Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Menunggu Pengantin Pria


__ADS_3

Sementara itu di kediaman ayahandanya Kiana, Komala adik tirinya Kiana, merengek ke ibundanya, "Ibunda, kenapa yang menikah dengan Jenderal Agha yang terkenal gagah dan tampan itu harus Kak Kiana? Padahal aku lebih muda dan lebih cantik dari Kak Kiana. Kak Kiana, kan, buruk rupa. Wajahnya penuh bisul. Tapi, kenapa justru Kak Kiana yang menikah dengan Jenderal Agha"


"Hush! Jangan asal bicara! Jenderal Agha itu tidak punya hati nurani, dia terkenal kejam, dingin dan tidak pernah peduli sama wanita. Kau mau hidup dengan monster kejam seperti itu, hah?!"


"Tapi, dia, kan, tajir melintir, sangat tampan dan sangat gagah, Ibu"


"Hush! Ibu akan carikan kamu pria yang lebih baik dari Jenderal Agha!"


Sementara itu di kediaman keluarga Caraka....


Untung saja penyakit kulitku di wajah dan sekujur tubuhku sudah sembuh. Wajahku sudah kembali seperti dulu waktu aku masih kecil. Jadi, kalau aku bertemu dengan suamiku, aku tidak perlu malu.Untung saja aku suka belajar sejak kecil. Jadi, aku bisa mengobati sendiri penyakit kulitku tanpa minta bantuan Ayah. Batin Kiana dengan senyum senang.


"Ibu, Putrimu sudah menikah sekarang. Tolong berkati pernikahan Putrimu ini dari Surga sana, ya, Ibu. Agar pernikahan Putrimu ini penuh berkah dan semoga Putrimu ini bisa jadi Istri yang baik untuk suaminya dan bisa menjadi menantu yang baik untuk mertuanya" Gumam Kiana.


Pelayan pribadinya Kiana yang sudah seperti sahabatnya itu duduk di samping Kiana dan berkata, "Nona, Anda tidak makan dulu? Saya suapi, ya, jadi Nona tidak usah membuka penutup kepala Nona"


"Nggak usah, Deb. Aku makan setelah Suamiku datang dan membuka penutup kepalaku"


"Saya tidak menyangka kalau Nona mencintai Suami Nona sebesar ini"


"Cinta? Nggak Deb. Aku lebih baik makan nasi daripada makan cinta. Kalau kita makan nasi minumnya,kan, air putih. Kalau kita makan cinta minumnya air mata, Hihihihihi. Untuk itulah aku tidak pernah mau merasakan jatuh cinta, Deb" Ucap Kiana dengan terkekeh geli.


Debi tersenyum sambil menatap dari arah samping nona yang sudah ia layani dan dampingi sejak ia berumur sepuluh tahun itu, dengan sorot mata trenyuh. Nona yang baik hati dan cantik harus menikah dengan pria asing yang belum pernah dijumpainya dan di saat menikah sang mempelai pria tidak nampak menyambut dan mendampinginya.

__ADS_1


Kasihan sekali Nona Kiana. Kenapa orang baik seperti Nona harus mengalami nasib menyedihkan seperti ini. Di rumah Anda selalu ditindas oleh Ayah Anda, Ibu tiri Anda, dan adik tiri Anda. Lalu, Anda harus menikah dengan pria yang tidak pernah Anda jumpai dan mempelai prianya tidak hadir di pernikahan untuk menyambut Anda, Nona. Kejam sekali pria yang bernama Jenderal Agha itu, ya. Batin Debi.


"Pergilah ke kamar kamu, Debi! Aku takut suamiku akan terkejut dan timbul kesalahpahaman saat ia masuk ke kamar ini dan ia menemukan ada dua wanita di sini" Kiana menyentuh tangan Debi.


Debi kemudian mengangguk dan setelah bangkit berdiri, gadis muda yang seumuran dengan Kiana itu berkata, "Baiklah, Nona. Saya doakan Nona selalu bahagia di pernikahan ini"


"Amin" Sahut Kiana.


Agha berteriak senang saat ia melihat Maharani akhirnya membuka kedua kelopak mata dengan perlahan. Maharani langsung bangun dan memeluk Agha sambil berkata, "Aku senang kamu ada di sini, Mas Agha"


Agha yang kaku, tidak pernah dipeluk ataupun memeluk seorang gadis karena dia tidak pernah ada waktu untuk berpacaran, tidak membalas pelukan Maharani. Kedua tangan Agha mengepal di kedua sisi tubuh gadis cantik berwajah lembut itu saat Maharani memeluknya lebih erat, Agha dengan cepat berkata, "Tentu saja aku akan ada di sini menjaga kamu. Kamu adalah adikku. Syukurlah kamu sudah sadar dan baik-baik saja. Jangan kamu ulangi lagi! Kalau kamu bunuh diri maka aku akan membenci kamu selamanya, Rani. Sekarang lepaskan pelukan kamu! Aku sesak napas. Kau memelukku sangat erat, Rani"


Maharani langsung melepaskan pelukannya dan menarik diri dari dada hangatnya Agha, lalu berkata, "Maafkan aku telah memeluk kamu dengan sangat erat Itu karena aku bahagia kamu ada di sini untukku. Kamu akan menikah, Mas. Aku sedih. Untung itulah aku lebih baik mati karena ke depannya kita tidak bisa sering bersama lagi. Kita tidak bisa lagi jalan-jalan bareng dan......"


