
Awan langsung duduk bersimpuh di depan Maharani lalu menjambak rambutnya sendiri dan berteriak, "Tidaaakkkk!!!!! Maafkan Kakak, Bulan! Hiks, hiks, hiks, Kakak tidak sengaja melakukannya"
Anak buahnya Agha langsung meringkus pria yang bernama Awan.
Maharani mengabaikan jeritan pilu pria yang mengaku sebagai kakak kandungnya. Maharani lebih memilih membelai wajah tampan pujaan hatinya lalu tersenyum penuh cinta dan berkata, "Kak Agha, a.....aku men.....mencintaimu. Ah, a....aku sangat mencintaimu. A....aku melakukan semuanya karena aku sangat mencintaimu"
"Jangan banyak bicara, diamlah. Agni! berikan pertolongan pertama pada Rani!"
"Tapi, Kak, Ibunda pingsan, nih" Sahut Agni.
"Tidak, Kak Agha! Jangan lepaskan pelukan Kakak! A......aku hanya ingin pelukan Kakak" Gumam Maharani lirih.
Agha langung menoleh ke belakang dan berteriak ke Bora, "Bora tahan tubuh Rani dan biarkan Agni memberikan pertolongan pertama ke Rani, biar aku yang membopong Ibunda ke kereta kuda"
"Baik, Yang Mulia" Bora langsung menahan tubuh Maharani dengan pahanya tepat di saat Rani memejamkan mata tak sadarkan diri. dan Agha langsung bangkit berdiri untuk membopong ibundanya sambil berkata ke Agni, "Cepat berikan pertolongan pertama kamu ke Rani!"
"Baik, Kak" Sahut Agni.
Agha langsung terbang ke angkasa luas sambil membopong ibundanya.
Sementara itu di dalam istana, permaisuri berteriak kesal ke Adnan, "Keluar dari kamar Ibunda sekarang juga! Keluar!!!!!!"
Adnan langung berputar badan dan keluar dari kamar pribadi ibundanya dengan langkah lebar dan wajah kesal.
Permaisuri lalu menoleh ke pengawal pribadinya dan membisikan sesuatu ke telinga pengawal pribadinya.
Pengawal pribadinya permaisuri langsung menganggukkan kepala lalu melesat keluar dari dalam kamar pribadi junjungannya lewat jendela.
Adnan lalu bertanya ke dayang istana yang berjaga di aula utama, "Di mana Ayahanda dan Kiana? Emm, tabib wanita yang sangat cantik yang diundang oleh Ibunda permaisuri tadi?"
"Maafkan saya, Yang Mulia Putra Mahkota, Tadi saya mendengar Raja mengajak tabib kiana ke kamar pribadinya. Tapi kemudian, mereka berpindah tempat dan saya tidak tahu Raja membawa tabib kIana ke mana" Sahut dayang tersebut sambil membungkukkan badan.
Adnan langung mengepalkan tangannya dan bergumam kesal, "Sial! Ayahanda mengajak Kiana ke mana?"
__ADS_1
Raja membalik rak buku dan mengajak Kiana masuk. Saat Raja dan Kiana melangkah masuk, rak buku tersebut kembali seperti semula. Raja dan Kiana berjalan menyusuri lorong yang tidak gelap dan tidak panjang. Langkah mereka berakhir di sebuah taman bunga yang cantik dan ada sebuah pondok di sana. "Ini adalah kamar rahasiaku. Karena kamu Istrinya Agha, maka aku memercayai kamu dan mengajak kamu ke sini. Kamu sangat pintar bisa menemukan kejanggalan pada tubuhku. Aku memang kurang sehat beberapa hari ini. Aku sering merasa pening lalu lemas dan tabib istana, emm, Ayah kamu masih belum menemukan apa penyebabnya. Aku ajak kamu ke sini karena jika kamu menemukan sesuatu yang tidak boleh orang lain ketahui rahasia kita aman di sini"
"Anda memang sangat bijaksana, Yang Mulia Raja. Saya mengagumi Anda sejak lama" Sahut Kiana dengan senyum ramahnya.
"Hahahahaha. Terima kasih. Aku juga mengagumi kamu sejak lama,.Kiana" Sahut raja.
"Terima kasih, Raja" Kiana berucap sambil menekuk lututnya.
"Kenalkan ini Jenderal Arya, Dia tangan kananku. Hanya dia dan Agha yang aku percayai saat ini" Sahut Raja"
"Senang bertemu dengan Anda, Jenderal Arya" Kiana membungkukan badannya.
"Saya yang seharusnya berkata seperti itu" Jenderal Arya langsung membungkukkan. Badan di depan Kiana dan kembali berkata, "Senang bertemu dengan Anda, Nyonya Agha Caraka. Saya sangat mengagumi kehebatan Jenderal Agha Caraka selama ini. Jenderal Agha lebih muda dari saya tapi kehebatannya melampaui saya"
"Terima kasih. Saya yakin Anda juga hebat, Jenderal" Sahut Kiana dengan senyum ramahnya.
