
Akhirnya Agha dan Bhadra sampai di tempat pengintaian.
"Kenapa Kak Bhadra ke sini?" Tanya Agha dengan suara berbisik.
"Kiana yang menyuruhku" Bisik Bhadra
"Hah?!" Agha tersentak kaget dan Bhadra langsung membungkam mulut Agha lalu mendelik kesal lalu berbisik, "Jangan berteriak, ssstttt!"
Agha menarik pelan tangan Bhadra dari mulutnya lalu ia meringis dan berkata tanpa bersuara, "Maaf"
Agha kemudian berbisik dengan wajah semringah, "Apa benar Kiana yang mengirim Kak Bhadra ke sini?"
Bhadra menganggukkan kepala lalu berbisik, "Kiana mengkhawatirkan kamu dan dia tidak bisa tidur nyenyak sejak kamu pergi ke Padang pasir"
Agha kembali berteriak saking senangnya mendengar Istrinya mengkhawatirkan dirinya, "Kiana mengkhawatirkan aku!!!!! Waahhhh........."
Bhadra kembali membungkam mulut Agha sambil menggeram, "Kau pengen membunuh kita berdua di sini ya?!"
Lalu terdengar suara teriakan, "Siapa di sana?!"
Bhadra mendelik ke Agha dan berbisik, "Tuh! Tanggung jawab kamu dan hei!" Bhadra melotot kaget saat Agha menarik tangannya lalu Agha mengendap-endap pelan keluar dari persembunyian mereka.
Bhadra sontak berteriak kaget saat ia melihat Agha akhirnya melesat cepat keluar dari persembunyian mereka, "Hei, bocah tengil!!!! Agha, sial! Kenapa dia malah keluar dari persembunyian? Emang merepotkan itu anak, tzk!" Bhadra terpaksa melesat keluar dari persembunyian untuk menolong Agha ya h sudah dikepung puluhan pria berpakaian serba hitam.
Bhadra melotot ke Agha saat ia sampai di samping Agha, "Katanya kau akan hitung tiga kali baru kita keluar. Ini kenapa udah keluar?" Tanya Bhadra sambil mencekik orang berpakaian serba hitam yang mendekatinya.
"Aku udah berhitung satu sampai tiga" Sahut Agha sembari membanting cukup keras lawannya.
"Kapan?" Tanya Bhadra sambil melemparkan orang yang ia cekik ke samping kanan.
"Dalam hati" Agha meringis sambil menonjok wajah orang yang berani melawannya.
Bhadra langsung memukul kepala Agha dengan kesal sambil mendaratkan tendangan menyamping andalannya ke perut orang yang hendak memukulnya.
"Aduh! Kenapa ini seperti dejavu? Kakak mukul kepalaku, ya, semalam?" Tanya Agha sambil memutar badan dan mendaratkan tumit di atas kepala pria berpakaian serba hitam yang sudah lancang ingin mencekiknya.
"Nggak!" Sahut Bhadra sembari mendaratkan tinju mautnya ke perut pria berpakaian serba hitam yang ingin memukul wajahnya.
"Tapi, kenapa aku merasa pernah dipukul Kakak di kepala dan . ....."
"Sudah habis"Bhadra langsung memotong ucapan Agha.
"Hah?!" Agha menatap Bhadra dengan wajah bengong.
"Lawan kita udah habis" Bhadra berucap sembari mengedarkan pandangannya.
Agha ikut mengedarkan pandangannya dan berkata, "Ini baru di pos pertama. Di pos kedua masih ada lagi dan di pos kedua ada banyak sekali jebakan. Kakak harus berhati-hati"
"Cih! Sok nasehati harus berhati-hati. Kamu itu yang harus berhati-hati! Tukang ceroboh dan nggak sabaran" Sahut Bhadra sambil melangkah mendahului Agha.
__ADS_1
Agha mengekor langkah kakak sepupunya Kiana dengan wajah cemberut dan bergumam kesal, "Cih! Mana ada aku ceroboh dan nggak sabaran"
Setelah melangkah sejauh dua meter setengah, Bhadra tiba-tiba berteriak kaget karena ia mendapati dirinya masuk dalam jaring dan dalam hitungan detik ia terangkat ke atas.
