
Tabib Danur terkejut mendengar pertanyaannya Kiana. Lalu, ia tersenyum lebar dan berkata, "Yang Mulia Raja ngidam, ya?"
"Sepertinya begitu. Tadi Yang Mulia bilang kalau beliau mual dan muntah-muntah saat rapat besar. Lalu, beliau mulai minta yang aneh-aneh. Bahkan tidur lebih awal dari biasanya"Ucap Kiana.
"Bisa, kok. Suami bisa ngidam. Pas Mama kamu hamil kamu, Papa yang ngidam" Sahut Tabib Danur dan seketika itu juga senyuman di wajah tabib Danur memudar.
Kiana terperanjat kaget dan langsung menggenggam tangan Ayahandanya, "Maafkan Kiana, Ayah. Karena banyak sekali kejutan yang terjadi, Kiana sampai lupa sama Ayah. Lupa sama perasaan Ayah. Apa Ayah masih mencintai Ibunda?"
"Ibu kamu adalah cinta pertamanya Ayah. Tentu saja Ayah masih mencintainya. Tapi, karena kebodohan Ayah, Ayah kehilangan Ibu kamu. Ternyata jodoh Ayah bukan cinta pertamanya Ayah" Tabib Danur menghela napas panjang sebanyak dua kali.
"Kiana turut prihatin, Ayah"
"Tapi, Ayah bahagia, kok, melihat Ibu kamu bahagia, Ayah ikut bahagia. Ibu kamu beruntung bisa menikah dengan pria yang sangat mencintainya. Dia, emm, pria itu, raja Abimantya adalah pria yang sangat hebat" Sahut Tabib Danur.
"Ayah juga hebat" Kiana mengusap lembut pipi ayahnya dan Tabib Danur langsung berdeham untuk mengusir airmatanya kemudian tabib Danur bangkit berdiri dan berkata, "Tidurlah! Besok kamu akan butuh tenaga ekstra untuk menghadapi suami kamu yang tengah ngidam"
"Wah, Kiana mulai bergidik ngeri, nih, Ayah" Kiana tertawa lebar.
Tabib Danur ikutan tertawa lebar dan setelah mencium pipi putrinya, tabib Danur melangkah pergi meninggalkan kamarnya Kiana.
Kiana menatap punggung ayahandanya yang tampak melengkung dengan bergumam, "Semoga Ayah benar-benar mendapatkan kebahagiaan dengan keluarga kecil Ayah"
Keesokan harinya, Kiana terbangun dengan adanya teriakan, "Aaaaaaaaa!!!!" Dan itu adalah suaranya Agha, suaminya, dan suara itu berasal dari dalam kamar mandi. Kiana sontak bangun lalu berlari ke kamar mandi, saat Kiana membuka pintu kamar mandi ia langsung. bertanya, "Ada apa, Mas?"
"Oh, maafkan aku. Aku membangunkan kamu. Kamu nggak papa, kan, Sayang? Kamu pasti berlari ke sini tadi,kan? Kamu nggak jatuh, nggak terantuk sesuatu?" Agha mengusap perut Kiana dan menatap lekat wajah cantiknya Kiana.
"Aku nggak papa? Justru aku yang seharusnya nanya, Mas, nggak papa, kan?"
Agha langsung mencium Kiana dengan helaan napas lega lalu berkata, "Aku nggak papa. Cuma aku benci lihat sabun cair berwarna biru. Bau sabun itu juga membuatku mual. Aku buang saja botol sabunnya ke keranjang sampah sambil berteriak kencang biar aku nggak mual dan muntah, hehehehehe. Maaf kalau teriakanku tadi sudah mengagetkan kamu"
Kiana terkekeh geli lalu berkata, "Kasihan sekali Suamiku. Kenapa harus ngidam begini" Kiana mengusap pipi Agha.
"Lho, nggak papa. Justru memang seharusnya begini. Seharusnya aku yang ngidam. Aku lebih kuat dari kamu. Aku juga bakalan nggak tega kalau tubuh sekecil dan seramping kamu harus ngidam" Agha langsung memeluk Kiana dan mengusap punggung Kiana.
"Iya, Mas, terima kasih udah sayang banget sama aku dan Si Entun. Emm, tunggu sebentar, aku pernah bikin sabun cair. Sebentar aku ambilkan, ya, semoga Mas cocok sama wanginya"
Agha melepaskan pelukannya lalu berkata, "Iya"
Kiana keluar sebentar dan setelah masuk kembali ke dalam kamar mandi, Kiana membuka botol yang dia pegang laku ia arahkan dengan hati-hati ke depan hidung mancung suami tampannya, "Ciumlah wanginya, Mas"
Agha melihat warna sabun cair itu pink dan sontak wajahnya semringah, entah kenapa dia tiba-tiba menyukai warna pink dan aroma mint bercampur lili dan vanila itu membuat Agha bersemangat untuk mandi. Agha langsung berkata, "Aku suka warnanya. Aku suka wanginya dan aku mau mandi sama kamu sambil bermain busa, hehehehehe"
"Lalu, kita nggak jadi pergi ke kerajaan Utara?" Tanya Kiana dengan menautkan kedua alisnya dan masih saja terus dibuat geli oleh suaminya.
