Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Mendelik Kaget


__ADS_3

Raja Abimantya berkata, "Terima kasih sudah mengobati aku. Apa yang kamu mau, Kayla? Aku akan penuhi"


"Bolehkah saya meminta tidak ada perang lagi, Yang Mulia? Bolehkan saya meminta Anda merelakan tanah di perbatasan? Kasihan rakyat dan para prajurit. Mereka sudah banyak menderita" Sahut Kayla.


"Aku akan memberikan kamu perhiasan super mahal dari negara ini karena kamu sudah mengobati aku. Tapi, untuk perang dan merelakan tanah di perbatasan itu adalah hal yang jauh berbeda. Tapi, aku juga akan mengabulkan permintaan kamu itu Kayla. Aku akan kabulkan asal kamu mau menikah denganku. Kalau kamu mau menikah denganku, aku akan menarik pasukanku di perbatasan, aku akan hentikan perang, aku akan merelakan tanah itu, dan aku mau mengunjungi saudara kembarku Abinawa"


Kayla sontak membisu dan mematung.


"Kau tahu kalau aku hanya mencintai kamu. Kau tahu kalau aku belum pernah menikah karena aku tidak pernah bisa mencintai wanita lain selain kamu" Raja Abimantya menatap Kayla dengan wajah sendu.


"Saya belum bercerai dengan Mas Danur, Yang Mulia"


"Apa kamu masih mencintai Danur? Kalian sudah berpisah cukup lama, bukan? Danur juga sudah menikah lagi"


"Saya kecewa sama Mas Danur. Tapi, entahlah, Yang Mulia. Saya tidak tahu apakah saya masih mencintainya"


"Lalu bagaimana dengan tawaranku tadi?"


Kayla berdiam diri mematung di depan raja Abimantya untuk menimbang-nimbang. Kalau dia menikah dengan raja Abimantya dia akan menyelamatkan banyak nyawa dan membawa kerukunan bagi semua pihak.


Setelah menimbang-nimbang cukup lama, Kayla akhirnya menganggukkan kepala, "Saya akan menceraikan Mas Danur dan menikah dengan Anda, Yang Mulia"


Raja Abimantya tersenyum lebar dan langsung berkata, "Aku bersumpah tidak akan pernah membuatmu merasa kecewa dengan keputusanmu ini, Kayla"


Kiana terus bermain dengan Nuno dan saat Agha mendekat lalu berjongkok di depan Nuno, Nuno langsung berpaling dan berlari memeluk ibunya.


Agha berdiri dengan kecewa dan berkata, "Kenapa semua anak kecil takut padaku? Apa wajahku menakutkan?"


"Iya. Wajah kamu sangat menakutkan. Apalagi kalau tanpa senyum, waduh! Sangat menakutkan" Bhadra menepuk pundak Agha.


Agha langsung menoleh tajam ke Bhadra dan Bhadra terkekeh geli.


Kiana ikutan terkekeh geli lalu berjinjit untuk menangkup wajah kecewa suaminya dan berkata, "Nuno tidak pernah bertemu orang lain selain orang-orang yang ada di dalam kediaman ini. Wajar kalau dia takut sama kamu, Mas"


"Anak-anak di pondok belajar kamu juga takut sama aku" Ucap Agha masih dengan wajah cemberut.


"Tapi, Kendra tidak takut sama kamu"


"Awalnya Kendra juga takut sama aku" Sahut Agha dengan lebih mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Bhadra langsung menepuk pundak Kiana, "Bawa Suami kamu istirahat dulu. Pelayanku akan mengantarkan kalian ke kamar tamu"


"Terima kasih, Kak Bhadra"


Bhadra tersenyum lebar ke Kiana dan setelah mengedipkan mata ia berkata, "Kau harus lebih bersabar memiliki suami manja kayak Agha"


"Eh! Memangnya kamu nggak manja, Mas" Delia menepuk pelan bahu Bhadra dan Agha langsung terkekeh geli.


Bhadra mendelik kesal ke Agha.


Beberapa menit kemudian, Agha dan Kiana tidur rebahan di atas ranjang dengan berpelukan. Di saat tangan Agha mulai jahil merayap ke mana-mana, Kiana menepuk tangan Ahha dan berkata, "Mas, di luar masih terang dan ramai. Kita di rumah orang ini. Kalau mau manja, nanti malam aja, ya?"


Agha menghela napas panjang lalu berkata, "Oke, kalau gitu elus-elus dadaku sampai aku tidur"


Kiana tersenyum lalu mengelus-elus dada suaminya.


"Cium pipiku juga. Aku takut mimpi buruk kalau belum dicium pipiku sama kamu"


Kiana tersenyum geli melihat sikap kekanak-kanakan suaminya lalu ia mencium pipi Agha.


