Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Kaget


__ADS_3

Kepala raja bergerak-gerak dan kedua bola matanya tampak berputar pelan mencari sosok Agha Caraka sambil melemparkan tanya lagi ke Kiana, "Apa suami kamu masih mengobrol dengan seseorang di depan gerbang istana? Kenapa Agha belum masuk juga ke sini?"


Adnan mulai mengepalkan kedua tangannya sambil bergumam di dalam hatinya, kenapa Ayah muncul tiba-tiba di sini? Ganggu aja, cih! Padahal aku masih ingin berlama-lama mengobrol dengan Kiana berdua saja. Lagian kenapa Ayah mencari Agha?


Kiana tersenyum melihat raja tampak merindukan suami tampannya.


Ikatan batin antara Ayah dan anak memang sangat kuat. Batin Kiana.


Kiana kemudian menekuk lututnya dan bergegas menyahut karena ia tidak ingin raja berlama-lama menunggu kemunculan suaminya, "Maaf, Raja. Mas, emm, maksud saya suami saya tidak mengantarkan saya ke sini kali ini"


Adnan langsung menyeringai senang. Dia bisa menarik Kiana ke kamar pribadinya untuk mengobrol berdua dengannya setelah ini. Begitu pikir Adnan.


Raja langsung menunduk dan melihat Kiana lalu bertanya dengan wajah kecewa, "Kenapa? Apa Agha sakit?"


"Tidak Raja. Emm, suami saya sedang menangani sebuah kasus yang sangat genting dan penting" Sahut Kiana.


"Oh" Raja menghela napas kecewa.


Kenapa wajah raja tampak aneh hari ini? Apa raja sakit? Batin Kiana.


Adnan langsung bersuara, "Kenapa kau masuk ke istana?"


Kiana menoleh ke Adnan dan langsung bertanya dengan wajah heran, "Kok, kenapa? Bukankah Permaisuri sakit dan beliau butuh saya untuk memeriksa dan mengobati beliau"


Raja dan Adnan tersentak kaget secara bersamaan, "Hah?!"


Kiana semakin mengerutkan keningnya.


"Permaisuri baik-baik saja. Aku baru saja menemuinya di kamar" Sahut Raja.


Apa rencana Ibunda kali ini. Aku tidak akan biarkan Ibunda mencelakai Kiana. Batin Adnan.


Adnan langung berkata, "Ayah, tolong temani Kiana mengobrol sebentar. Aku akan menemui Ibunda dulu. Emm, kalau Ibunda beneran sakit aku akan jemput Kiana dan membawa Kiana ke kamar pribadinya Ibunda"


"Oh. Baiklah. Ayahanda setuju dengan ide kamu" Raja langsung menepuk pundak putranya dengan senyum lebar.


"Ayo kita ke aula utama" Ujar raja sambil memutar badan lalu berjalan pelan dengan penuh wibawa ke aula utama mendahului Kiana.


Kiana langsung mengekor langkah junjungannya. Raja sekaligus kaisar besar di negeri manusia yang sangat Kiana kagumi kebijaksanaan dan kewibawaannya.

__ADS_1


Kiana menatap punggung raja dan langsung berkata di dalam hatinya, cara berjalannya Raja mirip sekali dengan cara berjalannya Mas Agha. Alis Raja dan Mas Agha juga sama, lalu, emm, tinggi badan Raja juga sama dengan Mas Agha. Timbre suara Mas Agha dan Raja juga mirip. Mereka memang Ayah dan anak. Banyak kemiripan di diri mereka. Kiana tersenyum.


Lalu Kiana menghela napas panjang dan kembali berkata di dalam hatinya dengan wajah sedih, sayangnya Mas Agha dan Raja belum bisa saling bertemu sebagai Ayah dan anak. Kasihan Raja dan Mas Agha. Apa aku menolong mereka saja? Apa aku bilang saja ke Raja kalau Mas Agha itu.......ah, tidak, tidak, tidak. Aku harus diskusikan dulu soal ini dengan Mas Agha.


Setelah raja naik ke singgasana dan Kiana dipersilakan duduk. Kiana duduk dan langsung berkata, "Maafkan saya, Raja"


"Ada apa?" Tanya raja dari atas singgasana dengan senyum ramah.


Kau adalah menantuku, Kiana. Aku bahagia melihat kamu dan Agha saling mencintai. Aku harap pernikahan kalian langgeng dan selalu terhindar dari segala mara bahaya dan pencobaan. Jangan sampai kalian dipisahkan oleh takdir kejam seperti aku dipisahkan dengan Jelita. Ini yang bisa aku lakukan sebagai seorang ayah dan ayah mertua. Aku hanya bisa mendoakan kalian dalam diam. Batin Raja pilu.


"Apakah Anda sakit? Karena saya lihat di bola mata dan wajah Anda, emm, maafkan saya, Anda tampak kurang sehat" Sahut Kiana.


"Ah, benar sekali dugaan kamu. Apa kamu mau memeriksa aku dan mengobati aku, Kiana?"


"Tentu saja saya mau, Raja"


"Baiklah. Ayo kita ke kamar pribadiku" Raja langsung bangkit berdiri dari singgasananya.


Sementara itu di dalam kamar pribadi permaisuri tengah terjadi perdebatan sengit antara Adnan dan ibundanya.


"Berani sekali kau menyuruh Kiana menunggu di aula besar alih-alih membawa Kiana ke sini"


"Tentu saja aku akan melakukan itu karena aku mencium niat tidak baik dari Ibunda. Ibunda ingin mencelakai Kiana, kan?" Adna melotot kesal ke Ibundanya.


