Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Nggak Boleh!


__ADS_3

"Lalu, pendekar yang kedua apa, Kek?" Tanya Kiana penasaran.


"Iya, kok, cewek yang pertama harus muncul? Kenapa nggak cowok tampan yang duluan muncul?" Sahut Agni.


Bora menoleh kaget ke Agni dan Agni langsung melotot, "Apa lihat-lihat?!"


"Nggak papa, hehehehehe" Bora hanya berani meringis di depan Agni.


Pendekar yang kedua, Jenggot api, pria tampan dan gagah perkasa itu bisa memanjangkan jenggot apinya dan menyapu kalian semua dengan jenggot apinya. Kalian harus berhati-hati"


"Wah, tampan! Lumayan kalau ada yang tampan-tampan" Sahut Agni sambil melirik Bora dan Bora hanya berani menghela napas panjang.


Kiana terkekeh geli melihat kekonyolannya Agni dan Agha langsung bertanya ke kakek cermin, "Pendekar yang ketiga apa, Kek?"


"Pendekar yang ketiga adalah si tongkat emas. Pria tampan ini selalu membawa tongkat emas. Tongkat emas itu kalau disentuhkan ke manusia atau benda apapun, maka benda atau manusia itu akan berubah menjadi patung emas"


"Wah, mengerikan juga, ya?" Sahut Agni.


"Lalu, yang keempat, Kek?" Sahut Bora.


"Yang keempat pendekar wanita dengan rambut ular. Dia licik dan sangat berbahaya seperti ular. rambut ularnya bisa terbang dan berubah menjadi ular-ular berbisa yang siap mematok kalian dan kalian bisa langsung mati terkena patokan ular itu"


"Yang ini yang lebih ngeri" Bora menoleh ke Agni.


"Kalau untuk wanita yang lebih ngeri tetaplah yang bisa merubah kita jadi patung. Karena kita para wanita nggak bisa tahan semenit saja diam mematung seperti patung apalagi harua jadi patung selamanya" Sahut Agni"


"Dasar" Bora mendengus kesal dan Kiana langung terkekeh geli.


Agha lalu bertanya, "Yang terkahir pendekar apa, Kek?"


"Yang terakhir adalah pendekar yang menjaga danau beku. Menjaga teratai Jingga karena teratai Jingga hanya tumbuh sepuluh tahun sekali. Untuk saat ini teratai jingga kebetulan tumbuh tapi masih kecil. Maka Duyung Perak akan mati-matian menjaga teratai jingga itu"


"Lalu, apa kehebatan Duyung Perak si penjaga danau beku itu, Kek?" Tanya Kiana.


"Duyung Perak memiliki air mata dan kalau air matanya jatuh ke tanah, air mata itu akan berubah menjadi bom kecil-kecilan dan kalau dilemparkan ke lawannya, maka lawannya bisa mati terkena bom berdaya cukup besar itu"


"Wah, hebat juga dia" Gumam Agha.


"Dan yang harus kalian ingat, kelima pendekar itu tidak bisa mati karena mereka setengah dewa. Kalian hanya bisa membuat mereka pingsan dan bergerak cepat melangkah maju sebelum lawan kalian sadar kembali"


"Wah, pantes kalau hutan ini dijuluki hutan siluman. Kita bisa nggak keluar dari sini hidup-hidup, Yang Mulia?" Bora mulai mewek.


Agni menepuk bahu Bora, "Jangan menyerah sebelum berjuang! Dasar cengeng!"


"Iya, katakan aja aku cengeng, penakut, atau apalah. Tapi, lawan yang menunggu kita di depan semuanya hebat-hebat dan kata Kakek cermin, mereka hanya bisa dibikin pingsan dan tidak bisa mati. Ngeri, kan? Kita balik aja kalau gitu" Bora langsung balik badan dan kakek cermin langsung menggemakan suaranya, "Kalian tidak bisa balik badan dan keluar dari hutan siluman ini dari tempat kalian masuk tadi"


Bora kembali mengarahkan badannya ke depan dan sambil bertanya dengan suara panik, "Kenapa tidak bisa?"


"Karena begitu kalian masuk para pendekar bisa merasakannya dan mereka langsung memasang kristal di jalan kalian masuk tadi. Kristal tersebut tidak bisa ditembus oleh senjata apapun" Sahut Kakek cermin.


Bora langsung duduk selonjor di tanah dan kembali mewek.