Agha menatap Maharani lalu berkata, "Aku akan tetap meluangkan waktu untuk menemui kamu dan menemani kamu jalan-jalan"


Agha menghela napas panjang dan berkata, "Nggak akan beda. Aku tetap Kakak kamu dan kamu adikku. Aku akan tetap meluangkan waktuku untuk kamu"


"Benarkah?" Maharani menatap kedua bola mata indah pria yang sangat ia kagumi dan cintai sejak kecil itu dengan wajah semringah.


Agha menatap Maharani dan berkata, "Iya. Tentu saja benar. Aku janji. Jadi, jangan bunuh diri lagi. Aku akan membenci kamu kalau kamu bunuh diri lagi"


Maharani mengangguk dan Agha kemudian bangkit berdiri dan berkata, "Aku pulang dulu. Kata Bora, utusan Kaisar masih menungguku di kediaman. Aku harus segera pulang supaya Kaisar tidak murka"

__ADS_1


Maharani menahan lengan Agha untuk bertanya, "Apa di mata kamu aku ini hanya seorang adik?"


Agha menepuk tangan Maharani dan sambil tersenyum ia berkata, "Iya. Kamu selamanya adalah adikku. Adik perempuan yang aku sayangi. Aku pulang dulu. Istirahatlah dengan baik" Agha berucap sembari membantu Maharani merebahkan diri di kasur dan setelah menyelimuti Maharani, Agha bergegas pulang.


Maharani menatap punggung Agha sambil bergumam lirih, "Tapi, aku ingin jadi kekasih kamu, Mas. Bukan adik perempuan kamu"


Beberapa jam kemudian, Agha sampai di rumahnya dan saat ia masuk ke dalam rumahnya, ia melihat sosok mencurigakan, berpakaian serba hitam dan memakai kain penutup wajah yang juga berwarna hitam berlari di atas atap kamarnya. Agha langsung menghunus pedangnya dan melompat naik ke atas atap kamarnya dengan ilmu meringankan tubuhnya. Agha berhasil mengejar sosok itu.


Agha dan orang berpakaian serba hitam dengan kain penutup wajah berdiri berhadapan di depan hutan. Jenderal kesayangan Kaisar yang mendapatkan gelar pangeran Ketujuh itu, langsung berteriak, "Kau seroang wanita! Dari tinggi badan dan postur tubuh kamu, aku yakin kalau kau adalah seorang wanita. Apa kau wanita yang aku temui di hutan kemarin, hah?! Ayo lepaskan kain penutup wajah kamu! Toh, aku sudah melihat wajah kamu kemarin. Untuk apa kamu menutupi wajah kamu yang penuh bisul itu. Hati kamu lebih menjijikkan daripada wajah kamu yang penuh ruam aneh itu! Nggak usah ditutupi lagi!"


Orang berpakaian serba hitam itu mengarahkan pedangnya ke Agha dan mengajak Agha berduel dengan pedang.


Agha berusaha meraih kain penutup wajah orang itu untuk memastikan apakah benar orang yang mengajaknya berduel pedang adalah seorang wanita dan wanita itu adalah wanita yang berani mengejeknya di hutan kemarin.


"Aku akan menangkapmu kali ini dan aku akan menginterogasi kamu kenapa kamu dan aku yakin mereka gerombolan kamu, terus saja mengusikku!" Teriak Agha sambil terus mengarahkan pedangnya ke orang berpakaian serba hitam itu.


Agha yang sangat ahli bela diri, bermain pedang, dan taktik duel yang mumpuni, berhasil menjatuhkan pedang itu sampai terlempar jauh dan orang itu dan di saat ia hampir saja menarik kain penutup wajah orang itu, ada serbuk putih mengenai kedua matanya. Agha sontak menutup matanya yang kelilipan dan di saat itulah perut sebelah kirinya tertusuk pisau.


Saat Agha bisa membuka matanya kembali, orang berpakaian serba hitam itu telah lenyap bertepatan dengan teriakan panik Bora, "Jenderal! Perut Anda kena tusuk!"


"Jangan pedulikan aku! Kejar mereka dan tangkap mereka!"


"Baik, Tuan" Bora langsung melesat mengejar orang yang sudah berani menusuk tuannya.

__ADS_1


Agha pulang sendirian ke rumahnya karena Bora, ia perintahkan untuk mengejar orang yang sudah berani mengusik dan melukainya. Tepat tangah malam, Agha berjalan lurus menuju ke kamarnya dengan sempoyongan sambil terus menutup dan menekan perutnya dengan memakai telapak tangan karena perut yang tertusuk pisau itu terus mengeluarkan darah.


Sementara itu seorang pria di dalam kediaman yang sangat mewah dan di sekeliling kediamannya ada taman yang penuh dengan tanaman herbal tersenyum semringah dan bergumam, "Aku akan menunggu kedatangan Kiana ke sini. Aku sangat merindukan teman cantikku itu"


__ADS_2