
Beberapa dayang langsung menolong Aisyah berjalan tertatih-tatih menuju ke paviliunnya raja Abimantya. Seorang dayang bertanya ke Aisyah, "Ratu kenapa? Pipi ratu semuanya merah dan lengan baju ratu robek. Ratu jatuh? Lalu, kenapa ingin pergi ke paviliun Raja?"
"Hiks,hiks,hiks, huhuhuhuhu. Aku hanya bisa cerita ke raja. Cepat tolong antarkan aku ke sana" Sahut Aisyah.
Sementara itu, Agha dan Kendra sudah sampai di kamar yang diperuntukkan untuk raja Agha.
"Lho, Kak Kiana mana?" Tanya Kendra yang masih digendong oleh Agha.
"Iya, kok, nggak ada?" Agha menoleh ke Kendra.
Kendra mencium kening Agha dan Agha langsung menggemakan tawanya.
"Oke, kita mandi dulu aja. Mungkin Kak Kiana kamu mampir ke dapur untuk masak"
"Oke" Sahut Kendra lalu bocah tampan berpipi gembul itu kembali mencium keningnya Agha dan Agha kembali menggemakan tawanya.
Sedangkan Kiana tengah berada di dapur tengah mengajari Agni cara bikin dimsum.
Kiana dan Agni asyik memasak di dapur istananya raja Abimantya setelah kepala koki dan kepala pelayan di sana mengijinkan mereka masuk ke dalam dapur.
Kiana mengajari Agni bikin dimsum sambil mendengarkan omelannya Agni tentang Aisyah,"Benar-benar gila itu cewek! Bisa-bisanya dia halu kalau Kak Agha menyukainya hanya gara-gara belati. Kalau sampai ia juga halu kalau Bora juga menyukainya, wow!"
"Wow apa?" Tanya Kiana sambil menoleh ke Agni karena kaget.
"Aku akan cincang dia. Aku yakin banget ilmuku lebih hebat dari dia" Sahut Agni.
"Udah, nggak usah pedulikan dia. Biarkan saja. Kalau kita peduli sama orang gila, berarti kita........."
"Hehehehehe, aku nggak mau meneruskan kalimat Kak Kiana yang itu, hehehehehe" Sahut Agni.
Kiana langung menoel pucuk hidung Agni dan berkata, "Dasar. Emm, udah nih, kamu tinggal teruskan. Aku mau ke kamar dulu ambil baju ganti untuk Mas Agha, keburu bangun nanti Mas Agha"
"Siap" Agni mengacungkan ibu jarinya ke Kiana.
Kiana meninggalkan Agni sambil membawa beberapa dimsum bikinannya yang sudah jadi untuk ia berikan ke suaminya dan adiknya tercinta. Sesampainya di kamar, Kiana dikejutkan dengan senyuman lebar dua pria tampan yang sudah wangi yang sangat ia cintai.
Kiana meletakkan dimsum di tengah makanan dan minuman yang sudah terhidang di meja. Makanan dan minuman yang sudah disiapkan oleh kepala koki istananya raja Abimantya. Setelah Kiana memutar badan untuk melihat dua pria tampan yang sangat ia cintai itu, "Wah, udah mandi, ya. Boleh aku peluk dan cium kalian?"
Agha dan Kendra langsung berkata, "No! Mandi dulu!"
Kiana terkekeh geli dan setelah mencium ketiaknya, Kiana tersenyum lebar dan berkata, "Ah, iya, habis bikin dimsum isi cumi, aku bau amis. Tapi, aku pengen cium kalian dulu sebelum mandi" Kiana langung melompat memeluk Agha dan Kendra secara bersamaan.
Kendra dan Agha langsung berteriak secara bersamaan, "Ahhhhhh!!!!!"Saat Kiana mencium pipi Agha dan Kendra.
Kiana terkekeh geli dan langsung berlari masuk ke kamar mandi.
"Kak Kiana kamu nggak, bau, kok" Agha menoleh heran ke Kendra.
"Iya, nggak bau" Kendra mengangguk mantap.
"Kenapa kamu teriak tadi?"Agha masih heran menatap Kendra.