"Meskipun ngeri tapi kita sudah terlanjur masuk dan tidak bisa balik lagi karena pintu masuk sudah ditutup oleh para pendekar saat mereka merasakan ada manusia masuk ke sini. Maka mau tidak mau kita harus terus maju sampai kita bisa keluar dari dalam hutan siluman ini dan menjalankan misi kita dengan baik. Menyelamatkan wanita yang disekap di hutan ini dan mengambil teratai jingga" Ucap Agha sambil mengajak Bora bangkit berdiri kembali.


"Siap!" Sahut Agni dan Kiana secara bersamaan sementara Bora masih mewek


Agha lalu memimpin langkah kIana, Agni, dan Bora. Agha sudah menggenggam sapu tangannya begitu pula dengan Agni, Bora, dan Kiana. Mereka sudah bersiap-siap kalau ada wanita cantik berdiri di depan mereka dengan cahaya kuning yang menyilaukan mata, maka Kiana, Agni, dan Bora harus bersembunyi dan menutup mata mereka sementara Agha menutup mata dan bersiap melawan wanita cantik yang memiliki sinar menyilaukan mata dan konon sinar itu bisa membuat orang menjadi buta.

__ADS_1


Cling! Tiba-tiba muncul sinar kuning yang sangat menyilaukan mata di depan mereka. Agha langsung menutup matanya dengan sapu tangannya sambil berteriak, "Kalian bertiga lekas sembunyi!"


Kiana, Bora dan Agni serentak menjawab, "Baik!"


Sementara itu, kakek Karyana dan cucunya si penipu itu menghadap ke putra mahkota untuk melaporkan hasil kerja mereka yang berakhir cukup baik.


Putra mahkota langsung berkata, "Bagus!" Dengan senyum lebar lalu ia bangkit berdiri karena ia ingin segera pergi ke kediaman Caraka untuk menemui wanita pujaan hatinya.


Di kediaman Caraka, ibundanya Agha menghela napas panjang saat ia menemukan surat dari Kiana dan Agni yang memberitahukan kalau Kiana dan Agni pergi ke hutan sebentar untuk mencari bahan herbal. Ibundanya Agha langung berdoa, Dewa lindungi kedua putriku dan pimpin langkah mereka sampai pulang lagi ke sini dengan selamat.


Dan di dalam hutan siluman, Agha tengah mati-matian melawan Pendekar pertama yang menguasai hutan siluman. Agha berhasil menendang sekali perut lawannya, namun Agha terkena pukulan di wajah tampannya sebanyak tiga kali.


Agha semakin menggila karena dia tersinggung ada seorang wanita yang berani kurang ajar menampar wajahnya sebanyak tiga kali. Namun, dengan gerakan menggila, justru membuat terkena pukulan pukulan bertubi-tubi di tangannya dan terkna pukulan telak sebanyak dua kali di dada kiri dan perutnya.


Agha melesat ke belakang lalu ia terjatuh di atas tanah. Agha bergegas bangkit berdiri dengan susah payah karena perutnya terasa nyeri. Agha berusaha berdiri tegak kembali sambil mengusap darah segar yang keluar dari dalam mulutnya.


"Kau tidak akan bisa mengalahkan aku dengan mata tertutup, wahai pria tampan! Buka mata kamu dan lawan aku sebelum kamu mati dengan mata tertutup seperti itu" Teriak pendekar wanita itu.


"Sial! Dia tangguh juga" Agha kemudian bergumam, "Ternyata gerakanku yang ngawur dan membabi buta seperti tadi tidak bisa mengalahkannya. Aku justru jadi sasaran empuk tinjunya. Sepertinya aku harus lebih tenang. Ya, aku rasa caraku kali ini akan bisa mengalahkannya" Agha bergegas duduk bersila, berdiam diri dan mengosongkan pikirannya. Dia berniat melawan Pendekar Menteri Kuning dengan ilmu Tai Chi. Memusatkan pikiran di ketenangan batin agar dia bisa lebih fokus merasakan pergerakan lawannya meskipun dia tidak bisa melihat lawannya.


Pendekar Mentari Kuning tertawa mengejek, "Kau berdiri dan bergerak seperti tadi saja kau hampir kalah, hampir mati, hai, pemuda tampan! Apalagi kau duduk bersila seperti itu, cih! Kau memang ingin bunuh diri dengan cara seperti itu ternyata"


Agha diam membisu dan terus mengarahkan telapak tangannya ke depan dengan ketenangan batin dan Agha tampak rileks. Agha mengabaikan semua ucapan wanita itu.


