Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Kejutan Indah


__ADS_3

Begitu masuk ke dalam kamar mandi, Agha langsung membuka jendela dan Bora langsung melompat masuk ke dalam kamar mandi dan setelah menutup jendela tanpa mengeluarkan suara, Bora membungkukkan badannya di depan Agha dan berkata, "Selamat sore menjelang petang, Yang Mulia Raja"


"Hmm. Kau bawa buku yang aku minta?"


Bora menegakkan badannya lalu merogoh baju dan menyerahkan sebuah buku kecil dan tipis ke junjungannya.


"Kau sudah berhasil melamar Agni dengan kiat-kiat jitu yang kau dapatkan dari buku ini?"


"Sudah Yang Mulia Raja. Buku ini sangat manjur. Agni langsung menerima lamaran saya tanpa banyak kata" Sahut Bora.


"Ada kiat cara berkencan yang bisa membuat wanita meleleh, kan? Seperti yang pernah kamu bilang dulu"


"Iya, benar Yang Mulia Raja. Cara berkencan yang manis ada di dalam buku itu" Sahut Bora.


"Kau sudah hias danaunya?" Agha bertanya dengan wajah penuh antusias.


"Sudah Yang Mulia. Saya juga sudah siapkan sebuah perahu kecil di sana"


Agha tersenyum senang lalu berkata, "Terima kasih, Bora. Kamu boleh pergi sekarang, eh, tunggu!"


Bora tidak jadi berputar badan lalu menatap junjungannya dengan. Wajah penuh tanda tanya.


"Kapan kau akan menikah dengan Agni?"


"Tiga bulan lagi, Yang Mulia. Saya dan Agni sedang mempersiapkan semuanya"


"Oke, bagus! Besok kamu ajak Agni ke istana jam sembilan dan jangan sampai terlambat?"


"Untuk apa Yang Mulia?"


"Aku akan kasih kejutan besar untuk kamu dan Agni. Pokoknya kamu dan Agni harus sudah sampai di aula pertemuan istana jam sembilan pagi tepat"


"Baik, Yang Mulia"


"Sekalian kamu mampir ke rumahnya Paman Adyaksa. pas kamu pulang. Kasih tahu ke Paman untuk datang jam sembilan pagi juga besok"


"Anda akan kasih kejutan juga untuk Yang Mulia Pangeran Adyaksa?" Tanya Bora.


"Iya" Sahut Agha.


"Baik, Yang Mulia. Saya permisi dan saya akan mampir ke kediamannya Pangeran Adyaksa" Sahut Bora.


"Hmm. Hati-hati di jalan"


"Baik, Yang Mulia" Bora kemudian membuka jendela lalu melompat keluar dan tak lupa menutupnya kembali tanpa mengeluarkan suara.


Agha kemudian duduk di bangku panjang yang ada di dekat rak sabun untuk membaca buku pemberiannya Bora.


Lima menit kemudian Agha menutup buku itu sambil manggut-manggut dan tersenyum lebar. Lalu, Agha melepas semua bajunya dengan cepat dan mandi secara kilat karena ia sudah tidak sabar ingin segera mempraktekan kiat-kiat berkencan manis yang baru saja ia baca.


Saat suaminya keluar dari dalam kamar mandi, Kiana langsung bangkit berdiri dan bertanya, "Kita berangkat sekarang, Mas?"


"Hmm. Tapi, kita harus menautkan tangan kita berdua dulu" Agha mengarahkan telapak tangan kanannya ke Kiana lebar-lebar dan Kiana langsung meletakkan telapak tangan rampingnya di atas telapak tangannya Agha Agha menautkan jari-jari mereka dan mengajak Kiana berjalan keluar dari dalam kamar dengan wajah semringah.


Hati Agha membuncah bahagia, sangat bahagia karena dari yang dia baca di buku tadi, jari-jari yang saling bertautan melambangkan gairah dan hubungan yang sangat kuat antara pasangan. Saat berpegangan tangan seperti ini, Agha dan Kiana saling mengunci jari satu sama lain dengan kuat dan itu adalah tanda cinta yang penuh gairah.

__ADS_1


Saat melihat Kiana ingin meraih tas, Agha langsung berkata, "Nggak usah bawa tas! Karena tangan kamu akan sibuk menggenggam tanganku terus"


"Kan, masih ada tangan kanan, Mas" Sahut Kiana.


