Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Gugup


__ADS_3

Agha meringis di depan Kiana lalu berkata, "Jangan hiraukan aku! Teruskan mengajarnya!"


Agha kemudian menoleh ke anak kecil di sebelah kanannya, "Kamu juga jangan hiraukan Kakak! Fokus ke guru kamu"


"Baik" Sahut gadis kecil yang bernama Wari itu.


Agha dengan sabar menunggu sampai Kiana selesai mengajar dan Agha mengajak Kiana berjalan kaki ke halaman depan kediaman tabib Danur agar dia bisa berjalan bersama Kiana lebih lama sedikit. Di dalam langkah kaki mereka menuju ke kediaman tabib Danur, Agha menoleh ke istri kecilnya dan berkata, "Kau hebat juga, ya, bisa mengajar anak-anak"


Kiana menyahut, "Siapa pun pasti bisa melakukannya kalau ada minat dan kesempatan, Yang Mulia"


Agha kemudian diam seribu bahasa. Dia mulai merasa gugup dan kehabisan kata-kata saat ia berjalan kaki bersama dengan wanita yang ia cintai.


Pangeran Adyaksa berhasil menarik Agha untuk ia bawa terbang ke tempat rahasia sebelum Agha melangkah masuk ke kediamannya tabib Danur.


Kiana menoleh ke belakang dan langsung bergumam, "Ke mana Yang Mulia? Apa dia pergi ke toilet?"


Kiana kemudian duduk di bangku taman untuk menunggu Agha dan melepas lelah.


Bibinya Kiana yang mendengar keponakan kesayangannya pulang, langsung mengajukan cuti dan berlari ke kediaman kakak iparnya untuk bisa bertemu Kiana sebelum Kiana kembali ke kediaman Caraka.


"Bibi!" Kiana langsung bangkit berdiri memekik senang melihat bibinya datang.


Bibinya Kiana langung. menepuk erat Kiana dan berkata, "Selamat atas pernikahan kamu. Maaf Bibi tidak bisa datang di hari pernikahan kamu karena Bibo ditugaskan di pedalaman waktu itu"


"Nggak papa Bi" Sahut Kiana.


Saat Kiana bertemu dan mengobrol dengan bibinya, Agha tengah sibuk bertemu dengan Adyaksa secara sembunyi-sembunyi dan dari situ lah Agha mengetahui semua rencana Adyaksa dan mengetahui kalau Adyaksa seratus persen lebih berada di pihaknya. Dari pertemuan rahasia itu juga Agha mengetahui kalau sosok wanita yang mirip dengan Kiana adalah orang suruhannya Adyaksa dan Adyaksa meminta Agha untuk tidak mencari wanita itu lagi. Agha berterima kasih dan mengiyakan semua nasehat dan perintah dari kakak sepupunya itu.

__ADS_1


Agha kemudian kembali ke kediaman tabib Danur dan dikejutkan dengan wajah ceria seorang wanita yang tampak jauh lebih tua dari Kiana. Agha menatap Kiana dengan wajah penuh tanda tanya dan Kiana langsung menjawab tanya yang tersirat di wajah tampan suaminya, "Beliau ini Bibi saya, Yang Mulia. Beliau adik kandung mendiang ibunda saya"


Bibinya Kiana langung membungkukkan badan sambil berkata, "Salam sehat selalu, Yang Mulia Pangeran ketujuh Jenderal Agha Caraka"


"Salam Bibi" Sahut Agha.


Bibinya Kiana langsung menegakkan badan dan tersenyum ke Agha lalu berkata, "Saya sudah berikan jamu untuk Anda dan Kiana, lalu kalau Anda bekerja keras tanpa lelah di Minggu ini, Anda dan Kiana akan segera mendapatkan penerus nama besar Anda, Yang Mulia"


Seketika itu juga Agha dan Kiana memerah wajahnya sampai ke telinga mereka.


Kiana langsung menepuk pundak bibinya sambil memekik, "Bibi! Aku malu"


Sedangkan Agha memalingkan langsung memalingkan wajah, kemudian berputar badan dengan cepat dan melangkah lebar meninggalkan Kiana dan bibinya Kiana sambil berkata, "Aku tunggu kamu di kereta kuda"


"Ah! Dia malu, Kiana. Dia udah punya rasa suka sama kamu. Kamu juga bilang dia peduli sama kamu akhir-akhir ini, kan? Sebentar lagi Bibi akan punya cucu, ah! Senangnya" Pekik bibinya Kiana sambil bertepuk tangan dan tersenyum lebar.


Bibinya Kiana langsung tergelak geli.


