
"Kamu jangan tertipu Agha! Gadis liar itu cuma pura-pura pingsan" Semprot ibundanya Agha tanpa basa-basi lagi
Agha sontak mengangkat wajahnya dan langsung berkata, "Kiana tidak pura-pura pingsan, Ibu. Kiana baru saja diperiksa tabib Gun. Tabib Gun berkata kalau Kiana mengalami anemia dan maag-nya kambuh. Penyakit itu kambuh kalau Kiana kelelahan. Untuk itulah Kiana pingsan"
"Kelelahan? Memangnya dia mengerjakan apa sampai kelelahan? Oh! Dia lelah karena selalu genit dan menggoda banyak pria"
Agha mengepalkan kedua tangannya dan langsung berkata, "Maaf Ibu. Jangan hina Istri saya"
"Itu kenyataannya, kan? Kemarin dia pergi ke kebunnya Pangeran Adyaksa dan hari ini dia sibuk bercengkerama dengan Putra Mahkota. Hebat sekali gadis liar itu mempermalukan kamu"
"Tolong jangan hina Istri saya, Ibu" Agha semakin mengepalkan kedua tinjunya dan mulai menggertakkan gerahamnya.
Melihat putranya memasang wajah garang, ibundanya Agha memilih untuk berbalik badan sambil berkata, "Baiklah. Ibu mengalah kali ini"
"Tunggu!"
Ibundanya Agha tersenyum senang saat mendengar kata tunggu dari Agha.
Pasti Agha akan setuju dengan perkataanku.
Batin ibundanya Agha.
Wanita cantik yang sudah berumur kepala lima itu memutar badan dengan pelan dan saya ia berhadapan dengan Agha kembali, ia tersenyum manis dan berkata, "Kau setuju dengan perkataan Ibu, kan? Gadis liar itu memang genit dan........"
"Cukup! Saya menahan langkah Ibu bukan untuk menyetujui semua perkataan Ibu tentang Kiana. Saya tidak akan pernah menyetujui semua penilaian Ibu tentang Kiana karena semuanya itu tidak benar. Saya menahan langkah Ibu karena saya ingi bertanya, kenapa ada noda teh hitam campur madu di baju Kiana dan kulit di dada Kiana ada luka merah seperti terkena air panas. Untung lukanya tidak parah. Yang suka minum teh hitam madu adalah Ibu, kan? Kenapa teh kesukaan Ibu bisa menodai baju Kiana?"
Bibi Sum yang berdiri di samping ibundanya Agha langsung menundukkan wajahnya dan berharap semoga Nyonya besarnya tidak terkena amukannya Agha.
Agha memang sangat menghormati dan menyayangi Ibundanya, namun jika ibundanya melakukan kesalahan, Agha tidak segan memberikan hukuman.
Ibundanya Agha sontak mundur selangkah dan menatap Agha dengan wajah kaget. Tiba-tiba Ibundanya Agha marah, "Kenapa kau menuduh Ibu?"
"Saya tidak menuduh Ibu. Saya cuma bertanya. Apa Kiana sebelumnya minum teh bersama Ibu tadi pagi?"
Ibundanya Agha langsung memegang tangan dan berkata spontan karena ketakutan Agha mengetahui kebenarannya kalau dia melemparkan cangkir berisi teh hitam madu hangat ke Kiana, "Tidak, eh, iya"
Agha mulai mengerutkan kening dan bertanya, "Tidak apa iya, Ibu?"
Ibundanya Agha langsung menunduk dan memegang kening untuk menyembunyikan keringat yang muncul di daerah T wajahnya. Lalu, Ibundanya Agha bergegas berkata, "Ibu pusing, Agha. Ibu harus minum obat dulu" Ibundanya Agha kemudian berbalik badan dan mengajak Bibi Sum berlari kecil keluar dari dalam kamar pribadinya Agha.
"Kenapa dengan Ibu? Apa mungkin Ibu yang menyiramkan teh panas ke Kiana?" Agha menatap punggung Ibundanya dengan wajah heran. "Aku akan tanya ke Kiana saja nanti kalau Kiana sudah sadar dari pingsannya"
Ibundanya Agha menghapus keringat di daerah T wajahnya sambil berkata, "Untunglah aku bisa menghindari Agha"
"Kalau Yang Mulia bertanya ke Nyonya muda?" Sahut Bibi Sum dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Aku akan pikirkan alasannya dulu sekarang kalau begitu. Aduh! Kenapa juga aku tadi khilaf melemparkan cangkir teh ke gadis liar itu" Sahut ibundanya Agha.
