
Sementara itu, Agha yang duduk di samping kiri Kiana, terus menatap wajah Kiana dari arah samping. Pria tampan itu masih bertanya-tanya, kenapa wajah Kiana muram dan seperti habis menangis.
Pria tampan itu kemudian menatap lurus ke depan ke Komala. Agha yang memiliki mata tajam bisa melihat gerak-gerik anehnya Komala.
Saat Komala bangkit berdiri dan mengeluarkan pisau, Agha langsung menarik Kiana masuk ke dalam pelukannya dan ia berputar badan dengan cepat
Jleb! Pisau buah yang kecil itu menusuk punggung Agha. Untungnya tusukan itu tidak begitu dalam karena Komala yang belum pernah menusuk orang sebelumnya menusukkan pisau itu dengan ragu dan tangan gemetaran.
Tabib Danur dan istrinya terkejut bukan main dan mereka berdua sontak bangkit berdiri secara bersamaan dengan mulut ternganga. Saking terkejutnya mulut mereka tidak bisa mengeluarkan teriakan kaget.
Teriakan kaget justru tersembur lepas dari mulut mungilnya Kendra, "Kak Agha!!!!!!"
Pisau terjatuh ke lantai dan Komala jatuh terduduk di atas lantai dengan menarik kedua alisnya ke atas dan mulutnya ternganga lebar. Komala lalu berteriak histeris, "Aaaaaaaa!!!!!!" Dengan derai air mata.
Istri tabib Danur langsung berlari memeluk putri kesayangannya dan menatap nanar punggung Agha yang berdarah.
Agha langsung berteriak ke pelayan yang berdiri di sebelah Kendra, "Bawa Kendra ke kamarnya"
Pelayan tersebut langsung menuruti perintah Agha.
Wajah Tabib Danur seketika memucat dan ia langsung membungkukkan badan dan berkata, "Saya yang akan menghukum Komala, Yang Mulia Agha Caraka. Tolong, jangan hukum Komala! Saya yang akan menghukumnya, Yang Mulia"
Kiana memeluk erat tubuh Agha dan langsung bertanya, "Yang Mulia, Anda baik-baik saja?"
Agha mendengus kesal dan menarik diri dari pelukannya Kiana untuk menatap Kiana dan bertanya, "Apa perintahmu?"
"Apa maksud Anda, Yang Mulia?"
"Berikan hukuman ke adik kamu yang sangat bodoh dan jahat itu!" Agha berkata dengan suara serak menahan rasa sakit yang mulai berdenyut di punggungnya.
__ADS_1
"Ampuni Komala, Kiana! Ibu mohon" Pekik ibu tirinya Kiana dengan wajah frustasi.
"Aku serahkan ke kamu soal hukumannya"
"Ter......terserah saya?" Tanya Kiana dengan ragu.
"Iya, terserah kamu" Sahut Agha dengan wajah serius.
Kiana lalu berkata, "Berlututlah di tengah halaman depan sampai besok pagi dan aku melarang semuanya memberikan makan dan minum ke Komala" Teriak Kiana kemudian.
Tabib Danur dan istrinya langsung bernapas lega mendengar hukuman yang cukup ringan keluar dari mulut Kiana untuk kesalahan sangat besar yang Komala lakukan.
Tabib Danur dan istrinya kemudian berucap secara bersamaan, "Terima kasih Kiana"
Kiana mengabaikan ucapan ayah dan ibu tirinya. Gadis kecil itu masih tersihir senyum tampannya Agha.
Agha yang masih memunggungi Komala tersenyum ke Kiana, menoel hidung Kiana dan berkata, "Kau bijak juga, gadis liarku"
"Apa kau mengkhawatirkan aku?"
'Iya, Yang Mulia"
"Ini hanya luka kecil. Tidak perlu kau papah. Aku bisa jalan sendiri"
"Tolong jangan banyak bergerak, Yang Mulia. Saya tatap akan memapah Anda karena kita belum melihat lukanya besar atau kecil"
"Baiklah. Pasien harus nurut sama tabib" Sahut Agha dengan senyum senang.
Pria tampan itu bahagia bukan main melihat Kiana bersusah payah memapahnya dan mengkhawatirkan dirinya.
