
Agha yang masih harus berperan menjadi raja Alaric, berlari sambil melirik Bora burung pemangsa peliharaannya dan Bora langsung paham maksud lirikannya Agha.
Bora terbang dengan kecepatan kilat menuju ke paviliunnya Alvin. Sesampainya di depan Alvin yang tengah merebus tonic untuk para tetua, Bora memekik keras tanpa henti dan terus mengepak-ngepakan sayapnya.
Alvin langung berkata ke pelayannya, "Lanjutkan merebus tonic ini! Aku akan pergi sebentar" Lalu, dengan cepat Alvin Berbah menjadi seekor naga dan terbang secepat kilat di angkasa. Bora langsung menyusul Alvin.
Agha berhasil menyusul Kiana tepat di saat istri kecilnya itu mengehtnikan langkahnya di depan pintu kamar pribadinya putri Sofie. Agha mencekal lengan Kiana dan langsung berbisik, "Jangan masuk! Biarkan saja ia mati"
Kiana mendelik tajam ke suami tampannya dan langsung berbisik, "Saya tidak bisa mengabaikan orang sakit yang butuh pertolongan saya. Saya tidak bisa membiarkan siapa pun mati meskipun dia orang jahat"
"Tapi, Kiana kalau kamu nekat masuk bisa jadi ini jebakan untuk kamu" Sahut Agha.
"Kira lihat saja nanti. Kalau kita punya niat baik kita pasti dilindungi oleh para dewa dan tidak akan dibiarkan celaka"
Agha hanya bisa menghela napas panjang.
Brak! Pintu kamar putri Sofie langsung ditendang sama Kiana saking paniknya.
Sofie hampir saja membuka mata karena kaget Kiana datang lebih cepat dari perkiraannya. Ah, Mina! Kenapa kamu bodoh banget? Kenapa bawa Kiana datang secepat ini? Aku, kan, belum minum pil penahan napas sementara. Tanpa menelan pil penahan sementara, aku, kan, tidak bisa menjebak Kiana. Geram Sofie di dalam hatinya.
"Mana bekas muntahannya Putri?" Tanya Kiana.
Jangan kasih ke Kiana sapu tangan itu! Jangan, jangan!!!! Batin Sofie yang pura-pura pingsan.
"Ada di sini" Sahut pelayannya Sofie sambil berlari mengambil sapu tangan yang masih menggelepar cantik di lantai.
Ah, sial! Kenapa kau bodoh banget, Mina! Di sapu tangan itu bukan darah tapi saos.Semoga Kiana bodoh itu tidak bisa membedakan darah dan saos karena saos yang aku pilih warnanya mirip banget dengan darah asli. Tanpa Sofie sadari ia mengepalkan tangannya yang ada di dalam selimut. Wanita itu mengepalkan kedua tangan selain geram dia juga merasa was-was kalau-kalau aksinya berpura-pura pingsan ketahuan dan dia akan celaka.
Kiana menerima sapu tangan dari pelayan pribadinya Sofie dan sebelum Kiana melihat dan mencium sapu tangan itu, seorang pria masuk ke kamar putri Sofie dengan tergopoh-gopoh dan pria itu langsung panik saat ia bersitatap dengan kedua mata tajamnya raja Alaric.
"Ra......raja....An......Anda kenapa sudah ti.....tiba di sini?".Tanya pria yang belum pernah Agha lihat.
"Siapa kamu?" Tanya Agha dan Kiana secara bersamaan.
Ah, sial! Bruno, kenapa kau datang terlambat? Kalau ketahuan kau membawa pil penahan napas sementara, kita berdua bisa celaka. Geram putri Sofie dan wanita jahat berwajah cantik jelita itu semakin mengepalkan kedua tangannya yang masih berada di balik selimut.
"Sa.......saya adalah tabib pribadinya putri Sofie dan saya baru datang dari kerajaan bunga. Na....nama saya Bruno" Sahut pria asing itu.
__ADS_1
"Oh" Sahur Agha singkat.
Kiana langsung mengalihkan perhatiannya ke sapu tangan yang masih dia pegang.Kiana mencium sapu tangan itu dan langsung mengernyit dan membatin, ini saos tomat bukan darah.
"Ada apa? Kenapa kau mengernyit dan kenapa kau nekat mencium sapu tangan bekas muntahannya Sofie" Tanya Agha.
"Nggak papa, Yang Mulia. Saya akan memeriksa putri Sofie sekarang juga sebelum terlambat" Sahut Kiana.
"Bi.....biar sa.....saya saja yang memeriksa putri Sofie" Sahut pria yang mengaku bernama Bruno.
Namun, Kiana mencekal lengan Bruno sambil berkata, "Saya yang ditunjuk untuk memeriksa putri Sofie, maka saya yang akan memeriksanya"
Agha langsung menggeram ke pria yang bernama Bruno, "Mundur lah! Biarkan Kiana yang memeriksa Sofie. Kiana bukan tabib biasa dan aku sudah membuktikannya"
Pria bernama Bruno itu langsung melangkah mundur dengan sangat terpaksa dan langsung menundukkan wajahnya sambil membatin, maafkan saya, putri Sofie. Saya datang terlambat.
Alvin sampai di kamar pribadinya putri Sofie dan langung berdiri di sebelahnya Kiana untuk bertanya, "Kenapa dia?"
Kiana memberikan sapu tangan yang masih dia pegang dan berkata, "Putri Sofie muntah darah"
Alvin melihat dan mencium sapu tangan itu, "Ini........." Alvin menggantung Kalimatnya dan menoleh ke Kiana dengan wajah penuh tanda tanya.