"Tapi, jika itu berkaitan dengan Kiana aku akan pasang badan untuk melindungi Kiana. Aku tidak akan biarkan siapa pun mencelakai Kiana termasuk Ibunda" Adnan menggeram kesal.


"Kau........sial! Adnan! Lancang kau! Apa kau jatuh cinta sama Kiana?" Permaisuri sontak mendelik kaget dan hampir copot kedua bola matanya.


"Bukan urusannya Ibunda. Itu adalah urusan pribadi. Tapi yang pasti, aku akan melawan siapa saja yang ingin mencelakai Kiana, titik" Sahut Adnan dengan wajah serius.


Dan yang terjadi di pondok tua yang jaraknya puluhan mil dari istana, Agni dikejutkan dengan bisikan, "Jangan bunuh saya. Saya diperintahkan Jenderal Agha untuk bermain sandiwara. Jenderal Agha ingin menjebak Maharani"


Bora juga mendapatkan bisikan yang sama saat ia ingin memukul wajah lawannya.


Bora dan Agni kemudian bersitatap dengan wajah penuh tanda tanya.


Lalu terdengar jerit kesakitan seorang pria. Pria berperawakan besar berhasil Agha tundukkan dengan cepat dan tanpa menggunakan tenaga dalam.


Agha menekan dada lawannya yang sudah tergeletak tak berdaya di atas lantai dengan kaki kanannya lalu berkata, "Berani benar kau menculik Ibundaku"

__ADS_1


"Iya!" Sahut Rani. "Untung saja aku pintar dan berhasil menemukan Tante di sini!" Maharani masih berteriak dengan wajah seolah tak berdosa. Padahal dia lah dalang dari penculikan itu.


Agha menoleh ke Maharani dan langsung tersenyum.


Maharani langsung berbunga-bunga hatinya menerima senyuman dari Agha. Lalu wanita itu kembali berteriak, "Kakak harus menikahiku setelah ini. Aku sudah rela berkorban demi Ibunda"


Agha yang masih melihat Maharani langsung menyahut, "Apakah benar kejadiannya seperti itu?"


Maharani tersentak kaget saat ia melihat ibundanya Agha bisa bangkit berdiri dengan mudah dan tali di badannya lepas begitu saja. "Tante tidak diikat selama ini? A.....apa yang terjadi?" Maharani mulai panik.


Agha lalu menoleh ke pria yang masih ia injak dadanya, "Siapa nama kamu dan kenapa kamu mengambil gelangnya Rani? Apa hubungan kamu dengan Rani?"


Maharani langsung berteriak panik, "Aku tdkan kenal dengannya, kak! Kak Agha harus percaya denganku!"


Plak! Ibundanya Agha langsung menampar Maharani sambil berteriak, "Diam kau! Dasar wanita jahat!"


Maharani yang masih terikat di riang kayu menatap ibundanya Agha dengan wajah penuh tanda tanya.


Pria yang masih berada di bawa kakinya Agha langsung menyahut, "Rani adalah Bulan adik kandungku. Namaku adalah Awan. Bulan adikku terpisah denganku saat aku dan Bulan berjalan-jalan di festival panen puluhan tahun yang lalu dan gelang yang Rani pakai adalah gelang keluarga kami"


"Tidak! Aku tidak kenal denganmu! Jangan memfitnahku!" Maharani langsung berteriak kencang.


Agha lalu menoleh ke belakang dan langsung menatap Bora, "Lepaskan Rani! Kita bawa Rani dan pria yang bernama Awan ini ke kediamanku untuk kita interogasi"


"Baik, Yang Mulia" Sahut Bora sambil berlari untuk melepaskan ikatannya Maharani.


Agha lalu menarik kakinya dari dada pria yang mengaku bernama Awan lalu ia berjalan mendekati ibundanya.


Pria yang bernama Awan memberi kode ke anak buahnya untuk kembali menyerang, namun salah satu dari anak buahnya Awan langsung menyahut, "Maafkan kami, Bos. Kami ada di pihak Jenderal Agha Caraka saat ini karena kami lebih memikirkan keluarga kami"


Maharani menatap pria yang bernama Awan dengan nanar dan wanita cantik itu masih mematung di tempat ia berdiri.


Awan menatap Maharani dan berteiak, "Ke sini lah, Bulan! Ini Kakak kamu. Kakak sangat merindukan kamu, Bulan. Kakak ingin memeluk kamu"


Namun, Maharani bergeming dan langsung berteriak, "Aku adalah putri bangsawan. Kau dengar itu?! Aku adalah putri bangsawan! Aku bukan adik kandung kamu!!!!!!"


Awan menggeram kesal saat ia melihat semuanya berakhir tidak sesuai dengan bayangannya. Adik kandungnya tidak mau memercayai perkataannya dan tidak mau menerima dirinya, lalu semua anak buahnya mengkhianati dirinya. Maka pria yang bernama Awan itu nekat mengambil berlari dari dalam sepatunya lalu berlari ke punggungnya Agha sambil mengacungkan belati itu


Melihat pria yang mengaku kakak kandungnya mengarahkan belati dan hendak menusuk punggung Agha dengan belati itu, Maharani refleks berlari maju dan.......jleb! Belati yang dipegang oleh pria yang mengaku bernama Awan menancap di dada kiri Maharani alih-alih di punggung Agha.

__ADS_1


Maharani berteriak kesakitan dan Awan berteriak panik karena dia sudah menusuk adik kandungnya tanpa ia sengaja.


Semua orang sontak tertegun kaget dan Agha refleks berputar badan untuk menahan badan Maharani agar tidak jatuh tergeletak di atas tanah.


__ADS_2