
Adyaksa.dan Bora tampak berlari di belakang Kiana. Dan saat Agha mendelik ke Adyaksa dan Bora karena mereka membawa Kiana masuk ke dalam istana sebelum waktunya.
Adyaksa langsung berteriak, "Istri kamu itu cerdas dan lincah seperti kelinci. Maaf kalau aku dan Bora kecolongan"
Kiana langung bersedekap di depan Langit dan Agha. Lalu, Kiana menatap lekat kedua mata Agha dengan mata menyipit dan mendengus kesal.
Agha langsung melepaskan Langit sambil berkata ke Kiana, "Dia yang mulai. Bukan aku. Aku sudah minta damai dan dia sudah dengar semuanya dari burung Beonya Aisyah. Tapi, dia tetap ingin memukulku. Ya, aku tidak akan tinggal diam, dong"
Kiana menghela napas panjang lalu berkata ke Langit, "Salam Raja Langit. Kenalkan nama saya Kiana dan saya Istrinya raja Agha. Saya di sini untuk mengobati Ibu Suri"
Agha langsung merangkul Kiana dan menjauhkan Kiana dari Langit saat Langit mengulurkan tangan ingin bersalaman dengan Kiana.
Langit menarik kembali tangannya dan menatap Kiana dengan sorot mata sendu dan Agha langsung berkata, "Jangan menatap Kiana terlalu lama! Di mana kamar Ibu Suri? antarkan kami ke sana biar Kiana bisa segera mengobati Ibu Suri dan kami bisa segera pulang"
Langit menghela napas panjang lalu bertanya, "Lalu, masalahku?"
"Lho, itu masalah kamu. Kalau kamu ingin bertemu dengan tunangan masa kecil kamu, ya, utus orang kamu untuk membawa wanita Ib......emm, maksudku, Asiyah ke sini" Sahut Agha.
Langit kembali menatap wajah cantik Kiana dengan sorot mata sendu dan berkata, "Tapi, aku tidak menginginkan wanita Iblis itu. Aku menginginkan........."
"Di mana kamar Ibu Suri? Jangan mencobai kesabaranku!" Geram Agha.
Kiana langsung mengelus pelan dada Agha dan berkata, "Mas, kita ini tamu. Kita harus bersikap sopan di sini"
"Dia menyebalkan. Mana mungkin ku bisa bersikap sopan" Agha mendelik kesal ke Langit.
Langit akhirnya menghela napas panjang untuk melepaskan rasa kecewa dan kecemburuan di hatinya. Kemudian dia berkata, "Ayo, kita pergi ke kamar Ibu Suri"
"Apa obat yang sudah Ibu Suri minum? Kabarnya Ibu Suri susah minum obat. Tapi, pasti ada beberapa obat yang bisa masuk, kan?" Tanya Kiana.
Langit menghela napas panjang lalu berkata, "Tidak ada satu pun orang yang berhasil membujuk Ibu Suri untuk minum obat. Jadi, Ibu Suri hanya makan permen jahe dan minum air mint dengan perasan lemon"
"Wah, semoga saja saya bisa membujuk Ibu Suri untuk minum obat" Sahut Kiana.
Beberapa menit kemudian, Kiana dipersilakan duduk di tepi ranjangnya ibu suri Kerajaan Utara dan Kiana mulai memeriksa kondisi ibu suri dan langsung mengobatinya dengan ramuan yang sudah ia ekstrak menjadi sebuah pil warna-warni karena kabarnya ibu suri kerajaan Utara sangat susah minum obat
Ibu suri kerajaan Utara langsung tersenyum melihat Kiana mengeluarkan lima butir pil warna-warni dan berkata, "Kamu cerdas. Apakah kamu juga sudah tahu kalau aku sangat susah minum obat dan benci banget sama obat apalagi ramuan herbal. Ugh! Rasa dan baunya nggak enak banget"
Kiana tersenyum lalu berkata, "Iya, Ibu Suri. Saya sudah tahu. Untuk itulah saya membuat pil warna-warni ini. Lapisan luar pil ini terbuat dari sirup dan rasanya sangat manis. Anda tidak akan merasakan pahitnya ramuan herbal seperti yang biasa Anda minum. Apakah Anda mau mencobanya?"
"Benarkah?" Neneknya Langit tersenyum senang lalu berkata, "Baiklah. Aku mau minum pil warna-warni itu"
Kiana langung mengulas senyum lebar di wajah cantiknya lalu ia segera membantu neneknya Langit meminum lima pil warna-warni itu dengan perlahan. Ibu Suri langsung mengerjap senang dan berkata, "Benar, rasanya manis. Terima kasih Ratu Kiana, kamu sudah memikirkan cara agar aku mau minum obat"
"Sama-sama, Ibu Suri" Sahut Kiana dengan senyum lebar.
