Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Imut


__ADS_3

Kiana bangun dan bangkit berdiri dengan pelan tanpa mengeluarkan suara. Ia melihat suaminya sudah tertidur nyenyak dengan posis terlentang. Kiana berdiri sejenak di samping ranjang suaminya untuk menatap wajah suaminya, "Dia sangat tampan. Tapi sayangnya dingin dan tidak punya hati nurani" Kiana lalu dengan berjingkat melangkah ke pintu depan.


Ketika Kiana membuka pintu, Bora yang berjaga di depan pintu langsung berbalik badan dan langsung bertanya, "Nyonya mau ke mana? Ke dapur lagi? Mari saya antarkan"


Kiana meringis, mengibaskan tangan, lalu mundur ke dalam dan menutup kembali pintunya.


Kiana melangkah kembali ke bangku panjang yang terbuat dari kayu jati dan kembali merebahkan diri di sana. Gadis mungil dan cantik itu menopang kepalanya dengan kedua telapak tangan. Dia memandangi langit-langit kamar dan bergumam lirih, "Aku tidak bisa melarikan diri dari sini. Ah, Bodo amat! Kalau harus mati besok, ya, mati aja. Ibu aku akan segera menyusul Ibu ke Surga. Besok aku akan mati, jadi lebih baik aku tidur sekarang biar besok aku bisa mati dalam keadaan cantik dan nggak ada mata panda, hehehehe"


Kiana kemudian memejamkan mata dan tertidur dengan cepat karena tubuhnya sudah sangat lelah.


Keesokan harinya, Agha bangun dan duduk di tepi ranjang. Dia melihat istrinya tidur dengan posisi kaki melebar ke kanan dan ke kiri dan kedua tangan terangkat ke atas, lalu mulutnya terbuka lebar dan ada suara dengkuran lirih.


"Dia laki atau perempuan, sih, kenapa tidur serampangan begitu dan mengorok" Agha menggeleng-gelengkan kepalanya sambil bangkit berdiri dengan perlahan. Dia sudah merasa baikan. Luka di perutnya juga sudah tidak terasa nyeri.


Agha kemudian melangkah mendekati bangku panjang lalu berhenti di samping bangku itu untuk memandangi wajah istrinya.


Kenapa dia kurus sekali. Kecil sekali. Tapi, dia memiliki kulit yang sangat putih, rambut hitam lurus yang sangat indah dan wangi. Dia cantik, tapi kurus sekali, emm, tidak! Aku rasa aku kebalik mengucapkannya, harusnya aku bilang dia kurus sekali, tapi cantik. Batin Agha sambil terus mengamati wajah istrinya.


Agha terkejut dan refleks melangkah mundur saat ia mendengar istrinya yang masih memejamkan mata dengan rapat berteriak ketakutan, "Jangan bunuh aku! Aku bukan penjahat. Jangan bunuh aku! Aku cuma cari obat untuk bisul yang ada di wajahku. Jangan bunuh aku!"


Agha terperanjat kaget dan refleks melangkah mundur sampai tumit kakinya menabrak ranjang, lalu ia terduduk di tepi ranjang dan bergumam lirih, "Dia perempuan yang aku temukan bergelantungan di tebing. Ya! Dia perempuan itu. Perempuan yang wajahnya penuh bisul. Apa dia seorang mata-mata? Sial! Apa Bora sudah berhasil menangkap wanita yang menusukku?" Agha bangkit berdiri dan bergegas ke pintu. Dia membuka pintu dan langsung bertanya ke Bora, "Semalam ada kejadian apa?"


Bora berbalik badan dengan cepat, membungkukkan badan sambil berkata, "Selamat pagi Yang Mulia Jenderal Agha. Selamat atas pernikahan Anda. Semoga Anda berdua selalu berbahagia, penuh berkat, dan segera diberikan momongan"


"Hentikan omong kosong! Apa kau sudah berhasil menangkap orang yang menusukku semalam?"


Bora menegakkan kembali badannya dan berkata, "Sudah, Yang Mulia Pangeran ketujuh Jenderal Agha"


"Di mana dia sekarang?"


"Di penjara bawah tanah"


Agha langsung menutup pintu kamar dan melangkah lebar menuju ke penjara bawah tanah dan Bora bergegas mengekor langkah junjungannya sambil memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di depan kamar pengantin junjungan mereka.


Agha terkejut melihat wajah wanita yang telah Bora tangkap.


Agha menoleh ke Bora, "Dia mirip banget dengan Istriku"

__ADS_1


Wanita yang berdiri di depan Agha menyeringai dan berkata, "Aku memang Istrimu. Kita sudah menikah semalam, kan? Aku Kiana kalau kau belum tahu namaku"


Pria yang terikat kedua tangannya, yang berdiri di samping wanita berwajah mirip dengan Kiana langsung berbisik ke telinga wanita itu, "Aku nggak berhasil menculik Kiana kemarin. Jadi, aku rasa istri Pangeran ketujuh ada di kamar sekarang dan mereka berdua pasti sudah menghabiskan malam pertama dan sudah saling berkenalan"


Perempuan yang terikat tangannya dan memiliki wajah yang sangat mirip wajahnya dengan Kiana, seketika mematung dan pias.


"Kau mirip dengan istriku. Tapi, istriku lebih imut dari kamu. Badan istriku ramping dan bagus. Tidak jelek seperti badan kamu, cih!" Agha menyeringai mengejek.