Agha menatap Kiana dan tersenyum senang saat Kiana menggerakan tangan yang ia genggam dan kedua kelopak mata Kiana bergerak-gerak.
__ADS_1
Dia akan sada dan membuka mata sebentar lagi. Batin Agha dengan wajah semringah.
Kiana membuka kedua kelopak matanya dan sontak bertanya, "Kenapa Anda tersenyum Yang Mulia? Anda jauh lebih tampan kalau tersenyum seperti itu"
Wajah Agha langsung merona merah mendapatkan pujian dari wanita yang ia cintai secara diam-diam. Namun, bukannya berterima kasih, Agha justru menghapus senyamannya dan melengos sambil berkata, "Lain kali jangan tidur terlalu lama! Bikin repot aja. Ranjangku nyaman banget, ya, sampai kamu nggak mau bangun" Agha laku bangkit berdiri dan membelakangi Kiana untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya.
Kiana langsung bangun dan duduk di tepi ranjang. Ia menatap kesal punggung suaminya dan berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya akan bangun dan pergi ke kamar saya sendiri dan tidur di ranjang saya sendiri"
Kiana bangkit berdiri dan saat Kiana melangkah melintasi Agha, Agha langsung menahan lengan Kiana, "Jangan pergi! Kamu masih lemas. Tidur lagi saja!" Agha membopong Kiana dan merebahkan Kiana dengan hati-hati di atas ranjangnya.
Kiana menatap heran wajah suami tampannya lalu bertanya, "Maaf, Yang Mulia. Saya tidak........"
"Sstttt! Berbaring aja di sini! Aku akan ke depan menyuruh pelayan mengambilkan makanan untuk kita" Agha langsung berbalik badan dan Kiana hanya bisa menghela napas panjang.
Beberapa detik kemudian, Agha kembali muncul di depan Kiana dan langsung duduk di tepi ranjang untuk bertanya, "Apa yang kau rasakan saat ini?"
"Saya mengantuk sekaligus lapar saat ini"
"Tunggu sebentar makanan akan segera datang. Selain itu apa yang kamu rasakan?"
"An.....Anda tidak marah lagi, Yang Mulia? Saya tidak mengundang Putra Mahkota kemari dan saya tidak........"
"Ssssttt!" Agha meletakkan jari telunjuknya ke bibir Kiana dan berkata, "Aku tahu. Aku tidak marah lagi. Nah, makanan sudah datang. Aku akan suapi kamu" Agha membantu Kiana menyandarkan punggung di ranjang lalu ia menerima mangkuk bubur dari tangan pelayan dan berkata ke pelayan itu, "Pergilah!"
Pelayan itu langsung menekuk kedua lututnya dan pergi keluar dari dalam kamarnya Agha.
"Tapi, Yang Mulia juga butuh makan, kan? Silakan Yang Mulia makan di meja makan, saya bisa makan sendiri"
"Aku bisa makan berdua dengan kamu. Sekarang diam, aku akan suapi kamu, Aaaaaa!"
Kiana terpaksa membuka mulutnya dan makan berdua dengan suaminya dengan mangkuk dan sendok yang sama. Agha meletakkan mangkuk yang sudah kosong di meja kecil yang ada di sisi ranjang lalu bertanya, "Masih lapar? Ada kue cokelat, kamu mau?"
Kiana menggelengkan kepala dan berkata, "Terima kasih, Yang Mulia. Saya sudah kenyang. Kalau Yang Mulia masih lapar, silakan Yang Mulia makan kuenya"
"Nggak. Kalau kamu kenyang aku juga kenyang. Kita Suami Istri harus senasib sepenanggungan" Sahut Agha dengan wajah datar.
Kiana hanya bisa tersenyum canggung mendengar jawabannya Agha.
Agha mengangkat tangan hendak mengusap pipi Kiana, namun segera ia tarik kembali tangannya saat ia mendengar suara ketukan di pintu kamarnya
"Masuk!" Sahut Agha.
Agha terkejut melihat Debi menggandeng Kendra masuk ke dalam kamar pribadinya. Agha langsung bangkit berdiri dan di jarak satu setengah meter dia menghentikan langkahnya untuk menyapa adik laki-lakinya Kiana, "Kendra? Kita belum sempat berkenalan sebelumnya. Hai, aku Kakak ipar kamu. Aku suaminya Kak Kiana kamu" Agha menatap Kendra yang digandeng oleh Debi dengan wajah datar. Meskipun sudah mencoba berbicara dengan nada ramah, namun tetap saja wajah Agha tampak datar karena pria tampan. itu memang tidak pandai menghadapi anak kecil dan Agha juga tidak pandai untuk tersenyum di saat yang tepat.
