
Agha kemudian bangkit berdiri untuk pergi ke kamar mandi mengambil baskom kecil. Pria tampan itu kemudian mengisi baskom kecil itu dengan air hangat dan tak lupa ia mengambil lap bersih dari laci khusus untuk menyimpan lap dan handuk kecil.
Agha bergegas membawa baskom berisi air hangat ke ranjangnya. Lalu, ia meletakkan baskom dan lap di atas meja kecil yang ada menempel di sisi ranjang. Setelah mencelupkan lap dan memerasnya, ia mengusapkan lap itu ke kening Kiana dengan perlahan, lalu ke kedua pipi Kiana, dan terakhir ke leher Kiana.
Agha menghentikan gerakannya saat ia melihat ada tanda merah kebiruan di leher Kiana. Agha mencelupkan lap ke dalam baskom dengan tangan kanan dan tangan kirinya mengelus pelan tanda merah kebiruan itu. "Apa aku menggigitnya terlalu keras tadi? Kulit putihnya jadi memar seperti ini. Maafkan aku, Kiana"
Agha memeras kembali lapnya dan mengusapkan kembali lap itu ke seluruh wajah Kiana dengan pelan. Kemudian ia mengusap bahu Kiana sampai ke semua ujung jari jemarinya Kiana. Saat Agha hendak mengelap bahu kanan Kiana, Agha melihat ada noda merah di baju Kiana, Agha mengelap bahu hingga ke ujung jari jemarinya Kiana sambil terus menatap noda merah di baju Kiana.
Agha mencelupkan kembali kain lap ke dalam baskom dan bergumam tanpa melepaskan tatapannya dari noda merah di baju Kiana, "Noda apa itu? Apa dia tadi membuat obat di dapur? Katanya ia ingin bekerja. Apa dia ingin bekerja menjual obat?"
Agha kemudian menunduk untuk mencium noda merah di baju Kiana dan tanpa sengaja bibirnya menyentuh sesuatu yang kenyal.
Agha sontak menegakkan wajahnya yang merona. Fantasi liar kembali melintas di pikirannya Agha. "Sial! Bibirku menyentuh apa tadi?" Agha langsung menepuk keningnya untuk menjernihkan pikirannya kembali. Lalu, pria tampan itu kembali bergumam, "Dari bau yang aku cium, noda di baju Kiana itu adalah noda teh hitam yang dicampur madu. Apa Kiana minum teh dan menumpahkan teh di bajunya sendiri? Tepi, tadi di meja taman aku tidak melihat ada cangkir teh. Kok, aneh?"
Insting, indra penciuman, dan indra penglihatannya Agha yang tajam langsung bisa mengenali ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada Kiana sebelum ia datang.
Agha menyahut, "Masuk" saat ia mendengar pintu kamarnya diketuk.
Beberapa pelayan masuk ke kamar pribadinya Agha untuk bertanya, "Maaf, Yang Mulia,makan siang disediakan sekarang apa nanti?"
Agha menoleh tajam ke pelayan yang bertanya seperti itu, "Kau tidak lihat Istriku pingsan? Berani-beraninya kau bertanya soal makan siang. Kau pikir aku bisa makan saat Istriku belum sadarkan diri seperti ini, hah?!"
Pelayan tersebut langsung menundukkan wajah dan berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia"
"Keluar! Semuanya keluar!" Agha menggeram kesal sambil mengibaskan tangannya dengan wajah garang.
Semua pelayan langsung pamit dan bergegas keluar dari dala. kamar pribadinya Jenderal Agha.
Agha mendengus kesal menatap pintu kamar yang kembali ditutup dengan rapat. "Dasar pelayan nggak guna. Bisa-bisanya nanya soal makanan di saat genting seperti ini, cih!"
Agha kemudian menunduk kembali untuk menatap wajah cantik istrinya. Agha mengusap pelan pipi Kiana dan bergumam lirih, "Aku sudah seka wajah dan semua tangan kamu dengan air hangat, tapi kenapa kamu belum membuka mata juga? Kamu sakit apa? Kenapa bisa pingsan?"
Brak! Pintu kamar Agha dibuka lebar dan Tabib Gunadi melangkah masuk bersama dengan seorang perawat wanita.
Agha sontak bangkit berdiri dan melangkah lebar untuk menghadang tabib Gunadi dan menahan dada tabib itu.
Tabib Gunadi sontak menghentikan langkahnya dan bertanya, "Kenapa Anda malah menghadang langkah saya Yang Mulia? Saya harus segera memeriksa Istri Anda"
__ADS_1
"Kamu berdiri saja di sini dan jangan pergi ke ranjangku!"
"Kenapa?" Tabib Gunadi semakin menautkan alisnya ke dalam
"Karena kamu pernah memuji Istriku cerdas dan kamu pengen ketemu sama Istriku. Aku nggak mau kamu mengagumi wajah cantik Istriku dan aku nggak mau kamu memegang tangan Istriku. Kamu tetap di sini saja biar perawat yang kamu bawa ini yang memeriksa Istriku"
"Hah?!" Tabib Gunadi sontak menarik rahang bawahnya lebar-lebar.
Udah gila, nih orang. Emangnya Istri dia secantik apa sampai aku tidak boleh melihatnya. Batin tabib Gunadi kesal.
"Kamu cepat pergi ke ranjang dan periksa Istriku!" Agha menoleh tajam ke pesawat wanita yang berdiri di samping kirinya tabib Gunadi.
Perawat tersebut langsung menyahut, "Baik, Yang Mulia" Lalu, dia bergegas berlari kecil menuju ke ranjangnya Agha.
