
Di dalam istana, kaisar Abinawa tengah berbincang dengan jenderal Arya di ruang rahasianya, "Aku tahu kalau permaisuri yang telah membunuh Jelita dan membunuh putraku. Untung saja putraku berhasil diselamatkan oleh Bima. Sejak aku tahu kalau permaisuri sejahat itu, aku tidak pernah mau mendekatinya lagi. Cuma sayangnya aku tidak punya bukti untuk memberikan hukuman padanya"
"Bagaimana Anda tahu kalau permaisuri yang membunuh mendiang ratu?" Tanya Jenderal Arya.
"Aku secara tidak sengaja menemukan tusuk konde emas kesayangannya Jelita di laci meja riasnya permaisuri. Tusuk konde emas berbentuk naga adakah hadiah yang aku berikan khusus untuk Jelita saat Jelita ulang tahun"
"Itu tidak bisa dijadikan bukti untuk menghukum berat permaisuri" Gumam Jenderal Arya.
"Iya, makanya aku bingung sekarang ini bagaimana menemukan bukti untuk menghukum permaisuri atas kejahatannya membunuh mendiang ratu dan dia juga berniat membunuh putraku, putra mahkota yang sesungguhnya" Sahut Kaisar Abinawa.
Sementara itu di klinik pribadinya Kiana yang didesain dengan penuh cinta oleh Agha Caraka, Kiana mulai meniup peluit di depan Agni yang masih menatapnya dengan wajah penuh tanda tanya.
Agni tersentak kaget saat ia melihat ada sebuah cermin yang muncul tiba-tiba di antara dia dan kakak iparnya.
"Kok, mendadak ada cermin?" Agni bergumam takjub diliputi dengan rasa penasaran.
Kiana tersenyum dan berkata, "Ini cermin ajaib. Kakek cermin akan mengantarkan kita ke hutan siluman. Tapi sebelumnya aku mau bertanya terlebih dahulu sama Kakek cermin"
Agni menatap kakak iparnya dengan wajah bengong.
"Kakek? Maaf mengganggu waktu Kakek"
"Ada apa Kiana?" Suara seorang kakek yang berwibawa memenuhi ruangan klinik pribadinya Kiana.
Agni langung mundur ke belalang sambil bertanya panik, "Suara siapa itu?"
Kiana tersenyum ke Agni dan berkata, "Jangan takut! Ini Kakek cermin. Kakek cermin adalah Kakek yang sangat baik dan beliau adalah Kakek angkatku"
"Hah?!" Agni sontak ternganga lebar di depan kakak iparnya yang cantik.
"Siapa gadis cantik di sampingmu itu, Kiana? Kenapa tidak kau kenalkan dulu ke Kakek"
"Oh, ini adik iparku, Kek"
Agni tersenyum lalu menangkupkan tangan di depan dada sambil berkata dengan wajah penuh tanda tanya, "Saya Agni, Kek, salam kenal"
__ADS_1
"Senang berkenalan dengan kamu" Sahut Kakek cermin. "Ada apa kau meniup peluit Kiana?"
"Apakah Kakek bisa membawa aku dan Agni ke hutan siluman, Kek dan setelah kami mengambil teratai jingga yang ada di danau beku apakah Kakek bisa membawa kami balik ke sini lagi?"
"Bisa, dong. Tapi setiap kali kamu masuk ke dalam cerminku, kamu harus menyelesaikan sebuah misi"
"Hah?! Misi apa?" Tanya Kiana dan Agni secara bersamaan.
"Ada seorang wanita di hutan siluman yang dibuang oleh permaisuri di dunia kamu puluhan tahun silam dan wanita itu masih hidup. Selamatkan dia dari sekapan hantu siluman yang menguasai hutan siluman dan aku akan keluarkan kalian dengan selamat bersama dengan wanita itu kalau kalian berhasil menyelamatkannya dari sekapan hantu siluman itu"
Tanpa berpikir panjang, Kiana mencangklong tas selempangnya dan menoleh ke Agni untuk berkata, "Bawa pedang kamu, Agni!"
Agni langsung meraih pedangnya dan mendekap pedang itu masih dengan wajah penuh tanda tanya dan Agni tersentak kaget saat Kiana berkata, "Baik, Kek, kami siap"
"Kalau begitu masuklah ke dalam cermin"
Agni sontak mendelik kaget dan menyemburkan "Eits, Kak, emm, tunggu du.........." Namun, sebelum Agni sempat menyelesaikan kalimatnya, Kiana sudah menarik tangan Agni dan masuk ke dalam cermin.
Di hutan Arang Hitam, "Ternyata benar kata Putra mahkota, Agha itu terkenal garang dan kejam dan wajahnya selalu dingin tanpa ekspresi tapi hatinya hangat dia memiliki hati yang tidak tegaan" Ucap kakek yang mengaku bernama Karyana itu.
Lalu, Kakek yang mengaku bernama Karyana itu melesat ke depan, membunuh kusir kereta kuda dan membalik kereta kuda sambil berteriak kencang, "Hiyaaaa!" Lalu ia melajukan kereta kuda milik kantor penyidik itu ke arah yang berlawanan dengan Agha dan Bora yang tengah asyik meladeni para perampok berilmu tinggi.
