Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Cincin


__ADS_3

Agha menemukan toko aksesoris yang dia cari. Dia lalu menoleh ke Kiana sambil memberikan dompet kainnya.


Kiana menautkan alisnya dan langung bertanya, "Untuk apa Mas berikan dompet kainnya Mas?"


"Kamu pilih aksesoris yang kamu suka selagi aku melakukan penyelidikan. Ini uangnya. Pakai sesuka kamu" Ujar Agha sambil menarik tangan Kiana, membuka tangan Kiana, lalu meletakkan dompet kain miliknya di atas tangan Kiana.


Kiana menggenggam dompet kain itu dengan helaan napas panjang karena Kiana menginginkan suaminya memilihkan aksesoris untuknya bukan seperti ini, memberikan kantong uang dan menyuruhnya memilih sendiri aksesorisnya.


Agha yang memang tidak pernah berpacaran sebelumnya dan tidak pernah memilih atau membelikan sendiri aksesoris untuk adik dan ibundanya, langsung ngeloyor pergi meninggalkan Kiana bersama dua orang pengawalnya Agha.


Lima belas menit berlalu dan Agha masih tampak mengintrogasi kasir di toko aksesoris tersebut dan Kiana masih bergeming di tempat ia berdiri. Dua orang pengawalnya Agha juga masih berdiri tegak di belakang Kiana dengan sikap penuh kewaspadaan.


Kiana tersenyum senang saat akhirnya ia melihat punggung suaminya bergerak. Agha berbalik badan dan melangkah mendekatinya. Kiana semakin semringah.


Agha ikutan tersenyum melihat senyum lebar di wajah istri kecilnya yang cantik.


Saat Agha berdiri di depan Kiana dengan jarak yang sangat dekat, Agha melihat leher, kedua pergelangan tangan Kiana, lalu bertanya, "Kau belum beli apapun?"


Kiana yang masih tersenyum lebar menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Kau tidak suka dengan koleksi aksesoris di toko ini?"


Kiana kembali menggelengkan kepala dan bibirnya mulai mengerucut sedikit.


"Kenapa? Kenapa bibir kamu tiba-tiba cemberut? Aku melakukan kesalahan? Ah, maafkan aku. Aku terlalu lama menginterogasi kasir itu"


"Bukan soal interogasi, Mas?" Sahut Kiana mulai bersedekap kesal.

__ADS_1


"Lalu?" Agha mulai menautkan alisnya.


Kiana akhirnya menyerah kalah karena suaminya tidak sadar-sadar juga kalau dia ingin suaminya berkata, oke, aku akan pilihkan aksesoris untuk kamu saat Kiana belum membeli aksesoris satu pun. Namun, malah tautan alis suaminya yang ia dapatkan. Kiana menghela napas berat.


Agha menarik kedua alisnya semakin dalam dan kembali bertanya, "Kenapa kau menghela napas seperti itu?"


Kiana akhirnya berkata sambil mengembalikan kantong uang suami tampannya, "Aku ingin Mas yang memilihkan aksesoris untukku"


"Hah?!" Mulut Agha langsung ternganga, tangannya masih terbuka, dan kantong uangnya masih ada di atas tangannya.


"Kok, malah, hah?!" Kiana mendengus kesal.


Kedua pengawalnya Agha langsung mengulum bibir menahan geli.


Agha langung berdeham, menggenggam kantong uangnya dan berkata ke kedua pengawalnya, "Kalian tunggu di luar!"


Agha lalu menatap wajah cantik istrinya untuk berkata, "Aku tidak pernah membeli aksesoris untuk wanita karena aku nggak pernah berpacaran. Lalu, emm, lalu..........." Agha mulai menggaruk rambut cepaknya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


"Lalu, apa, Mas?" Tanya Kiana.


Agha tersenyum canggung dan berkata sambil mengelus tengkuknya, "Aku tidak tahu aksesoris apa yang kamu suka"


"Mas belum pernah pilihkan aksesoris untukku. Sebelumnya Mas menyuruh Bibi Sum membelikan aksesoris untukku" Sahut Kiana.


"Ya, memang biasanya seperti itu. Aku selalu menyuruh Bibi Sum kalau aku ingin kasih Agni atau Ibunda hadiah" Sahut Agha dengan masih mengelus tengkuknya dan berdiri canggung di depan Kiana.