"Tangan kanan kamu akan sibuk menyuapi aku nanti" Agha berucap dengan bola mata melompat-lompat senang dan senyum semakin lebar bahkan Agha berasa ingin terbang saat ini juga.


Melihat suaminya tampak sangat bahagia, maka Kiana berkata, "Baiklah. Aku tidak akan membawa tas karena semua tanganku nanti hanya untuk kamu. Semuanya untuk kamu"


Agha tersenyum semringah lalu menunduk dan mengecup bibir Kiana. Agha kemudian menegakkan kembali kepalanya dan mengajak Kiana meneruskan langkah mereka dengan senyum bahagia, sangat bahagia.


Agha mengajak Kiana berjalan ke lorong rahasia yang tadi siang ia lalui bersama Kiana karena ia tidak ingin ada prajurit mengawalnya. Ia ingin berkencan ala rakyat biasa dengan Kiana. Ia ingin memanjakan Kiana tanpa ada gangguan. Ia hanya ingin berduaan dengan Kiana sepanjang malam ini.


"Kamu ingin ke mana dulu sebelum aku membawa kamu ke tempat pilihanku".


"Aku ingin berjalan-jalan ke kota dan beli camilan, Mas"


"Oke, kita jalan-jalan dulu di kota sambil menikmati semua makanan kesukaan kamu setelah itu baru lah kita pergi ke tempat pilihanku"


"Di mana tempat pemilihannya, Mas?"


Agha menoel pucuk hidungnya Kiana dan berkata, "Rahasia"


Setelah sampai di pinggir taman bunga, Agha langsung membopong Kiana dan membawa Kiana terbang.


Agha menurunkan Kiana di depan gerbang kota dengan hati-hati dan kembali mengajak Kiana menautkan jari-jari mereka lalu mengajak Kiana berjalan memasuki kota.


Kiana membeli dua buah minuman teh kiwi, laku membeli manisan buah, berhenti sebentar di aneka bakaran, dan berkahir di kedai cakue.


Agha dengan sabar menemani Kiana mengantre di kedai cakue. Antreannya cukup panjang dan Agha tidak ingin meninggalkan Kiana duduk sendirian di bangku kedai tersebut karena ia tidak ingin ada pria menggoda Kiana. Agha terus menggenggam tangan Kiana dan sambil mengantre, Agha terus menoleh ke Kiana untuk bertanya, "Kamu capek?"


Setelah mengantre selama setengah jam lebih, Agha melepaskan tangannya dan berjongkok di depan Kiana.


"Mas, Kenapa berjongkok?* Bisik Kiana.


"Kamu pasti capek. Aku akan menggendong kamu"


"Nggak usah, Mas. Malu dilihat banyak orang nanti" Kiana kembali berbsisik.


"Oh, jadi kamu minta dibopong?"


Hap! Kiana langsung melompat di punggung Agha. Dia lebih baik malu digendong di punggung daripada dibopong.


Agha langsung mengaitkan kedua lengan kokohnya di paha Kiana dan setelah Kiana merangkul lehernya, Agha berdiri dengan perlahan.


Banyak pasang mata menatap iri.


Kiana menoleh ke belakang dan tersenyum ke seorang ibu-ibu, "Maaf kalau saya tidak sopan, Bu"


"Tidak apa-apa. Pasti Anda sedang hamil, kan? Pantas kalau Suami Anda memanjakan Anda seperti ini"


Kiana sontak tersenyum canggung ke ibu itu dan Agha seketika itu juga mematung. Saat Agha merasakan lengan Kiana menegang, Agha langsung berteriak, "Aku borong semua cakuenya dan aku bagikan secara gratis ke kalian semua! Tapi, Istriku ambil lima buah cakue dulu boleh?!"


"Tentu saja boleh dan terima kasih, Tuan!" Teriak semua orang yang mengantre di kedai cakue tersebut.


Agha kemudian melangkah maju untuk mengambil lima buah cakue dengan masih menggendong Kiana lalu ia bergegas pergi dari kedai cakue tersebut.

__ADS_1


Agha kemudian menurunkan Kiana di sebuah meja kosong dan menikmati cakue tersebut dan semua makanan juga minuman yang mereka beli.


Kiana menatap Agha dan bertanya saat Agha masih tampak sibuk membuka plastik yang berisi camilan kesukaannya Kiana.


Kiana kemudian memberanikan diri untuk bertanya, "Mas, aku ingin segera punya an........"


