Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Mencium


__ADS_3

Saat Kiana hendak melangkah mengikuti laju larinya Alaric si kakek cermin berkata, "Kenapa kau menolak dipeluk sama Alaric? Padahal kalau kamu dipeluk sedikit lebih lama tadi, Kakek yakin Alaric pasti mencium kamu lagi, Kiana"


Kiana melangkah sambil menghela napas panjang lalu berkata, "Iya, Kek. Nasib-nasib kenapa juga Alaric masih berumur lima belas tahun saat ini. Aku, kan, jadi canggung dan risih dipeluk sama bocah"


"Ya, kalau begitu mau bagaimana lagi. Ini fantasinya Sofie si empunya cermin. Kamu harus bisa menghilangkan rasa canggung dan risih kamu, Kiana. Anggap saja Alaric seumuran dengan kamu. Kalau kamu merasa canggung dan risih terus, maka kamu bisa kehilangan waktu kamu dan kamu bisa terjebak di dalam cermin selamanya bersama Alaric" Sahut si kakek cermin.


Kiana langsung berkata, "Baik, Kek. Aku akan usahakan tidak merasa canggung dan risih lagi. Walaupun itu sulit, sih" Sahut Kiana.


Kiana kemudian berjalan pelan menuju ke pondok sambil berpikir, kalau aku menyuruh bocah itu memanggil aku Kiana saja tanpa embel-embel kakak, mungkin aku bisa menganggap dia seumuran dengan aku dan aku tidak akan merasa canggung lagi.


Tiga puluh lima menit kemudian, langkah kIana terhenti di depan api unggun.


Alaric bertanya tanpa menoleh Kiana, "Kenapa lama banget baru sampai? Kakak ke mana aja? Untung saja Kakak nggak nyasar dan nggak di makan sama hewan buas. Hampir saja aku nyusul Kakak tadi"


Eh, ternyata Mas Agha ceriwis banget waktu jadi bocah kayak gini. Batin Kiana dengan wajah kesal.


"Kenapa diam? Bahkan Bora udah selesai makan dan tidur, tuh" Sahut Alaric sambil.menbolak-bwlik ikan di atas api unggun.


Ternyata aku lebih suka Mas Agha yang kaku, dingin, dan pendiam. Kalau ceriwis kayak gini bikin kesal juga, hehehehe. Batin Kiana dengan senyum geli.

__ADS_1


Kiana melihat Alaric mendengus kesal. Lalu, Kiana bergegas duduk bersila di depan api unggun dan menoleh ke Alaric untuk berkata, "Aku nggak nyangka kalau kamu bisa membuat api unggun dan membakar ikan"


"Kakak menyepelekan aku, ya? Gini-gini aku jago melakukan apapun. Jangan memandang umur" Sahut Alaric dengan nada kesal dan wajah cemberut. Bocah tampan itu bahkan tidak mau menoleh ke Kiana.


"Iya, iya, aku percaya sama kemampuan kamu. Emm, aku boleh minta sesuatu sama kamu?"


Alaric menoleh kaget ke Kiana dan langsung bertanya, "Mau minta apa?"


"Panggil aku Kiana aja. Jangan pakai kayak Kak!"


Alaric mengamati wajah Kiana lalu bertanya, "Aku tanya dulu umur Kakak berapa?"


"Umurku lebih tua lima tahun dari kamu" Sahut Kiana.


"Aduh! Sakit!" Alaric merengut kesal sambil mengelus-elus keningnya.


"Itu karena kamu mengatai aku tua. Aku masih muda belum tua" Kiana mendelik kesal.


"Oke, maaf. Aku cuma bercanda. Emm, Kiana. Kalau aku manggil Kakak Kiana aja, Kakak nggak marah lagi, kan? Kakak kelihatan sangat tua kalau marah"

__ADS_1


Kiana mengangkat tangannya lagi dan Alaric langung menutup kening dengan telapak tangan dan berlari menjauhi Kiana.


Kiana berkacak pinggang di depan Alaric sambil berteriak kesal, "Kalau kamu mengatai aku tua sekali lagi, maka aku akan mengejar kamu dan.........."


"Nggak akan!" Alaric langsung mengangkat kedua jarinya ke atas lalu kembali berkata, "Aku cuma bercanda. Kalau boleh jujur, Kak Kiana, emm, Kiana, kamu sangat cantik dan kalau marah tambah cantik"


Kiana mendengus kesal dan sambil duduk selonjor di atas rumput ia berkata, "Dasar gombal"


Alaric terkekeh geli lalu duduk selonjor di depan Kiana.


Lewat cahaya api unggun yang memisahkan jarak duduk dia dan Kiana, Alaric melihat wajah Kiana tampak sangat cantik. Cahaya api unggun membuat wajah Kiana berkilau dan semakin cantik. Alaric tertegun melihat wajah cantik itu dan bocah tampan itu bergumam di dalam hatinya, kenapa jantungku berdegup kencang lagi saat ini? Apa karena aku terpesona sama kecantikannya Kak Kiana saat ini?


Setelah selesai makan dan mematikan api unggun, Kiana dan Alaric masuk ke dalam pondok. Mereka naik ke ranjang mereka masing-masing. Ranjang sederhana yang terbuat dari bambu.


Alaric masih belum bisa tidur karena jantungnya masih saja berdetak abnormal tanpa ia ketahui apa sebabnya. Lalu, bocah tampan itu menoleh ke ranjang di sebelah kanannya, "Kiana, kau sudah tidur?"


Tidak adanya sahutan dari Kiana membuat Alaric bangun, lalu bangkit berdiri dan berjalan menghampiri ranjangnya Kiana.


Bocah tampan itu duduk di tepi ranjangnya Kiana untuk menyelimuti Kiana dengan kain yang entah darimana kain itu tiba-tiba ada di lantai. Setelah menyelimuti Kiana, Alaric kemudian merapikan rambutnya Kiana.

__ADS_1


Alaric kemudian menatap wajah Kiana. Kulit putih seperti salju, hidung mungil dan mancung, wajah oval dan tirus, bulu lentik, alis sempurna seperti bulan sabit, dan bibir berwarna merah alami yang mungil dan penuh.


"Dia cantik banget" Lalu, tanpa Alaric sadari, ia terus memajukan wajahnya dan ia mencium bibir Kiana....................


__ADS_2