
Masa bulan madu masih mengental di darah, jiwa, dan raganya Agha juga Kiana. Keduanya terus berciuman saat mereka berdua melintasi lorong sempit. Lorong rahasia yang bisa mempersingkat langkah mereka masuk ke paviliun raja.
Agha langsung membawa lari istrinya masuk ke dalam kamar lalu Agha menurunkan istrinya di tepi ranjang dengan pelan dan setelah melepas tiaranya Kiana lalu menaruhnya di atas meja rias, Agha berlari kecil ke ranjang untuk merebahkan tubuh ramping istri kecilnya. Agha menarik selimut dan setelah menyelimuti Kiana, Agha berkata, "Tidurlah!"
"Tapi, pelatihanku belum selesai, Mas. Nyonya Janet akan mencariku"
"Biarkan saja! Besok baru dimulai lagi. Siapa yang berani membuat Istriku kecapekan, maka akan aku........."
Kiana mengecup bibir suaminya sebelum suaminya mengucapkan satu hukuman karena Kiana tidak suka melihat siapa pun terkena hukuman. Setelah mengecup suaminya, Kiana tersenyum dan berkata, "aku tidur dulu, Mas"
Agha tersenyum lalu mengecup kening Kiana sekali lagi. Kiana memejamkan mata dengan senyum bahagia dan rona cinta di wajahnya.
Agha kemudian bangkit berdiri dan langsung berjalan keluar dari dalam kamarnya.
Di depan pintu kamar ia menemukan Nyonya Janet.
Nyonya Janet dan para dayang yang mengiringinya langsung membungkukkan badan di depan raja mereka dan mereka serentak berkata, "Selamat sore, Yang Mulia Raja"
"Hmm" Sahut Agha singkat.
Nyonya Janet mengangkat wajahnya sementara para dayang yang mengiringinya masih membungkukkan badan mereka. Nyonya Janet berkata, "Ratu harus mengikuti pelatihan cara membuat teh dan tata cara minum teh di sore hari, Yang Mulia. Apakah saya boleh masuk menemui Ratu?"
"Ratu tidur. Jangan ganggu dia!" Agha mendelik kesal ke wanita kurus tinggi di depannya.
Nyonya Janet kembali berkata, "Tapi, Ratu tidak boleh mangkir dalam pelatihan. Ratu harus........"
"Siapa yang mengharuskannya? Kalau Ratu lelah, ya, lelah. Kalau tidur, ya, biarkan tidur. Jangan ganggu dia! Mengerti?!" Agha mengujamkan tatapan tajam ke Nyonya Janet.
Nyonya Janet terpaksa berkata, "Mengerti Yang Mulia"
"Kalau begitu, kembalilah ke tempat lain dan jangan ganggu Ratu!"
"Baik, Yang Mulia" Nyonya Janet kemudian mengajak semua dayang yang mengiringinya untuk berbalik badan.
"Tunggu!"
Nyonya Janet kembali menghadap Agha dengan membungkukkan badan dan bertanya, "Ada apa Yang Mulia?"
"Nanti tidak usah siapkan makan malam di meja perjamuan"
"Maaf, Yang Mulia. Tapi, kenapa?" Nyonya Janet sontak mengangkat wajahnya dengan kaget.
"Aku dan Istri tercintaku akan berkencan malam ini"
"Tapi, itu, emm, maafkan saya, Yang Mulia. Raja dan Ratu tidak dibolehkan keluar dari istana dengan sembarangan dan ......."
"Siapa yang keluar dengan sembarangan, hah?! Aku mau berkencan dengan Istriku bukan keluar sembarangan! Kau mau aku pecat, hah?!" Agha berteriak kesal.
Suara menggelegarnya Agha membuat semua dayang bergetar ketakutan termasuk Nyonya Janet.
Nyonya Janet langsung berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia"
__ADS_1
"Cih! Sekarang pergilah kalian semua dari hadapanku sebelum aku semakin marah!" Agha masih berkata dengan nada suara yang cukup tinggi.
Nyonya Janet langsung berkata, "Baik, Yang Mulia" Lalu ia mengajak semua dayang melangkah pergi meninggalkan raja baru mereka.
Agha kemudian berjalan ke ruang kerjanya. dia berjalan pelan Ke meja kerjanya. Lalu, ia menghela napas panjang saat ia melihat tumpukan petisi sudah menjulang tinggi di atas meja kerjanya. Agha kembali menghela napas panjang sebelum ia membuka satu per satu petisi tersebut.
