Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Siluman Wanita


__ADS_3

Astaga kenapa dadaku berdegup kencang banget dan wajahku memanas kayak gini. Batin Agha sambil menyibak tirai lalu pria tampan itu memilih untuk melihat pemandangan. Agha memilih untuk terus melihat pemandangan karena ia tidak ingin kalau sampai Kiana mendengar degup jantung dan rona merah di wajahnya.


Kemarin Anda ramah dan mesra sama saya, Yang Mulia. Tapi, kenapa saat ini Anda kembali dingin sedingin manusia es? Anda sungguh membuat saya penasaran, Yang Mulia. Batin Kiana sambil terus menatap bagian belakang kepalanya Agha.


Perjalanan panjang menuju ke kediaman Caraka yang hening, sunyi, dan senyap, membuat Kiana mengantuk. Kiana beberapa kali menguap tanpa mengeluarkan suara dan tetap mencoba membuka kedua kelopak matanya lebar-lebar karena ia takut ketiduran. Ia merasa sungkan kalau ia sampai ketiduran.


Karena saking ngantuknya, tanpa Kiana sadari ia menguap cukup keras sampai membuat Agha menoleh kepadanya dan menghadapkan tubuhnya ke depan.


Kiana langsung menundukkan wajah sambil berkata, "Maaf kalau saya mengagetkan Anda, Yang Mulia"


Agha menepuk bangku di sebelahnya.


"A.....apa maksud Anda?"


"Pindah ke sini!" Agha kembali menepuk bangku di sebelahnya.


"Ta.....tapi saya, emm, lebih baik saya tetap di sini saja Yang Mulia" Kiana melambaikan kedua tangannya di depan Agha dan Agha langsung meraih tangan itu dan menariknya sampai Kiana jatuh terduduk di sampingnya.


Kemudian tanpa mengatakan apapun, Agha menyentuh kepala Kiana dan merebahkan kepala Kiana di atas pundaknya.


Kiana refleks menarik kepalanya dan Agha menahan kepala Kiana sambil berkata, "Tidurlah! Aku akan bangunkan kamu kalau sudah sampai"


"Tapi, kata Ayah dan Ibu tiri saya, saya ini keras kepala, jadi kepala saya pasti berat dan pundak Anda akan......"


"Ssstttt! Diam dan tidurlah!" Agha mulai menggeram kesal dan Kiana langsung menyahut, "Baik, Yang Mulia"


Dan hanya di dalam hitungan tiga detik saja, sudah terdengar dengkuran halus. Agha menoleh ke bahu kanannya dan langsung mendaratkan ciuman di kening Kiana sambil berbisik lembut, "Selamat tidur, cantik. Mimpiin aku, ya"


Agha kemudian memeluk bahu Kiana dan menepuknya pelan agar Kiana semakin lelap tidurnya.


Jantung Agha semakin berdegup kencang saat wangi rambut Kiana menyeruak masuk ke hidungnya. Agha mencium pucuk kepala Kiana dan semakin erat memeluk bahu Kiana sambil berbisik di dalam hatinya, sampai kapan aku akan kuat menahan pesona kamu, Kiana? Kau sangat sempurna untuk aku abaikan. Kau sangat sempurna, Kiana. Agha membenamkan wajahnya di pucuk kepalanya Kiana dengan desir gairah yang harus ia tahan sekuat-kuatnya.


Satu jam kemudian, Agha menepuk pelan bahu Kiana dan membelai lembut rambut indah istri kecilnya sambil berbisik pelan, "Kita sudah sampai, Kiana"


Kiana membuka kedua kelopak matanya dengan pelan dan sontak membeliak kaget lalu menarik kepalanya dari bahu Agha sambil berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Apa bahu Anda terasa capek dan berat? Saya akan memijitnya dan ......"


"Turunlah! Aku baik-baik saja" Sahut Agha.


"Baik, Yang Mulia. Terima kasih sudah mengijinkan kepala saya yang keras ini untuk bersandar di bahu Anda"

__ADS_1


"Kau harus memijit bahuku nanti. Semua tidak gratis. Enak aja!" Agha yang masih gugup akhirnya mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.


"Baik, Yang Mulia. Saya akan memijit Anda nanti"


"Sekarang turun! Cepat!" Agha menggeram kesal.


Kiana langsung melangkah turun mendahulu Agha.


