak mengenaliku padahal dulu aku pernah dirawat di sini dan gadis galak itu juga tidak mengenaliku padahal dia dulu pernah bilang suka sama aku. Batin Adnan sambil mengusap pelan kumisnya.
"Saya datang ke sini karena saya ingin bertemu dengan Putri Anda, Kiana. Dia ada, kan?"
"Aku tidak punya Putri yang bernama Kiana. Kalau hanya itu tujuan kamu datang ke sini maka pulanglah!"
"Anda jangan bohong! Saya bisa menuntut Anda bersaksi dusta. Di sini ada anak gadis yang bernama Kiana. Saya tahu jelas soal itu. Jadi, jangan bohongi saya atau saya akan tuntut Anda karena bersaksi dusta"
"Hei! Kenapa kau bilang tuntut menuntut di sini, hah?! Dasar tamu tidak sopan! Pergi!" Teriak Komala dengan mata melotot.
Ibundanya Komala menoleh ke putrinya dan memberikan kode agar putrinya diam. Lalu, wanita berwajah judes itu menoleh ke pemuda berkumis yang masih berdiri di depannya untuk bertanya, "Kenapa kau berani menuntut aku? Dari keluarga bangsawan mana kau dan siapa nama kamu?"
"Saya tidak akan mengatakan dari keluarga bangsawan mana saya datang. Saya juga tidak akan mengatakan siapa nama saya karena saya datang ke sini tidak untuk melamar anak gadis yang ada di keluarga ini Saya cuma ingin bertemu dengan Putri Anda Kiana. Kalau dia tidak ada katakan saja tidak ada. Tidak perlu bersaksi dusta dengan mengatakan kalau Anda tidak memiliki Putri yang bernama Kiana" Adnan menyeringai mengejek.
"Kau!" Ibundanya Komala mengelus dadanya berulangkali dan menatap pemuda berkumis di depannya dengan sorot mata kaget dan penuh amarah.
Komala sontak berteriak karena kesal melihat seringai pemuda berkumis itu,"Kiana sudah menikah dengan Jenderal Agha. Kalau kamu ingin bertemu dengan dia, temui dia di kediamannya Caraka. Ibu aku nggak bersaksi dusta. Kiana hanya Putri tiri. Ibu aku tidak mengandung dan melahirkannya jadi benar, kan, kalau Kiana bukan putri ibu aku"
Adnan berbalik badan dengan cepat saat ia mendengar Kiana sudah menikah dengan Jendera Agha. Adnan mengabaikan ucapan panjang lebarnya adik tirinya Kiana dan melangkah lebar meninggalkan ibu dan anak itu tanpa pamit.
"Hei! Kenapa pergi begitu saja, hah?! Kenapa nggak pamit?!" Teriak Komala kesal.
Ibundanya Komala langsung mencekal lengan putrinya dan berkata, "Sudah biarkan saja ia pergi! Nggak penting juga dia pamit atau tidak"
Sementara itu di dalam istana yang luas dan dibentengi gerbang besi yang tebal dan sangat tinggi, Kaisar yang masih duduk di singgasananya berkata kepada Agha, "Permaisuri mengingnkan perjodohan kamu dan Kesya dilanjutkan. Bagaimana menurut kamu, Agha?"
Kesya langsung berlari ke tengah untuk berdiri di samping Agha dan langsung berkata dengan badan membungkuk di depan Kaisar, "Terima kasih Kaisar. Saya akan menjadi Istri yang baik untuk Jenderal Agha"
Agha masih diam mematung dan pandangannya terus mengarah ke depan.
"Tapi, kamu hanya akan menjadi selirnya Agha. Kau tidak keberatan?"
Kesya menegakkan badannya dan langsung berucap dengan wajah ceria, "Saya tidak keberatan. Saya sangat mencintai Jenderal Agha dan akan melayani Jenderal Agha dengan tulus meskipun saya hanyalah seorang selir nanti"
"Bagaimana denganmu, Agha. Aku akan mengikuti keinginan kamu. Kalau kamu berkata iya maka iya, tapi kalau kamu berkata tidak maka tidak" Kaisar menatap Agha dengan wajah serius.