Alvin lalu melangkah mundur dan berdiri di sebelahnya Agha untuk berbisik, "Bekas noda merah di sapu tangan ini bukan darah. Tapi saos tomat"
Agha menoleh kaget ke Alvin dan Alvin kembali berbisik, "Kita lihat aksi Kiana menangkap basah biar jahatnya Sofie kali ini"
"Oke" Bisik Agha dengan senyum lebar.
Istriku memang hebat. Aku yakin dengan kecerdasannya ia bisa membingkai Sofie dan membuat Sofie tak berkutik lagi. Batin Agha sambil memperlebar senyum tampannya.
Alvin menyikut perut Agha dan berbisik, "Jangan senyum selebar itu! Mana ada seorang suami senyum selebar itu melihat istrinya muntah darah dan pingsan"
Agha langsung menghapus senyumnya nya dan melirik tajam ke Alvin lalu berbisik, "Istri apa?! Sofie bukan Istriku, cih! Kau mau mati, ya?!"
Alvin tersenyum tipis dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Agha langsung mengalihkan pandanganya ke depan sambil merengut dan bersedekap dengan kesal.
__ADS_1
Alvin melirik tingkah Agha dan kembali menggeleng-gelengkan kepalanya.
Kiana menusukkan jarum ke titik yang bukan titik akupunktur. Kalau seseorang ditusuk di titik itu, maka orang itu akan merasakan nyeri dan biasanya orang itu akan refleks mengaduh kencang. Kiana sengaja ingin memberikan pelajaran ke putri Sofie.
Namun, Sofie yang sudah berniat ingin menjebak Kiana menahan diri untuk tidak berteriak dan dia langsung mencengkeram sprei untuk menahan rasa sakit tusukan jarumnya Kiana. Sial! Dia sengaja atau apa? Atau dia memang bodoh dan nggak tahu soa tusuk jarum, cih! Sial! Kenapa terasa nyeri dan panas banget ini jarumnya! Aaaaa! Geram Sofie di dalam hati sambil terus mencengkeram sprei.
Kiana lalu menyibak selimut dan ia tersenyum tipis melihat kedua tangan Sofie tengah mencengkeram sprei. Istri kecilnya Jenderal Agha Caraka itu kemudian menunduk dan berbisik di telinganya Sofie, "Bagiamana?masih bisa tahan sama sakitnya jarum yang aku tusukan barusan?"
Sofie tanpa sadar merapatkan kelopak matanya dan mengerucutkan bibirnya. Sofie sontak membatin kesal, Sial! Dia tidak bodoh ternyata dan dia bukan tabib biasa dan bukan pelayan biasa. Siapa Kiana sebenarnya? Kenapa raja Alaric menaruh Kiana di sampingnya dan menjadikan Kiana pelayan pribadinya?
Kiana tersenyum di atas telinganya Sofie dan Sofie bisa merasakan senyuman itu.
Sial! Dia tersenyum mengejekku. Berani benar dia! Geram Sofie.
"Mau melanjutkan aksi pura-pura pingsan Anda atau Anda mau bangun sekarang juga?" Bisik Kiana kemudian sambil mencabut jarum dari kulit Sofie.
Sofie masih mempertahankan gengsinya dan belum bersedia membuka mata lalu bangun.
"Oh, Anda masih belum mau membuka mata Anda, putri? Oke, saya akan mempermalukan Anda dengan berkata ke semuanya kalau noda di saou tangan Anda bukanlah darah melainkan saos tomat" Bisik Kiana.
Namun, ancaman Kiana itu masih belum menggerakan hatinya Sofie untuk menyerahkan egonya. Sofie masih bisa berpikir untuk berkelit soal saos tomat itu. Maka Sofie memilih untuk tetap memejamkan rapat kedua kelopak matanya.
"Oke, kalau begitu. Jangan salahkan saya kalau saya membuat Anda pingsan selamanya. Mau berapa lama Anda pingsan, Putri? Satu Minggu, Satu bulan, atau bertahun-tahun?" Bisik Kiana kemudian.
Sial! Ngeri banget ancamannya yang ini Oke lah, aku menyerah kalah kali ini. Aku akan membuka mata dan bangun. Batin Sofie dengan sangat kesal.
Sofie langsung membuka mata dan berpura-pura tersengal-sengal. Aku, ia bangun dengan bantuan Kiana. Putri Sofie berpura-pura linglung. Wanita jahat itu mengedarkan pandangannya ke semua orang dan berpura-pura bertanya, "Apa yang terjadi?" Sambil memijit pelipisnya.
Kiana bangkit berdiri dan dengan senyum lebar ia berkata, "Putri Sofie sudah sadar dan dia sudah selamat dari kematian"
Bruno mendongak kaget dan langsung berkata, "Anda siapa? Kenapa Anda hebat sekali bisa menghindarkan putri Sofie dari kematian secepat ini?"
Kiana menoleh ke Bruno dan setelah mengulas senyum lebar Kiana berkata, "Saya hanyalah wanita biasa yang sangat menyukai tanaman herbal dan teknik pengobatan"
Bruno menatap takjub wanita cantik yang sangat bersahaja dan rendah hati itu. "Siapa nama Anda?" Tanya Bruno kemudian.
"Nama saya Kiana" Sahut Kiana lalu ia kembali tersenyum lebar ke Bruno.
__ADS_1
Agha dan Alvin saling pandang dan kedua pria tampan itu saling melempar senyum lega. Kiana selamat dari jebakannya Sofie dan Sofie justru terkena bumerang dari niat jahatnya sendiri.