Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Cemburu


__ADS_3

Pria yang bernama Awan yang mengaku kalau dirinya adalah kakak kandungnya Maharani, berteriak di balik jeruji besi, "Bagaimana Bulan?! Hei! Bulan masih hidup, kan?!"


Anak buahnya Bora yang tengah asyik bermain kartu sambil menjaga Awan mengabaikan teriakannya Awan.


"Hei! Aku mengkhawatirkan adikku! Jawab pertanyaanku! Jawab!" Teriak Awan.


Pimpinan anak buahnya Bora yang menjaga Awan di penjara bawah tanah yang ada di kediaman Caraka langsung memukul jeruji besi dengan tongkat kayu sambil mendelik kesal, "Kalau adik kamu mati pasti tidak lama lagi kamu akan menerima kabar kematiannya. Sekarang diam dan jangan berisik lagi!"


Awan langsung menunduk dan menangis terisak sambil terus bergumam lirih, "Maafkan Kakak, Bulan. Maafkan, Kakak. Kakak nggak sengaja melakukannya, hiks, hiks, hiks"


Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lebih, Red Hair akhirnya berhasil mengantarkan tuannya sampai di depan gerbang istana.


Agha langung melompat turun dari punggung Red Hair dan setelah menyerahkan tali kekang Red Hair ke penjaga istana, Agha langsung melesat masuk ke dalam istana. Dia sudah sangat merindukan Kiana sekaligus mengkhawatirkan Kiana.


Agha langsung disambut para dayang dan diantarkan ke aula utama. Saat Agha hendak duduk, dia dikejutkan dengan munculnya putri Kesya.


Agha akhirnya tidak jadi duduk dan memilih untuk mundur selangkah untuk menjauhi Kesya yang berdiri cukup dekat dengan dirinya.


"Agha! Senang sekali melihat kamu di sini. Saking lamanya kita tidak pernah bertemu aku sampai lupa dulu aku memanggilmu Kak Agha, Mas Agha, atau Agha saja?" Kesya berucap sambil maju selangkah karena ia ingin lebih dekat dengan Agha.


Agha refleks mundur selangkah sambil berkata, "Panggil saja Agha! Kita sudah nggak ada hubungan apa-apa selain teman masa kecil. Dan jangan maju lagi! Cukup berdiri saja di situ!"


Kesya menghela napas panjang dan berkata dengan wajah kecewa, "Kau lebih dari teman masa kecil bagiku, Agha. Kita hampir menikah dan.........."


Agha langsung memotong ucapannya Kesya, "Aku tidak tertarik membahas masa lalu kita. Aku ke sini untuk menjemput Istri kecilku yang cantik. Dayang istana tengah memanggilnya"


Kesya tersenyum tipis lalu berkata, "Aku punya sesuatu yang belum sempat aku berikan ke kamu. Tolong terimalah dan ijinkan aku maju selangkah lagi untuk menempelkan bros yang aku bikin sendiri untuk hadiah pernikahan kita dulu"


Agha hendak melangkah mundur dan sontak maju untuk memeluk Kesya saat Kesya terpeleset dan hampir jatuh.


Kiana yang sudah sampai di depan pintu aula utama melihat suaminya memeluk putri Kesya. Suaminya memeluk mantan kekasih. Mantan kekasih yang sangat cantik dan bermartabat. Kiana bahkan selalu merasa tidak percaya diri saat ia berada di dekat putri Kesya. Lalu, sekarang ini, dia melihat suaminya tengah memeluk wanita yang selalu membuatnya tidak percaya diri itu.


Agha langsung melepaskan Kesya saat ia melihat Kiana berdiri di tengah pintu masuk aula utama.


Agha langsung berlari melintasi Kesya begitu saja dan langsung memanggil Kiana saat ia melihat Kiana berbalik badan, "Kiana! Tunggu!"


Kiana menghentikan langkahnya dan berdiri memunggungi Agha.


Tubuh Kesya berputar mengikuti arah perginya Agha lalu wanita yang cantik jelita dengan postur tubuh tinggi dan ramping itu berjalan pelan mengekor laju larinya Agha.


