
Sementara itu di kediaman Caraka, Ibundanya Agha tiba-tiba membentak Adnan yang terus nyerocos mencari Kiana, "Jangan cari Kiana dan jangan pernah datang ke sini lagi!"
Adnan sang putra mahkota tersentak kaget saat menemukan Ibundanya Agha berani membentak dirinya.
"Kenapa Anda berani membentak saya dan kenapa Anda mengembalikan semua hadiah yang pernah saya kasih ke Anda, Bibi?" Putra Mahkota menautkan kedua alisnya dalam-dalam.
"Bibi nggak mau lagi hadiah dari kamu. Bawa pulang dan jangan pernah datang ke sini lagi untuk mencari Kiana! Kiana miliknya Agha dan dia menantu kesayangannya Bibi. Jangan ganggu kebahagiaannya Kiana"
"Tapi, kenapa tidak boleh? Saya hanya ingin menemui teman baik saya. Kiana teman baik saya, Bibi. Saya tidak akan menganggu kebahagiannya Kiana. Karena kebahagiaannya Kiana adalah hal yang paling penting bagi saya"
"Maafkan Bibi kalau Bibi berbicara langsung ke inti masalahnya. Putra Mahkota tidak hanya menganggap Kiana sebagai teman baiknya. Bibi seorang wanita, jadi Bibi bisa mengendus niat Putra Mahkota yang sebenarnya. Kiana menantu di rumah ini. Kiana dan Agha saling mencintai dan Bibi sudah merestui mereka. Jadi, jangan pernah menganggu hubungan mereka! Putra mahkota sangat tampan dan punya kemampuan. Bibi yakin kalau Putra Mahkota bisa mencari dan menemukan wanita yang tepat untuk Putra Mahkota tapi maaf bukan Kiana. Kiana hanya untuk Agha seorang, titik nggak pakai koma!"
Adnan langsung menyeringai kesal lalu berkata, "Bibi sudah berani menentang Adnan. Jangan salahkan Adnan kalau suatu saat nanti Adnan tidak menaruh belas kasihan dan hormat lagi sama Bibi"
"Silakan saja. Apapun yang akan terjadi nanti, Bibi tetap akan menjaga Kiana dengan seluruh jiwa raga Bibi"
Adnan langsung berputar badan dan meninggalkan kediaman Caraka dengan hati penuh amarah. Dia merasa terhina dengan ucapan ibundnya Agha dan dia bertekad untuk membalas semua penghinaan ini.
Dan di hutan siluman, masih terdengar isak pilu seorang jenderal besar yang bernama Agha Caraka.
__ADS_1
"Mas Agha! Jangan menangis, Mas! Hu,hu,hu,hu,hu" Kiana mulai tergugu melihat suaminya terus menatapnya dengan air mata yang henti.
Kiana menyentuh cahaya biru karena dia ingin menyentuh wajah suaminya, namun tangannya bisa sampai ke wajah suaminya. Kiana langsung berteriak di sela Isak tangisnya, "Ibu! Tolong keluarkan Kiana dari sini!"
"Kiana ingin memeluk suami Kiana, Ibu! Keluarkan Kiana dari sini! Ibu!!!!!" Kiana membungkukkan badannya dan berteriak kencang sambil meninju berkali-kali cahaya biru di depannya.
Melihat Kiana menangis panik dan terus meninju cahaya biru, Agha menyentuh cahaya biru dan berteriak, "Jangan pukul cahaya birunya lagi! Kamu akan lelah, Sayang! Aku tidak ingin kamu kelelahan!"
Keduanya saling berteriak, namun keduanya tidak bisa saling mendengar. Agha dan Kiana saling pandang dan menapakkan tangan mereka berdua di cahaya biru. Seketika itu juga Agha tersentuh hatinya. Dia kemudian berkata dengan masih memunggungi ibu mertuanya, "Agha tidak bisa meninggalkan Kiana, Ibu. Agha lebih baik mati kalau Agha harus menjauh dari Kiana"
"Tapi, apa kamu bisa menerima kenyataan kalau Kiana nanti tidak mengijinkan kamu membunuh Kakeknya?"
