Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Senang


__ADS_3

Kiana membantu Alaric memakai baju dan pria itu selalu menggoda Kiana seperti, tiba-tiba mencium kening Kiana, lalu di saat Kiana merapikan kerah di jubah Alaric, pria itu mencium kedua pipinya Kiana.


Kiana menghela napas panjang dan bergumam, "Katanya pengen buruan ke pertemuan dengan para tetua, kok, masih aja main cium-cium"


Alaric tersenyum geli dan membiarkan Kiana bergumam sendiri. Pria itu memilih tidak menimpali gumamannya Kiana.


Kemudian Kiana memasangkan sabuk ke pinggang Alaric, saat Kiana menyusupkan kedua lengannya ke belakang, Alaric memeluk erat tubuh rampingnya Kiana dan mendaratkan ciuman di belahan rambutnya Kiana.


Kiana langsung menarik sabuk ke depan dan mendongak untuk mengerucutkan bibirnya di depan Alaric.


Alaric terkekeh geli dan bertanya, "Tatapan macam apa itu?"


Kiana langsung menunduk untuk memasang sabuk sambil bergumam, "Tatapan wanita yang tertindas"


Alaric langsung memeluk erat Kiana dan mendongakkan wajah Kiana, "Menurut kamu yang tadi aku lakukan adalah penindasan?"


Kiana menganggukkan kepala dan menatap Alaric dengan tatapan polos tanpa dosa.


Alaric mendengus kesal, "Tzk!" Lalu, pria itu berkata, "Yang tadi bukan penindasan. Nah, yang ini baru lah penindasan" Alaric langsung memagut bibir Kiana.


Kiana membeliak kaget tapi gadis cantik itu kemudian memejamkan mata dan mengikuti permainannya Alaric. Ciuman Alaric kali ini termasuk salah satu ciuman yang sangat disukai Kiana karena tantangannya. Kiana sangat merindukan ciuman ini. Alaric mengigit lembut bibir, leher, dan cuping Kiana sampai pria itu mendapatkan bonus suara seksi yang keluar dari mulut Kiana yang tengah merekah indah. Alaric tersenyum senang dan pria itu kembali memagut bibir Kiana.


Di saat Alaric hendak menyusupkan lidahnya, terdengar suara ketukan tidak sabar di pintu yang disertai teriakan, "Raja! Tiga puluh lima menit lagi pertemuan akan di mulai!"

__ADS_1


Alaric terpaksa melepaskan Kiana dan Kiana bergegas meraih mahkota lalu berjinjit dan memasangkan mahkota itu di kepala suaminya. Kiana kemudian mengusap kedua bahu Alaric dan sambil mendaratkan tumitnya kembali ke lantai, Kiana tersenyum lalu berkata, "Anda sangat tampan, Yang Mulia"


Alaric merapikan rambut Kiana lalu mengusap lembut bibir Kiana sambil berkata, "Kamu juga sangat cantik"


Kiana langsung mengapit lengan Alaric dan berkata, "Anda harus segera keluar! Kalau nggak saya akan dilabrak para tetua nanti karena menahan cowok tampan terlalu lama di kamar ini"


Alaric menoel pucuk hidung kIana dengan tawa lepas lalu berbisik di telinga kIana, "Aku mencintaimu"


Kiana mendongak dan berkata, "Saya juga mencintai Anda, Mas Agha"


Alaric kembali menoel pucuk hidung kIana dengan tawa lepas.


Sesampainya di depan pintu, Kiana menarik kedua tangannya dari lengan Alaric lalu berjalan di belakangnya Alaric bersama dengan para dayang.


Alaric yang masih ingin menatap Kiana, menoleh ke belakang mencari sosoknya Kiana. Dan saat matanya melihat Kiana yang tengah berjalan sambil menunduk, raja Alaric langsung menghentikan langkahnya.


