Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Meriang


__ADS_3

Raja Alaric kemudian berbalik badan dan pergi begitu saja meninggalkan Kiana.


Kiana menatap punggung raja Alaric dengan kesal dan bergumam, "Ternyata Mas Agha lebih menyebalkan menjadi raja Alaric daripada menjadi Jenderal Agha, huh! Kalau aku terus dicuekin kayak begini bagaimana caranya aku dan raja Alaric bermeditasi bersama di air terjun seperti yang dikatakan Alvin?"


Kiana berbalik badan dan langsung menunduk selangkah sambil berkata, "Astaga!" Saat ia melihat Alvin.


Alvin bersedekap dan menyipitkan mata.


"Sejak kapan kau berdiri di sini?"


"Tadi aku di pojokan sana" Alvin menoleh sejenak ke belakang kemudian kembali menatap Kiana, lalu berkata kembali, "Aku melihat semuanya. Jelaskan!"


"Aku akan jelaskan. Tapi, tidak di sini. Kita balik ke paviliun kita. Ayo!" Kiana berkata sambil melangkah dan mengayunkan tangan kanannya.


Alvin mendengus kesal dan langsung mengekor Kiana.


Tiga puluh tujuh menit kemudian terdengar suara Alvin di dalam kamarnya Kiana, "Apa?! Kamu serius?" Alvin ternganga setelah ia mendengarkan semua ceritanya Kiana.


"Tentu saja. Kalau kamu tidak percaya, buat raja Alaric makan buah yang artinya jiwa itu, maka raja Alaric pasti mencariku dan menciumku" Sahut Kiana.


"Kalau dia suami kamu, maka aku akan bantu kamu dekat dengan raja Alaric. Agar kalian bisa segera bermeditasi, menumbuhkan Ganoderma hitam, dan pulang ke negeri kalian"


"Benarkah?"


"Tentu saja benar. Kau adalah temanku. Kau sudah menemaniku bermain kemarin, jadi aku akan bantu kamu memulihkan suami kamu"


"La, la......lalu kalau raja Alaric pergi dari negeri di Awan, negeri ini tidak punya raja, dong"


"Itu nggak usah kamu pikirkan. Biar masalah raja jadi pekerjaan rumahnya para tetua.


"Terima kasih, Alvin" Kiana tersenyum lebar dan Alvin langsung bertepuk tangan dengan wajah penuh senyum laku berkata dengan penuh semangat, "Oke, sekarang apa yang akan kita lakukan?"


Kiana mengerucutkan bibir dan mengangkat kedua pundaknya.


"Emm, oh, iya! Aku akan buatkan tonic penambah kekuatan yang setiap hari raja Alaric minum sebelum tidur. Aku akan bikin tonic itu sebentar. Kalau sudah jadi kamu pergi ke kamar pribadi raja Alaric antarkan tonic itu. Kamu bisa mulai mengobrol dengannya malam ini"


"Ide bagus! Makasih Alvin" Kiana bertepuk tangan dan melompat kegirangan.


Alvin mengacungkan ibu jarinya lalu bergegas pergi ke dapur untuk memasak tonic.

__ADS_1


Sementara itu, putri Sofie nekat menerobos masuk ke kamar pribadinya raja Alaric.


Alaric yang tengah mempelajari sebuah peta mengangkat wajahnya dengan kaget lalu mengeluarkan kata, "Kenapa aku kemari?"


"Saya memasak kue bulan. Kue yang terbuat dari tumbukan kacang dan .........."


"Aku tidak suka makan kacang. Bawa pergi!" Sahut Alaric dengan wajah datar dan dingin.


"Baiklah. Saya akan pergi setelah saya memijat pundak Anda dan......."


"Nggak usah! Pergi saja sana! Aku sedang sibuk saat ini! Pergi!" Alaric mendelik ke Sofie dan Sofie akhirnya berbalik badan lalu pergi meninggalkan raja Alaric dengan wajah sedih juga kecewa.


Putri Sofie lalu membuang kue berserta piring dan nampannya ke keranjang sampah yang ia lalui dengan cukup keras dan ada pecahan piring yang terbang dan menggores jari telunjuk tangan kanannya.


Kebetulan Kiana pas melintas di sana. Kiana langsung berlari mendekat saat ia mendengar suara orang mengaduh.


"Ah! Tangan Anda terluka. Mari saya obati" Kiana merogoh tas selempangnya yang selalu ia bawa ke sana kemari.


Setelah selesai membalut jari telunjuk wanita cantik yang baru ia temui di hari ini, Kiana tersenyum dan berkata, "Semoga lekas sembuh" Kiana lalu melangkah meninggalkan wanita cantik itu tanpa menunggu ucapan terima kasih dari wanita cantik itu karena sepetinya wanita cantik itu tidak akan pernah mengucapkan kata terima kasih.


"Siapa dia?" Tanya putri Sofie ke pelayan pribadinya.


"Dia cantik banget. Kulitnya lebih putih dariku dan wajahnya imut. Tubuhnya juga ramping" Gumam putri Sofie.


"Iya. Anda benar, Putri. Wanita yang barusan mengobati luka di jari Anda sangat lah cantik dan........."


