Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Aku Menginginkanmu


__ADS_3

Di dalam kediaman putra mahkota, orang yang menculik Kiana dihajar habis-habisan. Adnan sang putra mahkota yang sudah menyiapkan baju pernikahan dirinya dan Kiana, merasa sangat kecewa saat orang utusannya menghadap dirinya dan berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia Putra Mahkota. Saya telah gagal menculik Nona Kiana. Gadis kecil itu sangat cerdik seperti ular dan memiliki keberanian di atas rata-rata, Yang Mulia"


Adnan sontak bangkit berdiri dengan wajah geram dan menghajar orang itu habis-habisan


Di kediaman Caraka di kamar tamu yang paling luas, paling indah, dan paling mewah, Maharani kembali masuk ke kamar itu dengan harga diri yang tercabik-cabik. Dia sangat cantik, memiliki postur tubuh yang ideal, dan memiliki bakat juga kepintaran di atas rata-rata. Tapi, kenapa Agha menolaknya. Dia sudah merendahkan martabatnya dengan menawarkan dirinya ke Agha, tapi Agha menolaknya.


Maharani kemudian menangis terisak dan sambil meremas dadanya yang terasa sakit, ia melemparkan semua bantal dan guling ke lantai.


Sementara itu di kamar pribadinya Agha, Agni yang masih berdiri di depan pintu kamarnya Agha masih mondar-mandir ke kanan dan ke kiri dengan wajah khawatir. Bora yang mengikuti langkah mondar-mandirnya Agni langsung berkata, "Stop!"


Agni sontak menghentikan langkah kakinya dan langsung menoleh ke Bora dengan wajah kaget dan penuh tanda tanya.


"Jangan mondar-mandir terus, Nona! Apa Anda nggak pusing? Saya aja pusing, nih" Bora berkata sembari memijit tengkuknya


Agni menggeram kesal dan berkata, "Siapa yang menyuruh kamu menirukan langkahku? Pergi sana ke pos jaga kamu!"


"Saya akan berjaga di sini malam ini. Anda pergilah ke kamar Anda dan beristriahat" Sahut Bora dengan wajah santai.


"Aku tidak bisa ke kamar. Aku mengkhawatirkan Kakak iparku" Sahut Agni.


"Kenapa harus dikhawatirkan? Anda sudah memeriksa Nyonya muda, kan?"


"Iya dan syukurlah demamnya sudah hilang dan dia sudah sadar" Sahut Agni.


"Nah, udah aman, kan, kenapa masih dikhawatirkan? Lagipula Yang Mulia sekarang menjaga Nyonya muda. Lebih baik Anda ke Kamar Anda dan beristirahat!"

__ADS_1


"Baiklah. Kalau ada apa-apa langsung kabari aku, ya?!"


"Siap!" Sahut Bora dengan sikap tegap.


"Dasar lebay. Tapi, kau tampak menggemaskan kalau begini" Agni mengecup pipi kanan Bora dan langsung berlari ke kamarnya.


Bora menatap punggung Agni yang berlari menjauh sambil mengusap pipinya. Wajah Bora sontak merona merah dan bergumam, "Kenapa Nona mencium pipiku? Dia itu kenapa selalu saja menggodaku, Hufftttt! Sabar Bora!"


Dan di dalam kamar pribadinya Agha yang tampak redup karena para pelayan yang menatap kamarmya Agha di petang tadi telah memasang lampu khusus untuk malam hari. Redupnya lampu kamar menambah debaran jantung di hari Agha dan Kiana saat mereka bersitatap.


Untuk sejenak Kiana melambung dan tanpa ia sadari ia mengulas senyum bahagia yang sangat indah di wajah cantiknya setelah ia mendengar kata cinta meluncur lancar dari mulut suaminya. Senyuman itu bahkan mampu membuat Agha ikut melukis senyum indah di wajah tampannya.


Namun, saat benak Kiana kembali teringat akan putri Kesya dan Maharani, gadis cantik itu mendorong dada kekarnya Agha lalu bangkit berdiri, melangkah mundur untuk bertanya, "Apakah Anda juga mencintai Putri Kesya dan Maharani?"


Agha terkejut mendengar pertanyaannya Kiana. Pria tampan dan gagah itu sontak bangkit berdiri dan bertanya, "Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa yang membuatmu berpikir kalau aku juga mencintai Kesya dan Rani?"