__ADS_1
Agha tersenyum bangga melihat istrinya berhasil membuat ibu suri kerajaan Utara minum obat.
Langit pun ikut tersenyum senang melihat Kiana berhasil membujuk neneknya untuk minum obat.
Agha langung menyenggol bahu Langit dan berbisik, "Jangan menatap Istriku dengan senyuman! Aku masih cukup bersabar tapi jangan terus mencobai kesabaranku!"
Langit langsung menghapus senyumannya dan menghela napas panjang.
Lalu, neneknya Langit menoleh ke semuanya untuk berkata, "Tinggalkan aku berdua saja dengan Ratu Kiana. Aku ingin mengobrol sebentar dengan Ratu Kiana"
Agha langsung menyemburkan, "Tapi, Kiana itu......"
Kiana langsung menggenggam tangan suaminya dan menganggukkan kepala.
Agha menghela napas panjang dan terpaksa meninggalkan istrinya dengan neneknya Langit.
Neneknya Langit menggenggam tangan Kiana dan menatap Kiana dalam-dalam lalu berkata di dalam hatinya, dia sangat cantik, lembur, cerdas, dan baik hati. Andai saja Langit bisa lebih dulu bertemu dengannya bukannya Agha.
"Ibu Suri, ada apa? Kenapa Ibu Suri terus menatap Kiana.
Neneknya Langit tergagap dan langsung berkata, "Aku ini adalah seorang Dewi. Karena kamu sudah berhasil membujukku minum obat, maka aku akan transfer hawa suciku ke tubuh kamu. Setelah menerima hawa suci dariku, kamu akan panjang umur dan awet muda"
"Tapi, itu tidak perlu. Anda sedang sakit bagaimana mungkin Anda........"
"Tidak apa-apa. Mentransfer hawa suci tidak akan melukaiku. Bukalah baju kamu!"
"Tolong aku. Biarkan aku membalas budi baik kamu, anak cantik"
Kiana akhirnya menuruti permintaan neneknya Langit. Dia membuka baju dan menerima hawa suci dari neneknya Langit.
Satu jam kemudian, neneknya Langit berteriak, "Kami sudah selesai. Masuklah kalian semua"
Semuanya kembali masuk dan Ibu Suri kerajaan Utara langsung berkata, "Aku sangat menyukai Ratu Kiana. Tapi, aku tidak. Isa menahannya di sini terlalu lama. Namun, bolehkah aku minta raja Agha dan yang lainnya menginap satu hari lagi di sini karena aku masih ingin berlama-lama sedikit, emm, sehari saja bersama Ratu Kiana"
Agha hendak membuka mulut dan Kiana langsung menyahut, "Iya, baiklah. Kami akan menginap sehari lagi di sini dan kami akan pulang besok lusa"
Agha langsung berbisik ke Langit, "Jangan macam-macam dengan Istriku! Aku akan berada di samping Kiana dua puluh empat jam penuh"
Langit hanya bisa menghela napas panjang.
Selama tinggal di kerajaan Utara, Kiana benar-benar dimanjakan oleh ibu suri dan sejak adanya Kiana, kesehatan ibu suri membaik dengan cepat dan sembuh tepat di saat Kiana pamit pulang. Ibu Suri terpaksa melepas Kiana pulang sambil berkata, "Kalau ada waktu main ke sini lagi, ya"
"Baik, Ibu Suri" Ucap Kiana sambil memeluk neneknya Langit.
Dan Langit hanya bisa gigit jari karena selama Kiana tinggal di kerajaan Utara, dia sana sekali tidak memiliki kesempatan mendekati dan mengobrol dengan Kiana. Karena Agha menjaga ketat Kiana.
__ADS_1
Langit akhirnya memutuskan pergi ke kerajaan kecil di Padang pasir untuk bikin perhitungan dengan Aisyah.
Dua Bulan kemudian.........
Saat melihat istrinya tengah asyik membaca buku herbal dan menulis catatan-catatan kecil di meja kerja, Agha memeluk Kiana dari arah belakang, lalu mencium pipi Kiana, setelah menyusupkan wajahnya ke ketiak Kiana untuk mencium perut rata istri kecilnya, ia menoleh ke Kiana untuk berkata ke istri kecilnya, "Aku bosan di kamar terus. Aku pergi ke divisi medis bentar menemui Ayah Danur, ya?"
