
Bora menautkan alisnya dan bertanya, "Tempat menarik yang kau maksud adalah ini? Di dalam kereta kudanya Yang Mulia Agha?"
"Iya! Di sini cukup hangat, kan? Aku juga bawa Bapao tanpa isi, beberapa camilan dan arak untuk menghangat badan" Ucap Agni sambil membuka keranjang pikniknya.
Bora langsung meraup kasar wajah tampannya dan meletakkan pedangnya di sisi kiri tubuhnya lalu berkata, "Kenapa kau suka aneh-aneh kayak gini? Kenapa kau tidak pulang saja Non?"
Cup! Agni mencium pipi Bora lalu menatap wajah tampannya Bora dengan senyum lebar.
Bora menyentuh pipi kanannya sambil bertanya, "Untuk apa kau menciumku?"
"Karena kau sudah mau memakai bahasa santai denganku. Jangan panggil aku Non lagi! Aku nggak suka. Kamu temanku dan kamu lebih tua dariku. Panggil namaku saja"
Agni kembali tersenyum lebar di depan Bora.
Bora mengalihkan pandanganya untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya sambil berkata, "Maafkan saya. Karena cuaca yang sangat dingin otak saya jadi beku dan saya jadi kurang ajar sama Anda, Non. Maafkan saya sudah memakai bahasa yang tidak sopan tadi"
Agni langsung menangkup wajah Bora dan mengarahkan wajah pria tampan itu ke depan hingga wajah Agni dan Bora saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat.
Bora sontak menegakkan badannya dan mematung. Namun, pria tampan itu masih sempat bertanya, "Non, kenapa Anda menangkup wajah saya? Anda mau apa...... hmpppttthhh!"
Agni nekat membungkam bibir Bora dengan bibirnya dan Bora terkejut setengah mati. Kedua bola mata Bora membeliak tajam dan kedua tangan Bora mencengkeram ujung bajunya.
Agni lalu melepaskan pagutannya dan dengan masih menangkup wajah Bora, Agni berkata, "Kalau kamu tidak mau pakai bahasa santai padaku dan tidak mau manggil namaku saja tanpa embel-embel Non, aku akan pagut lagi bibir kamu"
Bora semakin erat mencengkeram kedua ujung bajunya dan pria tampan itu hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala.
"Jangan hanya angguk-angguk kayak orang-orangan sawah! Ayo coba!" Agni berkata sambil menekan kedua pipi Bora dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Bora menghela napas panjang dan berkata, "Iya, Agni. Apa kabar kamu? Kamu baik-baik saja, kan, Agni?"
Agni terkekeh geli melihat tingkah konyol dan ucapan konyolnya Bora. Lalu, gadis cantik yang super tomboy itu kembali memagut bibir Bora.
Bora seketika mewek dan semakin membeku.
Agni kemudian melepaskan pagutannya dan berkata, "Ciuman tadi untuk hadiah karena kamu sudah mau menuruti permintaanku" Agni kemudian melepaskan wajah Bora lalu gadis cantik itu menuangkan arak ke gelas kecil yang terbuat dari gerabah dan memberikannya ke Bora, "Nih, minum lah! Biar badan kamu hangat"
Bora menerima gelas kecil yang terbuat dari gerabah itu dengan tangan gemetar dan sambil bergumam di dalam hatinya, badanku udah hangat secara tiba-tiba, nih, dan aku rasa itu gara-gara ciuman kamu.
Agni menenggak arak lalu menoleh ke Bora untuk berkata, "Aku udah kasih stempel di bibir kamu. Jadi jangan coba-coba melirik gadis lain apalagi pergi dengan gadis lain! Ngerti?!"
Bora menghela napas panjang dan daripada urusan menjadi panjang, pria tampan itu menganggukan kepalanya.
"Mulai sekarang, aku akan hukum kamu pakai ciuman kalau kamu melanggar aturanku, aku juga akan hukum kamu pakai ciuman kalau kamu bertingkah konyol dan menggemaskan, dan aku akan cium kamu kalau aku merindukan kamu" Ucap Agni dengan santainya sambil menuangkan arak ke gelasnya Bora yang telah kosong.
"Ke......kenapa se......semuanya harus pakai cium?" Bora menatap Agni dengan wajah mewek.
Agni menundukkan wajahnya lalu menuangkan arak ke gelasnya yang telah kosong sambil berkata, "Aku tidak pernah main-main dengan perasaanku. Sekali aku jatuh cinta maka aku akan setia. Kau juga harus begitu!"
"Iya" Sahut Bora dengan wajah pasrah.
Bora kemudian membatin, aku sangat menyukaimu, sih, iya, tapi siapa yang jatuh cinta? Aku belum merasakan jatuh cinta karena aku memang masih belum mau jauh cinta? Kenapa harus melibatkan setia? Hiks, hiks, hiks.
Agni kemudian menoleh ke Bora dan mengamati wajah Bora.
"Apalagi sekarang? Kau mau apalagi sekarang?" Bora bertanya sambil memundurkan wajahnya.
