Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Kiana merogoh tas kain selempang yang selalu ia bawa ke mana-mana dan ia langsung menunduk, "Aku, kan, nggak punya uang" Lalu, Kiana menoleh ke belakang dengan meringis malu.


Agha yang masih memegang payung untuk memayungi Kiana langsung menyerahkan kantong uang ke Kiana.


Kiana menatap Agha dengan canggung dan berkata dengan nada sungkan, "Maafkan saya , Yang Mulia, saya tidak punya uang, hehehehe"


"Aku tahu itu. Kantong uang kamu nggak ada isinya. Ibu belum kasih kamu uang bulanan, kan?"


Kiana langsung menundukkan wajahnya.


Agha mengulurkan kantong uangnya dan berkata, "Mulai sekarang aku yang akan kasih uang bulanan ke kamu. Uang di kantong itu untuk kamu semuanya. Nggak usah diganti. Kamu Istriku dan kamu berhak meminta kalau kurang dan kamu berhak memakai uangku. Milikku adalah milikmu juga"


Bukankah ini artinya Yang Mulia Agha memakai uangnya untuk membayar kami? Padahal kami udah digaji sama beliau. Apa uangnya akan diminta lagi, nanti? Batin semua anak buahnya Agha yang di pagi itu menyamar menjadi pedagang bahan obat-obatan dan tanaman herbal.


Kiana mengangkat wajahnya untuk menatap Agha dan berkata, "Terima kasih untuk kebaikan Anda, Yang Mulia" Kiana lalu mengambil kantong uang pemberiannya Agha dan kembali berbelanja dengan penuh semangat hingga tanpa Kiana sadari ia berlarian ke meja pedagang yang satu ke yang satunya lagi sampai Agha harus ikut berlarian sambil terus berusaha memayungi Kiana.


Bener-bener, ya, gadis ini, hufftttt hobi banget berlari ke sana kemari. Apa kakinya ada rodanya, ya? Batin Agha sambil melirik kaki Kiana. Namun, yang dilirik kakinya tetap saja berlarian ke sana kemari dengan wajah kegirangan melihat banyak sekali bahan herbal terhampar di depannya tanpa ia harus masuk ke dalam hutan dan mencarinya.


"Yang Mulia! Bahkan rumput langka seperti ini ada!" Kiana tanpa sadar menoleh ke Agha sambil memegang lengan Agha.


Agha seketika menatap tangan Kiana yang menempel manis di lengannya dan saat Kiana hendak menarik tangannya, Agha menahan tangan itu sambil bertanya, "Kenapa ditarik? Kamu boleh merangkul, memeluk, dan menyentuh, bukan hanya lenganku, semua badan ini adalah milikmu. Kamu boleh.......*


Kiana langung menarik tangannya dan berbalik badan lalu berlari meninggalkan. Agha dengan langkah malu. Agha terkekeh geli dan langsung menyusul Kiana sambil mengarahkan payu ke atas kepalanya Kiana.


Setelah mengumpulkan semua bahan herbal ke dalam sebuah peti, Agha meminta salah satu pedagang untuk mengirimkan peti tersebut ke kediaman Caraka dan pedagang itu mengiyakan.


Agha kemudian menoleh ke kanan dan langsung menoleh ke kiri dan berlanjut berputar badan saat ia tidak menemukan Kiana. "Di mana Kiana? Kiana! Kiana! Jangan kayak anak kecil ngajak Suami kamu main petak umpet, ayo keluar! Kiana ini tidak lucu!"


"Namun, sama sekali tidak ada sahutan dan Agha langsung berlari ke kudanya dengan wajah panik saat salah satu anak buahnya juga menghilang dan satu lagi anak buahnya melaporkan kalau temannya mengejar seseorang yang memanggul tubuh nyonya muda lalu orang itu membawa nyonya muda memakai kuda dan berlari masuk ke dalam hutan ke arah selatan.

__ADS_1


Agha menghentak Red Hair untuk melaju kencang ke arah selatan.


Sementara itu ank buahnya Agha yang berhasil menyusul laju kuda pria yang telah lancang menculik nyonya mudanya, mati dipanah oleh pria yang menculik Kiana.


Agha semakin panik saat ia melintasi anak buahnya yang telah terkapar tak bernyawa di atas tanah dengan panah tertancap di tengah dada.


Berapa menit kemudian, Kiana yang tidak kenal obat bius dan selalu terbangun tidak lama kemudian setelah ia dibius, membuka mata dan tersentak kaget saat mendapati dirinya berada di atas kuda yang tengah melaju kencang Kiana yang cerdas dan selalu membawa bubuk yang bisa membuat seseorang tertidur bikinannya sendiri langsung merogoh tas selempangnya dan langsung menaburkan bubuk itu ke orang yang duduk tegak di atas kuda. Pria itu langsung berteriak kencang, melepaskan tali kekang kuda yang langsung direbut oleh Kiana. Saat pria itu terjatuh dari atas kuda, Kiana langsung memutar badan, menaikan kaki kirinya tanpa melepaskan tali kekang kuda. Dengan dada berdebar kencang Kiana akhirnya berhasil mengendalikan kuda dan menghentikan laju kuda itu.


Agha semakin menghentak Red Hair saat ia menemukan ada seorang pria tertelungkup di atas tanah. "Sial! Semoga Kiana baik-baik saja"


Agha terus melajukan kudanya sambil berteriak, "Kiana! Kiana!"


Kiana kemudian melompat turun dari atas kuda lalu berdiri tegak untuk menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu, gadis cantik itu mematung saat ia mendengar samar-samar suara suaminya yang terus memanggil namanya. Kiana sontak berteriak, "Yang Mulia! Saya di sini! Saya di sini!" Sambil melompat-lompat dan mengangkat kedua tangannya.


