
Alvin menerima kabar dari Bora, burung peliharaannya Agha di kala Agha masih menjadi Alaric, bahwa dunia manusia terjadi perang sangat besar dan ada tiga ratus pasukan zombie yang siap berubah menjadi naga hitam kapanpun tuan mereka menginginkannya.
Alvin langsung bangkit berdiri dan turun tahta. Dia langsung mengumpulkan pasukan naga hitam untuk turun ke dunia manusia dan menghadang pasukan naga hitam jadi-jadian itu. Pamannya Alvin yang memimpin pasukan naga hitam itu.
"Mereka ada di arah mana Bora?" Tanya Alvin ke burung peliharannya Alaric dulu yang sekarang menjadi burung peliharaannya.
Bora memekik kencang dan Alvin langsung berkata ke pamannya, "Mereka ada di arah selatan Paman.
"Kita ke selatan!" Teriak Pamannya Alvin ke pasukan yang dia pimpin.
Dan di dunia manusia, Permaisuri nekat membakar pondok rahasianya raja Abinawa karena marah dan kecewa saat dia tidak menemukan keberadaan raja di sana.
"Kita cari keberadaannya Raja! Kita harus bunuh raja secepatnya sebelum pernah berkahir supaya pihak kita menang" Teriak Permaisuri sembari melompat naik ke kuda putih kesayangannya.
Sementara itu, Red Hair yang melihat Bora dibawa orang asing dan dimasukkan ke dalam kereta kuda dalam keadaan tidak sadarkan diri, mengejar kereta kuda itu. Si kuda pintar kesayangannya Agha berhasil mengejar kereta kuda itu dan mendobrak bagian belakang kereta kuda dengan kedua kaki depannya sebanyak tiga kali. Suara berisik dari dobrakan kaki dan ringkikannya Red Hair yang sangat keras membuat Bora dan Agni membuka mata.
Kelima orang anak buahnya Adnan tersentak kaget dan untuk sepersekian detik mereka berlima hanya duduk diam menatap Bora dan Agni.
Melihat ada lima orang asing di depan mereka dengan senjata pedang, Bora dan Agni langsung menyerang kelima orang asing itu dengan ilmu andalan mereka tanpa menunggu kelima orang asing itu mengambil napas. Setelah berhasil melumpuhkan kelima orang asing itu barulah Agni dan Bora merasakan kepala mereka berdenyut nyeri dan saat mereka meraba bagian belakang kepala mereka, mereka menemukan ada darah mengering di rambut mereka.
"Aku akan obati kalian"
Bora dan Agni sontak menoleh ke asal suara dan keduanya langsung bergumam secara bersamaan, "Tabib Danur?"
"Iya, kita dibawa pergi secara bersamaan oleh kelima orang brengsek yang sudah kalian lumpuhkan ini dan Kiana dibawa kabur oleh Adnan" Sahut tabib Danur. "Aku akan obati kalian"
"Anda obati Agni terlebih dahulu, saya akan keluar menemui Red Hair sebentar"
Tabib Danur dan Agni langsung menganggukkan kepala.
Melihat Bora turun dari kereta kuda, Red Hair langsung berjalan pelan mendekati Bora. Bora mengusap leher Red Hair sambil berkata, "Terima kasih sudah menyelamatkan kami"
Red Hair menyahut dengan meringik pelan dan menggelengkan kepalanya.
"Kau tunggu di sini! Agni terluka dan sedang diobati" Ucap Bora dengan masih mengelus lehernya Red Hair.
Red Hair kembali meringkik dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Bora tersenyum dan setelah berkata, "Kuda pintar, kami menyayangi kamu" Bora berbalik badan dan melompat masuk kembali ke dalam kereta kuda.
Saat masuk ke dalam kereta kuda, Bora melihat Agni sudah selesai diobati dan Agni langsung berkata, "Ada perang besar di istana. Kak Kiana dibawa kabur si Adnan brengsek itu dan Kak Agha mengejarnya. Paman Adyaksa dan Jenderal Arya sendirian saat ini"
"Sini aku obati kepala kamu" Tabib Danur mengayunkan tangannya.
Bora langsung menyahut, "Saya tidak apa-apa. Kita harus segera balik ke istana untuk membantu Pangeran Adyaksa dan Jenderal Arya. Tapi..........."
"Iya, tabib Danur akan berada di dalam bahaya kalau kita ajak balik ke istana" Sahut Agni.
"Benar juga. Tapi, kita juga tidak bisa meninggalkan tabib Danur sendirian di sini. Si kusir kuda sudah kabur" Sahut Bora.
Agni langsung diam untuk berpikir keras.
Di saat Bora ikutan berpikir keras, muncul Bayu.
"Ah, Bayu!" Agni memekik senang.
"Syukurlah kalian baik-baik saja" Sahut Bayu dengan menghela napas lega.
"Kami ingin balik ke istana tapi kami memikirkan keselamatan tabib Danur" Sahut Bora.
"Nyonya Debi? Kok, Nyonya? Emangnya Debi sudah menikah?" Agni sontak mengerutkan kening.
"Iya. Kita bahas soal itu nanti. Kita harus segera bergerak" Sahut Bayu.
"Ah, iya, kau benar" Sahut Agni.
Tabib Danur langsung melompat ke depan dan melajukan kereta kuda saat Bayu dan Bora sudah melompat turun dari atas kereta. Agni duduk di sebelah tabib Danur.
Bayu melompat ke kuda kesayangnnya dan Bora melompat ke punggung Red Hair lalu dengan kecepatan kilat Bora dan Bayu melesat ke istana.