"Kiana berhak tahu semua cerita ini setelah aku menceritakannya ke kamu. Aku akan cerita ke Kiana setelah kamu mengambil keputusan, Agha. Pergi dari Kiana atau tetap tinggal dan tidak membalas dendam"
Agha harus mengambil keputusan yang bijak dan tepat di tengah amukan badai beragam perasaan yang berkecamuk hebat di dalam dadanya.
Agha lalu duduk bersimpuh di depan cahaya biru dan Kiana ikutan duduk bersimpuh sambil terus meninju cahaya biru di depannya.
Agha menatap wajah Kiana yang penuh linangan air mata. Pria tampan itu tengah menimbang-nimbang perasaannya. Antara dendam dan cinta, manakah yang lebih besar bersarang di hatinya.
__ADS_1
Ibundanya Kiana menunggu dengan sangat sabar karena dia sangat memahami perasaan Agha saat ini.
Agha kemudian bangkit berdiri lalu memutar badannya secara perlahan dan saat ia berhadapan kembali dengan ibu mertuanya, Agha berkata, "Anda pernah mengorbankan nyawa Anda untuk saya dan Kiana juga sudah berkali-kali menyelamatkan saya dari jurang kematian, maka saya tidak akan memikirkan dendam lagi. Saya bersumpah Ibu, demi apapun di duni ini, saya bersumpah, saya tidak akan membalas dendam. Saya tidak akan membunuh Kakeknya Kiana"
"Apa kau yakin?"
"Agha sangat yakin, Ibu. Kebahagiaan Kiana di atas segala-galanya bagi Agha. Kalau Ibu bercerita ke Kiana jangan ceritakan soal kekejaman tabib itu. Jangan ceritakan kalau tabib kejam itu pernah menculik, menyekap, menyuntik Agha dengan racun naga hitam, dan tabib kejam itu juga telah..........." Agha menghela napas panjang lalu melanjutkan kalimatnya, "Telah membunuh ibu kandung saya. Jangan ceritakan ke Kiana soal itu, Ibu. Ceritakan saja ke Kiana kalau Kiana masih memiliki seorang Kakek dan pertemukan Kiana dengan Kakeknya. Kiana pasti akan merasa sangat bahagia. Kalau Kiana bahagia, Agha juga akan bahagia karena senyum dan tawa Kiana adalah oksigennya Agha"
Ibundanya Kiana meneteskan air mata haru dan berkata, "Aku bersyukur Putriku mendapatkan Suami yang sangat mencintainya. Baiklah, Ibu akan menuruti permintaan kamu"
Agha membungkukkan badannya dan berkata, "Terima kasih, Ibu"
"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu karena kamu sudah mencintai Putriku sebesar itu. Sekarang aku akan membuka cahaya biru agar kalian bisa saling melepas kerinduan kalian"
Agha langsung menegakkan badannya dan tesentak kaget saat ia merasakan Kiana memeluknya dari arah belakang sambil berteriak, "Mas Agha! Akhirnya aku bisa memeluk kamu, Mas!"
Agha berputar badan dengan pelan lalu memeluk Kiana dengan penuh cinta dan rasa syukur. Agha menyusupkan wajahnya di rambut Kiana dengan perasaan yang masih bercampur aduk tidak karuan tapi yang pasti perasaan cintanya pada Kiana yang paling menonjol. Dan di saat itu juga Agha merasa segala urusan di sekitarnya tidak penting lagi. Karena kebaikan hati dan kelembutan istri kecilnya telah memenuhi jiwa dan raganya Agha dengan cinta.
Ibundanya Kiana melihat Agha dan Kiana dengan sorot mata penuh haru dan wanita yang sangat cantik itu tanpa sadar meneteskan air mata.
__ADS_1
Setelah ini, aku akan mempertemukan Kiana dengan Kakeknya karena hanya Kiana yang bisa membantuku menyembuhkan tabib kejam itu. Karena hanya tabib kejam itu yang bisa membuat obat dari teratai jingga untuk menghilangkan racun langka yang bersarang di tubuh Yang Mulia Kaisar Batin Ibundanya Kiana.