Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Malu


__ADS_3

Agha mengetuk pintu kamarnya Adyaksa setelah seorang dayang yang ia temui memberitahukan adanya di mana keberadaan Kiana saat ini.


Kiana melepaskan tangan Debi dan berkata, "Biar aku yang buka pintunya. Pengantin baru tidak boleh capek-capek" Kiana bangkit berdiri sambil mengedipkan mata ke Debi dan Debi langsung terkekeh geli dan berkata, Non Kiana bisa aja"


Kiana membuka pintu dan langsung dikejutkan dengan pelukan hangat suaminya.


Agha berucap, "Syukurlah kau selamat" Sambil terus mengusap lembut rambut panjang hitamnya Kiana.


Kiana mengusap lembut punggung kekar suaminya sambil berucap, "Syukurlah kamu juga selamat, Mas"


Agha lalu melepaskan pelukannya dan saat Agha ingin mencium bibir Kiana, Kiana menahan dada suaminya dan berkata, "Mas, ada orang"


"Mana orangnya?" Tanya Agha tanpa melepaskan pandangannya dari wajah cantik istri kecilnya.


Kiana menoleh ke kiri dan menunjuk ke arah dayang, "Tuh" Lalu, Kiana menoleh ke kanan dan menunjuk Debi, "Tuh"


Debi langsung tersenyum canggung ke Kiana.


Agha yang masih belum melepaskan pandangannya ke wajah Kiana langsung menangkup wajah Kiana dan setelah berkata, "Siapa yang peduli dengan mereka" Agha memagut bibir istrinya.


Kiana mendelik kaget. Debi langsung mengajak para.dayang untuk pergi meninggalkan Kiana dan Agha.


Kiana mendorong pelan dada Agha lalu merengut di depan suami tampannya sambil berkata, "Mas, mereka pergi,kan? Aku malu sama mereka"


Melihat wajah istrinya merona malu, Agha tersenyum penuh cinta dan semakin gemas pada istrinya. Lalu, Agha menarik tengkuk Kiana dan mencium bibir istrinya dengan memberikan pagutan-pagutan singkat yang lembut. Kiana dibuat meleleh kalah. Wanita cantik itu mencondongkan tubuh ke tubuh suaminya dan Agha langsung mendekap erat tubuh ramping istrinya tanpa melepaskan pagutannya.


Agha kemudian melepaskan ciuman dan pelukannya saat tangannya menyadari menyentuh perban. Agha mengusap lembut perban di leher Kiana dan bertanya, "Sudah diobati?"


"Sudah. Ayah yang mengobatinya" Sahut Kiana.


Agha kembali mengusap lembut perban di leher Kiana dan bertanya dengan sorot mata sedih, "Masih sakit?"


Kiana menggeleng dan mengulas.senyum cantik di wajah tirusnya.


Agha menghela napas panjang dan mengusap pipi Kiana sambil berkata, "Lain kali jangan lakukan hal bodoh yang bisa membuatmu terluka. Biarkan aku yang mencari jalan keluarnya dan percaya padaku! Jangan ambil tindakan yang........ hmppthhhh!"


Kiana berjinjit untuk membungkam bibir suaminya dengan bibirnya.


Agha menyambut ciuman lembutnya Kiana dengan ciuman yang lebih menuntut dan di saat Agha hendak menyusupkan lidahnya terdengar suara orang berdeham cukup keras.


Kiana langung mendorong dada Agha lalu menyusupkan wajahnya di dada Agha sambil bertanya, "Siapa yang datang, Mas? Aku malu"


Agha mengusap belakang kepalanya Kiana dengan tawa ringan lalu berkata, "Yang Mulia Raja yang datang"

__ADS_1


"Hah?! Mas! Aku malu! Gimana, nih? Masukkan aku ke kantong uang kamu, cepat!" Kiana berucap sembari mengusap-usapkan kening di dada bidang suaminya.


Alih-alih menenangkan Kiana, Agha justru tertawa terbahak-bahak.


"Saya yang datang, Nyonya muda" Sahut Bora dengan senyum canggung.


Kiana menarik keningnya dari dada bidang suaminya dan langsung memukul pelan dada suaminya dengan cemberut.


Agha menggenggam tangan Kiana dan di sisa tawanya ia berkata, "Maafkan aku! Habisnya kamu lugu banget. Mudah sekali digoda, hahahahaha"


Kiana lalu menunduk dan tersenyum malu.


Setelah mencium tangan Kiana, Agha mengarahkan pandangannya ke Bora untuk bertanya, "Kau terluka?"


Kiana langsung mengangkat kepalanya untuk melihat Bora, "Mau aku obati?"


Bora langsung menggeleng sambil berkata, "Tabib Alzam sudah mengobati saya. Lengan kiri saya hanya tergores pedang sedikit. Bukan luka besar"


"Syukurlah" Sahut Kiana.


"Tetap rawat luka kamu dengan baik"


"Siap, Yang Mulia!" Sahut Bora dengan senyum lebar. Dia selalu senang kalau Agha peduli padanya karena ia selalu menganggap Agha sebagai kakak laki-lakinya.