Bora sontak berteriak, "Yang Mulia! Kereta kudanya dibawa lari Kakek itu!"
Agha sontak mengumpat dengan wajah penuh amarah, "Sial! Ternyata benar kakek dan cucunya itu penipu!" Agha ingin mengejar kereta kuda itu, namun tidak berhasil. Dia masih dihadang puluhan perampok berilmu tinggi.
"Sial! Siapa guru silat para perampok ini? Mereka cukup sulit ditaklukkan. Aku bisa mengalahkan mereka sekali libas habis kalau aku berubah menjadi naga. Tapi kalau aku berubah menjadi naga di tempat terbuka seperti ini, aku takut ada yang melihat dan melaporkannya ke permaisuri. Sial! Bora juga kelihatan mulai kewalahan" Gumam Agha sambil terus melakukan gerakan menendang dan meninju.
Bora langsung mengeluarkan ilmu badai saljunya saat ia mulai terdesak. Pria tampan kekasihnya Agni itu sontak mengangkat tangan kanannya ke atas dan memusatkan semua inti tenaga dalamnya ke telapak tangan kanannya dan di saat telapak tangannya dikelilingi cahaya biru, Bora langsung berputar cepat lalu terjadilah badai salju yang sangat dahsyat. Puluhan orang yang mengepung Bora langsung berjatuhan di atas tanah dan tak sadarkan diri.
Agha yang berada cukup jauh dari Bora selamat dari amukan badai saljunya Bora, tapi Agha belum selamat dari kepungan puluhan perampok.
Bora selalu lemas setelah ia melepaskan ilmu andalannya dan pria tampan kekasihnya Agni itu kemudian bersimpuh di atas tanah untuk mengumpulkan kembali energinya dan dia butuh waktu cukup lama untuk itu. Paling cepat setengah jam.
Agha langsung terbang melesat menghadang beberapa perampok yang ingin mendekati Bora. Agha langsung membungkuk dan menapakkan kedua telapak tangannya di atas tanah sambil berteriak, "Arrgghhhhhhh!!!!!!" Mata Agha berubah menjadi merah semerah darah kental dan tanah yang ia tapak dengan kedua telapak tangannya mengeluarkan cahaya putih dan puluhan perampok yang mengelilingi Agha langsung berteriak kesakitan dan kejang-kejang. Mereka seperti terkena setrum listrik berdaya cukup tinggi dan tak begitu lama para perampok yang mengelilingi Agha jatuh bergelimpangan di atas tanah dalam keadaan gosong.
__ADS_1
Agha lalu menegakkan badan dan langsung melesat ke Bora. Agha kemudian merangkul bahu Bora dan mengajak Bora melesat terbang saat ia melihat ada puluhan perampok berdatangan dari arah tenggara.
"Sial! Kenapa banyak sekali perampok di hutan ini?"
"Hutan ini memang hutan yang sangat cocok untuk dijadikan jebakan, Yang Mulia" Sahut Bora.
"Iya. Kamu benar"
Agha kemudian menghentikan laju terbangnya di depan sebuah hutan.
"Kenapa ada hutan lagi di depan kita?" Agha masih merangkul bahu Bora.
Bora yang masih lemas langsung menyahut, "Itu hutan siluman. Belum pernah ada satu manusia pun yang masuk ke hutan ini bisa keluar dalam keadaan hidup, Yang Mulia"
"Berarti tidak ada satu orang pun berani masuk ke hutan siluman itu?"
"Iya" Bora mengangguk mantap meskipun tubuhnya masih lemas. Itu Bora lakukan agar junjungannya tidak nekat masuk ke dalam hutan siluman.
Agha yang memiliki pendengaran tajam bisa mendengar kalau puluhan perampok yang mengejarnya hampir mendekati dirinya dan Bora. "Tapi hanya hutan ini yang bisa menyelamatkan kita. Kita masuk dan selamat dulu. Untuk masalah keluarnya, kita cari solusinya bersama-sama nanti. Lagian kamu masih butuh waktu untuk memulihkan diri kamu"
"Tapi Yang Mulia, Anda tidak boleh........"
Wuzzzzzzzzz!!!!!!!!!
Bora terlambat melarang Agha melesat masuk ke dalam hutan siluman.
Yeaahhhhh, masuk deh. Batin Bora dengan wajah menyerah pasrah.
"Oke. Apa yang akan terjadi selanjutnya?"
"Saya tidak tahu Yang Mulia, saya belum pernah masuk ke dalam hutan ini" Sahut Bora.
Tiba-tiba ada kilatan cahaya menyilaukan dari atas langit dan sesuatu, ah, tidak, ternyata seseorang menimpa tubuh Agha dan Bora.
Kiana jatuh di atas tubuh Agha dan Agni jatuh di atas tubuh Bora. Keempat-empatnya langsung saling pandang dengan mata membeliak kaget.
__ADS_1