Agha langsung memeluk Kiana dari arah belakang dan mendaratkan ciuman di pipi Kiana sambil berbisik, "Aku sangat merindukan kamu. Kenapa kamu memunggungiku seperti ini?"


"Pikir saja sendiri, Mas" Kiana lalu bergeming.


Agha menautkan kedua alisnya sambil memutar pelan tubuh Kiana dan langung mendekap Kiana untuk kembali bertanya, "Kenapa aku harus berpikir saat ini? Aku tidak ingin berpikir, aku hanya ingin melihat wajah cantik Istriku" Agha mengulas senyum tampan di depan istri kecilnya.


"Dasar cowok menyebalkan. Habis memeluk mantan pacar sekarang memeluk aku. Putri Kesya lebih enak untuk dipeluk, kan, dia jauh lebih tinggi dariku dan lebih ramping. Lepaskan Aku, Mas!" Kiana meronta dari pelukan Agha dengan wajah cemberut.


"Oooooo, Istri cantikku tengah cemburu saat ini. Aku tidak memeluk mantan pacar" Agha menggelengkan kepala dengan wajah polos tanpa dosa.


"Tadi apa? Aku lihat sendiri kalau Mas memeluk putri Kesya. Masih aja berani mengelak" Kiana semakin mengerucutkan bibirnya.


"Dia terpeleset dan hampir jatuh. Aku hanya menahan tubuhnya. Aku tidak memeluknya"


"Bohong!" Kiana mendengus kesal.

__ADS_1


Saat Agha mendengar ada suara langkah kaki Kesya mendekatinya, Agha langsung merangkul bahu Kiana dan mengajak Kiana menghadap ke depan sambil berbisik, "Aku akan buktikan ke kamu kalau aku nggak bohong"


Kesya mengentikan langkahnya di depan Agha dan Kiana dengan senyum cantiknya.


Kiana tersentak kaget saat Agha berkata ke Kesya, "Jangan menggodaku lagi! Aku tadi hanya menahan kamu agar tidak jatuh. Jangan berpikiran macam-macam! Aku hanya mencintai Kiana untuk selama-lamanya" Lalu, Agha langsung memagut bibir Kiana di depan Kesya tanpa ragu.


Kesya tersentak kaget dan langsung berbalik badan meninggalkan Kiana dan Agha dengan langkah dan wajah kesal.


Agha kemudian melepaskan bibir Kiana dan menoel pucuk hidung kIana yang tengah merona malu sambil bertanya, "Gimana? Sudah percaya sekarang?"


Kiana langsung mengangguk lalu menyusupkan wajah malunya ke dada bidang suaminya dan Agha langsung mendekap Kiana dengan tawa bahagia. Agha kemudian berbisik, "Kamu sangat menggemaskan kalau cemburu"


Kiana menepuk dada Agha dengan pelan sambil berkata, "Jangan menggodaku lagi. Aku tahu aku salah. Maafkan aku"


"Kalau minta maaf harus dengan tulus, dong"


Kiana langsung menarik wajahnya dari dada suaminya lalu ia berjinjit untuk memagut bibir suaminya. Lalu, Kiana menarik bibirnya dengan. pelan dan langsung menunduk malu.


Agha terkekeh geli dan berkata, "Wah, aku tidak minta kau cium,lho. Aku hanya minta kau meminta maaf dengan baik dan benar"


Kiana memukul kembali dada bidang suaminya sambil memekik kesal, "Mas, jangan menggodaku lagi!"


Agha tertawa terbahak-bahak lalu ia membopong Kiana dan langsung melesat keluar dari istana sambil berkata, "Kita pulang sekarang! Aku tidak sabar ingin naik kuda bersama denganmu"


Kiana tersenyum penuh cinta menatap wajah tampan suaminya.