Sofie langsung menampar keras pipi pelayan pribadinya sambil berteriak, "Berani sekali kau memuji wanita lain di depanku, hah?! Aku adalah satu-satunya wanita paling cantik di negeri ini"


Pelayan pribadinya putri Sofie langsung menundukkan wajahnya dan berkata, "Iya, Putri. Maafkan saya. Anda adalah wanita yang paling cantik di sini"


Aku akan bunuh siapa pun yang punya wajah lebih cantik dariku seperti putri-putri yang sebelumnya yang sudah aku bunuh karena mereka lebih cantik dariku. Gumam Sofie di dalam hatinya.


Beberapa jam kemudian, raja Alaric yang tengah membaca buku di meja menatap pintu dengan wajah kaget, "Kau........kenapa kau yang ke sini? Mana Alvin?"


"Alvin sedang sibuk memasak tonic untuk para tetua, Mas A......emm, maksud saya, Yang Mulia Alaric" Ucap Kiana sambil meletakkan nampan di mejanya raja Alaric.


Raja Alaric kembali menunduk untuk melanjutkan membaca buku yang dia pegang.


"Kenapa ridak diminum, Yang Mulia?" Tanya Kiana yang masih duduk bersimpuh di meja pendek dengan kedua tangan menopang dagu.

__ADS_1


Raja Alaric yang duduk bersila berhadapan dengan Kiana, langsung mengangkat mangkuk kecil berwarna putih yang berisi tonic tanpa mengalihkan pandangan dari buku yang ia baca dan Kiana langsung berkata, "Jangan diminum sambil baca buku!"


Raja Alaric langsung mengangkat wajahnya untuk menatap Kiana dan bertanya, "Kenapa tidak boleh?"


"Panas! Saya akan menyendoknya dan meniupnya lalu menyuapkannya ke Anda, Yang Mulia" Kiana mengambil mangkuk kecil berwarna putih dari tangan raja Alaric dan raja tampan itu membiarkannya.


"Aaaaaa!" Ucap Kiana.


Raja Alaric mengarahkan bibirnya ke Kiana dan membuka bibirnya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang masih dia pegang.


Alaric ridak berani mengangkat wajah dan menatap Kiana terlalu lama karena dia kembali merasakan hatinya berdesir hebat dan jantungnya bergemuruh.


Kiana terus meniup sendok berisi tonic dan menyuapi suaminya sampai mangkuk kecil berwarna putih kosong.


Karena terus menatap buku, Alaric tidak tahu kalau tonic-nya sudah habis dan dia masih mengarahkan bibirnya ke Kiana dan membuka bibirnya.


Kiana tersenyum jahil dan dia nekat mencium pipi raja Alaric.


Raja tampan itu tersentak kaget dan langsung menatap Kiana untuk bertanya, "Kenapa kau ini suka banget menciumku? Tadi mencium di bibir dan sekarang kau mencium pipiku?"


"Karena saya merindukan Mas Agha suami saya, Yang Mulia" Sahut Kiana dengan senyum penuh cinta.


Raja Alaric langsung berdeham untuk mengusir rasa canggung dan kembali menatap bukunya sambil berkata, "Suapi lagi tonic-nya! Aaaaaa!"


"Sudah habis, Yang Mulia" Sahut Kiana.


Alaric mengangkat wajahnya dan terkejut melihat Kiana ada di depannya dan semakin terkejut saat ia mendengar suara Kiana di belakangnya, "Saya di sini, Yang Mulia. Saya akan memijat pundak Anda"


Alih-alih menolak dan mengusir Kiana, raja Alaric justru membiarkan Kiana menyentuh pundak dan memijatnya.


Dia gadis yang gigih dan berani juga ternyata. Aku sangat menyukai karakternya selain wajah cantiknya. Batin Alaric sambil mengulas senyum tipis di wajah tampannya.


Tiba-tiba Alaric mematung saat ia merasakan pipi Kiana menempel di pipinya dan wanita cantik itu berkata, "Oh, ternyata di sini juga ada buku novel ini"


Alaric langsung menggedikkan pundaknya sambil berkata, "Pergilah! Berani benar kau menempelkan pipi kamu di pipiku"


Kiana lalu bangkit berdiri. Kemudian berjalan mengitari meja,mengambil nampan, laku berkata, "Saya dan suami saya pernah membaca buku itu bersama. Buka halaman tiga puluh tujuh, Yang Mulia, saya dan suami saya sangat menyukai apa yang ada di halaman tiga puluh tujuh" Kiana kemudian menekuk kedua lututnya lalu berbalik badan meninggalkan raja Alaric.


Di dalam langkahnya menuju ke pintu keluar, Kiana melirik rak dan wanita cantik itu tersenyum bahagia sambil bergumam di dalam hatinya, ah, ternyata buah apel dibedaki dariku ia masukkan ke dalam toples dan dia pajang di rak! Berarti ada harapan untuk bisa segera bermeditasi dengan raja Alaric.

__ADS_1


Raja Alaric penasaran dengan apa yang dikatakan oleh Kiana dan saat ia menemukan dan membaca halaman tiga puluh tujuh, seketika ia meriang dan dia mendapatkan kilasan kejadian yang tidak ia ingat sebelumnya. Kilasan kejadian saat ia menyatukan raga dari arah belakang dengan seroang wanita yang tubuh dan wajahnya sangat mirip dengan Kiana. Raja tampan itu lalu menutup buku novel itu dan meraup wajah tampannya dengan kasar dan dengan napas yang terngah-engah. "Sepetinya Kiana mengatakan yang sebenarnya. Tapi, aku nggak boleh percaya begitu saja. Aku masih harus membuktikan semua perkataannya. Untuk itu aku akan meminta dia tidur di kamarku mulai besok malam"


__ADS_2