Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Kenapa Begini?


__ADS_3

Mari kita tengok apa kabarnya Agni. Agni dengan riang gembira membawa rantang makanan. Dia memasak makanan kesukaannya Bora. Agni menjadi pandai memasak sejak Agha dan Bora pergi cukup lama. Agni sering datang ke paviliun raja untuk meminta kakak iparnya yang cantik mengajarinya memasak. Kiana dengan senang hati dan penuh kesabaran mengajari Agni memasak sampai Agni memiliki tangan yang terampil untuk menghasilkan sajian lezat selain terampil memainkan pedang.


Sebagai gantinya, Agni mengajari Kiana teknik bela diri dan teknik bermain pedang. Tanpa sepengetahuannya Agha, Kiana sudah cukup mahir bermain pedang dan bela diri.


Agni masuk ke ruang kerja Jendera kerajaan Pusat dan melangkah dengan mengendap-endap saat ia melihat Bora tengah asyik menekuri berkas-berkas.


Bahkan saking asyiknya menekuri berkas-berkas, Bora tidak menyadari saat Agni meletakkan rantang makanan di atas meja kerjanya Bora.


Agni menyeringai jahil. Aku, wanita cantik yang memiliki bentuk wajah mirip dengan Agha itu, berjalan tanpa bersuara ke belakang kursi yang dipakai duduk oleh Bora.


Agni kemudian menutup kedua mata Bora dari arah belakang.


Bora tersentak kaget dan langsung berteriak, "Agni!"


Agni merengut kesal, "Yeeaahhh, kok, langsung ketahuan, sih? Harusnya nebak-nebak dulu, kan, jadi nggak asyik"


Bora terkekeh geli dan langsung menarik Agni ke atas pangkuannya.


Agni masih merengut kesal dan Bora langsung menoel pucuk hidung kekasihnya dengan gemas sambil berkata, "Wangi kamu dan kerinduanku, membuatku nggak bisa menahan diri untuk menyebut nama kamu, Sayang"


Agni langsung membenamkan wajahnya yang tersipu malu di dada bidangnya Bora.


Bora sontak menggemakan tawa bahagianya sambil memeluk erat tubuh ramping kekasihnya.


Agni kemudian menarik wajahnya untuk berkata, "Aku perdana memasak untuk kamu. Ikan kakap asam manis kesukaan kamu. Cicipilah?"


Bora melirik Agni dan dengan tatapan ragu Bora membuka rantang.


"Beneran kamu yang masak? Bukan koki? Bukan bibi........."


"Aish! Nyesel aku repot-repot masak untuk kamu!" Agni langsung bersedekap dengan mulut mengerucut lancip.


Bora langsung mengecup bibir Agni dan berkata, "Maaf. Soalnya kamu, kan, nggak pernah masak sebelumnya. Masak air aja gosong"


Agni langsung tertawa dan berkata, "Gila! Kenapa kau ungkit soal itu, hah?! Aku sudah banyak berubah sekarang dan itu karena kamu. Aku, kan, sebentar lagi akan menjadi Nyonya Bora. Aku harus bisa masak, kan. Kak Kiana yang mengajariku"


"Oke, aku cicipi"


Beberapa detik kemudian Bora membeliak kaget lalu berkata, "Ini enak banget. Sungguh!"


Agni langsung mengulas senyum lebar di wajah cantiknya. "Kalau suka, habiskan!"


"Hmm. Makasih, Sayang. Sumpah ini enak banget" Bora mencium pipi Agni lalu melanjutkan makannya.


Saat Bora tengah asyik menikmati masakan Agni, tiba-tiba Agni bertanya, "Tadi, aku lihat Ratu Aisyah berjalan keluar dari dalam kamar menuju ke kebun belakang dengan memakai jubah yang mirip denganmu. Jubah itu hanya kebetulan saja mirip dengan jubah kamu atau jubah itu memang milik kamu dan kamu berikan ke Ratu Aisyah?"


Bora langsung tersedak dan menatap Agni dengan tatapan was-was juga lebih dengan rasa bersalah karena dia lupa bercerita soa jubahnya itu.

__ADS_1


Sementara itu di kebun belakang istana, Aisyah bertemu dengan jenderal kepercayaannya dan setelah mendengar laporan dari jenderal itu, Aisyah berucap, "Kerja bagus" Dengan mengulas senyum lebar di wajah cantik jelitanya.


Agha menurunkan Kiana dengan pelan di atas lantai mewah kamarnya. Lalu, ia bergegas mengambil kotak berwarna merah. Saking tidak sabarnya ingin melihat istrinya memakai setelan baju bangsawan ala kerajaan kecil di Padang Pasir, Agha bahkan berlari sambil mendekap kotak besar berwarna merah itu.