"Siapa kamu?" Tanya Agha ke seorang pemuda yang berdiri di samping meja kerjanya.
Pemuda tersebut langsung menunduk dan berkata, "Saya adalah pejabat administrasi kerajaan. Saya di sini menunggu Anda memberikan keputusan atas semua petisi tersebut Yang Mulia Raja"
"Dan kamu akan berdiri terus seperti itu sampai aku selesai membaca semua petisi ini?"
"Iya, Yang Mulia" Sahut pemuda itu.
"Siapa nama kamu?"
Pemuda itu mengangkat wajahnya dan menjawab, "Nama saya Beny, Yang Mulia Raja"
"Oke, Beny. Kamu keluar saja dan jalan-jalan dulu atau kalau nggak kamu makan dulu sana dan kembali lagi ke sini setelah, emm, tiga jam lagi"
"Tapi, saya tidak boleh meninggalkan Anda karena......."
Agha langsung mendelik kesal dan pemuda yang bernama Beny itu langsung menunduk kembali dan berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya akan pergi setelah Anda membaca amplop berwarna merah"
Agha mengambil amplop berwarna merah dan saat ia membaca isi amplop itu ia sontak mendelik, "Apa ini? Daftar nama-nama perempuan ini untuk apa?"
Beny kembali mengangkat wajahnya dan menjawab, "Seratus daftar nama-nama itu adalah daftar nama-nama selir yang dipersiapkan untuk anda, Yang Mulia Raja. Anda diwajibkan memilih dua puluh lima nama dari daftar tersebut"
"Tapi, Anda harus memilihnya Yang Mulia. Demi untuk memperkokoh jabatan Anda. Memperkokoh kedudukan Anda. Anda bisa memilih selir dari keluarga terpandang atau dari putri para cendekiawan atau putri dari seorang jenderal" Sahut Beny.
"Aku tidak mau! Sekali aku bilang tidak mau, ya, tidak mau!"
"Tapi, saya akan kena hukuman berat kalau saya tidak membawa daftar nama selir yang Anda pilih, Yang Mulia Raja"
"Siapa yang akan menghukum kamu?"
"Penasihat Agung" Sahut Beny.
"Kau mau selamat dari hukuman Penasihat Agung?"
"Ten........tentu saja, Yang Mulia"
"Kalau begitu ambil kursi dan duduk di sebelahku Kita akan lembur membuat peraturan baru dan aku akan ganti Penasihat Agung yang sekarang dengan Penasihat Agung yang baru"
Beny langsung pucat wajahnya dan berkata, dengan gemetaran "A.......apa, Yang Mulia? An.......Anda tidak bisa mengganti Penasihat Agung begitu saja dan.........."
"Benarkah begitu?" Agha menyeringai di depan Beny.
"I.......iya. Karena Penasihat Agung hanya bisa diganti setiap lima tahun sekali dan Penasihat Agung yang sekarang baru menjabat selama tiga tahun ini dan Penasihat Agung yang sekarang ini sangat berkuasa"
"Maka duduk sini di sampingku dan kita akan lembur untuk memikirkan cara mengganti Penasihat Agung dan membuat peraturan baru terkait selir. Aku ingin Raja, para Menteri, dan para petinggi kerajaan, mulai besok tidak diijinkan memiliki selir. kalau yang sudah memiliki selir, maka tidak boleh menambah Selir lagi"
__ADS_1
"Hah?!" Beny sontak ternganga dan menghela napas panjang menghadapi raja baru yang suka menentang aturan, keras kepala dan aneh menurutnya.
Beny lalu mengambil kursi dan duduk di sebelah Agha dengan hati-hati dan dengan wajah pucat pasi.
"Nggak usah takut sama siapa pun di dunia ini. Mereka makan nasi sama seperti kita, kan?"
"Iya Anda benar Yang Mulia. Tapi, jabatan mereka jauh lebih tinggi daripada saya"
"Ada aku. Jangan takut! Aku akan melindungi kamu karena Istriku tidak suka melihat ada orang dihukum berat di masa bulan maduku ini. Kau tahu Istriku itu sangat manis, lembut hatinya, dan dia berhati malaikat. Dia tidak suka kalau sampai ada orang menghukum seseorang. Dia juga cantik, pandai memasak, dan cerdas. Dia sudah mengobati banyak penyakit aneh dan dia sangat luar biasa. Kiana nama yang cantik seperti orangnya Aku sangat beruntung bertemu dengannya dan bisa menikah dengannya lalu, bla, bla, bla, bla" Agha terus membicarakan Kiana tanpa henti dengan wajah semringah penuh rasa bangga dan cinta.