Kiana langsung berkata, "Anda akan menikahi Putri Kesya, kan? Anda akan menjadikan Putri Kesya sebagai selir Anda. Lalu, Maharani juga akan Anda jadikan selir? Anda sama Maharani saling berpelukan dan masuk ke kamar tadi"


Agha mengerutkan keningnya dan berkata setelah pria tampan itu menghela napas panjang, "Jadi, karena itu kamu pergi dari kediaman ini tanpa berpikir panjang dan.......apa kamu cemburu?" Agha tiba-tiba membeliak senang.


"Sa......saya tidak cemburu" Kiana menjawab pertanyaannya Agha dengan rona merah di wajah.


Agha tersenyum lebar lalu berkata, "Karena kamu cemburu maka aku akan katakan yang sebenarnya. Aku tidak akan menikahi Kesya dan aku sama Rani tidak melakukan apapun. Rani hanya memapahku ke kamar karena aku tiba-tiba lemas dan pening"


Kiana sontak melangkah maju dan menyentuh kening Agha sambil bertanya, "Anda sakit, Yang Mulia?"

__ADS_1


Agha menarik tangan Kiana dari keningnya lalu ia mencium telapak tangan Kiana dengan mata terpejam dan penuh dengan perasaan cinta. Agha kemudian membuka matanya dan menggenggam tangan itu sambil berkata, "Tangan kamu sudah banyak sekali melakukan hal besar. Tangan kecil dan kurus kamu ini" Agha mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Kiana dan mencium punggung tangan Kiana kemudian berkata, "Tangan kecil dan kurus kamu ini telah menyelamatkan nyawaku. Bahkan tangan sekecil ini berani melawan pria yang menculik kamu tadi dan berani mengendalikan kuda"


"Yang Mulia......" Kiana menatap Agha dengan rona malu di wajah dan degup jantung abnormal.


Agha memandangi wajah Kiana dan berkata dengan suara serak menahan gairah, "Kamu juga cantik. Wajah kecil kamu yang imut dan tirus ini ingin selalu aku pandangi sepuas hatiku. Kau cantik Kiana. Sangat cantik" Agha kemudian mengusap pipi Kiana.


Kiana seketika mematung dengan degup jantung yang masih abnormal.


Kiana sontak melemas saat Agha mendaratkan ciuman di keningnya dan Agha dengan sigap memeluk pinggang ramping istrinya dan menariknya hingga tubuh Kiana menempel erat di tubuhnya.


Agha kemudian mencium pelipis Kiana, pipi, dan mendaratkan wajahnya di kuping Kiana. Pria tampan itu menciumi kuping Kiana, menggigit pelan daun telinga Kiana dan saat pria tampan itu menghentakkan lidahnya di kuping Kiana, Agha menyusupkan jari jemarinya di rambut indahnya Kiana.


Kiana memejamkan kedua matanya dan mengerang pelan dengan degup jantung yang semakin kencang dan tubuh semakin lemas.


Agha kemudian menyusupkan wajahnya di leher Kiana dan Agha menciumi leher Kiana dengan liar. Agha menyusurkan bibirnya di leher putihnya Kiana, mencium, menghisap, dan menggigitnya pelan.


Kiana tanpa sadar memekik, "Yang Mulia!"


Agha menarik wajahnya untuk menatap Kiana dan bertanya sambil mengelus pipi Kiana, "Apa kau mau aku berhenti sekarang?"


Tanpa Kiana sadari ia berkata, "Tidak, Yang Mulia"


Agha menyeringai senang. Lalu, pria tampan. itu membopong tubuh Kiana yang mulai melemas dan berputar badan untuk berjalan ke ranjangnya sambil mengajak Kiana berciuman.


Agha kemudian merebahkan tubuh Kiana di atas ranjang dengan lembut dan berkata di atas bibir Kiana, "Aku sangat menginginkan kamu, Kiana. Aku sangat menginginkan kamu sampai aku tidak bernapas. Apa kau sudah siap?"

__ADS_1


Kiana yang masih memejamkan mata tanpa sadar mengangguk pelan.


Agha tersenyum bahagia, lalu ia mengajak Kiana untuk berciuman kembali.


__ADS_2