"Bibirku berbisik kalau ia iri sama pipiku. Kenapa cuma pipiku yang dapat ciuman? Kenapa bibirku tidak?"


"Bisa" Agha langsung memonyongkan bibirnya.


Kiana tersenyum geli lalu mencium bibir suaminya dan tentu saja Agha tidak berdiam diri. Dia membalas ciumannya Kiana dan mengajak Kiana berciuman dengan lembut. Entah karena lelah kepala Agha tiba-tiba terjatuh pelan di dada Kiana dan pria tampan itu mendengkur lembur.


Kiana mengusap rambut suaminya dan terkekeh geli lalu bergumam, "Ternyata ada, ya, orang yang ketiduran waktu ia berciuman, hihihihihihi. Suamiku ini memang lucu, unik, dan menggemaskan"


Tidak begitu lama, Kiana pun ikut jatuh ke alam mimpi.


Dua jam kemudian, keduanya berjalan bergandengan tangan menuju ke ruang makan dalam keadaan bugar, bersih dan wangi. Keduanya mandi bersama tapi Agha masih menahan diri untuk tidak melakukan lebih dari ciuman.


Makan malam berlangsung penuh dengan canda dan rasa kekeluargaan yang kental. Bhadra dan Agha saling olok lalu mereka berdua tertawa dengan sendirinya. Kiana bersyukur suami dan kakak sepupunya bisa saling menerima dan menyayangi.


Setelah makan malam tiba-tiba Kiana membungkuk dan meringis kesakitan sambil meremas perutnya.


Agha langsung membopong Kiana ke kamar dan Bhadra langsung memanggil tabib keluarga. Delia menggendong Nuno ke kamarnya Nuno lalu pergi menemui suaminya, "Tabib sudah datang?"


"Sebentar lagi datang. Kita ke kamar tamu, ayo!"

__ADS_1


"Iya!"


Bhadra langsung menggandeng tangan Delia menuju ke kamarnya Agha dan Kiana.


"Bagaimana? Masih sakit?" Tanya Bhadra dan Delia secara bersamaan.


"Masih. Kiana masih meringis kesakitan dan terus memegang perutnya dan belum bisa menjawab pertanyaan apapun" Sahut Agha.


Seorang tabib kemudian masuk dan langsung memeriksa Kiana.


Tabib itu kemudian tersenyum dan berkata, "Nyonya muda baik-baik saja. Nyonya muda hanya datang bulan"


"Ooooo, syukurlah" Sahut Bhadra dan Delia secara bersamaan.


Agha langsung menoleh ke Bhadra dan Delia lalu menoleh ke tabib dengan wajah penuh tanda tanya.


"Ada apa? Kenapa kau kelihatan bingung?" Tanya Bhadra.


Agha menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal lalu ia bertanya setelah ia memamerkan deretan gigi putihnya yang sangat bagus, "Apa itu datang bulan? Apakah penyakit itu tidak berbahaya?"


Tabib dan Delia sontak mengulum bibir menahan senyum geli, Kiana langsung menarik selimut untuk menutupi wajahnya yang memerah malu dan Bhadra menghela napas panjang menatap Agha.


Agha kembali memamerkan deretan gigi putihnya yang sangat bagus laku berkata dengan masih menggaruk-garuk belakang kepalanya, "Aku beneran nggak tahu apa itu datang bulan, hehehehe"


"Kau punya adik perempuan dan Ibu tapi nggak tahu apa itu datang bulan?"


"Aku, kan, nggak pernah mencampuri urusan pribadi mereka dan mereka nggak pernah sakit perut seperti Kiana tadi. Aku juga sering pergi berperang selama beberapa bulan. Jarang pulang"


"Tabib jelaskan!" Sahut Bhadra sambil menoleh ke tabib keluarganya.


Agha menoleh ke tabib itu dan tabib itu langsung berkata, "Yang Mulia, datang bulan itu adalah siklus bulanan yang dialami seorang wanita dan bla, bla, bla, bla"


Agha sontak mendelik kaget saat tabib itu berkata, "Selama datang bulan, wanita tidak boleh melakukan hubungan suami istri.


"Hah?! La.....lalu datang bulan itu berapa hari? Besok udah kelar, kan?"


"Mana ada sehari kelar. Hadeeehhh! Kenapa kamu ini bodoh banget" Bhadra menepuk kesal bahunya Agha.


Agha menepuk balik bahu Bhadra dengan wajah kesal dan tabib keluarganya Bhadra langsung berkata, "Satu mInggu paling lama. Jadi selama satu Minggu Anda tidak boleh menyentuh Istri Anda, Yang Mulia"

__ADS_1


Agha ternganga kaget lalu meraup kasar wajah tampannya dan bergumam, "Yeeeeahhh, lama juga, ya"


__ADS_2