
Sementara itu di kerajaan kecil, Aisyah mulai resah dan gelisah menunggu kepulangan burung Beo andalannya. "Kenapa Beo bodoh kru belum balik juga? Apa dia tertangkap? Kalau sampai Beo bodoh itu tertangkap, maka semua rencanaku bisa hancur total"
Saha tiba-tiba hadir di depan Aisyah dan melapor, "Semua wabah di pinggiran kota kerajaan Pusat sudah dibereskan. Obat yang dibuat oleh Ratu Kiana sangat manjur. Semua rakyat tidak jadi menuntut turun ratu Kiana. Mereka justru terus memuji-muji kecerdasan dan kebaikan hati ratu Kiana"
"Arrghhhhhh!!!!! Dasar sia!!!!! Dasar brengsek!!!!!!" Aisyah langsung melempar pedangnya ke sembarang arah sambil berteriak kencang karena marah rencananya untuk menjatuhkan Kiana gagal total.
"Baiklah! Kita tunggu kabar dari kerajaan Utara karena aku rasa burung Beo bodoh itu tidak bisa aku andalkan. Kalau Kiana dinikahi oleh si Langit itu, maka Agha akan menikahiku dan aku membawa Agha ke sini atau aku akan menyatukan dua kerajaan. Kerajaan Agha dan kerajaanku" Sahut Aisyah.
Saha hanya bisa menghela napas panjang.
Dan di dalam kereta kuda yang mewah, Agha tengah tersenyum bahagia karena selama di perjalanan menuju ke kerajaan Utara, Agha terus tiduran diatas pangkuannya Kiana dan meminta Kiana menyuapinya manisan kedondong.
"Aaaaaaaaa" Agha membuka kembali mulutnya.
Dan Kiana membuka kembali plastik baru yang berisi manisan kedondong, "Nggak kenyang, Mas? Mas udah habiskan lima plastik manisan kedondong, lho"
Agha menggelengkan kepalanya dan kembali membuka mulutnya, "Aaaaaaa!"
Kiana tersenyum dan kembali menyuapi suaminya dengan hati-hati karena suaminya makan sambil tiduran dan di dalam kereta kuda yang tengah berjalan di tas tanah bebatuan.
Kiana lalu bertanya, "Mas, emm, tadi pagi Mas langsung bangun dan menyusul aku ke meja baca. Tapi, kenapa, Mas, wangi banget saat itu. Mas mandi jam berapa emangnya?"
"Jam dua dini hari heeeeee" Sahur Agha sambil meringis.
"Kenapa mandi sepagi itu, Mas?"Kiana sontak mengerutkan keningnya.
"Karena kegerahan"
"Kegerahan? Di musim dingin begini?" Kiana semakin menarik ke dalam kedua alisnya.
__ADS_1
Agha memilih membuka mulut, "Aaaaaaaa!" daripada menjawab pertanyannya Kiana.
Agha bergumam di dalam hatinya, aku nggak jawab, Sayang. Karena aku kegerahan melihat paha kamu waktu baju tidur kamu tersingkap. Aku lalu berlari ke kamar mandi untuk bermain solo sekalian mandi. Kalau aku jawab begitu, kamu pasti nanya, apa itu bermain solo dan aku bisa mati kutu.
"Sayang, kamu sakit? Kenapa nggak bilang kalau kegerahan tadi. Kalau sakit bilang jangan langsung mandi. Di saat demam terus mandi air dingin itu justru berbahaya. Mas, sakit, ya?" Kiana menyentuh kening suami tampannya dan Agha menarik tangan Kiana untuk ia ciumi dan berkata, "Aku nggak sakit, kok, cuma gerah saja habis main pedang, hehehehe"
"Oh, syukurlah kalau nggak sakit" Sahut Kiana dengan helaan napas lega.
Ya, aku nggak bohong. Aku memang bermain pedang, kan, hehehehehe. Batin Agha dan tanpa sadar pria tampan itu menyeringai geli.
"Mas, kenapa tersenyum geli seperti itu?"
Agha tersentak kaget lalu berkata, "Nggak,kok, aku cuma ingat hal yang lucu aja, hehehehe" Dan untuk menghindari pertanyaan Kiana yang lebih lanjut, Agha langsung tidur miring untuk menatap perut Kiana dan berkata sambil menciumi perut Kiana, "Entun, Kamu cepat keluar, ya, Ayah pengen segera uyel-uyel kamu"
Kiana tersenyum dan sambil mengusap kepala suaminya, wanita cantik itu berkata, "Iya, Ayah. Bunda juga pengen segera menggendong Entun dan memberikan ASI eksklusif untuk Entun"
Mendengar kata ASI eksklusif, Agha langsung mendongak, menatap Kiana, dan tersenyum, "Kiana......."
