Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Bertemu


__ADS_3

Di kerajaan Timur, setelah memilih baju pengantin dan aksesoris untuk calon istrinya, raja Abimantya langsung memerintahkan semua dayang untuk mempersiapkan acara pernikahannya. Lalu, raja Abimantya menggandeng tangan calon istrinya yang sangat cantik, yang sudah ia cintai dan kagumi sejak ia masih remaja, sambil berkata, "Aku akan ajak kamu ke suatu tempat dan aku yakin sekali kalau kamu bakalan suka dengan tempat itu"


"Tempat apa, Yang Mulia?"


"Kamu akan tahu sebentar lagi" Raja Abimantya berkata sa bila.menarik pelan tangan Kayla yang ia genggam lembut.


Lima menit kemudian Abimantya dan Kayla sampai di depan hamparan kening bunga matahari.


Kayla menoleh kaget ke calon suaminya dan membeliak tidak percaya, "Anda masih ingat dengan bunga kesukaan saya, Yang Mulia? Lalu, emm,.........kapan Anda menanamnya?"


Abimantya memegang kedua bahu Kayla dan menghadapkan tubuh Kayla ke arahnya lalu berkata, "Sejak lama. Sejak kamu menikah dengan Danur. Aku merindukanmu. Sangat merindukanmu. Dan kau tahu, aku membunuh kerinduanku padamu dengan cara menanam benih bunga matahari di ladang ini, lalu merawat benih itu sampai tubuh dan merawat bunganya bisa tetap mekar indah seperti ini"


Mata Kayla mulai berkaca-kaca karena terharu dan Kayla kemudian berkata dengan nada bergetar menahan isak tangis harunya, "An......Anda......sudah banyak menolong saya di masa lalu. An.....Anda.......Sa.......saya tidak menyangka kalau Anda mencintai saya sebesar ini, Yang Mulia"


"Walaupun kamu telat menyadarinya, tidak apa-apa. Lebih baik terlambat daripada........ hmpppttthhh!" Raja abimantya membeliak kaget saat Kayla membungkam mulutnya dengan bibir.


Lalu, Abimantya memejamkan mata, menarik Kayla sampai menempel ke tubuhnya, dan dia membalas ciumannya Kayla dengan lembut dan penuh dengan perasaan cinta.


Sementara itu di kerajan Pusat dai dalam kamar tamu, Aisyah kemudian merapikan diri dan dandanannya di depan cermin sambil bergumam, "Oh, iya. Sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan raja Abinawa. Aku kunjungi saja beliau. Kalau aku mengunjungi beliau dan berbicara soal politik dan tawaranku, aku yakin banget kalau beliau akan menjadikan aku selirnya raja Agha dalam waktu dekat ini. Aku dan raja Abinawa, kan, memiliki hubungan yang cukup dekat selama ini. Dia bahkan pernah berkata sudah menganggap aku seperti Putrinya. Permaisuri juga bersahabat baik denganku"


"Selamat siang, Bora"


Mendengar suara istri tercintanya, Agha langsung mendongak dan lebih dulu menyahut sebelum Bora, "Siang, Sayangku. Sudah bangun?"


"Siang, Ratu. Saya permisi keluar, Yang Mulia" Bora membungkukkan badan lalu bergegas keluar dari ruang kerja junjungannya daripada menjadi obat nyamuk.


Kiana meletakkan teh di atas meja kerja suaminya dan Agha langsung menenggak habis teh itu.

__ADS_1


Kiana sontak memekik, "Mas! Masih panas jangan ........."


Agha meringis dan menggulingkan cangkirnya lalu berkata, "Sudah habis dan gak terasa panas, kok"


Kiana langsung memutari meja dan duduk di pangkuan suaminya, "Maafkan aku bangun kesiangan sampai membuat suamiku kehausan"


Agha meletakkan cangkir dan langsung memeluk pinggang ramping istri cantiknya dan berkata, "Harusnya aku yang meminta maaf karena sudah membuatmu kecapekan"


Kiana langsung menunduk malu dan Agha tersenyum gemas lalu mencium kening istri cantiknya.


Kiana kemudian mendongak untuk berkata, "Ini sudah siang, Mas. Aku sudah siapkan makan siang. Makan dulu, yuk. Setelah makan siang kita ke paviliun Ayahanda untuk memberikan salam karena sejak kita masuk ke istana, kita belum sempat mengunjungi paviliun Ayahanda. Lalu, kita kunjungi Ibunda dan Kak Bhadra"


Agha mengusap punggung Kiana sambil tersenyum dan berkata, "Iya. Kita makan terus kita kunjungi Ayahanda dan setelah mengunjungi Ayahanda, kita ke Paman Adyaksa"


"Lho, kok, ke Paman Adyaksa?"