Agha menyuruh Kiana turun lebih cepat karena ia ingin melihat rambut indahnya Kiana dari belakang dan dia masih mengatur degup jantungnya agar berdegup normal kembali.


Kiana menunggu Agha di depan gerbang dan tersenyum senang saat ia melihat Agha akhirnya turun dari kereta kuda dan berjalan mendekatinya.


Agha melangkah masuk ke dalam kediamannya bersama Kiana. Agha menyeimbangkan langkah kakinya dengan langkah kaki Kiana.


Tiba-tiba terdengar pekik riang seorang wanita, "Kak Agha! Akhirnya Kakak pulang. Aku sangat merindukan Kakak" Wanita itu mendorong Kiana dan langsung melingkarkan tangannya di lengan Agha sambil berkata, "Ayo kita masuk, Kak. Aku bawa banyak oleh-oleh untuk Kak Agha dan aku sudah bikin kue Bika pisang kukus kesukaan Kak Agha"


Kiana menatap wanita itu dengan penuh tanda tanya. Siapa wanita muda yang sangat cantik ini? Kenapa dia mendorong aku dan seenaknya memeluk tangan suamiku?


Agha langsung menghentikan langkahnya lalu menoleh untuk mencari Kiana sambil menepis tangan wanita itu. Agha langsung berkata, "Kiana, kemari"


Kiana berlari kecil dan berhenti di depan Agha. Agha langsung meraih tangan Kiana dan menggenggam tangan Kiana lalu mengajak Kiana melangkah masuk sambil berkata tanpa menoleh ke belakang, "Ayo kita masuk, Rani"


Maharani mendengus kesal melihat Agha menggenggam tangan wanita lain dan melangkah meninggalkannya begitu saja. Maharani kemudian mengekor langkah Agha dengan wajah cemberut penuh dengan awan hitam kecemburuan.


Cemberut di wajah Maharani yang penuh awan hitam kecemburuan, sontak cerah ceria kembali saat ibundanya Agha menarik tangannya dan menyatukan tangannya dengan tangan Agha. Ibundanya Agha kemudian menoleh ke Kiana, "Buatkan teh untuk kami"


Agha tersentak kaget dan langsung berkata, "Ibu, Kiana bukan pelayan dan ......."


"Saya akan buatkan tehnya. Saya permisi" Kiana menekuk kedua lututnya dan langsung berdiri tegak lalu berbalik badan dengan cepat menuju ke dapur.


Di dalam langkah pendeknya menuju ke dapur, Kiana mengelus-elus dadanya sambil bergumam, kenapa dadaku terasa sakit banget melihat Yang Mulia dekat dengan wanita cantik dan Ibundanya Yang Mulia lebih menyayangi wanita itu daripada aku menantunya.


Agni masuk ke dapur dan menepuk punggung Kiana sambil berkata, "Hayo! Kenapa melamun?"


Kiana menoleh ke Agni dan menggelengkan kepalanya, "Kakak nggak melamun. Kakak mau bikin teh hijau madu, tapi di mana letak tehnya?"


"Akan aku ambilkan" Agni langsung berlari menuju ke rak khusus teh. Lalu, Agni kembali ke Kiana sambil bertanya, "Kenapa Kakak ke dapur dan bikin teh? Kenapa Kakak tidak menemani Kak Agha dan menjaga Kak Agha dari siluman wanita yang bernama Maharani itu?"


"Hush! Nggak baik ngatain orang. Aku ke sini bikin teh karena Nyonya besar yang, emm, maksud Kakak, Ibu yang menyuruh Kakak" Sahut Kiana.

__ADS_1


"Maharani itu emang siluman. Dia teman masa kecil aku dan Kak Agha. Cuma dia lebih tua beberapa tahun dari aku, dari kita, kita,kan, sebaya" Sahut Agni sambil membantu Kiana membuat teh hijau madu"


"Apa Yang Mulia Agha menyukai gadis yang bernama Maharani itu?"