"Iya, aku tahu. Aku cuma ingin bermain-main saja, kok" Agha langsung menyusupkan wajahnya ke baju Kiana dan bermain asyik di gundukan sintal.
"Mas! Jangan di sini! Kalau tiba-tiba keretanya berhenti dan ada yang masuk gimana? Ah!" Kiana akhirnya memekik, menyerah kalah, dan membiarkan suaminya melakukan apapun yang suaminya suka.
Saat kereta kuda berhenti, Agha langsung merapikan baju dan rambutnya Kiana.
Lalu, Kiana turun dari atas kereta kuda dengan wajah merona merah karena ulah usil suaminya. Sedangkan Agha merangkul bahu Kiana dengan wajah semringah.
"Lho, kita belum sampai, kan? Kenapa turun di sini?" Tanya Kiana.
"Kamu jalan-jalan dulu,.gih! Aku ada urusan sebentar" Sahut Agha sambil mengusap rambut Kiana.
__ADS_1
Kiana menganggukkan kepala dan langsung mengikuti Bora dan Adyaksa untuk berjalan-jalan ke taman bunga yang sangat indah yang berada tidak jauh dari kerjaan Utara.
Setelah Kiana masuk ke dalam taman bunga itu, Agha membawa sangkar burung Beo yang berisi burung Beo milik Aisyah lalu ia melompat ke punggung Red Hair dan melesat ke kerajaan Utara.
Agha tidak ingin Langit bertemu dengan Kiana sebelum Langit tahu kalau bukan Kiana tunangan masa kecilnya Langit melainkan Aisyah.
Sesampainya di depan singgasananya Langit, Agha langsung berkata, "Jangan tanya soal Istriku! Dengarkan dulu ocehan burung ini!"
Agha lalu menjentikkan jari dan burung Beo milik Aisyah yang masih berada di dalam sangkar langsung mengoceh tiada henti. Mengoceh tentang semua kelakuannya Aisyah termasuk perkara kalung yang ditemukan di dalam kereta kudanya Agha.
Langit sontak bangkit berdiri saking kagetnya dan dia langsung melangkah turun dari atas singgasananya sambil bertanya, "Lalu, siapakah Aisyah? Di mana dia sekarang?"
Burung Beo milik Aisyah yang menjawab pertanyaannya Langit, "Kau sudah menemuinya......kau sudah menemuinya. Dia adalah wanita yang mengaku bernama Nina. Dia jahat.......dia adalah Aisyah..........Nina adalah Aisyah.......... Aisyah adalah Nina. Dia jahat......Aisyah sangat jahat"
Langit sontak mematung di depan Agha.
"Tidak! Mana mungkin Melati-ku menjadi sejahat itu dan namanya berubah menjadi Aisyah? Nggak! Melatiku bukan wanita seperti Nina atau Aisyah. Melatiku nggak berwajah judes. Melati-ku pasti Kiana. Mereka berdua memiliki kemiripan. Lembut, cantik, baik hati, cerdas, dan......."
Grab! Agha langsung mencekal kerah Langit dan menggeram, "Jangan memuji Istriku! Kalau kau terus memuji Istriku, aku akan merobek mulut kamu saat ini juga......breng......eh, aku nggak boleh ucapkan kata-kata kasar saat Kiana hamil"
Langit sontak mendorong dada Agha dan memekik kaget, "Apa?! Kiana hamil?!"
Agha menyeringai kesal dan kembali menggeram, "Kenapa kau kaget, hah?! Kiana Istriku tentu saja kalau Kiana hamil itu wajar, kan, dia ada suaminya"
Langit langsung terduduk di atas anak tangga dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bergumam, "Tidak! Kenapa jadi begini? Kenapa semuanya di luar ekspektasiku? Tidak!"
Agha lalu berjongkok di depan Langit dan berkata, "Tapi, aku tetap mengajak Kiana ke sini. Tapi, Kiana ke sini untuk mengobati ibu Suri sesuai dengan kesepakatan kita. Jadi, kita damai, kan, sekarang? Demi semua rakyat"
Langit langsung mencengkeram kerah baju Agha dan menggeram karena kecewa, "Semua gara-gara kamu! Kau sudah melenyapkan impianku, Agha!!!!"
__ADS_1
Saat Langit ingin memukul Agha dan Agha dengan sigap menahan tangan langit, lalu Kedua pria tampan itu saling mengunci tinju dan saling menggeram, Kiana melangkah masuk dan berteriak, "Hentikan!!!!!"