__ADS_1
Setelah selesai mengobati punggung Agha yang terluka kena tusukan pisau buah kecil dan membalut luka tersebut dengan rapi, Kiana memakaikan kembali bajunya Agha dengan pelan lalu merapikannya dan tersenyum menatap Agha.
"Kau senang, ya, hari ini?" Agha menatap Kiana dengan wajah datar, namun pria gagah dan tampan itu mengulas senyum bahagia di hatinya.
"Iya, Yang Mulia. Terima kasih banyak, Yang Mulia" Kiana tersenyum lebar di depan Agha dan tanpa ia sadari ia mencondongkan tubuhnya ke Agha.
"Kenapa kau berterima kasih?" Agha memandangi wajah cantik istrinya dengan penuh cinta.
"Karena Yang Mulia menyusul saya ke sini, karena Yang Mulia sudah membuat keluarga saya mau mengatakan kata maaf, karena Yang Mulia sudah melindungi saya dan terluka karena saya, dan Yang Mulia mengijinkan saya hanya menghukum Komala berlutut di tengah halaman padahal Komala sudah melukai dada Yang Mulia. Meskipun Komala sering menindas saya, tapi dia tetap lah adik saya. Saya tidak ingin dia terluka"
Kau memang berhati baik, Kiana. Batin Agha.
Agha kemudian berdeham lalu berkata, "Hanya kata terima kasih yang kamu ucapkan? Kamu tidak kasih apa-apa ke aku?"
"Sa.....saya tidak punya barang berharga yang pantas saya berikan kepada Anda, Yang Mulia. Tapi, saya akan berikan sesuatu yang Anda sukai selama ini" Kiana berucap dengan wajah malu-malu.
Agha langsung bertanya, "Apa itu?"
Mmmuah. Kiana refleks mencium pipi kanan Agha yang membuat Agha terperanjat kaget dan langsung mematung.
Kiana dengan cepat menarik wajahnya dan dengan rona malu di wajah Kiana terus menatap Agha dan berkata, "Anda suka dicium di pipi. Maka saya mencium Anda di pipi sebagai tanda terima kasih saya, Yang Mulia"
Agha tersenyum senang dan merangkul erat pinggang istri kecilnya. Pria tampan itu lalu mengelus elus rambut Kiana dengan tangan kanan dan menundukkan kepala Kiana agar ia bisa mencium pucuk kepala istri cantiknya. Kemudian Jenderal gagah perkasa itu mencubit dagu Kiana, mengangkat pelan wajah Kiana. Wajah Kiana dan Agha menjadi dekat.
Rasa panas di wajah dan debaran jantung abnormal membuat Kiana langsung memejamkan mata dan membuat Agha nekat mencium kedua kelopak mata Kiana secara bergantian dengan sangat lembut, lalu bibir Agha menyusuri hidung Kiana sampai di pucuknya, kemudian beralih ke kedua pipi Kiana. Di saat bibir Agha akhirnya mendarat di bibir Kiana, Agha mengusapkan pelan bibirnya di bibir ranum istri kecilnya, lalu dengan perlahan Agha memagut bibir manis semanis madu itu dengan lembut tapi penuh gairah.
Agha menarik bibirnya sejenak untuk memberikan waktu bagi Kiana menarik napas dan ia menatap wajah cantik istrinya yang saat ini tampak merah muda dan terlihat lebih cantik, lalu pria gagah perkasa itu menarik tengkuk Kiana dengan tidak sabar dan kembali memagut bibir semanis anggur merah dengan gairah yang meletup liar.
Kiana tanpa sadar merangkulkan kedua tangannya di leher Agha untuk memperdalam ciuman mereka dan Agha menyeringai senang di atas bibir istri kecilnya. Agha memberanikan diri menggigit bibir Kiana dengan pelan agar gadis cantik yang masih lugu itu membuka bibir dan Agha langsung memasukkan lidahnya dan mengajak lidah Kiana berdansa Tango.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang cukup keras dan Agha terpaksa menarik wajahnya.
Agha dan Kiana kemudian bersitatap dengan wajah linglung.