Agha menghentikan Red Hair persisi di depan Kiana dan langsung melompat turun untuk memeluk erat Kiana sembari berkata dengan nada gemetar, "Syukurlah kamu baik-baik saja, Kiana" Agha mempererat pelukannya dan kembali berkata dengan suara lega, "Syukurlah kamu baik-baik saja, Kiana"


Agha kemudian mengajak Kiana pulang dan mengajak Kiana mampir di sebuah kedai mie kuah yang mereka lewati. Setelah kenyang, Agha mengajak Kiana melanjutkan perjalanan mereka. Sesampainya di depan gerbang kediaman Caraka, Agha dan Kiana langsung dihadang oleh ibundanya Agha di depan pintu gerbang karena Agha dan Kiana pergi dari pagi sampai petang tanpa pamit.


Kiana menghela napas panjang dan melangkah pelan memasuki kediaman Caraka dengan wajah sedih. Ia masih ingin berduaan dengan Agha, namun mertuanya telah membawa masuk suaminya tanpa dirinya.


Agha terpaksa pasrah ditarik ibundanya ke dalam karena Ibundanya berbisik sudah waktunya bagi Agha untuk menjalani transfusi darah. Namun, sebelumnya tabib Gun harus memeriksa Agha terlebih dahulu di ruang kerjanya Agha.


Kiana makan malam hanya ditemani oleh Agni, Bibi Sum, dan Debi. Dia beberapa kali menoleh ke pintu dan berharap suaminya muncul dari balik pintu, namun harapannya hanyalah tinggal harapan semata.


Tiga jam kemudian, Kiana berbaring sendirian di kamarnya. Gadis cantik itu kemudian bangun, bangkit berdiri, dan pergi ke dapur untuk mengambil minum. Seketika langkah Kiana terhenti di depan pintu kamarnya saat ia melihat Agha merangkul bahu Maharani dan membawa Maharani masuk ke dalam kamarnya Agha.


Kiana langsung meremas dadanya dan berlari menuju ke gerbang depan dan tanpa mengenakan baju tebal, Kiana berlari keluar dari dalam kediaman Caraka menerjang hujan salju yang turun cukup deras malam itu. Kiana dibakar kecemburuan dan salah mengira kalau suaminya tidur bersama Maharani malam ini. Kiana merasa ia lebih baik meninggalkan kediaman Caraka daripada harus dimadu dan dia akan meminta cerai kemudian.


Sementara itu, Agha yang masih lemas setelah menjalani rangkaian terapi, obat, dan transfusi darah, berbaring lemah di ranjangnya dengan bantuan Maharani. Saat Maharani nekat melepas bajunya dan menunjukan pakaian dalamnya di depan Agha sambil berkata, "Aku siap menjadi milik kamu sepenuhnya malam ini, Kak Agha"

__ADS_1


Agha sontak memperoleh kembali tenaganya dan ia langsung mendorong Maharani, lalu melesat keluar dari dalam kamarnya.


Maharani memakai kembali bajunya dan dengan wajah kecewa, Maharani berteriak, "Kak Agha tunggu!!!!!!!"


Agha berhasil masuk ke dalam kamarnya Kiana dan langsung keluar kembali untuk bertanya, "Di mana Kiana? Apa dia pergi ke dapur?"


"Nyonya muda tadi berlari keluar sambil menangis dan tanpa mengenakan baju tebal, Yang Mulia. Saya menyusulnya dengan membawakan baju tebal, tapi Nyonya sudah menghilang"


Agha tersentak kaget dan saat ia hendak berlari menuju ke gerbang depan, pria tampan itu menghentikan kakinya ketika ia melihat Agni berlari ke arahnya sambil berteriak, "Kak Kiana pingsan di......"


Agha langsung melesat berlari meninggalkan Agni tanpa menunggu Agni menyelesaikan kalimatnya.


Setelah berlari cukup jauh, Agha berhasil menemukan Kiana yang tengah dijaga oleh Bora. Bora hanya berdiri di depan Kiana yang tidak sadarkan diri karena ia takut kena gampar junjungannya kalau ia membopong Kiana tanpa ijin.


Agha melupakan rasa lemas dan pening di tubuhnya dengan segera ia membopong istrinya dan berlari kembali ke kediamannya.


Setelah Agni berhasil membuat Kiana sadar, Agha memerintahkan Agni untun keluar dan Agha langsung mengelus pipi Kiana sambil berkata, "Kenapa kau nekat berlari keluar menerjang salju tanpa baju tebal dan alas kaki? Apa yang kamu pikirkan?"


"Apa Anda hanyalah seseorang yang bukan takdir saya, tapi memiliki ruang di hati saya, Yang Mulia?"


Agha membeliak kaget dan langsung berkata, "Apa ini arinya kamu tengah menyatakan cinta padaku?"


Kiana langsung merosot turun dari ranjang dan berlutut di depan Agha dan berkata, "Ma.....maafkan saya yang telah lancang menempatkan Anda di hati saya ,Yang Mulia"


Agha bergegas membungkuk, memegang kedua bahu Kiana dan mengangkat Kiana untuk ia peluk erat.


"Kenapa Anda memeluk saya, Yang Mulia? Kiana mematung di dalam dekapan hangatnya Agha.


Agha mengelus-elus punggung Kiana sambil berkata dengan suara gemetar, "Aku memeluk kamu, aku mencium kamu, aku mencari kamu dengan panik tadi, karena aku mencintaimu, Kiana"

__ADS_1


Kiana lalu mendorong dada Agha dan menatap Agha dengan tatapan tidak percaya.


Agha menyentuh pipi kanan Kiana dan berkata dengan sorot mata sendu, "Iya. Aku mencintaimu, Istri kecilku"


__ADS_2