Agha menaikkan Kiana denah. pelan ke pelan kuda lalu ia melompat naik dan duduk di belakang Kiana samb berkata ke Red Hair, "Jalan pelan saja, Red Hair. Aku ingin berlama-lama sebentar naik kuda bersama istri kecilku yang cantik"


Red Hair langsung meringkik kencang lalu berjalan pelan menuruti perintah tuannya.


Agha menggenggam tangan Kiana lalu sesekali ia mencium pucuk kepala Kiana, rambut Kiana, pipi Kiana, pundak Kiana dan saat ia menyusupkan wajahnya ke leher Kiana, Agha menjadi lupa diri.


Kiana memukul pelan punggung tangan suaminya yang berada di atas pangkuannya sambil berkata, "Mas! Hentikan! Kita ada di jalan"


Agha langung menegakkan wajahnya dan berkata, "Salah sendiri kenapa kamu wangi banget"


Kiana hanya bisa menghela napas panjang.


Sepulangnya dari istana, Kiana langsung memeriksa kondisi Maharani dan Agha langsung berkutat dengan pekerjaannya yang tertunda banyak sekali. Bora langsung menyusul junjungannya ke ruang kerja. Sementara ibundanya Agha tertidur pulas dibawah pengawasan bibi Sum.


Dari sore hari sampai hampir tengah malam mengobati, merawat, menjaga Maharani tanpa rasa lelah dan tanpa kata menyerah, Kiana dan Agni akhirnya menghela napas lega saat ia melihat Maharani membuka mata. Maharani akhirnya melewati masa kritis.


Sementara Agha setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia melangkah lebar menuju ke penjara bawah tanah.


Agha menatap pria yang bernama Awan dan Awan langsung bangkit berdiri di balik jeruji besi. Pria itu langsung memegang jeruji besi dengan erat lalu menyemburkan, "Kau harus nikahi Bulan! Dia tidak ragu mengorbankan dirinya demi kamu, maka nikahi dia!"


Agha langsung merespons ucapan pria itu dengan wajah datar, "Aku sudah menikah, aku hanya menikah satu kali, dan aku sangat mencintai Istriku"


"Kau! Kau tidak menghargai pengorbanannya Bulan! Tega sekali kau!" Awan langsung menjulurkan tangannya untuk mencekik leher Agha, namun dengan sigap Agha menepis tangan Awan.


"Nikahi adikku, dasar pria brengsek!!!!!!" Awan mengguncang jeruji besi dengan teriakan kencang dan mata melotot.


"Aku tidak memiliki kewajiban menikahi Maharani atau Bulan kalau kau menyebutnya. Dia melakukan kebodohan dan terluka karena kebodohannya sendiri"


"Kau.........." Awan semakin melotot.

__ADS_1


Agha kembali berkata, "Daripada memikirkan adik kamu, pikirkan diri kamu sendiri. Kamu akan dipancung lusa karena kamu sudah berani menculik Ibundaku dan hampir menusuk punggungku. Kau akan aku bawa ke istana malam nanti dan.........."


"Tidak! Jangan, Mas!" Suara Kiana menggema di penjara bawah tanah dan itu membuat Agha menoleh kaget.


Kiana menghadap suaminya dan langsung berkata, "Dia melakukannya karena rasa sayangnya pada Maharani. Itu kasih sayang seorang Kakak terhadap adiknya dan ........"


"Kau berani membela pria lain di depan suami kamu, hah?! Aku terlalu memanjakan kamu Kiana" Agha menatap Kiana dengan sorot mata kecewa dan pria tampan itu langsung melengos.


Dia cantik banget. Kulitnya putih seputih salju dan wajahnya lembut seperti malaikat. Batin Awan.


Kiana langsung meletakkan kedua telapak tangannya di dada bidang suami tampannya lalu berkata, "Bukan begitu, Mas. Jangan cemburu dulu. Maharani sudah sadar akan kesalahannya dan dia ingin dipertemukan dengan kakak kandung yang sudah terpisah dengannya selama puluhan tahun Aku tidak sedang membela dia. Aku hanya menempatkan diriku di posisi Maharani dan pria ini. Aku tidak tega melihat mereka dipisahkan lagi, Mas. Kalau ini terjadi padaku dan Kendra, aku mungkin akan gelap mata dan tidak memedulikan apapun demi kebahagiaannya Kendra dan........."