Semua dayang dan para pengawal sontak mengerem langkah mereka secara dadakan dan semua mata tertuju pada raja mereka saat raja mereka berbalik badan dan melangkah mendekati dayang baru yang ada di tengah mereka pagi ini.


"Kiana, jangan berjalan sambil menunduk!"


Kiana tersentak kaget dan langsung mengangkat wajahnya, "Yang Mulia! Kenapa Anda ada di depan sa.....saya?" Kiana berucap sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Kiana seketika merasa canggung saat semua mata tertuju padanya.


"Jalan yang benar! Kau bisa tersandung dan tertabrak kalau berjalan sambil menunduk"

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia" Kiana menekuk kedua lututnya.


Alaric kemudian berbalik badan dan kembali ke tempatnya semula. Setelah Alaric melangkahkan kaki semua dayang dan para pengawal ikut melangkahkan kaki.


Alaric kembali menoleh ke belakang dan tersenyum senang saat ia melihat Kiana berjalan dengan tidak menunduk lagi.


Kiana sontak mengerucutkan bibir dan bergumam di dalam hati, jangan sering menoleh ke belakang dan melihatku terus, Yang Mulia! Para dayang mulai berkasak-kusuk lagi dan melirikku dengan aneh, nih.


Sesampainya di aula besar tempat pertemuan raja dengan apra terus dan pejabat tinggi kerjaan naga, Alaric duduk di singgasananya dan di sebelahnya duduk ratu Sofie. Sedangkan kIana berdiri di samping singgasananya Alaric. Sofie melirik Kiana dengan lirikan tajam penuh kebencian.


Kenapa gadis cantik itu ada di sini sekarang ini dan dia diijinkan berdiri di sebelah raja Alaric? Batin Sofie dengan wajah kesal penuh kecemburuan.


Ratu Sofie seketika mengepalkan kedua tangannya uang ada di atas pangkuannya saat ia mendengar semua tetua dan para pejabat tinggi kerajaan naga menyetujui Kiana menjadi pelayan pribadinya raja Alaric dan hanya raja Alaric yang boleh memerintah, menyentuh, dan memberikan hukuman pada Kiana. Intinya Kiana berada di bawa perlindungan raja Alaric secara mutlak dan penuh.


Kenapa bisa begini? Kalau dia terus berada di sisi raja Alaric, lama-lama raja Alaric akan jatuh cinta pada wanita cantik itu dan aku bagaimana? Aku akan singkirkan wanita cantik itu secepatnya sebelum raja jatuh hati padanya. Batin Sofie dengan wajah penuh kebencian.


Alaric melirik Kiana dengan senyum senang dan Kiana hanya diam mematung dan terus menatap ke depan.


Setelah pembahasan soal Kiana selesai. Para terus melanjutkan pembahasan soal politik dan beberapa hal yang membuat Kiana merasa mengantuk dan bosan. Lalu, tanpa sepengetahuan siapa pun, gadis cantik yang terbiasa hidup bebas itu melipir keluar dari aula besar itu.


"Ah, akhirnya aku bisa mengirup udara bebas. Aku akan mencari gelangku dan akan aku mulai di pinggir air terjun perak. Kemungkinan gelangku terjatuh di sana pas Mas Agha memanggulku kayak karung beras kemarin" Kiana lalu berlari menuju ke air terjun perak.


Sesampainya di pinggir air terjun perak, Kiana langsung mencari keberadaan gelangnya. Setelah mencari kurang lebih sepuluh menit lamanya, Kiana tersenyum lebar, "Ah! Akhirnya ketemu" Kiana memakai gelang itu dan tanpa sengaja kaki kanannya menginjak sebuah batu dan tangannya yang menempel di dinding batu seketika ia tarik saat ia melihat dinding batu itu bergeser ke kanan lalu tampaklah sebuah lorong gelap di depan Kiana. "Lorong apa ini? Masuk nggak, ya?"

__ADS_1


__ADS_2