"Bora sudah melapor pagi-pagi buta tadi kalau hari ini semuanya tidak bisa karena masih harus mengurusi rakyat di pinggiran kota. Kita berangkatnya besok. Jadi, kita bisa bermain busa selama yang kita mau" Agha mengedipkan mata dan Kiana langsung terkekeh geli.
Agha kemudian asyik memasang lilin di sekeliling kamar mandi lalu mencampur aneka wewangian di dalam bathtub sampai bathtub tersebut dipenuhi gelembung sabun dan wangi mint, bunga lili bercampur vanila menguar hebat di kamar mandi.
Dua jam kemudian, Kiana keluar dari dalam Kamar mandi dengan wajah merah seperti udang rebus karena suaminya selama dua jam penuh merayap di atas kulitnya, mengajaknya berciuman, dan bermain asyik di titik kenyal tanpa henti. Kiana merona malu saat suaminya berkata di titik kenyal, "Aku ingin bermain-main cukup lama di titik favoritku ini sebelum anak kita merebutnya dariku"
__ADS_1
Kiana merona malu sedangkan Agha melangkah keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah semringah dan penuh semangat baru.
Saat Agha duduk di depan meja yang sudah dipenuhi aneka makanan dan minuman kesukaannya Agha sesuai permintaannya kIana karena Kiana berpikir jika suaminya tengah ngidam pasti suaminya ingin makan makanan dan minuman kesukaan suaminya itu.
Namun, Agha justru bersembunyi di balik punggungnya Kiana sambil berteriak, "Bawa semua makanan dan minuman itu pergi!"
Kiana sontak menoleh kaget ke suaminya, "Lho, kenapa, Mas? Itu semua makanan dan minuman manis kesukaannya Mas"
"Aku nggak suka yang manis-manis sekarang ini kecuali manisnya Istriku. Bawa pergi semuanya dan ganti dengan manisan buah mangga, kedondong, lalu aku ingin makan bubur dan cakue" Agha berucap dengan masih bersembunyi di balik punggung Kiana.
Kiana langsung berteriak, "Tolong masuklah dan ganti semua makanan ini!"
Semua dayang yang berjaga di depan pintu sontak melangkah masuk dan membawa pergi semua makanan dan minuman di atas meja. Lalu, Nyonya Janet bertanya, "Mau diganti dengan menu apa, Ratu?"
Agha langsung menyahut, "Bikin manisan mangga, kedondong, dan bikin bubur ayam sama cakue"
Nyonya Janet menatap Kiana dan Kiana langung tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Nyonya Janet lalu pamit untuk menyiapkan semua makanan permintaan dari raja Agha sendiri
Kiana lalu memutar badan untuk memeluk pinggang suaminya dan berkata, "Mas, kenapa tiba-tiba pengen makan semua makanan kesukaanku?"
"Kamu tanya sama si Entun, tuh, kenapa pengen makan makanan kesukaan Ibunya" Agha mengusap perut Kiana.
Kiana tersenyum lebar lalu berkata, "Entun, Ibu nggak nyangka kita punya selera yang sama"
"Iya, Ayah juga punya selera yang sama juga dengan kalian dan Ayah suka. Entah kenapa sejak kamu hamil melihat makanan dan minuman manis, aku langsung mual dan pengen muntah"
"Hmm" Ucap Agha sambil memeluk erat tubuh ramping Istri kecilnya.
Setelah sarapan, Agha menarik Kiana ikut rapat karena Agha masih ingin menempel sama Kiana. Bahkan di dalam rapat, tanpa sungkan Agha terus menggenggam tangan Kiana dan ajaibnya, Agha sama sekali tidak merasa mual dan tidak muntah-muntah lagi. Maka begitulah seterusnya, Agha mengikuti Kiana ke mana pun Kiana pergi dan mengajak Kiana ke mana pun dia pergi.
Keesokan harinya, Agha bangun dan langsung berteriak, "Kiana! Kamu di mana??"
"Di meja baca, Mas!" Teriak Kiana.
Agha langsung melesat ke meja baca dan menyusupkan kepalanya di ketiak Kiana karena ia ingin merebahkan kepala di atas pangkuannya Kiana.
Kiana menunduk dan bertanya, "Ada apa, Mas,mencariku?"
"Aku pengen nempel ferus sama kamu seperti ini. Kamu kenapa bangun sepagi ini?"
"Kita akan pergi ke Kerajaan Utara hari ini, jadi aku ingin baca ulang resepku untuk mengobati Ibu Suri di Kerajaan Utara. Aku takut kalau ada yang terlewat.
"Oh" Agha lalu mencium perut Kiana dan tidur kembali di atas pangkuannya Kiana.
Kiana tersenyum geli melihat tingkah suaminya.