Agha langsung menatap Kiana dan menggenggam tangan Kiana lalu ia melongok ke belakang pundaknya Kiana.


Kiana langsung bertanya, "Mas mencari apa?"


"Mencari sayap di punggung kamu. Jangan-jangan kamu malaikat yang jatuh ke bumi karena kamu memiliki hati yang baik banget, Kiana"


"Aku tidak sebaik itu, Mas. Aku tetap ingin dia dihukum karena dia sudah lancang menculik mertuaku dan hampir mencelakai suami tampanku ini. Tapi, jangan hukuman pancung karena setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Kalau di kesempatan kedua dia masih melakukan kesalahan yang sama, Mas boleh menghukum pancung dia" Kiana kemudian mengulas senyum cantik dan Agha langsung tersenyum lebar lalu memeluk Kiana dan mencium kening Kiana.


Pantas saja kalau dia tidak ingin menikah lagi. Dia sudah memiliki Istri yang sangat cantik, lembur, berbudi luhur, dan baik hati. Batin Awan.


Agha lalu menoel pucuk hidungnya Kiana dan bertanya, "Kau ingin aku memberikan hukuman apa ke dia?"


"Kok, nanya aku. Aku tidak tahu soal hukuman, Mas"


"Aku ingin kamu kasih ide ke aku saat ini" Agha tersenyum dan kembali menoel pucuk hidungnya Kiana.


"Bagaimana kalau dipukul di pantat pakai papan sebanyak sepuluh kali?" Kiana meringis lugu di depan Agha.


Sedangkan Awan masih membeku di balik jeruji besi saking terpesonanya akan kecantikan dan kelembutan istrinya Agha Caraka.


Agha terkekeh geli lalu menoel kembali pucuk hidungnya Kiana dan berkata, "Kau memang malaikat tak bersayap, Kiana. Oke, kamu balik ke kamar dulu aku akan menyusul kamu setelah selesai memberikan hukuman ke dia"


"Mas nggak akan memancung dia, kan?"


"Nggak. Tenanglah? Sekarang balik ke kamar dulu" Agha mengusap puncak kepalanya Kiana.


Kiana berjinjit untuk mencium pipi kanan suaminya lalu berbalik badan meninggalkan penjara bawah tanah dengan senyum penuh cinta.


Agha menatap punggung Kiana dengan senyum penuh cinta dan saat punggung Kiana menghilang dari pandangannya, Agha menoleh ke pria yang bernama Awan, "Hei! Kau lihat apa?!" Agha kaget saat ia mendapati mata Awan masih mengarah ke pintu keluar penjara bawah tanah.


Awan tanpa sadar bergumam lirih, "Dia sangat cantik. Sayangnya udah ada yang punya"


"Hei! Apa yang kau gumamkan?" Agha mendelik kesal karena Awan tidak menghiraukannya.


Awan tersentak kaget dan langsung menyahut, "Tidak! Aku tidak menggumamkan apapun"


"Oke, aku akan menuruti permintaan Istri cantikku. Aku hanya akan memberikan hukuman cambuk di tiang sampai kamu pingsan. Setelah itu kamu akan dirawat sampai sembuh dan aku akan mempertemukan kamu dengan Bulan adik kamu yang selama ini kami kenal sebagai Maharani" Ucap Agha.


Awan langsung berkata, "Ucapkan rasa terima kasih saya yang sebesar-besarnya kepada wanita yang sangat cantik dan baik hati tadi, saya sangat............"


Agha langsung memukul jeruji besi dengan kepalan tangan sambil menggeram, "Kalau kau berani memuji Istriku lagi, maka aku akan benar-benar menghukum pancung kamu dan kamu tidak akan pernah bertemu lagi dengan adik kamu, cih!"


Awan langsung bersujud dan berkata, "Maafkan aku! Aku tidak akan mengulanginya lagi"

__ADS_1


__ADS_2