Agha menunggu dengan sabar dengan berdiri tegak di samping kereta kuda. Agha melihat dari jarak dua meter, Kiana hanya tampak ceria dan tersenyum lepas saat ia berpamitan sama Kendra dan bibinya. Bibinya Kiana adalah adik kandung mendiang ibundanya Kiana yang juga bekerja sebagai tabib di rumah sakit kecil tidak jauh dari kediaman tabib Danur. Saat Kiana akhirnya berlari dan berhenti tepat di depannya, Agha mengulurkan tangan. Dengan senyum indahnya Kiana meletakkan tangannya di atas tangan Agha. Agha kemudian menggenggam tangan Kiana dan membantu Kiana naik ke atas kereta kuda.


Ayahandanya Kiana menatap kereta.kuda yang semakin menjauh dengan berdoa di dalam hatinya, syukurlah kalau Yang Mulia Pangeran Ketujuh Jenderal Agha Caraka sangat menyayangi Kiana. Semoga Jenderal Agha Caraka mampu melindungi Kiana dari politik jahat dan intrik kejam yang ada di dalam istana. Karena bagaimana pun juga Jenderal Agha adalah bagian penting di dalam istana. Semoga Kiana bahagia selalu dan selalu terlindung dari bahaya apapun.


Adalah normal untuk merasa gugup di sekitar seseorang yang kita sukai terlebih lagi di sekitar orang yang sudah kita cintai. Jadi, itulah yang terjadi pada Jenderal Agha Caraka yang sudah jatuh cinta pada istri kecilnya, namun jenderal besar itu masih mencintai istri kecilnya diam-diam. Agha masih belum berani menyatakan perasaannya. Jenderal yang selalu gagah berani' di Medan perang, justru ciut nyalinya di dalam urusan medan percintaan. Karena Agha Caraka memang belum pernah berurusan dengan yang namanya cinta dan dia masih belum menemukan cara yang tepat untuk menyatakan cintanya.


"Anda kenapa diam saja, Yang Mulia?"


"Hah?, oh, emm, a.....aku ba....ba...baik-baik saja. Iya, aku baik-baik saja. Kau lihat saja pemandangan di luar dan jangan perhatikan aku" Sahut Agha dengan gagap.

__ADS_1


Beberapa tanda kegugupannya Agha Caraka antara lain ia gagap barusan.


"Anda lucu dan imut kalau seperti ini, Yang Mulia. Mirip seperti anak kecil" Ucap Kiana.


Kini tanda kegugupan kedua mulai tampak, Agha melengos untuk menyembunyikan rona malu di wajahnya.


Kiana sontak berkata, "Ah, maafkan mulut saya yang suka ceplas-ceplos ini, Yang Mulia. Maafkan saya kalau saya sudah membuat Anda tersinggung dengan ucapan saya barusan"


Tanda kegugupan yang berikutnya, Agha bertingkah canggung. Dia menoleh perlahan ke Kiana dan berdeham lalu berkata tanpa berani menatap mata Kiana, "Lupakan saja! Aku tidak marah, kok" Agha kemudian menoleh ke belakang dan menyibak tirai untuk merasakan udara panas di luar agar rasa canggung di dirinya bisa sedikit meleleh.


Agha melirik Kiana dan dia melihat Kiana tengah menunduk melihat-lihat isi tas selempang yang selalu Kiana bawa. Agha dengan perlahan kembali menatap ke depan dan sering mencuri pandang saat Kiana masih asyik melongok isi tas selempang itu.


Kiana mengobok-obok isi tas selempangnya untuk mencari permen. Kiana ingin mengunyah permen untuk mengusir kantuk karena suaminya tidak ada minat untuk mengajaknya mengobrol. Kiana merasa heran dengan tingkah laku suaminya Semalam suaminya cukup ceriwis dan terasa dekat dengannya.


Tapi, kenapa sekarang dia terus bersedekap, menatap aku dalam diam dan tidak bicara sama sekali. Ya, sebelumnya dia memang seperti ini. Kaku dan dingin kayak manusia es. Tapi, kemarin dia cukup ceriwis. Batin Kiana sambil membuka permen cokelat yang diberikan oleh Kendra tadi.


"Anda mau permen cokelat, Yang Mulia?"


Agha menggelengkan kepala sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Kiana mengunyah permen cokelat itu kemudian memberanikan diri untuk bertanya, "Saya ingin mulai lusa, Yang Mulia dan besok saya akan membeli bahan herbal yang belum ada di pasar dan......"


Agha sontak menoleh ke Kiana sambil berkata, "Aku akan menemani kamu belanja di pasar"


"Benarkah? Anda mau menemani saya?" Kiana membeliak senang.


"Hmm" Sahut Agha sambil memalingkan wajahnya kembali ke arah lain.

__ADS_1


"Wah! Terima kasih Yang Mulia" Pekik Kiana dengan wajah berseri-seri.


__ADS_2