
Kiana bergegas turun dari atas pohon dengan hati-hati sambil mendekap erat lima buah yang mirip dengan buah apel merah dibedaki.
Kiana lalu berlari kecil untuk berdiri di depan suaminya.
Agha yang masih hilang ingatan dan mendapatkan gelar baru sebagai raja sekaligus mendapatkan nama baru, Alaric, itu mendelik kaget "Kau!"
"Mas Agha" Kiana tersenyum lebar menatap wajah tampan suaminya.
Alaric kali ini membiarkan Kiana memanggilnya Mas Agha. Lalu, Alaric berkata, "Kenapa kau naik ke pohon ini?" Agha menoleh ke belakang dan dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke depan seakan ia takut wanita cantik dan imut yang terus memanggilnya Mas Agha menghilang.
Kiana mengerucutkan bibirnya kemudian berucap, "Karena buahnya menarik hari dan aku ingin mencicipinya"
"Pohon besar di taman ini tidak boleh dinaiki dan tidak boleh dimakan buahnya. Kalau ketahuan sama tetua kau bisa dihukum cambuk" Ucap Agha sambil terus mengamati wajah cantiknya Kiana.
Kenapa hatiku kembali berdesir hebat saat aku mengamati wajah cantik wanita ini. Padahal aku tidak ingat sama sekali siapa dia. Aku tidak pernah merasa seperti ini saat aku memandang Sofie dan berdiri berhadapan seperti ini dengan Sofie. Batin Alaric.
"Kenapa tidak boleh dimakan buahnya? Astaga! Apa buahnya beracun? Sial! Aku sudah makan empat buah tadi di atas dan aku petik lima buah lagi untuk camilan nanti malam" Kiana berucap dengan kerucut di bibirnya sambil terus menatap suaminya yang masih hilang ingatan dengan wajah polos dan imutnya.
Jantung Alaric seketika bergemuruh hebat saat ia melihat wajah polos dan imut itu.
Sial! Kenapa ia imut banget saat ini dan aku ingin sekali menarik dia ke dalam pelukanku dan menciumi wajah cantiknya juga bibirnya yang terus mengerucut menggemaskan itu.Sial! Apa yang kau pikirkan, Aric!
"Tapi, perutku baik-baik saja dan kepalaku tidak pusing. Jadi, aku rasa buah ini aman untuk dimakan. Aku bagikan satu untukmu" Kiana menjejalkan satu buah yang mirip apel dibedaki itu ke tangan suaminya lalu ia berlari pergi karena ia takut ketahuan mengambil buah dari pohon terlarang itu dan kena hukuman cambuk dari para tetua.
Alaric menatap buah yang mirip apel dibedaki yang ada di genggaman tangganya lalu ia mengangkat wajahnya untuk menatap punggung Kiana yang berlari menjauh dengan senyum geli.
"Dia sangat cantik, imut, apa adanya, dan menggemaskan. Aku rasa aku sungguh-sungguh telah jatuh hati padanya" Gumam Alaric lirih.
Tiba-tiba terdengar suara, "Raja, Anda ternyata ada di sini? Apa Raja ingin pergi ke kamar saya?"
__ADS_1
Alaric bergegas memasukkan buah pemberian dari tabib wanita temannya tabib Alvin ke dalam bajunya. Lalu, ia berputar badan dengan pelan. Dia menatap wajah cantik istri yang harus ia nikahi sebulan yang lalu dengan perasaan hambar.
Hatiku terasa hambar dan jantungku kalem-kalem aja saat aku menatap Sofie. Padahal dia lah istri sahku. Batin Alaric.
"Mari saya antarkan ke kamar saya, Raja. Saya akan membantu Anda melepaskan lelah di kamar saya" Sofie dengan senyum cantiknya mengapit lengan suaminya.
Alaric menarik pelan lengannya sambil berkata, "Aku harus pergi ke aula besar untuk rapat dengan para tetua saat ini juga" Lalu, Alaric melangkah lebar meninggalkan Sofie begitu saja.
Sofie menatap punggung suaminya dengan wajah sedih dan punggung melengkung kecewa.
Pelayan pribadinya Sofie yang sangat setia langsung berkata untuk menyemangati hubungannya, "Sabar, Putri. Anda harus bersabar menghadapi Raja Alaric. Tapi, Anda jangan putus berjuang. Terus lah berjuang untuk mendapatkan perhatian Raja"
Sofie hanya bisa menghela napas panjang lalu melangkah ke paviliunnya. Ia ingin segera masuk ke kamarnya dan menenggelamkan kesedihannya di sana.