Agha kemudian menghentikan laju lari kecilnya di depan Kiana dan menyerahkan kotak besar berwarna merah itu.


Kiana menerima kotak besar berwarna merah itu sambil bertanya, "Ini apa, Mas?"


"Bukalah dan langsung pakai" Agha berucap sambil duduk di atas sofa yang berhadapan dengan ranjang.


Kiana duduk di tepi ranjang lalu meletakan kotak besar berwarna merah itu di samping kanannya. Kiana menoleh ke suaminya dan ikutan tersenyum saat ia melihat suaminya tersenyum padanya.


"Cepat buka! Kamu pasti suka" Agha mengerjapkan mata penuh antusias.


"Baik, Mas. Aku buka, ya" Kiana membuka pelan kotak besar berwarna merah itu lalu ia mengeluarkan isinya, "Mas, ini apa?" Kiana mengeluarkan atasan berwarna hitam yang minim bahan. Kiana lalu meletakkan atasan itu di depan dadanya dan berkata, "Kalau ini aku pakai, hanya bisa menutupi dadaku, Mas. Perut dan punggungku tidak tertutupi" Kiana merona malu.


"Iya. Emang begitu modelnya. Pakailah! Cobalah! Ada roknya juga. Itu Baju setelan yang biasa dipakai oleh kaum bangsawan di kerajaan Kecil yang ada di Padang Pasir. Aku memilihnya sendiri untuk kamu dan aku pengen melihat kamu memakainya saat ini juga" Agha tersenyum senang melihat rona malu di wajah istrinya.


Kiana lalu mengeluarkan rok dari dalam kotak besar berwarna merah itu. Kiana kemudian bangkit berdiri dan menempelkan rok berwarna hitam itu di depan perutnya. "Rok ini panjang, sih, tapi kenapa belahan di sisi kiri ini sampai paha, Mas?"


"Iya. Emang gitu modelnya. Ada hiasannya. Coba kamu lihat!" Ucap Agha dengan melebarkan senyumannya saat ia melihat telinga kIana ikutan memerah saat Kiana merona malu.


Kiana mengambil dua buah ornamen yang terbuat dari emas murni dan berbentuk daun dengan banyak rantai mengaitkan kedua ornamen berbentuk daun itu.


Kiana mengerutkan keningnya dan sambil memandangi ornamen berbentuk daun itu, Kiana bertanya, "Ini cara makainya di mana? Ini dipasang di mana, Mas?"


"Itu dipasang di kedua bahu kamu. Kamu pakai dulu bajunya lalu kamu pasangkan ornamen itu di kedua bahu kamu" Sahut Agha dengan seringai penuh arti karena di benak Agha sudah dipenuhi hal-hal erotis.


Agha sontak mengerutkan keningnya dan menyemburkan, "Kenapa nggak di sini saja, aku, kan, bisa........"


Syuuuuut!!!!! Kiana langsung berlari meninggalkan Agha dengan rona malu di wajahnya.


Agha sontak menggemakan tawa renyahnya melihat tingkah konyolnya Kiana.


Kiana meletakkan kotak besar berwarna merah yang dia dekap sejak tadi di atas meja rias. Lalu, ia melepaskan semua bajunya dan mencoba setelan baju Padang pasir yang dibelikan suaminya untuknya. Kiana memakai semua setelan seksi itu beserta semua aksesoris pelengkapnya. Kiana juga memakai hiasan untuk kepala.


Kiana tertegun menatap bayangan dirinya di cermin. Lalu, wanita cantik itu bergumam, "Baju ini lebih seksi dari baju yang dipakai oleh Ratu Aisyah. Benarkah semua wanita bangsawan di kerajaan kecil Padang Pasir memakai setelan baju model begini? I.....itu berarti Mas Agha selalu mendapatkan vitamin A di sana. Mata Mas Agha pasti segar bugar selama tinggal di sana karena setiap hari melihat wanita memakai baju terbuka seperti ini"


Setelah menunggu selama hampir setengah jam dan Kiana belum juga keluar dari dalam kamar ganti, Agha berteriak, "Kok, belum keluar?!"


Agha diam sejenak untuk menunggu sahutan dari dalam kamar ganti. Namun, tidak ada sahutan sama sekali. Agha langsung bangkit berdiri dan berlari kecil ke ruang ganti baju karena ia mengkhawatirkan Kiana.


Sesampainya di ruang ganti baju yang pintunya dibiarkan terbuka oleh Kiana atau Kiana lupa menutup pintunya, Agha berdiri mematung di sana. Agha tertegun melihat sosok istrinya dari arah belakang.



