Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Menginginkannya


__ADS_3

Di sela aktivitasnya mencium, memagut, menghisap, dan mengigit lembut bibir Kiana, Agha bergumam dengan suara dalam yang menuntut, "Sebut namaku!"


Kiana yang masih terhipnotis lembut ciumannya Agha langsung mengerangkan nama dengan lirih dan kedua mata gadis itu masih terpejam rapat, "Yang Mulia Agha"


"Sebutkan lagi namaku!"


"Yang Mulia Agha" Suara erangan lirih yang kembali terdengar.


Cara Kiana menyebutkan namanya itulah yang membuat amarah Agha mereda. "Kau hanya boleh menyebut namaku dengan suara seperti itu. Mengerti?!"


Kiana bergumam lirih, "Iya, Yang Mulia"


Ditambah lagi dengan cara Kiana memiringkan kepalanya dan gadis itu menggelungkan kedua lengannya di leher Agha untuk memperdalam ciuman mereka, maka sirna sudah amarahnya Agha.


Perasaan marahnya malah menjadi keinginan yang sangat kuat untuk memeluk istri kecilnya erat-erat sampai pria tinggi besar itu bersedia membungkukkan badannya dalam-dalam agar dia bisa memeluk erat-erat istri kecilnya. Agha ingin memiliki Kiana sepenuhnya, melindungi, dan mencintainya seperti yang ia dambakan sejak pertama kali ia berjumpa dengan Kiana. Di malam pengantin waktu dia terluka atau jauh sebelum itu. Entahlah, tapi yang pasti Agha sangat menginginkan Kiana hanya untuk dirinya sendiri.


Kenapa aku mematung seperti ini alih-alih mendorong atau menendangnya kuat-kuat. Seharusnya aku menendangnya kuat-kuat sedari awal ia menciumku tadi. Tapi, kenapa aku justru terhipnotis dan mengikuti semua permainannya? Batin Kiana.


Agha memeluk Kiana dengan perlindungan, namun di detik keempat ia memeluk Kiana dengan lebih lembut. Jenderal tampan dan gagah itu memandang bagian atas kepala istri kecilnya dan merasa sangat ingin mendaratkan ciuman lembut pada belahan rambutnya. Rambut Kiana sangat indah, hitam berkilau dan wangi, mengilat seperti langit malam dan menggoda seperti madu.


Walaupun kurus tapi tubuh Kiana memiliki lekuk yang sangat indah dan Agha bisa merasakan itu. Terasa hangat, lembut, dan feminin. Gesekan pakaian Kiana pada pakaiannya membuat Agha membayangkan dirinya melepas pakaian itu selapis demi selapis. Aroma wangi yang manis menguar dari tubuh Kiana membuat Agha seketika mabuk kepayang. Wangi segar buah lemon bercampur vanila yang samar-samar. Agha sangat ingin menyentuh telinga Kiana dan menyusupkan wajahnya di leher Kiana.


Di saat Agha nekat ingin melakukan semua fantasi liarnya, nekat ingin merasakan semua bagian diri istri kecilnya yang sangat cantik, terdengar suara dari luar, "Agha! Ibunda masuk, ya?! Ada yang ingin Ibunda sampaikan!"


Dengan menghela napas panjang, Agha melepaskan tubuh ramping istri kecilnya dengan wajah terpaksa.

__ADS_1


Agha dan Kiana kemudian bersitatap dalam diam selama sepersekian detik.


Apa dia masih marah? Apa aku akan dihukum cambuk setelah ini? Aaaaaaa!!!!! Kenapa tadi aku nekat banget berteriak dan melotot padanya? Batin Kiana sambil mencengkeram kedua ujung pakaiannya.


Agha kemudian berkata, "Tunggu aku di sini dan renungkan semua kesalahan kamu di sini! Jangan keluar dari kamar ini sampai besok!"


Kiana sontak berputar badan untuk mengikuti arah pergi suaminya. Kiana menatap punggung Agha dalam diam saat pria itu membuka pintu dan menghilang di balik pintu. Kiana langsung jatuh bersimpuh di atas lantai dan bergumam, "Kenapa dia menciumku? Aaaaaa!!!!! Kenapa sekarang lututku terasa lemas dan jantungku berdegup kencang?" Kiana mengelus-elus kedua lututnya kemudian ia mengelus-elus dadanya dengan helaan napas panjang.