Agha sontak tertawa terpingkal-pingkal dan Bhadra langsung berteriak kesal, "Keluarkan aku dari jaring ini, bocah tengil! Kok, malah ketawa kamu, tzk!"
Agha mendongak dan berteriak, "Jawab dulu siapa yang ceroboh dan nggak sabaran, hah?! Hahahahahaha! Wajah Kakak lucu banget saat ini, hahahahahaha!"
"Sial! Dia berani ngetawain aku" Bhadra bergumam kesal dan di saat itulah Bora, Aisyah dan pasukan pilihannya Agha datang.
Bora dan Aisyah sontak mendongak dan berteriak, "Kenapa Anda bisa ada di situ?"
Bhadra langsung berteriak, "Jangan banyak nanya! Lepaskan aku dari sini! Bos kamu gila! Dia malah ngetawain aku!"
Agha berhenti tertawa lalu menepuk pundak Bora dan berkata, "Tolong lepaskan Kak Bhadra*
Aisyah menoleh ke Agha dan dia seketika terpseona melihat tawa Agha.
Raja Agha seratus kali lebih tampan kalau tertawa seperti itu dan baru kali ini aku melihat beliau tertawa lepas seperti ini. Selama ini beliau selalu murung karena merindukan Istrinya. Selama ini aku hanya bisa melihat senyum tipis dan tawa ala kadarnya dari beliau. Batin Aisyah
"Baik, Jenderal" Sahut Bora.
Beberapa menit kemudian Bhadra sudah berdiri di depan Agha dan Bhadra yang tidak suka basa-basi langsung mendelik ke Aisyah dan berkata, "Jangan menatap Agha terlalu lama! Agha sudah punya Istri"
Agha dan Bora menoleh kaget ke Aisyah dan Aisyah langsung berkata, "Saya mengamati keadaan sekitar. Saya tidak menatap beliau" Lalu, Aisyah bergegas melangkah ke depan untuk menyembunyikan wajah malunya.
Bora tersenyum lebar lalu berkata, "Sama-sama, Jenderal. Jenderal Agha memang seperti itu orangnya. Saya sudah sering menerima perlakuan yang sama dari Jenderal Agha, hiks" Bora menunduk dengan wajah sedih.
Agha terkekeh geli lalu menepuk pundak Bhadra dan berkata, "Itu tandanya aku........."
"Gila" Sahut Bhadra dengan cepat.
Agha kembali terkekeh geli dan langsung menyahut, "Hei! Aku yang nyuruh Bora melepaskan Kakak"
"Nyuruh sama bertindak itu beda, cih!" Bhadra lalu melangkah meninggalkan Agha dengan kesal dan Bora mengekor langkah Bhadra sambil mengulum bibir menahan geli dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Agha lalu mensejajari langkah Bora dan berbisik, "Dia itu ceroboh dan nggak sabaran kamu harus selalu menjaganya"
Bora hanya tersenyum dan menggelengkan-gelengkan kepala.
Bhadra menoleh tajam ke belakang dan berkata, "Aku dengar ucapan kamu"
"Tetap ke depan, Kak. Banyak jebakan" Sahut Agha dengan wajah serius dan Bhadra langsung mengerem langkahnya lalu menatap ke depan.
Agha mendekati Bhadra dan berjongkok, "Mau aku gendong biar aman?"
Bhadra mendengus kesal dan berjalan meninggalkan Agha dengan berhati-hati.
Agha kembali terkekeh geli.
__ADS_1
Aisyah yang melangkah paling depan sesali menoleh ke belakang dan ikutan tersenyum melihat tingkah Agha. Aisyah kembali membatin, aku kira beliau adalah orang yang dingin dan kaku. Ternyata beliau kocak dan konyol juga. Ah, aku semakin jatuh cinta padanya. Sayangnya dia sudah ada yang punya.
