Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Racun Naga Hitam


__ADS_3

Maharani ikutan menautkan kedua alisnya dan berkata, "Bukankah selama ini aku selalu memanggil Kak Agha dengan sebutan Mas kalau kita tengah berduaan seperti ini"


"Benarkah?" Agha bangkit berdiri dan bersikap waspada saat ia melihat Maharani melangkah gemulai ke arahnya.


"Kakak tidak pernah memperhatikannya selama ini?" Maharani bertanya dengan wajah kecewa dan terus melangkah seksi mendekati Agha.


Agha menggelengkan kepala dan tetap bersikap waspada.


Sial! Ternyata Kak Agha tidak pernah memperhatikan panggilan Mas yang sering aku lontarkan setiap kali aku dan dia hanya berduaan saja. Dia kenapa tega banget sama aku? Padahal aku rela melakukan apapun untuk dia, tapi kenapa dia tidak pernah peduli dan ingat apa yang sudah aku katakan dan lakukan untuk dia. Batin Maharani sambil terus melenggok seksi ke arah Agha.


Agha langsung berteriak, "Bora! Masuk!" Saat ia melihat Maharani semakin dekat.


Maharani sontak menghentikan langkahnya dan mendelik kaget, "Kenapa kakak memanggil Bora?"


"Bora juga akan pergi menghadang bajak laut. Aku rasa dia juga perlu tahu soal strategi yang akan kau sampaikan"


"Ada apa Yang Mulia?"


"Mendekat padaku!"


Bora melangkah dan berdiri di samping Agha lalu pria tampan itu kembali bertanya, "Ada apa Yang Mulia"


"Tetap berdiri di sini dan temani aku membahas strategi bersama Rani"


"Baik, Yang Mulia"


Maharani mendelik kesal menatap Bora"

__ADS_1


"Kenapa malah berdiri dan bengong di situ? Kembali ke papan dan lanjutkan gambaran strategi perang kamu!" Agha menghentakkan kepalanya dan Maharani langsung berputar badan dengan hati ngedumel. Gadis cantik yang terkenal lembah lembut itu dengan terpaksa menggambar di papan tulis strategi perang yang ada di benaknya.


Agha kemudian berbisik ke Bora, "Temani aku lembur! Entah kenapa aku sekarang ini takut sama Rani. Dia bukan lagi Rani teman masa kecilku yang manis"


"Baik, Yang Mulia. Saya akan selalu menemani Anda" Bisik Bora.


Tiba-tiba Ibundanya Agha masuk ke dalam ruang kerjanya Agha bersama dengan tabib Gunadi.


"Lho, kok, pintunya terbuka lebar dan ada Bora di sini?" Tanya ibundanya Agha sambil mengusir semua dayang yang berjaga di depan pintu, lalu wanita berparas cantik dan awet muda itu menutup rapat ruang kerjanya Agha.


Alih-alih menjawab pertanyaan ibundanya, Agha justru balik bertanya, "Lho, kenapa ada tabib Gun di sini, Ibu?" Agha menatap tabib Gunadi dengan wajah penuh tanda tanya.


"Tabib Gun mengatakan kalau ada hawa dingin di tubuh kamu. Sepertinya penyakit lama kamu belum pulih total dan dari observasi tabib Gun selama ini, tabib Gun telah menemukan cara untuk menyembuhkan penyakit lama kamu secara total" Sahut Ibundanya Agha.


"Aku rasa tidak perlu. Aku akan minta tolong sama Istriku saja. Istriku tabib yang sangat hebat dan aku yakin dia bisa menyembuhkan penyakit lamaku. Aku cuma belum memiliki kesempatan untuk mengatakan ke Istriku soal penyakit lamaku yang........."


"Apa kau yakin dia bisa dipercaya? Kau baru mengenalnya beberapa hari. Bagaimana kalau ia membocorkan keluar soal penyakit lama kamu yang kalau kambuh kamu berubah menjadi seperti naga. Kamu akan bersisik dan lama kelamaan kamu akan berubah menjadi naga hitam. Kalau sampai permaisuri tahu dan orang luar tahu, kau akan diasingkan bahkan kau akan dibunuh. Lalu, kesempatan kamu untuk merebut tahta akan lenyap dan perjuangan kamu selama ini akan sia-sia"


"Tapi, Istri Anda masih bau kencur di bidang medis. Saya yakin kalau Istri Anda tidak akan mampu menemukan cara menyembuhkan penyakit Anda" Sahut Tabib Gunadi.