"Ada apa kau mencariku?"


"Baiklah. Katakan ke Ibunda kalau aku dan Kiana akan pulang sebentar lagi"


"Baik, Yang Mulia"


Sepeninggalnya Bora, Agha menoleh ke Kiana dan mengedipkan mata sambil berkata, "Kita lanjutkan yang tadi?"


Kiana tersenyum malu.


Agha langsung menyentuh tengkuk Kiana, namun sebelum Agha menarik tengkuk Kiana, suara Adyaksa terdengar menggema, "Kalian berdua ada di sini ternyata"


Agha menghela napas panjang karena ia gagal mencium istrinya dan Kiana terkikik geli.


Agha kemudian menatap pamannya dan bertanya, "Ada apa Paman mencari aku dan Kiana?"


"Bukan aku yang mencari kalian tapi Yang Mulia Kaisar. Beliau ingin bertemu dengan kita semua dan para menteri untuk membawa hukuman yang pantas diberikan pada permaisuri dan Adnan"


"Baiklah, ayo kita temui Yang Mulia Kaisar" Sahut Agha.

__ADS_1


Agha berjalan sambil menggandeng tangan Kiana dan Adyaksa yang mengekor langkah Agha bergumam di dalam hatinya, dulu kalau aku melihat Agha menggandeng Kiana, maka akan ada desir menyakitkan di hatiku. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi desir menyakitkan itu. Apa ini karena aku sudah memiliki Debi? Aku akan berterima kasih dengan benar pada Debi nanti karena dia sudah menyembuhkan hatiku dari desir menyakitkan itu.


Bhadra tersentak kaget dan langsung menghentikan langkah pendeknya saat ia melihat Agha, Kiana, dan pria yang menyerangnya tadi berjalan ke arahnya.


Kiana langsung berteriak dengan wajah riang gembira, "Kak Bhadra!"


Bhadra refleks membuka kedua lengannya lebar-lebar sambil berteriak dengan wajah girang, "Kiana! Kakak kangen banget sama kamu!"


Saat Kiana ingin berlari masuk ke dalam pelukan kakak sepupunya, Agha langung menahan pinggang Kiana dan menariknya masuk ke dalam pelukannya.


"Kau...........Agha! Tangkap dia!" Adyaksa mengarahkan jari telunjuknya ke Bhadra.


"Eits! Aku tamu di sini. Kenapa mau main tangkap aja" Sahut Bhadra dengan wajah kesal.


"Iya, Paman. Dia tamu di sini. Dia mencari Ibu mertuaku. Dia kaget pas datang,kok, ada perang besar dan Paman langsung menyerangnya. Dia membantuku melumpuhkan Permaisuri, Paman"


"Dia Kakak sepupuku" Sahut Kiana.


"Nah, dengar tidak orang gila? Kau main serang aja itu tandanya kau gila" Sahut Bhadra sambil bersedekap santai


"Kau yang gila! Kau.......kau bahkan lebih gila dari Agha. Kenapa kau datang ke sini dengan memakai baju zirah padahal kau tidak tahu kalau di sini tengah terjadi perang besar" Adyaksa mendelik kesal ke Bhadra.


"Eh! Kenapa namaku dibawa-bawa?" Agha menoleh kaget ke Adyaksa.


Adyaksa mendelik ke Agha, "Diam!"


Agha menghela napas panjang dan Kiana yang berdiri di samping Agha mengulum bibir menahan senyum geli.


"Aku memang seperti itu. Selalu sedia payung sebelum hujan. Kalau pergi ke kerajaan lain selalu memakai baju zirah. Tanya sama Kiana" Ucap Bhadra dengan sikap acuh tak acuh.


Kiana menganggukkan kepalanya dan Agha langsung memekik kesal, "Jangan sebut nama Istriku! Kau mau mati, ya?!"


"Wah, aku datang dengan damai bahkan aku membantu Agha melumpuhkan Permaisuri tapi kenapa malah dikeroyok nggak jelas seperti ini?" Bhadra mendengus kesal.


Agha dan Adyaksa sontak memekik kesal secara bersamaan, "Itu karena kau menyebalkan!"


"Dan gila!" Sahut Bhadra dengan senyum lebar.


"Cih, sok keren!" Sahut Agha dan Adyaksa secara bersamaan.


Kiana terkekeh geli melihat sikap kekanak-kanakan tiga pria tampan dan gagah yang ada di depannya.


Agha terus memeluk bahu Kiana dan tidak mengijinkan Kiana mendekati Bhadra saat mereka semua berjalan menuju ke singgasananya Kaisar Abinawa.

__ADS_1


Kiana hanya bisa sesekali menoleh ke kakak sepupunya dengan senyum canggung.


Bhadra terus tersenyum lebar ke Kiana. Dia ingin memberikan pelajaran ke Agha, namun saat tahu Agha adalah putra kandungnya Kaisar Abinawa, dengan sangat terpaksa Bhadra menahan diri dan hanya bisa terus tersenyum lebar.


__ADS_2