__ADS_1
Agha langsung bersimpuh dan menempelkan keningnya di lantai marmer istana lalu berkata dengan suara lantang, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya sudah memiliki Istri dan tidak berniat memiliki selir. Lagipula Kesya dulu menolak dijodohkan dengan saya dan memilih pergi. Jadi,.saya rasa Kesya tidak akan bisa tulus menjadi selir saya nanti"
"Kak Agha! Kau!" Kesya mendelik kaget mendengar ucapannya Agha.
Kaisar menghela napas panjang lalu berkata, "Bangunlah Agha"
Agha bangun dan berdiri tegap di depan kaisar.
"Maka tidak. Aku akan katakan ke permaisuri kalau kamu tidak mau menikahi Kesya dengan alasan tadi. Alasan kamu kuat dan aku mendukung keputusan kamu"
Kesya mendelik kaget dan langsung membungkukkan badan di depan singgasana untuk berkata, "Tapi, saya sudah menyesali perbuatan saya. Saya masih sangat muda saat itu dan saya menyadari sekarang kalau saya sangat mencintai Kak Agha dan........."
"Aku sudah memutuskan tidak dan aku tidak bisa menjilat lagi ludahku. Terima keputusanku dan aku akan minta permaisuri menjodohkan kamu dengan pria lain, Kesya! Pergilah Agha dan jemput Istri kamu!"
"Baik, Yang Mulia. Saya permisi" Agha berbalik badan dan pergi meninggalkan kaisar dan Kesya.
Kesya segera menegakkan badan, pamit kepada kaisar dengan sopan, lalu ia berbalik badan dengan cepat untuk menyusul Agha.
Dan di taman bunga yang berada di sayap kiri istana yang dipenuhi dengan tanaman bunga matahari kesukaan permaisuri, permaisuri menghentikan langkahnya di tengah taman dan langsung menyuruh semua dayang dan semua pengawalnya untuk pergi menjauh dari taman.
Kiana langsung menundukkan kepalanya dan terus menundukkan kepala sebelum permaisuri menyuruhnya menegakkan kepala.
Kiana menegakkan kepalanya dan tersentak kaget saat permaisuri berkata, "Kamu sudah menyelamatkan nyawaku. Maka aku akan berikan rumah, sawah, dan satu kotak perhiasan untukmu. Terimalah kotak ini" Permaisuri menyerahkan kotak perhiasan ke Kiana.
Kiana menatap permaisuri dengan wajah penuh tanda tanya.
"Terimalah. Di dalam kotak besar ini ada sertifikat rumah dan sawah atas nama kamu berikut satu set perhiasan"
"Tapi, Anda sudah memberikan hadiah kepada saya berupa pernikahan, kan, Permaisuri? Kenapa ada hadiah lagi?"
"Terimalah dulu ini!" Permaisuri menyodorkan kotak itu ke Kiana dengan memaksa.
Kiana menerima kotak besar itu lalu mendekapnya dan berkata, "Terima kasih, Permaisuri"
"Dengan begini maka aku bisa berkata lugas sama kamu. Aku menikahkan kamu sama Agha karena aku punya misi untuk kamu"
"Misi?"
"Iya. Aku merekrut kamu menjadi mata-mataku dan kamu tidak boleh menolaknya. Kalau kamu menolak maka kamu akan mati beberapa jam lagi"
Kiana sontak diam mematung.
__ADS_1
"Misi pertama kamu adalah ambil gulungan kertas yang ada stempelku dan bakar gulungan kertas itu"
"Ta......tapi, sa........saya tidak bisa melakukannya. Saya belum pernah jadi mata-mata dan saya tidak mau mengkhianati Suami saya"
"Kau tidak takut mati?" Permaisuri mulai melotot.
"Iya. Saya lebih baik mati daripada harus mengkhianati suami saya"
"Bagaimana kalau adik kesayangan kamu yang mati?"
Tubuh Kiana langsung menegang dan ia menatap permaisuri dengan gamang. Lalu, dengan sangat terpaksa Kiana berkata, "Baiklah. Saya akan melaksanakan perintah Anda, Permaisuri dan saya mohon jangan sentuh adik saya"
"Bagus" Permaisuri kemudian melangkah melintasi Kiana dan pergi meninggalkan taman bunga matahari dengan wajah angkuh.