Perawat wanita itu kemudian berkata dari tepi ranjang, "Saya sudah memeriksa nadi NY nya muda. Nyonya muda hanya kelelahan, Yang Mulia. Saya akan memberikan vitamin ke Istri Anda. Dosisnya berapa, Dok?"
Tabib Gunadi refeleks melangkah maju dan Agha langsung menahan dada tabib Gunadi sambil berkata, "Kamu berikan instruksi kamu ke perawat itu dari sini saja!"
Tabib Gunadi menghela napas panjang dan berkata dari tempat ia berdiri, "Lima saja. Berikan lima mili liter saja"
"Baik" Sahut perawat itu"
Agha sontak menoleh ke belakang dengan masih menahan dada tabib Gunadi.
"Hah?! Tandanya seperti apa?" Tanya tabib Gunadi.
"Bulat kecil agak lonjong dan warnanya merah kebiruan" Sahut perawat wanita yang masih duduk di tepi ranjang memeriksa kondisi kesehatan istrinya Jenderal Agha Caraka.
Tabib Gunadi yang sudah menikah dan sudah memiliki satu bayi berumur tiga bulan langsung berbisik ke Agha, "Istri Anda kelelahan meladeni Anda di ranjang, ya, Yang Mulia?"
Agha sontak menoleh ke tabib Gunadi dengan rona merah di wajah. Agha sontak mendelik dan berkata, "Mana ada.seperriniru. Tanda itu.......emm, i.....itu........"
"Tanda kepemilikan. Iya, kan? Selamat Anda sudah menandai Istri Anda dengan sangat baik, Yang Mulia"
Wajah Agha semakin memerah dan Jenderal besar itu sontak menggeram, "Kau mau mati, ya?! Berhenti bicara soal itu?!"
Tabib Gunadi langsung menundukkan wajahnya dan berkata, "Maafkan kelancangan saya, Yang Mulia"
__ADS_1
Bisa merona malu juga si manusia es ini, hihihihi. Batin tabib Gunadi geli.
"Tabib Gun, gimana ini? Apa perlu saya oleskan salep ke tanda merah kebiruan di leher Nyonya muda?" Perawat wanita itu kembali bertanya dari tepi ranjang.
"Nggak perlu. Itu hanya tanda kelelahan saja. Nanti akan hilang dengan sendirinya setelah tiga hari" Sahut tabib Gunadi.
Tabib Gunadi menunggu perawat itu balik berdiri di sebelahnya, lalu tabib Gunadi bertanya ke perawat wanita itu, "Apa yang terjadi pada adik iparku?"
Agha sontak mendorong dada tabib Gunadi dan berkata, "Kiana bukan adik ipar kamu!"
Tabib Gunadi yang suka menggoda Agha karena Agha cepat naik pitam, sontak meringis dan langsung berkata, "Maafkan saya Yang Mulia. Saya cuma bercanda"
Agha mendengus kesal.
Lalu, tabib Gunadi maju selangkah ke depan dan menatap perawat wanita itu
Perawat wanita itu langsung berkata di depan Agha dan tabib Gunadi, "Nyonya muda memiliki penyakit anemia dan maag. Kalau kelelahan pasti pingsan. Tapi, tidak ada penyakit berbahaya"
Tabib Gunadi lalu menoleh ke Agha dan berkata ke Agha, "Istri Anda hanya kelelahan. Biarkan Nyonya muda tidur. Jangan diganggu!"
"Hmm. Bora akan antarkan biaya pemeriksaan Istriku nanti" Sahut Agha.
"Baik, Yang Mulia" Sahut tabib Gunadi.
Setelah memberikan penjelasan terkait pingsannya Kiana, tabib Gunadi dan perawat wanita yang ia bawa, pergi meninggalkan kamar pribadinya Agha Caraka.
Seorang pelayan menghadap ke ibundanya Agha untuk memberikan laporan, "Nyonya muda pingsan dan Yang Mulia tidak bersedia makan"
"Hah?! Pingsan? Dia memang pandai berpura-pura. Dasar gadis liar tidak tahu diri. Aku akan ke kamarnya Agha sekarang juga. Aku tidak ingin putraku kena tipuan gadis liar itu" Ibundanya Agha langung melangkah lebar menuju ke kamarnya Agha.
Agha yang tidak ingin meninggalkan istrinya barang sedetik pun, nekat melepas baju Kiana dengan memejamkan mata. Acara melepas baju bagian atas sukses dan saat Agha memakaikan baju ganti yang bersih ke tubuh Kiana, Agha terpaksa membuka mata saat di bagian lengan nyangkut. Pada saat itulah Agha melihat ada tanda merah di dada Kiana. Agha menyentuh tanda itu sambil bergumam, "Ini seperti terkena air panas. Dia kena siram air teh yang masih panas. Pantas saja ada noda merah di bajunya. Apa dia seceroboh ini minum teh sampai tumpah di bajunya atau ada seseorang yang menyiramnya?"
Agha sontak menarik tangannya dari atas dada Kiana saat ia merasakan wajahnya kembali terasa panas, perutnya tergelitik aneh, dan hatinya berdesir hebat. Agha kemudian memejamkan mata kembali dan bergegas memakaikan baju bersih ke tubuh Kiana dengan degup jantung tak beraturan.
Agha mengumpat kesal di dalam hatinya, sial! kenapa kulit Kiana putih banget dan terasa sangat lembut. Bikin jantungku berdegup kencang dan hatiku berdesir tidak karuan kayak gini.
Di saat Agha menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya untuk mengusir fantasi liar yang kembali mampir di pikirannya, Ibundanya melangkah masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Agha langsung bangkit berdiri untuk memberikan hormat ke ibundanya.