Wanita yang memiliki wajah mirip dengan Kiana dan terikat tangannya itu seketika terkesiap kaget.


Bora menoleh kaget ke junjungannya karena dia tidak pernah mendengar junjungannya memuji seorang wanita. Yang Mulia bilang Istrinya imut dan badannya bagus. Apa aku tidak salah dengar. Batin Bora.


"Iya. Istriku imut dan cantik dan kau, aku yakin kau jelek di balik topeng bodoh kamu itu"


"Kau!" Wanita itu tersinggung dengan hinaan yang dilontarkan oleh Agha.


Sementara Bora sontak menepuk wajahnya dengan pelan dan bergumam lirih, "Yang Mulia, Anda jangan bilang imut lagi. Kata imut tidak cocok meluncur dari mulut Anda, Yang Mulia"


Agha kembali menyeringai dan berkata, "Itu topeng. Lepas topengnya! Aku ingin lihat wajah asli wanita yang sudah berani menusukku"


"Baik, Yang Mulia" Sahut Bora sambil menegakkan kembali wajahnya.


"Kau wanita yang menjebak aku di hutan dan kau!" Agha menunjuk pria yang ada di samping wanita itu, "Kau yang mendorongku sampai aku hampir jatuh ke dalam jurang"


Pria dan wanita yang terikat, menatap Agha dengan sorot mata kaget.


"Mataku tajam dan aku pandai mengenali orang. Katakan siapa yang menyuruh kalian? Putra Mahkota apa Permaisuri?"


Pria dan wanita yang tangannya masih terikat berteriak bersamaan, "Bunuh saja kami!"


"Kalian sepasang suami istri atau sepasang kekasih?"


Pria dan wanita itu kembali menatap Agha dengan terkejut.


Agha menyeringai, "Aku sudah bilang kalau mataku ini tajam. Bawa wanita itu dan ikat dia di tiang penyiksaan biar kekasihnya mengaku siapa yang menyuruh mereka!"


Pria yang terikat sontak berteriak ke Agha, "Kau! Kenapa kau bisa sekejam ini sama wanita! Lepaskan kekasihku! Ikat saja aku dan siksa saja aku! Lepaskan dia! Lepaskan!!!!!!"

__ADS_1


Agha bangkit berdiri dan mendekati tiang penyiksaan. Lalu, Agha berdiri di depan wanita yang sudah terikat kaki dan tangannya di tiang penyiksaan. Agha kemudian menoleh ke Bora, "Ambil tupainya!"


"Tupai?" Wanita yang terikat di tiang penyiksaan bergumam dengan wajah penuh tanda tanya


"Lepaskan kekasihku!" Pria yang masih terikat berteriak frustasi melihat kekasihnya bersiap untuk disiksa habis-habisan.


"Tupai ini terkena racun dan dia menjadi liar. Dia sangat ganas dan bisa mencabik-cabik wajah kamu"


"Aku tidak takut. Hanya seekor tupai. Aku tidak takut"


"Benarkah? Dekatkan kandangnya ke wajah wanita itu dan biarkan dia melihat dari dekat keganasan tupai itu" Agha menoleh ke Bora.


Bora mendekatkan kandang berisi tupai dan saat tupai itu membuka mulut dan memperlihatkan mujurnya yang penuh taring dan melompat liar ingin mencabik-cabik wajah wanita itu, kekasihnya langsung berteriak, "Permaisuri yang menyuruh kami. Lepaskan dia! Jangan biarkan tupai itu merusak wajah cantik kekasihku. Aku sudah mengaku. Lepaskan dia!"


Agha menoleh ke belakang sambil berkata ke Bora, "Kembalikan tupainya ke tempat semula"


"Baik, Yang Mulia. Sahut Bora.


Agha kemudian mendekati pria yang terikat tangannya dan bersimpuh di atas lantai semen penjara bawah tanah miliknya Agha. Agha berjongkok di depan pria itu dan berkata, "Kau punya buktinya?"


"Ada. Di dalam baju saya ada surat perintah dari permaisuri untuk menangkap Anda dan kalau saya menemukan tanda lahir berbentuk burung merpati di pantat Anda, maka saya harus membunuh Anda"


Agha memerintahkan Bora untuk merogoh baju pria itu dan Bora menyerahkan gulungan kertas berwarna cokelat ke Agha.


Agha membuka gulungan itu dan berkata ke Bora, "Bawa sepasang kekasih ini ke penjara Istana. Mereka akan mendapatkan hukuman mereka di sana dan aku akan menemui permaisuri"


Agha kemudian pergi meninggalkan penjara bawah tanah dan Bora langsung melaksanakan perintah Agha.


Sementara itu, Maharani yang sudah sehat bugar, bangun dan bergegas pergi ke kediaman Caraka, namun langkahnya dihadang oleh ibundanya.


"Ibunda, kenapa menahan langkahku?"


"Kalau kamu pergi ke rumah Jenderal pagi ini, itu tidak pantas. Paling nggak tunggu dua bulan lagi"


"Tapi, kenapa?"


"Karena, Jenderal baru saja menikah dan Istrinya adalah pilihan Kaisar. Kalau kau pergi ke kediamannya pagi ini, maka kau akan jadi bahan gunjingan dan bisa-bisa kau ditangkap dan diadili karena mengganggu pernikahan yang diatur oleh Kaisar"

__ADS_1


Akhirnya Maharani kembali masuk ke dalam kamarnya dengan wajah cemberut.


__ADS_2