Kiana hanya bisa berdiri mematung, menatap nanar bunga matahari yang tampak tersenyum padanya, dan ia dekap erat-erat kotak besar pemberian Permaisuri yang baru saja ia ketahui ternyata berhati kejam dan jahat.
Kiana kemudian berbalik badan dan melangkah pelan sambil memeluk erat kotak besar pemberian Permaisuri.
Adiknya Kaisar Abinawa yang bernama Adyaksa terkejut saat ia secara tidak sengaja berpapasan dengan teman masa kecilnya. Gadis kecil bernama Kiana yang pernah menyelamatkannya saat ia terpisah dari keluarganya dan tersesat di hutan.
"Hei! Senang bisa bertemu lagi denganmu, Kiana" Pangeran Adyaksa tersenyum lebar ke Kiana.
Kiana mengerutkan dahinya. Dia merasa belum pernah bertemu dengan pria berbusana sutra nan mahal yang tengah tersenyum lebar kepadanya. "Anda siapa?"
"Hei! Kau lupa sama aku, ya? Padahal aku nggak pernah lupa sama kamu. Ini aku Si Pipi Gembul. Anak gemuk yang terus mengikutimu di hutan. Aku waktu itu memanggilmu Kelinci liar dan kau memanggilku pipi gembul. Apa kabarmu Kelinci liar? Kiana nama kamu, kan?"
Kiana langsung melompat ke depan, menepuk bahu pria itu dan dengan tawa ceria ia memekik, "Ternyata kamu! Kamu sekarang tinggi, berbadan tegap, dan pipi gembul kamu......." Kiana dengan santainya berjinjit dan menusuk pipi pangeran Adyaksa dengan jari telunjuk tangan kirinya karena tangan kanannya ia pakai untuk mendekap erat kotak besar pemberian Permaisuri. Seketika pengawal pribadinya pangeran Adyaksa yang berdiri di belakang pangeran Adyaksa maju ke depan dan pangeran Adyaksa langsung mengangkat tangan kanannya agar pengawalnya itu tetap diam di tempat.
Adyaksa kemudian menurunkan tangan kanannya saat ia melihat pengawalnya kembali diam di tempat. Lalu, pangeran Adyaksa menunduk ke Kiana dan bertanya, "Pipi gembulku kenapa?"
Kiana menapakkan kakinya ke rumput dan sambil menarik tangannya dari pipi pria itu, ia berkata, "Pipi Gembul kamu hilang" Kemudian Kiana menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia mengamati busana mahal pria itu, lalu ia mengedarkan pandangannya dan langsung melangkah mundur beberapa langkah ke belakang sambil berkata, "Maafkan saya. Anda siapa? Di sekeliling Anda ada begitu banyak pengawal dan baju Anda sangat halus. Pasti baju itu sangat mahal dan Anda pasti bukan sembarangan orang, kan?"
Pengawal pribadinya Adyaksa bergegas menyahut, "Jangan kurang ajar lagi, Nona! Ini adalah adik Kaisar Abinawa yang bernama Pangeran Adyaksa"
"Hah?!" Kiana sontak melotot kaget. Lalu, ia bergegas menunduk dan berkata, "Maafkan saya, Pangeran Adyaksa. Saya tidak tahu kalau Si Pipi Gembul ternyata adiknya Kaisar" Kiana berkata dengan kepala tertunduk.
Adyaksa yang berumur tiga tahun lebih tua dari Agha mengangkat tangan kanannya lagi dan pengawal pribadinya langsung menundukkan kepala dan diam.
Kemudian Pangeran Adyaksa perjalan perlahan mendekati Kiana. Ketika pangeran Adyaksa memegang kedua bahu Kiana, Kiana terlonjak kaget dan sontak berkata, "Jangan hukum saya, Pangeran! Maafkan saya" Tubuh Kiana mulai gemetar ketakutan.
Adyaksa menghela napas panjang dan berkata, "Ssstttt! Tenanglah! Jangan takut! Aku tidak akan menghukum kamu. Kamu adalah temanku. Angkat kepala kamu dan tatap aku!"
__ADS_1