"Jendral Agha! Anda Jenderal Agha, kan?" Seorang pria muda tiba-tiba muncul di depan Agha dan langsung membungkukkan badan.


"Ah! Kamu Bono, kan?"


"Iya, Jenderal. Saya, Bono"


"Kapan kamu sampai di ibukota? Selama ini kamu tinggal di pedalaman, kan? Lalu kenapa kamu ada di sini sekarang?"


Kiana hanya bisa menghela napas panjang melihat suaminya langsung asyik mengobrol dengan pemuda yang bernama Bono itu dan Kiana menggigit cakue dengan hati campur aduk.


"Saya akan melamar kekasih saya jadi saya datang ke ibukota. Tadi pagi saya dan keluarga saya baru sampai di sini"


"Oh, iya. Kenalkan ini Istriku. Kiana namanya. Dia wanita paling cantik di negeri ini" Agha berjalan mendekati Kiana dan Kiana langsung bangkit berdiri.


"Senang bertemu dengan Anda, Nyonya. Kalau begitu saya permisi. Saya tidak ingin mengganggu waktu Anda berdua"


Sepeninggalnya pemuda yang bernama Bono itu, Agha kembali duduk di tempatnya tadi dan bertanya ke Kiana, "Kamu ingin makan apalagi? Aku akan suruh seseorang membelikannya untukmu"


Kiana menggelengkan kepala dan ia tidak jadi mengutarakan keinginannya untuk punya anak sesegera mungkin.


Agha terus semringah menemani Kiana makan sementara Kiana mulai merasa malas untuk makan. Lalu, Kiana meletakan manisan buah di atas meja dan berkata, "Ajak aku ke tempat pilihannya, Mas sekarang juga bisa?"


"Tentu saja, bisa. Kau tidak habiskan dulu makanannya?"


Kiana menggelengkan kepala dan berkata, "Aku sudah kenyang, Mas"


"Baiklah" Agha langsung berdiri, mendekati Kiana, lalu membopong Kiana dan mengajak Kiana terbang.


Tidak begitu lama, Agha menurunkan Kiana di sebuah tanah lapang laku Agha menutup mata Kiana dari arah belakang dengan kedua tangannya sambil berkata, "Aku akan bimbing langkah kamu"


"Kenapa harus ditutup, Mas?"


"Karena ini kejutan untuk kamu"


Setelah sampai di pinggir danau, Agha menarik tangannya dan seketika itu juga Kiana merasa takjub melihat danau tempat pertama kali ia bertemu dengan Agha dan danau itu dihias dengan sangat cantik. Di sekeliling danau ada lilin kecil dan di tengah danau ada lilin besar berbentuk cinta. Lalu, Kiana juga melihat sebuah perahu.


Kiana menoleh ke suaminya, "Mas, ini indah sekali. Ini tempat pertama kali aku melihat pantatnya Mas"


Agha langsung merona malu dan menepuk bahu Kiana, "Kenapa kau malah membahas pantatku di sini?"


Kiana tergelak geli dan seketika itu juga Kiana lupa akan kerinduannya untuk segera memiliki momongan. Kini hanya ada cinta yang begitu besar di hatinya untuk Agha.


Agha kemudian menangkup wajah Kiana dan berkata, "Aku mungkin bukan ciuman, pelukan dan pria idaman yang selama ini ada di dalam bayangan kamu. Tapi aku ingin menjadi segalanya bagimu" Agha mengusap lembut pipi Kiana


Kiana berjinjit untuk mendekatkan wajahnya ke wajah tampan suami tercintanya. Kiana berkata, "Kamu adalah ciuman pertama, pria idaman pertama, dan segalanya yang terakhir bagiku, Mas" Lalu, wanita cantik memagut bibir suaminya dengan penuh damba. Suami Istri itu kemudian berciuman dengan hangat di depan danau tempat pertama kali mereka bertemu. Tempat pertama kali Agha jatuh cinta pada Kiana. Gadis kecil yang baik hati, ceria, dan manis yang mengobati luka di kakinya.


Agha dengan terpaksa melepaskan ciumannya untuk berkata, "Kita harus naik perahu dan sampai di seberang dengan segera sebelum makanannya menjadi dingin dan sebelum perahunya lari karena ngambek"


Kiana kembali tergelak geli lalu ia naik ke perahu dengan bantuan suaminya. Agha mendayung perahu dengan pelan dan tanpa henti menatap wajah cantik istri kecilnya yang sangat ia cintai.

__ADS_1


__ADS_2