Kiana langsung memutar tubuh Agha, mendorong punggung Agha, dan berkata, "Cari aksesoris yang Mas pikir cocok untuk aku. Aku akan menyukai apapun yang Mas pilihkan untuk aku. Aku akan menunggu Mas di sini"

__ADS_1


Agha seketika melangkah maju dengan pelan sambil mewek. Seorang jenderal besar yang gagah perkasa dan tidak pernah kalah di medan perang kali ini harus menerima kekalahan dengan telak kala ia berhadapan dengan keinginan istrinya.


Butuh waktu cukup lama bagi Agha untuk memilih aksesoris yang tepat untuk Kiana. Meskipun ini adalah pengalaman pertamanya memilih aksesoris sendiri, dia tidak ingin memilihnya secara asal-asalan karena itu untuk wanita yang sangat ia cintai.


Setiap kali berjalan melintasi Kiana yang masih berdiri di tengah persimpangan rak-rak, Agha meringis dan berkata, "Tunggu sebentar lagi! Aku masih mencarinya, hehehehehe" Dan itu merupakan ucapan Agha yang kelima kalinya, namun Kiana masih bersabar dan memberikan anggukkan kepala disertai senyum manis. Kiana tidak mengeluh sedikit pun berdiri cukup lama di persimpangan rak-rak.


Setelah memutari rak selama kurang lebih satu jam, akhirnya Agha menemukan cincin giok berwarna hijau dan ada ukiran naga hitam di cincin itu. Agha memegang cincin giok berukiran naga hitam itu lalu ia memejamkan mata untuk mencoba mengingat ukuran lingkaran jari manis tangan kanan Kiana. Agha kemudian membuka mata, tersenyum sambil memandangi cincin itu, dan bergumam, "Aku rasa cincin ini pas di jari manis tangan kanannya Kiana"


Pramuniaga toko itu langsung berkata ke Agha, "Pilihan Anda sangat bagus. Cincin itu lebih mahal daripada cincin emas dan itu adalah benda langka. Bos kami hanya membuat tiga pasang cincin itu. Arti ukiran naga hitam di cincin itu adalah pemimpin yang bijaksana. Kalau Anda membelinya sepasang, maka akan memberikan arti raja dan ratu bijaksana dan warna hijau di giok artinya akan selalu membawa keberuntungan"


Agha langsung semringah dan berkata, "Oke, aku akan ambil sepasang"


"Ini untuk Istri Anda, kan? Saya melihat kalung pernikahan di leher wanita cantik yang berdiri di tengah tak. Saya langsung tahu kalau dia adalah Istri Anda" Sahut pelayan toko aksesoris itu sambil membawa sepasang cincin giok berukiran naga hitam pilihannya Agha ke meja kasir.


"Iya. Wanita cantik itu adalah Istriku. Istri yang sangat aku cintai" Sahut Agha dengan nada bangga dan raut wajah bahagia.


"Anda beruntung memiliki wanita secantik dan sebaik itu, Tuan" Sahut pelayan toko itu.


"Kenapa kau bisa tahu kalau Istriku baik? Ya, dia memang baik hatinya. Tapi kenapa kau bisa tahu?"


"Dia tadi membantu saya membawa barang masuk ke toko sampai di depan rak. Untuk itulah pas saya lihat Anda memandangi cincin giok ini, saya langsung bilang ke Anda kalau cincin giok ini cocok untuk wanita yang baik hati seperti Istri Anda itu, Tuan" Sahut pelayan toko aksesoris itu.


"Dia memang selalu begitu. Dia suka membantu tanpa berpikir panjang" Sahut Agha dengan wajah bangga dan bahagia sambil menoleh ke Kiana yang masih berdiri di tengah persimpangan rak-rak.


Setelah membayar aksesoris pilihannya, Agha melangkah ke Kiana dengan langkah lebar dan wajah semringah. Agha ridak sabar ingin memamerkan pilihannya dan ingin segera memasangkan cincin giok pilihannya ke jari manis tangan kanan Kiana.


Sementara Kiana menunggu Agha mendekatinya dengan wajah tidak sabar dan senyum penuh cinta.

__ADS_1


Sementara itu, penjaga kasir toko aksesoris tersebut mulai tidak sabar untuk segera menutup toko dan melapor ke bosnya kalau ada orang yang bertanya soal gelang giok warisan keluarga bosnya.


__ADS_2