Lima belas menit kemudian, Agha mengangkat kepalanya dari atas pangkuan Kiana lalu ia duduk di meja yang ada di sebelah mejanya Kiana sambil berkata, "Aku juga perlu membaca sebentar petisi yang masuk semalam" Agha mencium kening Kiana lalu ia mendorong mejanya sampai mejanya menempel dengan mejanya Kiana.
__ADS_1
Kiana menoleh kaget dan Agha langsung meringis dan berkata, "Bukan hanya aku yang ingin menempel sama.kamu. Lihatlah! Mejaku pun ingin menempel sama meja kamu"
Kiana langsung terkekeh geli melihat sikap konyol suaminya.
Keduanya kemudian asyik dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Kiana yang sedari tadi asyik membaca buku herbal sambil menunggu persiapan semua orang pergi ke kerajaan Utara, tiba-tiba menoleh ke samping kirinya dan menyadari kalau suaminya menghilang, "Mas?! Mas di mana?!"
"Di kamar mandi, Sayang! Kemarilah!" Sahut Agha dengan. suara teriakan yang sangat keras.
Kiana tersenyum geli dan sambil bangkit berdiri wanita cantik itu bergumam, "Mas Agha ngapain di kamar mandi? Bukankah dia sudah wangi. Berarti Mas Agha sudah mandi, kan?"
Kiana membuka pintu kamar mandi dan ia dikejutkan dengan senyum lebarnya Agha dan di belakang Agha, Kiana melihat bathtub dipenuhi busa.
Kiana langsung menggelungkan lengannya di leher kokoh suaminya dan dengan senyum juga sorot mata penuh cinta, Kiana berkata, "Mas, Mas memang suami yang paling manis di dunia ini"
Agha menyeringai senang, "Benarkah?"
Kiana menganggukkan kepala lalu ia memagut bibir suami tampannya cukup lama. Dan saat ia melepaskan bibir suaminya, Kiana bertanya, "Apa, Mas, juga mau bergabung mandi denganku?"
"Tawaran kamu sangat menggoda, Sayang. Tapi, aku masih ada urusan" Agha mendaratkan kecupan di bibir Kiana lalu melangkah mundur sambil membuka pintu dan berkata, "Masuklah ke dalam! Bersenang-senanglah dengan busa sabun itu. Aku akan kembali lima belas,oh, tidak, emm, dua puluh menit" Agha melambaikan tangan dengan senyum penuh cinta lalu menutup pintu kamar mandi. Setelah itu Agah bergegas berlari ke luar kamar untuk menemui Bora dan Adyaksa yang sudah menunggunya di depan pintu kamarnya.
"Aku tidak bisa bicara lama. Kiana sedang mandi saat ini. Emm, setelah kita sampai ke kerajaan Utara, ajak Kiana jalan-jalan dulu. Aku yang akan menemui si Langit brengsek itu bersama dengan burung Beonya Aisyah. Setelah aku selesai bicara, barulah ajak Kiana masuk ke dalam"
"Berapa lama aku harus ajak Kiana jalan-jalan?" Tanya Adyaksa.
"Lima belas menit" Sahut Agha.
"Siap" Sahut Adyaksa.
"Lalu, saya juga harus ikut jalan-jalan bersama Ratu dan Yang Mulia Adyaksa?"
"Iya* Sahut Agha.
"Baik, Yang Mulia" Sahut Bora dengan nada sedikit ridak bersemangat karena dia tidak begitu menyukai aktivitas berjalan-jalan santai.
Setelah mengobrol beberapa taktik dan strategi rahasianya, Agha menyuruh Bora dan Adyaksa bersiap lalu Agha kembali masuk ke dalam kamarnya.
Kiana yang sudah rapi menoleh ke Agha, "Mas, Mas dari mana?"
Agha memeluk Kiana dari arah belakang, lalu menyusupkan wajahnya di leher Kiana dan berkata di sana, "Dari depan. Aku bicara sama Bora dan Paman Adyaksa"
"Oh, aku kira Mas ke dapur tadi"
"Hehehehehe, aku nggak mau ke dapur lagi. Kapok. Ternyata aku nggak kuat mencium bau bawang putih dan kenapa aku baru tahu sekarang ini?" Agha menatap Kiana dari arah samping lalu mencium pipi Kiana.
Kaina menoleh dan mengecup bibir suaminya laku berkata, "Itu karena, Mas, ngidam saat ini"
"Ah, iya, aku lupa, hehehehehe" Agha mencium pipi Kiana dan setelah itu berucap, "Tapi, aku senang aku yang ngidam bukan kamu. Anak kita pinter milih Ayahnya aja yang ngidam" Agha mengusap perut Kiana dan setelah mencium perut Kiana, Agha menggenggam tangan Kiana lalu berkata, "Ayo kita berangkat ke Kerajaan Utara sekarang"
__ADS_1
"Oke" Sahut Kiana dengan senyum lebar.
Tunggu aku, Langit! Aku akan bikin kamu melongo kecewa karena tunangan masa kecil kamu bukan Kiana tapi Aisyah si Iblis wanita itu, cih! Bakalan nyungsep kecewa, kau. Batin Agha.