Agha kemudian tersenyum penuh cinta dan kekaguman dan sambil berjalan pelan mendekati istri kecilnya yang terlihat sangat seksi saat ini, Agha bergumam, "Kau sungguh indah, Sayang"

__ADS_1


Kiana menoleh pelan sambil berkata, "Mas, kenapa masuk ke sini?"


Agha langsung memeluk Kiana dari arah belakang lalu mendaratkan dagunya di atas pundak Kiana dan berkata, "Kau sangat cantik, saat ini, Sayang" Agha mencium leher Kiana.


Kiana langsung berkata, "Pantas saja, Mas, betah berada di Kerajaan Kecil Padang pasir. Mas selalu melihat wanita bangsawan di sana dengan baju semacam ini"


Agha kembali mencium leher Kiana lalu berkata, "Kau sekarang tahu betapa hebatnya Suami kamu menahan kerinduannya atas kamu selama tinggal di Kerajaan Kecil"


Kiana merona malu.


Agha lalu memutar pelan tubuh istri kecilnya lalu memegang lembut kedua bahu Kiana untuk melihat istri tercintanya dalam balutan baju dan aksesoris ala Padang Pasir itu dari depan. Agha kemudian menyapu semua penampilan Kiana dari atas rambut sampai ke ujung belahan rok dengan sorot mata panasnya sambil berkata, "Kau sungguh sempurna, Sayang"


Kiana merona malu dan sambil menunduk, wanita cantik itu berkata, "Kamu sudah melihatnya, kan, Mas, sekarang keluar lah?! Aku akan ganti baju dan.......kyaaaa!!!!" Kiana menjerit kaget saat Agha tiba-tiba membopongnya.


"Mas, bukankah kita harus segera menemui Paman Adyaksa untuk mengajukan cuti besar lalu pergi ke kerajaan Timur?" Ucap Kiana sambil merangkul erat leher kokoh suaminya.


Agha menurunkan Kiana dengan hati-hati di depan ranjang sambil berkata, "Semua urusan lainnya bisa menunggu. Saat ini aku ingin menikmati keindahan Istriku dulu"


"Mas, aku masih capek"


"Aku nggak akan melakukan apa-apa sama kamu. Aku cuma ingin melukis kamu dengan balutan baju itu karena kau tampak sangat indah saat ini, Sayang"


"Hah?! Mas, bisa melukis?" Kiana tersentak kaget.


"Bisa, dong. Aku bisa melukis sejak kecil. Tetapi aku berhenti melukis saat Ayah angkatku meninggal dunia karena dibunuh. Sekarang keinginanku untuk melukis timbul lagi dan itu karena kamu. Ini perdana aku melukis lagi dan itu karena kamu, karena keindahan kamu, Sayang"


"Wah, ternyata aku belum cukup mengenal kehebatan Suami tampanku ini. Benar? Hanya melukis aku, kan, Mas?"


"Hmm. Berbaringlah miring ke arah sini. Aku akan melukis kamu" Agha berucap sembari duduk di atas sofa dan mulai menyiapkan peralatan lukisnya.


Sepetinya Mas Agha beneran hanya ingin melukis aku. Baiklah. Aku akan menuruti Mas Agha. Bukankah menyenangkan hati suami pahalanya sangat besar. Batin Kiana sambil berbaring miring menghadap ke depan sesuai dengan permintaan suaminya.


Kiana kemudian tersenyum canggung dan berkata, "Mas, posisi ini membuatku tampak........"


"Indah" Sahut Agha.


"Bukan indah, Mas. Aku malu, Mas. Aku merasa seperti tidak memakai sehelai kain pun"


"Sstttt! Jangan banyak bicara dan jangan banyak gerak. Pertahankan posisi itu!" Sahut Agha tanpa mengalihkan pandanganya dar kanvas.


Lima belas menit berlalu dengan aman dan Agha benar-benar asyik melukis Kiana. Namun, di menit berikutnya, Aga tertegun saat ia melihat Kiana menggerakkan kaki karena kecapekan terus berbaring miring dan rok Kiana tersibak lebar memperlihatkan keindahan pahanya Kiana.


Cleguk! Agha sontak kesulitan menelan air liurnya. Maka dengan akal liciknya, Agha bangkit berdiri lalu berjalan mendekati Kiana sambil bertanya, "Kamu capek, ya, Sayang?"


Kiana langsung menyahut, "Iya"


Agha kemudian duduk di tepi ranjang dan menyentuh paha Kiana sambil berkata, "Aku akan memijat kamu sebentar"

__ADS_1


Awalnya pijatan lembut, lalu merembet ke penjelajahan liar, dan ciuman panas yang menuntut dan tidak mau berhenti.


Aaaaaaa!!!!!! kenapa jadi begini. Teriak Kiana di dalam hati.


__ADS_2