Alih-alih merespons ucapannya Tabib Gunadi, Agha justru melayangkan ingatannya ke kejadian di masa lampau saat ia masih berumur sepuluh tahun. Dia diculik dan dipenjara di dalam tempat yang gelap dan lembab lalu setiap pagi ia disuntik cairan yang membuatnya merasakan sakit yang luar biasa. Akibat cairan itu, ia berubah menjadi seekor naga hitam.


Tabib gila yang menculik Agha memang tengah melakukan eksperimen. Dia dibayar oleh permaisuri untuk menciptakan monster yang akan ia jadikan alat menggulingkan suaminya sendiri, kaisar Abinawa. Namun, Agha beruntung di hari ke tiga puluh lima dia disekap, dikurung, disiksa dengan cairan aneh, ada seorang wanita cantik membebaskan dia dari penjara. Wanita itu berhasil membawa lari Agha sampai ke pinggir jurang.


Tetapi sayangnya wanita itu akhirnya tertusuk pedang prajuritnya permaisuri dan wanita itu jatuh ke jurang demi untuk menyelamatkan Agha. Agha berteriak marah saat ia melihat wanita penyelamatnya jatuh ke jurang dan mati. Agha seketika itu berubah menjadi naga hitam dan berhasil terbang kembali ke kediaman Caraka.


Penyakit Agha itu akan kambuh kalau ia mengalami amarah yang sangat besar dan akan kambuh saat bulan purnama tiba. Namun, tabib Gun berhasil mengunci titik nadi agar racun yang ditanamkan oleh tabib gila milik Permaisuri yang sudah merubah Agha menjadi seekor monster berwujud naga hitam itu tidak memenuhi diri Agha dan merubah Agha menjadi naga hitam lagi. Namun, kuncian di titik nadi itu hanya bisa bertahan sampai Agha berumur dua puluh enam tahun dan itu berarti satu tahun ke depan, Agha akan berubah menjadi naga hitam di setiap bulan purnama tiba.

__ADS_1


"Agha! Kenapa kau malah melamun? Agha!" Teriak ibundanya Agha sembari menggoncang tubuh kekar putra kesayangannya.


Agha terlonjak kaget dan langsung berkata, "Ada apa, Ibu?"


"Kau harus diobati mulai hari ini dan hanya Maharani yang bisa mengobati penyakit kamu itu"


"Rani? Dia, kan, bukan seorang tabib dan tidak paham medis sama sekali" Sahut Agha sambil menoleh ke Maharani.


"Saya siap melakukan apapun asal bisa menyelamtakan Kak Agha, Tante" Sahut Maharani.


Agha kembali menatap ibundanya, "Kenapa Rani?"


Ibundanya Agha menoleh ke tabib Gunadi dan


tabib Gunadi langsung menyahut, "Karena Nona Maharani lahir di tanggal yang tidak biasa di tahun yang cantik dan darah Nona Rani ternyata bisa menjernihkan darah hitam Anda yang terkontaminasi racun naga hitam itu"


"Kenapa kau tidak memeriksa Kiana? Siapa tahu darah Kiana juga bisa......"


"Saya sudah menyuruh perawat yang menemani saya memeriksa Nyonya muda kemarin dan maafkan saya karena saya telah lancang menyuruh perawat saya mengambil sedikit darah Istri Anda, Yang Mulia. Ternyata darah Nyonya muda, Istri Anda, tidak bisa menjernihkan darah hitam Anda" Sahut tabib Gun.


Agha menghela napas kecewa karena ternyata darah Kiana tidak bisa dijadikan obat untuk menyembuhkan racun naga hitam yang masih ada di dalam tubuhnya. Padahal kalau itu Kiana maka akan lebih baik lagi daripada ia harus berhutang budi dengan wanita lain.


Agha kemudian bertanya, "Berapa lama aku harus menjalani pengobatan bersama Rani?"


"Saya rasa satu bulan cukup. Anda hanya perlu ditransfusi darahnya Nona Rani seminggu sekali" Sahut tabib Gun.


"Saya bersedia melakukannya" Sahut Rani.

__ADS_1


"Jangan sampai orang lain tahu soal ini! Termasuk Kiana, Istri kamu dan Agni" Sahut Ibundanya Agha.


Agha hanya bisa menghela napas panjang dan berkata, "Baiklah" Dengan berat hati.


__ADS_2