"Tidak! Tentu saja tidak!" Pekik Agni dengan wajah serius. "Kak Agha hanya menganggapnya sebagai adik. Tapi, wanita itu tidak tahu malu. Ia memanggil Kak Agha, Mas, kalau berdua saja dengan Kak Agha. Tetapi memanggil Kak ke Kak Agha kalau ada orang lain. Maksudnya apa coba kalau tidak untuk merayu Kak Agha. Menyebalkan banget, kan? Dia itu serigala berbulu domba. Ia selalu saja memakai berbagai macam trik untuk memikat Kak Agha. Hanya Ibu yang menyukainya itu karena Ibu belum pernah melihat watak aslinya. Kalau aku, tentu saja aku lebih menyukai Kak Kiana" Agni memeluk Kiana dan Kiana membalas pelukan Agni sambil berkata, "Terima kasih Agni. Kakak juga sangat menyukai kamu"


Beberapa menit kemudian, Agni membantu Kiana membawa nampan berisi teh hijau madu dan teh hitam madu ke ruang depan.


Sesampainya di ruang depan, Kiana dan Agni dikejutkan dengan aksi Maharani yang tengah mengusap bibir Agha dengan telapak tangannya sambil berkata, "Wah, Kak Agha! Kau masih tetap sama. Saking sukanya sama Bika pisang kukus buatanku, makannya sampai belepotan begini" Maharani melirik Kiana.


"Dasar ular nggak tahu diri" Geram Agni.


"Tentu saja masih suka. Kamu jago bikin kue. Nggak seperti wanita lain yang hanya suka keluyuran di luar dan menggoda para pria" Sahut ibundanya Agha sambil melirik Kiana.


Kiana mengabaikan ucapan ibu mertuanya karena ia hanya fokus sama kue Bika pisang kukus itu.


Kue Bika pisang kukus? Aku belum pernah bikin kue kecuali bakpao. Kalau itu kesukaan Yang Mulia, berarti aku harus bisa membuat kue itu. Aku nggak mau kalah dengan wanita itu. Batin Kiana.


"Aku akan mengajari Kak Kiana" Bisik Agni seolah tahu apa yang Kiana risaukan.


Kiana menoleh ke Agni dan berbisik, "Terima kasih, Agni"


Agha menoleh ke meja saat Kiana meletakkan nampan di meja yang ada di sebelah Agha. Saat Agha ingin menarik tangan Kiana untuk duduk di sebelahnya, Maharani langsung mengisi bangku di sebelah Agha sambil berkata, "Kak Agha pernah janji sama aku kalau aku tetap yang pertama bagi Kak Agha, kan? Kak Agha akan tetap memenuhi semua permintaanku dan akan menemaniku jalan-jalan meskipun Kakak sudah menikah. Kakak akan tetap menemuiku meskipun Kakak sudah menikah. Iya, kan?"


"Agha, janji seorang pria sejati harus ditepati, lho" Sahut ibundanya Agha.


Agha kembali diserang rasa canggung dan ia langsung menoleh ke Kiana untuk berkata bahwa bagi dirinya yang sekarang ini, menempatkan Kiana di tempat yang paling spesial yang ada di dalam hatinya dan Kiana adalah segala-galanya, Kiana lebih penting daripada siapa pun di dunia ini bahkan Kiana lebih penting daripada nyawanya sendir. Namun, lidahnya terasa kelu saat ia melihat Kiana melangkah mundur sambil menatapnya dengan binar kekecewaan, Kiana kemudian berbalik badan dan melangkah pergi meninggalkan Agha tanpa pamit.


Ibundanya Agha melirik Maharani dengan seringai senang.


Agha sontak bangkit berdiri dan ingin mengejar Kiana. Tetapi lengannya dicekal dan ditahan oleh Ibundanya.


Agni langsung berlari menyusul Kiana dan Agha mendengus kesal saat Maharani tiba-tiba berdiri di depannya, menghalangi pandangannya Agha agar pria itu tidak melihat punggung Kiana. Maharani segera berkata, "Kita harus lembur malam ini, Kak"


"Lembur? Untuk apa?" Agha menggeram kesal.


"Tentu saja membahas taktik melawan bajak laut. Beberapa minggu lagi kamu harus bertempur melawan bajak laut, kan, dan Maharani sangat ahli dalam hal mengatur strategi. Selama ini kau dan Maharani, kan, sering bekerja sama dalam hal mengatur strategi"


Agha menatap tajam Maharani dengan helaan napas kesal. Lalu, ia berkata ke Maharani, "Jangan makan ini! Malam ini aku harus me........"

__ADS_1


"Agha, tugas negara lebih penting" Sahut Ibundanya Agha.


Agha mendengus kecewa karena ia tidak bisa berduaan dengan Kiana dan pria tampan itu Kemudian berkata dengan nada terpaksa, "Baiklah"


__ADS_2