"Aku ikut Kak Agha. Kak Agha teriak aku juga ikut teriak"
__ADS_1
Agha langsung menggemakan tawanya dan Kendra ikutan tertawa.
"Wah, kamu lucu banget, hahahahaha!" Agha masih meneruskan tawanya dan Kendra ikutan tertawa.
Kiana kemudian muncul di depan Agha dan Kendra lalu berkata, "Ayo kita sarapan"
Kendra dan Agha langsung mengulurkan mangkok mereka yang masih kosong ke Kiana lalu berkata secara bersamaan, "Aku mau dimsum"
Kiana lalu mengisi kedua mangkok itu dengan dimsum isi cumi bikinannya dengan senyum lebar dan berkata, "Aku tadi masak ini di dapur sama Agni. Agni minta diajari bikin dimsum karena Agni pengen masak dimsum untuk Bora"
"Tuh, benar, kan, tebakan Kak Agha. Kakak kamu di dapur pasti" Sahut Agha sambil menoleh ke Kendra dan Kendra mengangguk mantap.
Kiana terkekeh geli melihat tingkah dua pria tampan kesayangannya itu. Lalu, Kiana bertanya ke Kendra, "Ayah tahu kamu sama Kak Agha?"
"Hmm. Tadi pas jalan ke kamar ini, aku sama Kak Agha ketemu sama Ayah dan Ayah mengijinkan aku ikut Kak Agha"
"Ya sudah kalau Ayah sudah tahu. Kalau belum, kan, kasihan Ayah kebingungan cari-cari kamu"
"Hmm" Sahut Kendra sambil mengunyah dimsum bikinannya Kiana. Lalu, Kendra berkata, "Enak banget. Kak Kiana emang jago masak dari dulu"
"Benarkah? Dari dulu?" Tanya Agha.
"Iya" Sahut Kendra.
"Wah, sayangnya aku belum kenal sama Kakak kamu waktu itu"
"Kalau sudah kenal memangnya, Mas, mau apa coba?"
"Main ke rumah kamu terus, dong" Sahut Agha dengan senyum menggoda.
"Ber........" Agha menoleh ke Kendra yang tengah menatapnya.
"Ber......apa,kak, kok berhenti?" Tanya Kendra.
Agha ingin mengatakan bercumbu sebenarnya, tapi karena ada Kendra, maka Agha berkata, "Bermain catur. Kakak kamu Kiana suka bermain catur, kan?"
"Hmm" Sahut Kendra.
Agha lalu meringis ke Kiana dan Kiana sontak tertawa geli karena dia tahu suaminya sebenarnya mau mengatakan apa.
Saat Agni sampai di kamarnya, Agni melihat Bora sudah rapi dan wangi. Agni meletakkan dimsum bikinannya di tengah makanan dan minuman yang sudah terhidang di atas meja dan tersentak kaget saat Bora memeluknya dari salah belakang.
Bora mencium leher Agni dan berkata, "Bau ikan. Mandi dulu sana"
Agni terkekeh geli dan berkata, "Iya, tahu, aku habis masak dimsum cumi untuk kamu. Aku mandi dulu"
Bora mencium pipi Agni lalu berkata, "Terima kasih. Meskipun bau ikan, kamu tetap cantik" Dan dengan rona malu di wajahnya Agni berlari ke kamar mandi.
Kendra akhirnya dijemput oleh tabib Danur untuk diajak ngepas baju. Dan sepeninggalnya Kendra, Kiana membantu suaminya mencoba baju seragam untuk keluarga inti yang diberikan oleh ketua panitia penyelenggara pernikahannya raja Abimantya dan tabib Kayla.