Kendra langsung bersembunyi di balik badannya Debi. Anak kecil berumur lima tahun itu masih takut menatap Agha dan berdekatan dengan Agha.
"Hei! Kenapa kau malah bersembunyi? Kemarilah! Kakak punya permen karet. Kamu mau?"
Mendengar kata permen, Kendra yang sangat menyukai aneka jenis permen langsung keluar dari balik punggungnya Debi.
__ADS_1
Agha berjongkok dan berkata sambil mengayunkan tangannya "Kemarilah! Ini permennya"
Kendra melangkah pelan mendekati Agha dengan sorot mata waspada.
Melihat tuan mudanya sudah melangkah ke arah Agha, Debi langsung berlari kecil menuju ke ranjang untuk melihat nona mudanya. Debi yang bersahabat dekat dengan Kiana sangat mengkhawatirkan Kiana saat ia mendengar kabar ada tabib masuk ke kamarnya Jenderal Agha karena Nyonya muda jatuh pingsan. Debi langsung menggendong Kendra dan berlari masuk ke kamar pribadinya Jendral Agha Caraka.
Setelah melangkah sebanyak enam langkah, Kendra berdiri di depan Agha yang masih berjongkok. Kendra langung menundukkan wajahnya.
Agha bertanya ke Kendra, "Kenapa kau menundukkan wajah kamu? Kamu takut sama Kak Agha?"
Kendra yang masih menundukkan wajah mengangguk pelan.
"Kenapa takut sama Kak Agha?"
Kendra yang belum bisa mengucapkan huruf R, menyahut, "Kalena (Karena) Kak Agha tidak pelnah (pernah) telsenyum (tersenyum) dan Kak Agha pelnah (pernah) memalahi (memarahi) Kak Kiana"
Agha tersentak kaget mendengar jawaban polosnya Kendra. Lalu, pria tampan itu berkata, "Kalau Kak Agha tersenyum, kamu nggak takut lagi sama Kak Agha?"
Kendra menatap Agha dengan binar polos di Kedua matanya lalu bocah yang masih berumur lima tahun itu menganggukkan kepala.
Agha langsung mengulas senyum terbaiknya di depan Kendra dan Kendra langsung tersenyum lalu berkata, "Kak Agha sangat tampan kalau telsenyum"
Agha tersenyum senang, lalu berkata, "Terima kasih untuk pujiannya Kamu juga tampan, tapi tentu saja Kak Agha lebih tampan"
"Iya. Kak Agha lebih takkan" Sahut Kendra dengan polosnya.
Agha terkekeh geli lalu berkata, "Apa Kak Agha boleh menggendong kamu dan mengajak kamu bermain di taman?"
"Kak Kiana gimana?"
"Kak Kiana kamu baik-baik saja. Ada temannya yang menjaga Kakak kamu, tuh"
"Kak Debi akan menjaga Kak Kiana dengan sangat baik" Sahut Kendra.
"Makanya kita jangan ganggu mereka. Kita main di luar, yuk! Kak Agha akan gendong kamu"
"Baiklah. Saya mau digendong dan diajak belmain (bermain)"
Agha langsung menggendong Kendra, mengulurkan permen karet ke Kendra, lalu melangkah lebar keluar dari dalam kamar.
Kiana bangun untuk melihat Agha dan Kendra. Saat ia melihat Agha menggendong Kendra dan bisa tersenyum ke Kendra, Kiana ikutan tersenyum dan bergumam, "Dia bisa menangani Kendra ternyata"
"Iya, Nyonya muda. Yang Mulia kekuatannya sayang sama tuan muda Kendra dan begitu juga sebaliknya"
"Syukurlah" Kiana menatap punggung Agha dan seketika hatine berdesir hangat dan perutnya terasa ada debaran sayap kupu-kupu. Kiana refleks menyentuh perutnya dan bertanya-tanya ke dirinya sendiri, kenapa ada debaran seperti sayap ribuan kupu-kupu di perutnya.
"Anda baik-baik saja, Nyonya muda? Ada apa dengan perut Anda?" Debi menatap junjungannya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Ah, aku baik-baik saja, kok. Nggak papa, kok" Kiana tersenyum lebar ke Debi.
__ADS_1