Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Ayo Berangkat!


__ADS_3

Setelah berkuda selama beberapa jam menuju ke perbatasan, Agha mengajak semuanya berisitirahat sebentar untuk makan dan minum.


Di depan api unggun kecil, Agha, Bora, dan wanita berparas cantik jelita yang Agha beli dari pria gemuk, berkepala botak, bercambang, tengah duduk mengelilingi api unggun kecil sambil menikmati kentang panggang dan minum air.


Agha kemudian membuka suara sambil mengupas kentang rebus dan tanpa menoleh ke wanita cantik yang sudah ia tebus dengan harga yang sangat mahal, "Kamu adalah Ratu yang diculik itu, benar kan? Sial! Aku lupa namanya, emm, siapa nama kamu?"


"Aisyah, Jenderal. Nama ratu Kerajaan kecil di Padang pasir adalah Aisyah. Tapi, apa benar dia ratu Aisyah?" Sahut Bora.


"Biarkan dia yang menjawabnya, Bora" Sahut Agha sambil menatap Bora dan mengigit kentang rebus yang sudah terkupas sempurna kulitnya.


"Maafkan saya, Jenderal" Sahut Bora kembali menunduk untuk menyelesaikan aktivitasnya mengupas kentang rebus.


Setelah menoleh ke Agha, lalu ke Bora, dan menoleh ke Agha kembali, wanita cantik dengan balutan pakaian seksi khas Padang pasir tersenyum lalu berkata ke Agha, "Anda sangat pandai, Jenderal. Mata Anda tajam dan penilaian Anda tepat. Saya adalah ratu Aisyah yang diculik itu"


"Hah?! Yang benar saja!" Teriak Bora kaget sambil mengangkat wajah.


Wanita cantik itu menoleh ke Bora dan berkata, "Aku hanya akan mengambil liontin. Aku tidak akan mengambil senjata atau serbuk racun" Lalu, wanita itu merogoh sabuknya untuk mengeluarkan liontin yang berukiran tanda kerajaan kecil yang hanya dimiliki oleh pewaris tahta kerajaan kecil. Lalu, ia menunjukan liontin itu ke Agha.


Agha menatap liontin itu dan menganggukan kepala.


"Sial! Dia benar ratu Aisyah. Maafkan saya kalau saya bersikap kurang ajar pada Anda tadi. Tapi, itu juga karena sikap Anda sangat menyebalkan" Sahut Bora.


Wanita berparas cantik jelita dan berperawakan sempurna itu terkekeh geli lalu ia menepuk bahu Bora sambil berkata, "Lupakan saja kalau gitu"


Bora tersentak kaget dan langsung bertanya, "Kita baru kenal kenapa Anda menepuk bahu saya dengan santainya?"

__ADS_1


"Maafkan aku. Di kerajaan kecil menepuk bahu seseroang adalah tanda persahabatan. Karena kamu sudah meminta maaf padaku dan kamu sudah memberikan makanan dan minuman ke aku, maka kita adalah sahabat" Aisyah kembali menepuk bahu Bora. "Kamu juga boleh menepuk bahuku"


Bora meringis lalu berkata, "Tidak usah. Terima kasih"


Agha langsung bangkit berdiri untuk pindah tempat duduk saat Aisyah menoleh padanya. Agha melangkah menjauhi Aisyah sambil berkata, "Jangan menepuk bahuku! Bahuku sudah ada yang memilikinya"


Aisyah menatap ke depan dan setelah ia melihat Agha duduk bersila kembali di depan api unggun kecil, wanita cantik itu berkata dengan mengulum senyum geli melihat tingkah konyolnya Agha, "Anda sudah menikah?"


Pasti sebentar lagi Yang Mulia akan membanggakan Ratu Kiana. Batin Bora sambil menutup wajah tampannya dengan telapak tangan.


"Iya dan aku sangat mencintai Istriku. Kau tahu, kalau kau bertemu dengan Istriku, maka kau akan lihat kalau Istriku itu sangat cantik. Dia paling cantik di antara semua wanita paling cantik di dunia ini dan sangat cerdas, dia seorang tabib yang......."


"Jenderal!" Bora langsung memotong ucapan junjungannya.


"Maafkan saya memotong ucapan Anda, Jenderal. Tapi, ada hal yang lebih penting dan harus kita bicarakan saat ini juga. Apa rencana Anda selanjutnya setelah kita sudah berhasil menyelamatkan ratu Aisyah dari penculik?" Tanya Bora.


"Saya siap menolong Anda. Apapun itu, saya akan menolong Anda karena Anda sudah menyelamatkan saya dan menebus saya dengan sangat mahal" Sahut Aisyiyah sambil terus menatap Agha.


"Pertama, aku tekankan sekali lagi meskipun kamu menganggap aku dan Bora adalah sahabat kamu, jangan pernah menepuk bahuku!"


"Baik, saya akan ingat itu" Sahut Aisyah sambil mengulum senyum geli.


"Kedua, aku menebus kamu dengan harga yang sangat mahal tanpa ragu tadi karena aku ingin kamu menunjukkan jalan rahasia menuju ke kerajaan kecil. Kamu pasti tahu, kan?"


"Tentu saja tahu. Saya tumbuh besar di kerajaan kecil dan padang pasir adalah taman bermain bagi saya" Sahut Aisyah.

__ADS_1


"Kalau begitu aku akan membagi dua bagian pasukan kita, Bora" Agha langsung menoleh ke Bora.


"Berikan perintah Anda, Jenderal" Sahut Bora.


"Bawa pasukan yang lebih besar jumlahnya untuk menyerang perbatasan. Lalu, aku dan dia" Agha menunjuk Aisyah.


"Aisyah, Jenderal" Sahut Aisyah.


"Hmm. Aku dan dia akan masuk ke kerajaan kecil lewat jalan rahasia dengan membawa pasukan yang jumlahnya lebih sedikit"


"Laksanakan, Jenderal" Sahut Bora dengan sikap sempurna.


Aisyah langsung berbisik ke Bora sebelum Bora pergi melaksanakan perintah junjungannya, "Kenapa Jenderal kamu susah sekali mengingat namaku? Namaku padahal sangat sederhana dan........"


"Jenderal saya memang tidak mau mengingat nama wanita kecuali istri dan kerabatnya" Bora kemudian melesat pergi meninggalkan Agha dan Aisyah untuk melaksanakan perintah junjungannya.


"Apa yang kau bisikkan ke Bora?" Tanya Agha.


"Oh, saya cuma nanya kenapa Anda susah sekali mengingat nama saya. Bukankah nama saya sangat mudah untuk diingat dan........"


"Nama yang sangat mudah untuk aku ingat hanyalah nama Kiana. Nama Istriku. Ayo kita berangkat! Pasukan sudah siap!" Sahut Agha sambil melompat naik ke atas punggung kuda kesayangannya, Red Hair.


Aisyah menghela napas panjang dan sambil melompat naik ke atas punggung kuda ia bergumam, "Dia sangat mencintai Istrinya. Beruntung sekali wanita yang bernama Kiana itu"


Sementara itu, Kiana tengah tidur meringkuk di atas ranjang mewahnya sambil memeluk baju Agha. Kiana sangat merindukan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2