Rombongannya Agha akhirnya sampai di pos kedua dengan selamat karena Agha, Bora, Aisyah dan pasukan pilihannya Agha sudah mempelajari jebakan para bandit itu sebelumnya lalu Bhadra tinggal mengikuti langkah Agha dan teman-temannya saja.
Gerombolan bandit di pos kedua juga berhasil dilumpuhkan. Lalu, rombongannya Agha melangkah mantap menuju ke pos ketiga. Pos di mana pimpinan para bandit itu berada.
Agha melangkah dengan wajah semringah dan bertanya ke Bhadra, "Kiana mengkhawatirkan kamu, tidak bisa tidur, apa itu berarti Kiana sudah nggak marah lagi? Apa itu berarti Kiana merindukan aku? Apa itu berarti Kiana nggak ngambek lagi? Apa itu berarti ........ hmpppttthhh!"
Bhadra menjejalkan kentang rebus ke mulut Agha dan berucap, "Jangan berisik!"
Agha menarik kentang rebus dari mulutnya dan mendelik kesal, "Hei! Aku ini seorang raja, lho"
Bhadra menyahut tanpa menoleh ke Agha, "Iya, tapi kau bukan rajaku"
Agha meringis dan berucap, "Iya, kau benar, Kak. Makasih untuk kentangnya. Raja juga harus makan kentang rebus, hehehehehe"
Bhadra mendengus kesal dan bergumam, "Dasar gila!"
Aisyah yang kini berjalan di belakang Agha menghela napas beberapa kali dan kembali membatin, Raja Agha masih saja menanyakan soal Istrinya. Cintanya pada Kiana ternyata sangat besar.
"Setelah menumpas habis bandit brengsek ini, aku akan langsung pulang" Ucap Agha sambil mengunyah kentang rebus.
"Anda tidak singgah dulu ke istana kecil untuk beristirahat sebentar?" Tanya Aisyah. Aisyah masih ingin berlama-lama berada di sisinya Agha. Masih ingin berlama-lama memandang wajah tampannya Agha dan masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Agha. Mereka memiliki banyak kesamaan di antaranya adalah mereka berhasil mengasuh dan mendidik hewan. Agha berhasil mengasuh dan mendidik Red Hair sedangkan Aisyah berhasil mengasuh dan mendidik elang hutan. Mereka berdua juga sama-sama menyukai berkuda, memanah, dan mereka berdua suka membahas tentang bela diri dan terkadang mereka berlatih bersama.
Agha menyahut tanpa menoleh ke belakang, "Maafkan aku! Aku tidak akan singgah. Aku sudah sangat merindukan Istriku"
Bhadra menghela napas panjang mendengar ucapannya Aisyah. Dia paham betul maksud dan tujuannya Aisyah berkata seperti itu.
Bora langsung menyahut, "Saya yang akan singgah untuk mengambil barang-barang kami yang masih tertinggal di istana kecil Anda, Ratu"
"Hmm" Sahut Aisyah dengan senyum simpul.
Aisyah kembali membatin dengan menunduk sedih, ternyata kebersamaan aku dan Agha selama ini yang sangat berharga bagiku bukanlah apa-apa bagi Agha.
Aisyah kemudian menyeringai senang dan mengangkat wajahnya, "Kalau begitu, saya akan ikut Bora ke istana Anda setelah Bora mengambil semua barang-barang"
"Baiklah!" Sahut Agha tanpa menoleh ke belakang.
"Terima kasih, Jenderal" Sahut Aisyah dengan wajah semringah.
Bhadra menoleh kaget ke Agha, "Dia ratu di sini kenapa ikut kamu ke istana kamu?"
"Saya ingin bertemu dengan Ratu Kiana" Sahut Aisyah dengan cepat.
Bhadra menoleh ke belakang tepat ke Asiyah dengan membatin, awas saja kalau kamu punya niat busuk. Aku akan cabik-cabik kamu.
Agha menoleh ke Bhadra, "Dia sahabatku dan dia ingin bertemu dengan Kiana. Kiana pasti suka punya teman baru seperti Aisyah"
Bhadra menghela napas panjang dan bergumam di dalam hatinya, dasar bodoh! Kiana bakalan cemburu bukannya suka!
__ADS_1