Sementara itu Kiana langsung menggelindingkan buah yang sedari tadi ia dekap sambil berlari kencang dengan menghela napas lega. Wanita cantik itu kemudian duduk selonjor di atas lantai sambil bergumam, "Syukurlah aku berhasil lari tanpa ketahuan para tetua"
"Sssttttt!!!!" Kiana langsung menyahut tanpa merubah posisi duduknya dan ia terus mengibaskan tangan di depan wajah karena kegerahan lalu menjawab pertanyaan Alvin dengan napas yang masih terengah-engah, "Aku tadi penasaran ingin mencicipi buah itu karena bentuknya seperti buah apel merah yang ada di dunia manusia tapi kok ada bedaknya. Ternyata rasanya lebih enak dari buah apel merah yang ada di dunia manusia dan aku telah makan buah itu sebanyak lima"
Alvin langsung berjongkok di depan Kiana dan menyemburkan, "Hah?! Kau makan berapa?"
"Lima" Kiana mengarahkan kelima jarinya di depan Alvin.
Alvin langsung duduk terjatuh di atas lantai dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Memangnya kenapa? Apa buah itu berbahaya?"
Alvin kemudian duduk bersila di depan Kiana lalu berkata setelah ia menghela napas panjang, "Nama buah itu, Atma, yang artinya jiwa. Buah itu tidak berbahaya dan tidak beracun. Sangat enak dan bikin kenyang. Tapi........"
"Tapi, apa?" Kiana langsung bersila dan memajukan wajahnya.
__ADS_1
"Jiwa kamu akan menderita merindukan cinta. Kamu akan mengalami halusinasi dan sedikit pusing dalam waktu yang aku rasa sebentar lagi.
"Hah?! Untuk berapa lama?" Kiana membeliak kaget.
"Kamu makan lima, maka kau akan mengalami efek dari buah itu selama lima hari"
"Hah?! La, la......lalu gimana cara menghilangkan efek dari buah itu?" Kiana menggoyang kedua bahu Alvin dengan wajah panik.
"Hentikan! Jangan kau goyang-goyang tubuhku!" Alvin mendelik kesal ke Kiana dan Kiana langsung melepaskan kedua bahu Alvin sambil meringis lebar.
Alvin kembali menghela napas panjang lalu berkata, "Efek dari buah yang memiliki arti jiwa itu hanya bisa ditawarkan dengan cara mencium bibir lawan jenis Kita yang hadir menyusup masuk ke halusinasi kita. Makanya buah yang memiliki nama yang berarti jiwa itu dilarang untuk dimakan"
"Kalau dilarang kenapa pohonnya ditanam di tengah taman dan biarkan tumbuh besar dan berbuah lebat?" Kiana mendengus kesal.
"itu untuk ujian kita. Kita bisa tidak menahan diri untuk tidak tergoda makan buah yang sangat lezat dan enak itu" Sahut Alvin tak kalah kesalnya.
Kiana kemudian menggelengkan kepala dan bergumam, "Aku rasa efeknya sudah mulai terasa. Aku merasa pusing dan......."
"Berkeringat. Kau berkeringat" Sahut Alvin.
"Dan bayangan cowok yang aku cintai juga sudah masuk ke benakku, sial!" Kiana mendengus kesal karena suaminya masih hilang ingatan dan akan sangat sulit bagi dirinya untuk bisa mencium bibir suaminya saat ini.
Tapi, bagaimana pun aku harus mencium bibir Mas Agha yang sekarang ini adalah raja Alaric bagaimana pun caranya. Batin Kiana.
Kiana kemudian bangkit berdiri dan Alvin sontak ikutan bangkit berdiri sambil bertanya, "Kau mau ke mana?"
"Mencari penawarnya" Sahut Kiana dengan langkah lebar meninggalkan Alvin.
"Hei! Memangnya kau mau mencari siapa untuk menawarkan efeknya?! Hei! Emangnya cowok yang ada di halusinasi kamu itu ada di sini? Bukannya cowok itu ada di dunia manusia? Hei!" Alvin berkata sambil berlari kecil mengejar Kiana.
__ADS_1