"Terima kasih" Sahut Jenderal Arya dengan senyum lebar.
Jenderal Arya tersenyum kepada Raja dan Kiana.
"Bolehkah saya langsung memeriksa Anda, Yang Mulia?" Tanya Kiana.
"Ah, iya, aku hampir lupa" Raja langsung meletakkan pergelangan dalam tangan kanannya di atas meja dan Kiana langsung memeriksa denyut nadi raja.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam lebih, akhirnya rombongannya Agha sampai di kediaman Caraka dengan selamat. Agni berhasil memberikan pertolongan pertama ke Maharani sehingga nyawa Maharani tertolong meskipun Maharani belum melewati masa kritisnya.
Agni dan Bora membawa Maharani ke kamarnya Maharani sementara Agha langsung melesat ke kamar pribadi ibundanya.
"Eng!" Ibundanya Agha melenguh dan Agha langsung menegakkan badan dan dengan tidak sabar ia menunggu ibundanya membuka mata.
Ibundanya Agha akhirnya membuka mata dan langsung berkata, "Agha, kepala Ibunda pusing banget"
Agha tersenyum senang melihat ibundnya akhirnya sadar dan Agha langsung memeluk Ibundanya sambil bertanya, "Ibunda mau minum? Agha akan ambilkan" Agha lalu memijit kening ibundanya dengan pelan dan penuh kelembutan.
__ADS_1
Ibundanya Agha menggeleng pelan dan berkata, "Tidak usah. Pijatan kamu sudah cukup meringankan rasa pening Ibunda"
"Baiklah. Agha akan terus memijit kening Ibunda" Sahut Agha dengan senyum penuh kasih sayang.
Tiba-tiba Ibundanya Agha menarik diri dari pelukan hangat putra kesayangannya lalu menegakkan badannya dan menatap Agha dengan panik. "Kiana? Di mana Kiana? Kiana baik-baik saja, kan? Menantu Ibu yang cantik itu tidak kenapa-kenapa, kan?"
Agha tersenyum senang mendengar ibundanya memanggil Kiana sebagai menantu yang cantik. Agha lalu mengusap lembut punggung tangan ibundanya sambil berkata, "Kiana diundang ke istana untuk mengobati permaisuri. Kiana sehat dan baik-baik saja, Ibu"
Ibundnya Agha kembali menatap wajah tampan putranya dengan panik.
"Ada apa, Ibu?" Tanya Agha sambil memegang pelan kedua bahu Ibundanya.
"La....lalu ba...bagaimana dengan wa....wanita iblis itu, emm, Rani, a......apa dia su......sudah........." Tubuh Ibundanya Agha gemetar hebat dan Agha langsung memeluk Ibundanya sambil berkata, "Rani masih hidup tapi dia belum melewati masa kritisnya. Agha akan menjemput Istri Agha, emm, Agha sudah sangat merindukan Kiana dan supaya Kiana bisa mengobati Rani lebih lanjut. Apakah Ibunda bisa Agha tinggalkan saat ini?"
Ibundanya Agha langsung menganggukkan kepalanya dan berkata dengan mantap, "Iya! Lekas jemput Kiana! Ibunda sangat merindukannya. Ibunda ingin mengobrol panjang lebar dengan Kiana, Agha. Tinggalkan Ibunda, pening di kepala Ibunda sudah sembuh, kok. Lekas jemput Kiana!"
Agha mencium punggung tangan ibundnya lalu berkata, "Baiklah, ibu. Agha jemput Kiana dulu. Ibu akan dijaga oleh Bibi Sum"
"Iya, lekas lah berangkat! Ibunda sudah sangat merindukan Kiana" Ibundanya Agha mengibaskan tangan dengan senyum cantiknya.
Agha tersenyum penuh rasa syukur. Akhirnya berkat kesabaran dan kebaikan hatinya Kiana, Ibundanya mau menerima Kiana dan menyayangi Kiana sebagai menantu di kediaman Caraka.
Agha mampir ke kamar Maharani sebentar untuk melihat kondisinya Maharani. "Bagaimana kondisinya saat ini?"
"Dia masih stabil kondisinya tapi dia belum melewati masa kritis, Kak" Sahut Agni.
"Jaga dia dengan baik aku akan jemput Kiana"
"Baik, Kak" Sahut Agni.
Agha mengajak Red Hair, kuda kesayangnnya untuk menjemput Kiana di istana dan Agha bergumam di atas kudanya, "Kita jemput Istri yang sangat aku sayangi"
Red Hair, si kuda pintar langung meringkik kencang merespons gumaman tuannya.
__ADS_1