Kiana mencium kening suaminya lalu berkata, "Iya, Mas"
Agha lalu menarik wajahnya dan mencium pipi Kiana sekali lagi setelah itu ia berlari kecil meninggalkan Kiana dan Kiana menatap punggung suaminya dengan senyum geli lalu bergumam, "Kenapa Mas Agha sepertinya pengen banget ketemu Ayah?"
Empat puluh lima menit kemudian, Agah duduk di depan meja kerjanya tabib Danur dan langsung berkata, "Tabib, emm......."
"Tabib? Kenapa Yang Mulia tidak memanggil saya, Ayah?" Tabib Danu sontak mengerutkan keningnya di balik meja kerjanya.
Agha langsung meringis dan sambil mengelus tengkuknya ia berkata, "Emm, soalnya Agha ingin menanyakan sesuatu dan kalau Agha bertanya ke Ayah, dengan memanggil Ayah, Agha malu, hehehehe, makanya, emm, Agha mau memanggil Ayah, Tabib, sebentar aja. Boleh, ya, hehehehe. Anggap Agha sebagai pasiennya Ayah dan bukan menantu Ayah. Oke, Tabib?"
Tabib Danur semakin menarik ke dalam kedua alisnya yang terpaut sedari tadi sewaktu Agha meringis dan mengelus tengkuk. Lalu, Tabib Danur bertanya, "Ada apa, Yang Mulia? Apa yang ingin Yang Mulia tanyakan kepada saya sebagai tabib Anda?"
"Emm, Agha, kan, yang ngidam dan Kiana baik-baik saja. Sama sekali tidak ngidam. Kandungan Kiana sudah dua bulan lebih beberapa Minggu saat ini. Apa Agha sudah boleh melakukan itu, Tabib?"
Tabib Danur sontak mengulum bibir menahan senyum dan Agha langsung meringis dan kembali mengelus tengkuknya.
Tabib Danur lalu menyesap cangkir tehnya untuk meredakan rasa gelinya dan Agha kembali berkata, "Itu hobi Agha kalau malam, Tabib. Nah, pas nggak boleh melakukan itu, Agha kebingungan kalau malam mau ngapain?"
Tabib Danur langsung menelan cepat tehnya lalu berdeham untuk mengusir tawanya lalu ia bergegas berkata, "Bukankah Anda memiliki banyak hobi selama ini, Yang Mulia? Anda suka membaca, bermain catur, berlatih pedang, bahkan sebelum Kiana hamil, Anda, kata Kiana suka melukis"
Tabib Danur kembali menyesap cangkir tehnya.
"Tapi, sejak Kiana hamil, setiap kali mau baca buku, kok, bosan karena setiap hari sudah baca bertumpuk-tumpuk petisi. Terus mau jalan-jalan di malam hari takut ketemu iblis wanita jadi-jadian, berlatih pedang sama Ayah Abinawa juga sudah bosan karena Agha sudah hapal semua jurusnya.Main catur sama Bora dan Paman Adyaksa juga membosankan kerena Agha menang terus, Ayah, eh Tabib. Lalu, mau melukis siapa kalau yang dilukis tengah hamil dan nggak mau dilukis. Aku hanya mau melukis Kiana, Hufftttt!" Agha melancipkan bibirnya selancip mungkin.
Tabib Danur sontak menoleh ke belakang dan menyemburkan teh yang ada di dalam mulutnya lalu ia tertawa geli dengan sangat lirih.
Agha sontak bertanya, "Tabib ngetawain saya, ya?"
Tabib Danur mengusap mulutnya lalu bergegas menghadapkan wajahnya ke depan kembali untuk berkata, "Maafkan saya Yang Mulia. Tehnya agak sepet, jadi saya semburkan, hehehehe. Kalau itu yang Anda inginkan, saya akan memeriksa Kiana nanti dan........"
Tabib Danur menghentikan ucapannya dan sontak menatap tangannya saat Agha tiba-tiba mencekal tangannya.
Tabib Danur lalu mengerutkan keningnya saat Agha menariknya keluar dari balik meja kerjanya.
"Yang Mulia, Anda mau mengajak saya ke mana?!" Tanya Tabib Danur sambil berlari mengikuti laju lari menantunya.
"Periksa Kiana sekarang saja, Tabib! Kiana tengah bersantai di dalam kamar" Sahut Agha sambil berlari dan menoleh ke belakang.
Tabib Danur langsung berkata, "Tapi, divisi medis kosong saat ini dan......"
__ADS_1
"Lebih penting memikirkan malam hariku yang selalu kosong, Tabib" Pekik Agha tanpa menghentikan laju larinya sambil menarik tangan ayah mertuanya.
Tabib Danur mengikuti laju larinya Agha dan kembali mengulum bibir menahan senyum geli.