Ibundanya Agha langsung meletakkan kedua telapak tangannya di dada kekarnya Agha sambil bertanya, "Ada apa? Apa yang terjadi? Kau berteriak marah tadi di depan gerbang utama. Lalu, kau menarik Istri kamu ke sini. Ada apa? Eh! Kenapa jantung kamu berdegup sekencang ini? Kamu sakit, Agha?"


Agha menarik kedua tangan ibundanya lalu menggenggam kedua tangan itu dan berkata, "Tidak ada apa-apa Ibunda. Saya tidak sakit. Semuanya baik-baik saja. Emm, saya hanya kesal sama Red Hair" (nama kuda kesayangannya Agha)


"Tapi, jantung kamu berdegup kencang dan wajah kamu memerah saat ini. Kamu demam?" Ibundanya Agha langsung menarik tangan kanannya dari genggaman tangan Agha dan langsung menyentuh kening Agha, "Tidak demam. Tapi, kenapa wajah kamu memerah dan dada kamu masih berdegup kencang" telapak tangan kiri ibundanya Agha kembali menderas di dada Agha.


Agha kembali menarik kedua tangan ibundanya dan sambil menggenggam tangan itu Agha berkata, "Saya tidak berbohong, Ibu. Semuanya baik-baik saja sekarang ini. Mari saya antarkan Ibu kembali ke kamar ibu"


Ibundanya Agha berkata.sembari melangkah pelan, "Ibu menyuruh orang untuk menjemput Rani menginap di sini. Tapi, sayangnya Rani masih pergi ziarah bersama keluarganya. Pulangnya masih Minggu depan"


Agha bertanya dengan nada dan wajah datar, "Untuk apa Ibu menjemput Rani dan menyuruh Rani menginap di sini? Kalau Ibu butuh teman, kan, sekarang sudah ada Kiana"


"Aku belum kenal sama Istri kamu dan Istri kamu, tuh, suka banget keluyuran di luar. Dia nggak pernah menemui Ibu dan menemani Ibu"


"Baiklah. Nanti saya akan kasih tahu Kiana untuk menemui Ibu dan menemani Ibu"


"Tapi, tetap saja Ibu ingin Rani main ke sini dan menginap di sini. Boleh, ya, Agha?"

__ADS_1


"Terserah Ibu saja" Sahut Agha dengan nada mengalah.


"Oh, iya! Adik kamu Agni, besok malam turun gunung. Dia sudah lulus belajar ilmu beladiri dari guru Abiya. Semoga saja Agni bisa cocok dengan Istri kamu"


"Saya dan Kiana akan menyambut kedatangannya Agni besok" Sahut Agha.


"Baguslah" ibundanya Agha mengentikan langkahnya di depan pintu kamarnya dan setelah ia mencium kedua pipi putra kesayangannya itu, ia masuk ke dalam rumah.


Agha berbalik badan dengan cepat dan melangkah lebar, lalu dengan setengah berlari ia menuju ke kamar pribadinya.


Namun, begitu sampai di depan kamar pribadinya Agha mendelik kaget, "Kenapa pintu kamar terbuka lebar? Agha bergegas melesat ke dalam kamar pribadinya dan pria gagah perkasa itu langsung dikagetkan dengan wajah seriusnya Kiana.


"Ada apa?"


"Saya barusan diinterogasi oleh Bora. Saya benar-benar tidak mencuri apapun dari dalam kamar pribadi Anda ini, Yang Mulia. Saya seharian ada di kebun Pangeran Adyaksa dan. ......."


"Jangan sebut nama pria lain di depanku saat ini!" Agha menatap Kiana dengan sorot mata penuh kecemburuan. Agha kemudian melotot ke Bora, "Kenapa kamu ada di sini?"


"Nyonya muda yang menyuruh saya masuk ke sini, Yang Mulia" Sahut Bora dengan wajah bersalah.


"Karena Bora terus menatap saya dengan penuh kecurigaan, maka saya ajak Bora masuk ke sini untuk mencari petunjuk bersama-sama dan saya menemukan bubuk bedak di dekat kotak panjang yang ada di rak buku ini" Kiana melambaikan tangannya menyuruh Agha mendekatinya.


Agha melangkah pelan mendekati Kiana dan benar saja, ada bubuk di dekat kotak panjang itu.


"Ini bubuk bedak dan dari wanginya, bedak ini adalah bedak yang biasa dipakai oleh wanita penghibur"

__ADS_1


"Hah?! Kenapa kau bisa tahu soal bedak dan wanita penghibur?" Agha menoleh kaget ke Kiana.


__ADS_2