"Begini saja, Tampan. Aku menyukai kamu. Baru kali ini ada anak manusia memasuki hutan ini dan dia sangat tampan. Aku menyukai kamu di awal aku melihatmu tadi. Aku masih perawan, jomblo, dan umurku masih dua puluh tahun. Aku tidak bisa menua dan tidak bisa mati. Kalau kau menikah denganku, maka kau akan menikmati pesonaku sesuka hati kamu dan aku akan memaafkan kamu dan aku juga akan memaafkan ketiga temanmu yang tengah bersembunyi itu. Aku akan mengembalikan temanmu ke rumah mereka. Tapi kau harus menetap di sini selamanya untuk menjadi teman hidupku, selamanya! Hahahaha! Bagiamana?" Pendekar Mentari kuning itu kemudian melesat mendekati Agha, berjongkok pelan, lalu mengelus pipi Agha. Agha langsung memutar tangan pendekar wanita itu dan berhasil mendaratkan tapak tangannya ke ulu hati pendekar wanita itu.


Pendekar Menteri kuning sontak memekik kesakitan saat dia terjengkang beberapa langkah ke belakang.


"Darimana dia mendapatkan kekuatan sebesar itu? Padahal dia hanya duduk bersila seperti itu" Pendekar Mentari Kuning memuntahkan darah segar lalu ia berteriak kencang, "Berani benar kau membuatku mengeluarkan darah, hah?!"


Agha tetap bergeming dan kembali memusatkan telapak tangan kanannya ke depan.


Pendekar wanita itu sontak berteriak sangat kencang dan bergelinjang kesakitan seperti terkena sengatan listrik ribuan volt setelah itu terdengar bunyi gedebuk cukup keras. Pendekar wanita itu jatuh ke tanah dan tidak sadarkan diri.


Agha melepas penutup matanya lalu bangkit berdiri saat ia melihat lawannya sudah kalah dan tak sadarkan diri. Cahaya kuning menyilaukan yang mengelilingi tubuh pendekar wanita itu telah lenyap dan Agha bisa melihat dengan jelas tampang wanita itu. "Lumayan muda dan cantik. Tapi masih belum bisa mengalahkan kecantikan Istriku. Berani-beraninya dia meminta aku menikahinya, cih!"


"Keluarlah kalian semua! Buka penutup mata kalian dan kemarilah!" Teriak Agha.


Kiana, Bora, dan Agni kemudian berlari keluar dari tempat persembunyian mereka menuju ke tempat Agha berdiri.


"Wah, dia can........." Bora menghentikan ucapannya saat ia melihat Agni tengah meliriknya tajam.


"Dia sangat cantik" Sahut Kiana.


Agha merangkul bahu Kiana dan bertanya, "Kau dengar apa yang dia katakan pas dia melawanku tadi?"


"Tidak. Aku, Agni dan Bora bersembunyi cukup jauh tadi. Kami tidak bisa melihat dan tidak mendengar apapun"


"Baguslah kalau begitu" Sahut Agha. Laki-laki itu bersyukur selamat dari serangan kecemburuan istrinya.


"Pantas saja banyak pria menjadi buta setiap kali menatapnya. Dia sangat cantik sehingga membuat banyak pria enggan mengajukan pandangan mereka tapi sayangnya ia memiliki cahaya yang bisa membuat orang menjadi buta" Ucap Kiana.


Agha yang masih merangkul bahu Kiana, mengajak Kiana berjalan sambil berkata, "Tapi, kamu masih jauh lebih cantik darinya"


Di tengah perjalanan, Agha mengentikan langkahnya sebentar lalu terbang untuk memetik beberapa buah untuk makan siang mereka.


Agha kemudian mengajak Kiana, Bora dan Agni duduk bersila sebentar sambil makan buah yang ia petik.

__ADS_1


Setelah kenyang makan buah, Agha kembali mengajak Agni, Bora, dan Kiana berjalan kembali.


"Mas, makan apa?" Kiana menoleh ke Agha saat ia mendengar suami tampannya itu melakukan kegiatan mengunyah.