Beny tersenyum canggung dan bergumam di dalam hatinya, kapan membahas soal kerjaan dan aturan barunya? Kenapa Raja justru membicarakan Ratu tanpa henti. Raja sangat mencintai Ratu. Bahkan Raja sampai menolak memiliki selir. Padahal kalau aku yang jadi raja, dengan senang hati aku akan memilih selir sebanyak-banyaknya dan aku akan memilih yang cantik-cantik.
Setelah membanggakan istrinya panjang lebar, Agha kemudian menyodorkan gulungan kertas panjang ke Beny.
"An......Anda memiliki kekuatan militer sebanyak ini?" Beny ternganga kaget melihat kekuatan militer yang Agha miliki.
"Hmm. Kau pikir dengan kekuatan militer sebesar dan sekuat ini, tahtaku bisa diguncang dengan mudah?"
Beny langsung menggeleng cepat lalu berkata, "Tidak, Yang Mulia"
"Nah, kau tahu juga akhirnya kenapa aku berani menentang Penasihat Agung dan berani membuat peraturan baru soal selir. Sekarang salin apa yang sudah aku tulis ini ke kertas kerajaan dan bubuhi stempel Kerajaan. Aku akan tandatangani nanti" Agha berucap sambil bangkit berdiri dan mengulet sebentar.
Beny ikutan bangkit berdiri lalu membungkukkan badan dan bertanya, "An.....Anda mau ke mana, Yang Mulia Raja? Bukankah Anda meminta saya untuk menemani Anda lembur menggarap peraturan baru dan pelantikan pejabat baru?"
"Kau tinggal salin apa yang sudah aku tulis, kan?"
"Iya, benar. Tapi, Anda bilang akan menemani saya dan......."
"Cih! Untuk apa aku menemani kamu lebih lama lagi kalau semuanya udah beres. Lebih baik aku menemani Istri tercintaku. Kerjakan apa yang aku perintahkan dan tinggalkan di meja setelah kau bubuhi stempel Kerajaan! Aku akan tandatangani nanti setelah aku pergi berkencan dengan Istri cantikku" Agha kemudian melenggang santai meninggalkan Beny.
Beny langsung mengangkat wajahnya dan memutar kepalanya untuk mengikuti arah pergi raja barunya dengan wajah penuh tanda tanya. Beny kemudian bergumam, "Raja Agha lebih santai daripada Raja Abinawa. Tapi, Raja Agha tidak kalah cerdas dan bijaksana jika dibandingkan dengan Raja Abinawa. Cuma Raja Agha jauh lebih gila daripada Raja Abinawa. Aku bisa ikutan gila nggak, ya, kalau aku berada di sampingnya terus? Karena pola pikir Raja Agha sangat sulit untuk ditebak" Beny kemudian duduk kembali untuk mengerjakan tugasnya dengan helaan napas panjang.
Agha masuk ke kamarnya dan menemukan Kiana sudah rapi, berganti baju, dan sangat wangi. Agha tersenyum penuh cinta dan langung merentangkan kedua lengannya selebar-lebarnya.
Kiana tertawa kecil sambil berlari dan masuk ke pelukan suaminya.
Agha mencium pucuk kepala Kiana dan berkata di sana, "Tunggu aku sebentar! Aku akan mandi dan setelah itu kita akan berkencan"
Kiana mendongakkan kepala dan bertanya dengan wajah semringah, "Kita akan ke mana, Mas?"
Agha menoel pucuk hidung mungilnya Kiana yang lancip sempurna sambil berkata, "Rahasia!" Lalu Agha melepaskan pelukannya, mencium pipi Kiana, setelah itu ia berlari masuk ke kamar mandi"
Kiana mengikuti langkah suaminya dan Agha langsung berkata, "Kamu duduk saja!"
"Tapi, aku harus membantu menyiapkan......"
Agha langsung menoleh ke belakang dengan cepat dan berkata, "Nggak usah! Aku bisa menyiapkan semuanya sendiri. Kalau kamu ikut masuk ke dalam, maka urusannya akan jadi panjang dan kita tidak jadi berkencan"
Kiana terkekeh geli lalu berkata, "Baiklah. Aku Akan menunggu dengan tenang di sini, Mas"
"Hmm. Aku akan mandi dengan cepat karena aku sudah tidak sabar ingi. segera berkencan dengan kamu" Agha mengedipkan mata dan Kiana kembali terkekeh geli.
__ADS_1