Agha mencium kening Kiana, mengecup bibir Kiana, dan sesekali mencium pipi Kiana saat Kiana tengah sibuk memakaikan baju. Kiana hanya bisa tersenyum dan menghela napas panjang menerima keusilan suaminya. Wanita cantik itu kemudian menepuk pelan dada Suami tampannya setelah ia selesai mendandani suaminya. Kiana berjalan mundur dan berkata, "Pas, Mas. Sangat pas. Mas, sangat tampan"
Agha tersenyum lebar lalu berkata, "Sekarang giliran aku membantu kamu mengepas baju"
__ADS_1
Kiana langsung berputar badan dan berlari ke kamar ganti baju sambil berteriak, "Aku bisa ngepas sendiri"
Agha langsung menggemakan tawanya dan berteriak, "Setelah ngepas harus kasih lihat ke aku! Aku juga pengen lihat"
"Iya, Mas!" Sahut Kiana dari dalam ruang ganti baju"
Lima belas menit kemudian, setelah sabar berdiri menunggu sambil bersedekap, Agha langsung menegakkan badannya saat ia melihat istrinya melangkah pelan keluar dari dalam ruang ganti baju dengan penampilan yang, "Wow! Kau sangat cantik, Sayangku" Agha kemudian membuka kancing bajunya yang paling atas sambil melangkah pelan mendekati Kiana.
Kiana, sontak mendelik dan berkata, "Mas, jangan macam-macam! Aku ganti baju dulu"
"Jangan! Jangan ganti baju, Sayang!" Agha langsung mendekap Kiana.
"Nanti kalau bajunya rusak dan.... hmpppttthhh"
Agha langsung membungkam bibir istri kecilnya sambil mendorong Kiana ke ranjang. Sampai Kiana terjatuh ke ranjang dan melenguh pasrah saat tangan suaminya mulai bergerilya di balik rok dan memperdalam ciumannya.
Suara, cup, cup, cup, berubah menjadi suara lenguhan, rintihan, dan panggilan, "Sayangku, Kiana, Manisku, ah, ah, ah, ahhhh!!!!!!!!!"
Ah!!!!!! Kenapa acara mengepas baju jadi berakhir seperti ini. Batin Kiana.
Satu jam kemudian, Agha memeluk Kiana yang masih polos dan menarik selimut, lalu Agha mengusap lembut perut ramping Kiana dan berkata, "Kapan perut ini menjadi gendut, Sayang?"
"Semoga bulan ini aku tidak datang bulan, Mas"
"Amin" Sahut Agha sambil mendaratkan ciuman di pucuk kepalanya Kiana.
Kiana lalu berkata, "Mas, akan jadi Ayah yang luar biasa"
"Benarkah? Kau pikir begitu?" Tanya Agha dengan senyum lebar.
"Iya. Aku lihat, Mas sangat menyukai anak-anak dan bisa dekat dengan Kendra" Sahut Kiana.
"Aku ingin segera punya anak, Kiana. Tapi, aku ingin yang cantik seperti kamu" Sahut Agha lalu Agha mencium kening Kiana.
"Anak pertama mau dikasih cowok atau cewek aku akan sangat senang, Mas"
"Tapi, aku tetap ingin punya malaikat kecil yang cantik seperti kamu"
"Amin" Sahut Kiana.
Agha kembali mencium Kiana.
"Sepertinya aku akan menjadi ibu yang tegas dan kamu Ayah yang suka memanjakan. Anak kita pasti lebih dekat sama kamu" Sahut Kiana.
"Ah, benarkah? Aku senang mendengarnya, Sayang. Ayo kita buat lagi di ronde kedua, aku ingin segera punya anak" Agha kembali memagut bibir Kiana. Kiana hanya bisa menghela napas panjang dan menyerah kalau mengikuti kemauan suaminya. Dan di saat Agha memperdalam ciumannya, terdengar ketukan di pintu.
Agha terpaksa membuka melepaskan ciumannya lalu ia memakai baju dan melangkah kesal ke pintu.
Kiana pun langsung memakai bajunya untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
Agha merangkul Kiana dan membuka pintu.
Agni dan Bora juga terpaksa menghentikan ciuman mereka untuk membuka pintu kamar.
__ADS_1
Seorang utusan menghadap Agha dan Bora untuk mengatakan kata yang sama, "Raja Abimantya meminta Anda segera datang ke paviliunnya"
Bora dan Agha menjawab dengan kata yang sama, "Tunggu sebentar, kami akan berganti baju"