Agha menoleh ke Kiana dan sambil masih melakukan kegiatan mengunyah, pria tampan itu menyahut, "Makan cokelat yang kamu kasih ke aku tiga hari yang lalu kalau aku nggak salah ingat"


"Minta"


"Nggak boleh" Agha memasukkan kembali kantong kain berisi permen cokelat bikinannya Kiana ke balik bajunya. "Aku kasih kamu buah yang aku petik tadi aja, nih"


"Kok, nggak boleh?" Tanya Kiana sambil menerima buah dari suami tampannya.


"Ini cokelat yang masak, yang bikin, dan yang ngasih Istri tercintaku. Nggak akan aku bagi-bagikan ke siapa pun" Sahut Agha sambil menatap ke depan dan melangkah dengan santainya.


Kiana langsung mengerem langkahnya dan menoleh ke Bora juga Agni.


Bora dan Agni langsung mengerem langkah mereka.


Bora kemudian menyahut, "Yang Mulia memang begitu, Nyonya muda. Dia akan pelit dan nggak mau berbagi untuk barang atau makanan yang dia sayangi"


"Tapi, aku yang bikin buat. Masak aku nggak boleh minta" Kiana mengerutkan keningnya.


"Kakak laki-lakiku itu memang spesial, telurnya dua" Sahut Agni.


Kiana menghela napas panjang, menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu melangkah kembali ke depan.


Bora mengulum senyum melihat Nyonya mudanya kesal merasakan watak aneh junjungannya.


Agni lalu menoleh ke Bora, dan menepuk pundak Bora sambil berkata, "Kau juga sama"


Bora langsung melangkah ke depan kembali sambil menyahut, "Nggak! Aku nggak sama dengan Yang Mulia Agha"


Agni berlari kecil, mensejajari langkah Bora lalu menoleh ke Bora sambil berkata, "Sama! Kamu itu sebelas dua belas dengan Kak Agha"


"Nggak! Yang Mulia Agha lebih tinggi dari aku, beliau lebih tetap dan gagah dari aku, Yang Mulia Agha jauh lebih tampan dan jauh lebih hebat dari aku" Sahut Bora tanpa menoleh ke Agni.


"Bukan itunya, Hadeehhhhh! Hufftttt! Lupakan saja! Percuma debat sama kamu" Agni melangkah dengan cemberut dan bersedekap. Sementara Bora terus menatap ke depan dan mengulum bibir menahan senyum.


Kiana lalu berlari kecil dan mensejajari langkah Agha untuk berkata, "Mas! Minta!"


"Nggak boleh!" Sahut Agha sambil tersenyum ke Kiana.


"Ih! Pelit, kok, bangga, pakai senyum pula" Kiana merengut kesal.


Agha menoel pucuk hidungnya Kiana dengan senyum lebar lalu berkata, "Cokelat ini kamu yang bikin, kamu yang kasih ke aku, kalau kamu minta, kamu bisa bintitan. Aku nggak mau Istriku bintitan. Aku pernah bintitan dan itu rasanya sakit sekali. Gatal dan perih jadi satu pokoknya ganggu banget. Aku nggak mau kamu merasakan sakit yang seperti itu, Sayang" Agha kembali menoel pucuk hidungnya Kiana.


Kiana sontak terkekeh geli mendengar alasan suaminya dan ia kemudian berkata, "Mas, pinter juga cari alasan, ya"


"Lho itu bukan alasan. Itu kenyataan. Aku nggak mau kamu bintitan" Sahut Agha dengan wajah serius.


"Iya, iya, iya, baiklah! Aku nggak akan minta lagi cokelat itu" Sahut Kiana sambil mengarahkan pandangannya ke depan.


"Kenapa pendekar kedua yang bernama Jenggot api belum kelihatan juga, ya, Kak?!" Teriak Agni.


Agha menoleh ke Agni, "Sebentar lagi dia akan kelihatan dia tengah menyisir jenggotnya mungkin" Teriak Agha.


Tiba-tiba terdengar suara menggelegar yang sangat menakutkan, "Siapa yang berani menghinaku, hah?!"

__ADS_1


Dan berdirilah pria tinggi besar. Tinggi pria itu dua kali tingginya Agha Caraka dan besarnya mirip seperti gorila.


"Wah, Kakek bercanda sama kita. Orang di depan kita ini nggak ada tampan-tampannya sama sekali" Bisik Agni ke Bora dan Bora langsung mengulum bibir menahan tawa.


__ADS_2