Di dalam ruang rahasia raja Abinawa, tabib Alzam tengah menyalurkan tenaga dalamnya lewat punggung raja Abinawa.
"Agak cepat, Ayah! Supaya Raja bisa segera menghentikan perang dan memerintahkan permaisuri beserta antek-anteknya ditangkap dan diadili" Ucap ibundnya Kiana.
"Sebentar lagi selesai" Sahut tabib Alzam.
__ADS_1
Kiana mengerjapkan mata yang masih penuh dengan air mata, sebanyak dua kali ke Agha sebagai kode agar Agha menyerang Adnan tanpa mempedulikan dirinya.
Agha menggelengkan kepala dengan pelan dan Adnan langung berbisik di telinga kIana, "Jangan macam-macam! Aku serius dengan ucapanku barusan"
"Tapi, aku tidak takut sama ancaman kamu" Geram Kiana.
Adnan tersentak kaget dan dekapannya mengendor. Kesempatan itu langsung digunakan Kiana untuk berputar ke samping sambil berteriak, "Lakukan sekarang Mas Agha!"
Agha membeliak kaget melihat keberanian Kiana dan ia langsung melesat maju. Agha refleks menarik Adan keluar dari kamar dan Agha melesat sejauh-jauhnya dari kamar itu.
Setelah membebat lehernya yang berdarah dan terasa perih dengan robekan bajunya, Kiana berlari keluar menyusul suaminya. Kiana tidak ingin Agha sampai membunuh Adnan.
Agha menghentikan langkahnya dan langsung menampar pipi Adnan berkali-kali sambil menggeram penuh amarah.
Adnan yang juga berilmu tinggi berhasil melepaskan diri dengan mencakar lengan kiri Agha.
Adnan kemudian melompat mundur beberapa kali lalu berhenti untuk memasang kuda-kuda kemudian berteriak, "Aku sudah lama sekali merindukan saat-saat seperti ini, Agha! Berhadapan dengan kamu! Melawan kamu! Majulah!"
Agha menghujamkan tatapan tajam ke Adnan lalu berteriak karena jarak dia dan Adnan cukup jauh, "Aku tidak ingin membunuh kamu sebenernya, karena kamu saudara tiriku, Adnan! Tapi karena kau sudah lancang membawa kabur Istriku dan kau berani menyentuhnya, maka aku akan membunuh kamu!" Agha kemudian melesat maju dengan tapak sakti andalannya.
Adnan menangkis tapak Agha dengan cakar mautnya. Mereka berduel dengan cukup alot karena keduanya memiliki ilmu bela diri dan tenaga dalam yang tinggi. Setelah berhasil mengunci gerakan Agha, Adnan menyeringai senang tapi kemudian Adnan mengerutkan kening dan bergumam kaget, "Kita saudara tiri? Kau bilang kita saudara tiri? Jadi, kau........"
Agha berhasil mengganti posisi. Kiana dia yang mengunci Adnan. Agha lalu berkata, "Iya! Aku adalah Putra Mahkota yang asli dan terimalah ini!" Agha mendaratkan satu tapak saktinya di dada Adnan. Adnan langsung terjengkang ke belakang dan saat Adnan berdiri tegak, ia memuntahkan darah segar dan dadanya seketika itu terasa sangat panas dan nyeri. Adnan meringis kesakitan sambil menyentuh dada kanan dan menatap Agha dengan sorot mata sendu.
Agha melangkah pelan mendekati Adnan, "Itu pukulan untuk membalas sakit hatiku selama ini karena ibu kamu, aku kehilangan banyak orang yang aku sayangi dan karena ibu kamu, aku mengalami banyak hal yang mengerikan dan karena ibu kamu, aku tidak bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu dan Ayah!" Agha menghujamkan tatapan tajam ke Adnan.
Adnan melangkah mundur sambil berkata, "Aku juga akan menghajar kamu, Agha! Karena kamu, aku kehilangan kasih sayang Ayah. Ayah lebih menyayangi kamu! Sekarang aku tahu kenapa Ayah menyayangi kamu, aku rasa Ayah bisa merasakan ikatan batin kalian, cih! Menyebalkan! Aku sudah lama membenci kamu, Agha karena itu! Dan karena kamu, aku kehilangan kesempatan menikahi Kiana. Aku kehilangan kesempatan mendapatkan cintanya Kiana! Dasar brengsek!!!!!!!" Adnan berteriak kencang sambil mengusap darah di bibirnya.
"Kau pikir Kiana akan mencintai kamu kalau aku tidak pernah bertemu dengan Kiana?" Ucap Agha sambil terus melangkah maju dengan perlahan.
"Iya! Tentu saja begitu! Aku mengenal Kiana lebih dulu dari kamu! Dia pasti mencintaiku kalau kamu tidak merebutnya!" Teriak Adnan sambil membungkukkan badan.
Dan di saat Agha berdiri menjulang di depannya dengan licik Adnan mendaratkan cakar mautnya di leher Agha. Untuk sesaat Agha tersentak kaget, namun dengan cepat Agha bisa menepis cakar itu dan kembali mendaratkan tapak saktinya di dada Adnan.
Adnan jatuh di atas tanah dan kali ini dia tidak bisa bangkit lagi. Adnan terkapar di atas tanah dan kembali memuntahkan darah segar.
Agha langsung menginjak dada Adnan lalu ia mengangkat tinjunya ke atas untuk mengumpulkan tenaga dalam ke kepalan tinjunya. "Kau akan mati hari ini. Bersiaplah!"
__ADS_1
"Tidaaaakkkkkk! Mas Agha! Jangan bunuh dia!!!!" Kiana berlari mendekati Agha sambil berteriak sekencang-kencangnya.