__ADS_1
Agni tiba-tiba meletakkan telapak tangannya di dada Bora sambil bertanya, "Saat aku mencium kamu tadi, dada kamu berdebar-debar tidak? Kalau dadaku berdebar-debar"
Dan sebelum Bora menjawabnya, kepala Agni jatuh di dada Bora dan gadis itu jatuh tertidur di sana.
Bora lalu menarik pelan tubuh Agni agar masuk ke dalam mantel yang ia pakai, kemudian ia meletakkan kepala Agni di atas lengannya agar posisi gadis itu nyaman, lalu ia memeluk Agni dan dengan senyum tampannya, pria gagah itu menatap sendu wajah cantiknya Agni sambil bergumam lirih, "Bisa-bisanya kau mencium seorang pria begitu saja. Kau memang tidak kenal takut Agni"
Lalu, Bora merapikan poninya Agni sambi bergumam lirih, "Iya, Agni. Waktu kau menciumku tadi, dadaku berdebar sangat kencang, badanku membeku, sehingga aku lupa membalas ciuman kamu. Maaf, ya, aku tidak membalas ciuman kamu tadi, karena itu tadi ciuman pertamaku dan aku belum bisa mencernanya dengan baik dan benar" Bora kemudian mengelus pipi Agni dan mempererat pelukannya.
Sementara itu di perpustakaan milik keluarga Caraka, Agha masih aktif dan asyik mencumbui istri kecilnya. Pria tampan itu setelah ia puas menciumi leher Kiana. Agha kembali nekat menyibak rok Kiana dengan perlahan sambil mengajak Kiana berciuman kembali dari arah belakang.
Kedua tangan Kiana meremas rak saat Agha menyibak rambut Kiana dan menciumi tengkuk Kiana dan istri kecilnya Agha seketika membeliak kaget saat merasakan suaminya menyatukan raga dari arah belakang. Agha benar-benar mempraktekan adegan panas persis sama dengan yang ada di halaman tiga puluh tujuh di dalam cerita novel yang sudah Kiana jatuhkan di atas lantai.
Kiana telah menjatuhkan satu buku di lantai sedangkan Agha menjatuhkan banyak buku dari atas rak karena pria tampan dan gagah perkasa itu bergerak liar dan kembali lupa akan janjinya untuk bergerak secara perlahan.
"Teriaklah Kiana! Nggak akan ada yang mendengarnya, ah, ah, ah!!!!!! Panggil namaku! Ah, ah, ah!!!!!"
"Mas Agha!!!!!! Ahhhhh!!!!!!!!" Kiana terkulai lemas dan Agha langsung merapikan baju dan roknya Kiana, lalu bergegas membopong Kiana setelah ia mengeluarkan gairahnya di luar.
Kiana menggelungkan tangannya di leher kokoh suami tampannya dan bertanya dengan wajah letih, "Bagaimana dengan buku-buku yang berjatuhan dan berserakan di lantai, Mas?"
"Aku akan mengurusnya besok. Sekarang kita selesaikan dulu urusan kita di kamar" Agha langsung melesat menuju ke kamarnya sambil terus membopong Kiana setelah ia menutup pintu perpustakaan.
Agha langung menutup pintu kamarnya dengan tumit kaki dan langsung menurunkan tubuh kecil istri cantiknya dengan perlahan. Setelah kaki ramping dan cantik milik istri kecilnya mendarat manis di lantai kamar, Agha langsung menarik pinggang Kiana dan mengajak Kiana berciuman dengan liar dan penuh gairah. Agha kemudian mendorong Kiana dengan pelan ke arah tembok yang ada di samping ranjang sampai punggung Kiana membentur pelan tembok itu. Agha mulai melucuti semua baju Kiana dan melepas sendiri bajunya dan kembali mengajak Kiana berciuman dengan liar dan penuh gairah.
Gerakan Agha yang liar membuat Agha tanpa sengaja menjatuhkan beberapa barang ke lantai. Terdengar suara barang bukan pecah belah yang jatuh dengan iringan lenguhan dan erangan.
Para pelayan yang berjaga di depan kamar Agha menjadi saling pandang dan mereka meletakkan jari telunjuk mereka di bibir mereka sambil berkata, "Ssssttt" Secara bersamaan dan ada senyum malu di wajah mereka masing-masing.
__ADS_1
Agha menyusurkan bibirnya ke seluruh lekuk indah dan sampailah ia di lembah yang sangat ia rindukan. Pria tampan itu terus bergerak menjelajahi lembah tersebut. Saat Kiana melengkingkan kenikmatan dan meremas rambut cepaknya, Agha bergegas bangkit berdiri dan menyatukan raga dengan posisi menggendong istrinya.
Para pelayan yang berjaga di luar kamarnya Agha akhirnya memilih untuk melipir pergi karena mereka sudah tidak kuasa lagi mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar junjungan mereka. Para pelayan itu melangkah ke kamar mereka dengan saling pandang dan saling melempar senyum geli bercampur malu. Para pelayan itu tiba-tiba merindukan suami mereka masing-masing.