"Lalu Ayahku?" Tanya Kiana.


"Tabib Danur langsung pulang ke kediamannya setelah Ibunda dan Kak Bhadra pulang ke Kerajaan Timur"


Kiana langung menyandarkan kepalanya di dada suaminya dan berkata sambil mengusap lembut dada suaminya, "Aku masih belum rela sebenarnya melihat Ayahku dan Ibuku bercerai. Tapi, itu sudah menjadi keputusannya Ibunda dan aku hanya bisa mendoakan semoga Ayahku dan Ibukku bisa bahagia dengan pilihan mereka"


Agha menyusupkan wajahnya di rambut wangi dan indahnya Kiana lalu berkata di sana, "Meskipun tidak rela tapi jika itu sudah menjadi pilihan ayah dan Ibu, maka kita sebagai anak hanya bisa mendoakan kebahagiaan mereka"


Kiana lalu menarik kepalanya dari dada bidang suaminya lalu ia mengecup bibir suaminya dan berkata, "Iya, Mas. Ayo kita makan. Aku ingin segera mengunjungi Ayahanda Abinawa karena Nyonya Janet berkata kalau Ayahanda Abinawa sudah sangat merindukan kita"


Agha langsung membopong Kiana lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke meja makan sambil mengajak Kiana berciuman.

__ADS_1


Setelah menyelesaikan ritual makan di dala. Kamar, saling suap, saling mengecup sesekali, dan tanpa adanya table manner, Agha memggandeng tangan Kiana menuju ke paviliun ayahandanya.


Raja Abinawa menyambut Agha dan Kiana dengan wajah semringah.


"Agha bawa oleh-oleh wangi-wangian, obat-obatan herbal, dan golok khas kerajaan kecil di Padang Pasir, Ayah" Agha berkata sambil melepaskan diri dari pelukan ayahandanya.


"Iya, terima kasih banyak Agha. Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot seperti ini beli oleh-oleh. Kamu sudah membereskan masalah di sana, itu sudah membuat Ayahanda bangga, senang, dan lega" Raja Abinawa mengusap lembut pucuk kepala putra tampannya.


Saat raja Abinawa menoleh ke Kiana, Kiana langsung meraih tangan ayah mertuanya dan mencium punggung tangan ayah mertuanya.


Raja Abinawa menepuk pelan kepala Kiana dan menoleh ke Agha, "Apa Ayah boleh memeluk Istri kamu?"


Agha langsung menarik pinggang Kiana dan berkata dengan wajah posesif, "Tidak boleh"


Kiana langsung menoleh kaget ke Agha dan berkata, "Mas, nggak boleh pakai nada tinggi sama Ayahanda. Kita harus hormat sama orangtua"


Agha langsung menundukkan kepala dengan cepat dan berkata, "Maaf, Ayah"


Raja Abinawa justru tertawa terbahak-bahak dan berkata, "Hahahahahaha! Kamu benar-benar mirip dengan Ibu kamu. Ibu kamu selalu memasang wajah posesif seperti kamu tadi. Ayo duduk! Kita ngobrol santai dan makan camilan"


Agha dan Kiana lalu duduk di depan mantan raja untuk mengobrol santai dan melepas rindu.


Saat Agha, Kiana, dan Abinawa tengah asyik mengobrol, makan camilan, dan minum teh, terdengar suara sangat merdu, "Wah, kebetulan yang sangat menyenangkan, saya akhirnya bisa bertemu dengan ratu Kiana"


Kiana tersentak kaget dan langsung mematung saat ia menatap wanita cantik jelita dengan tubuh seksi dalam balutan baju khas Padang pasir itu.


Aisyah mengulas senyum terbaiknya di wajah cantik jelitanya dan berkata di dalam hatinya, sial! Ternyata Kiana sangat cantik. Kulitnya putih seputih salju dan tubuhnya ramping, mungil. Sangat imut dan menggemaskan. Pantas saja kalau Raja Agha sangat memujanya. Tapi, tidak lama lagi Raja Agha akan memuja kesempurnaan diriku, Kiana. Tunggu saja aksiku!

__ADS_1


__ADS_2