Istri Kecil Jenderal Agha

Istri Kecil Jenderal Agha
Belati


__ADS_3

Sementara itu, Tabib Danur yang berangkat ke Kerajaan Timur bersama dengan kedua anak dan istrinya, tampak selalu termenung dan wajahnya tampak tidak ceria.


Tabib Danur yang berada di dalam kereta kuda bersama istrinya dan terpisah dengan kereta kuda kedua anaknya langsung mendapatkan semburan dari istrinya, "Kenapa kamu selalu termenung, wajah kamu suram, dan kamu selalu pulang larut malam beberapa hari ini, Mas? Apa aku sudah nggak menarik lagi bagimu? Apa aku sudah tidak berarti lagi bagimu, hah?! Jawab, Mas! Pria emang begitu, ya, suka memikirkan wanita lain padahal istrinya ada di sebelahnya"


Tabib Danur yang tengah bersedekap dan memejamkan mata memilih mengabaikan semburan pedas dari istrinya.


"Mas, jawab!" Istrinya tabib Danur menggoyang tubuh Tabib Danur dengan wajah kesal.


Tabib Danur yang masih bersedekap dan memejamkan kedua matanya hanya menyahut, "Aku banyak pekerjaan akhir-akhir ini dan aku capek. Jangan berisik!"


"Apa aku ini kurang langsing? Apa aku kurang cantik? Apa kekuranganku jika dibandingkan dengan Kayla, Mas?"


"Nggak ada yang kurang" Sahut Tabib Danur tanpa membuka kedua matanya.


"Bohong! Kalau kamu bilang aku ini nggak ada kurangnya, kenapa kamu mengacuhkan aku beberapa hari ini, Mas? Bilang saja kalau kamu memikirkan Kayla, bilang aja kalau masih sangat mencintai Kayla, kan? Apa dia lebih penting bagi kamu dibandingkan aku, Mas? Aku tahu kalau aku dan kamu itu dijodohkan oleh orangtua kita, tapi kamu tahu, kan, kalau aku ini tulus mencintai kamu. Aku sangat mencintaimu, Mas. Buktinya aku sudah berikan dua anak untuk kamu. Lalu, bagaimana dengan kamu, Mas? Kamu lebih mencintai Kayla atau aku?"


Tabib Danur hanya diam membisu dan mematung.


Istrinya tabib Danur kembali menggoyangkan badannya sambil berkata, "Mas, jawab aku!"


Tabib Danur menghela napas panjang lalu ia bangkit berdiri dan sambil berjalan pelan ia berkata, "Aku akan pindah ke keretanya anak-anak"


"Mas!"


Teriakan istrinya tidak menyurutkan langkah tabib Danur untuk pindah ke kereta kuda anak-anaknya


"Oke, pergi saja sana! Pikirkan terus Kayla, cih!" Istrinya tabib Danur berteriak kesal sambil meremas kedua ujung roknya.


Setelah menyuruh pak kusir menghentikan kereta kuda, Tabib Danur menuruni anak tangga kereta kuda sambil menghela napas panjang.


Lalu, istrinya tabib Danur bergumam dengan wajah kesal, "Kenapa Kayla selalu saja beruntung. Dia selalu saja lebih beruntung dari aku? Dia mendapatkan tempat spesial di hati Mas Danur dan aku tahu pasti soal itu. Sampai sekarang pun aku masih bisa merasakan kalau mas Danur masih sangat mencintai Kayla. Lalu, sekarang Kayla akan menikah dengan Raja Abimantya yang kaya raya dan sangat tampan itu. Huh! Dasar wanita menyebalkan!"


Di kerajaan Timur, Kayla tengah dimanja oleh calon suaminya. Dia dimandikan dengan bunga tujuh rupa, setelah itu ia dipijat, kemudian sekujur tubuhnya dibalut lulur rempah, dan terakhir Kayla menjalani perawatan jari kaki dan tangan.


Di saat Kayla tengah menjalani perawatan rambut, raja Abimantya yang seharian mengurus politik bersama para menteri, masuk ke kamar pribadinya Kayla.


Melihat raja Abimantya masuk, para dayang yang tengah merawat rambut Kayla sontak membungkukkan badan lalu keluar dari dalam kamar calon istri raja mereka.


Kayla langsung bangkit berdiri dan menekuk lututnya sambil berkata, "Selamat datang, Yang Mulia"


Abimantya langsung menggenggam lembut kedua bahu Kayla lalu memeluk Kayla dan berkata, "Seharian ini aku sibuk bekerja mengurus kerajaanku. Seharian aku tidak melihat wajah kamu. Aku sangat merindukan kamu, Kayla"


"Terima kasih sudah merindukan saya, Mas" Sahut Kayla tanpa ia sadari.


Raja Abimantya langsung mendorong pelan kedua bahu Kayla untuk menatap wajah cantik calon istrinya dan untuk bertanya, "Kau bilang apa barusan?"

__ADS_1


Kayla terkejut dan langsung berkata, "Maafkan saya, Yang Mulia. Saya sepertinya memanggil Anda, Mas. Maafkan saya"


Raja Abimantya langsung menangkup wajah cantik calon istrinya sambil menggemakan tawa bahagianya. Lalu, raja tampan dan hanya bisa bersikap lembut pada Kayla itu berkata, "Kenapa harus meminta maaf? Aku justru senang kamu mau memanggilku, Mas. Mulai detik ini panggil aku, Mas, saat kita berduaan seperti ini"


"Baik" Sahut Kayla.


"Panggil aku, Mas, lagi, dong"Raja Abimantya menatap wajah cantik calon istrinya dengan menyunggingkan senyuman.


"Baik, Mas" Kayla tersipu malu dan raja Abimantya langsung memagut bibir Kayla dan mengajak Kayla berciuman dengan penuh kelembutan.


Dan di depan gerbang kerajaan Pusat, Jenderal kepercayaannya Aisyah yang bernama Saja terkesiap mendengar ratunya ingin pergi ke kerajaan Timur.


"Apa Anda mendapatkan undangan, Ratu?" Tanya Saha.


"Tidak" Sahut Aisyah dengan santainya sambil melangkah naik ke atas kereta kuda.


Saha sontak mengekor langkah ratunya sambil bertanya, "Lalu, kenapa Anda nekat pergi ke kerajaan Timur?"


"Karena pujaan hatiku menuju ke sana dan selain itu, aku ingin berkenalan dengan raja Abimantya lalu menjalin hubungan bilateral dengan kerajaan Timur untuk memperkuat kerajaan kecil kita" Sahut Aisyah sambil duduk di bangku yang ada di dalam kereta kuda spesialnya.


Saha duduk di depan ratu Aisyah dengan perasaan kacau balau. Dia sudah lama jatuh cinta pada Aisyah, namun dia tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya karena ia takut merusak persahabatannya dengan Aisyah yang sudah terjalin sejak mereka masih sama-sama remaja. Dan kini saat melihat dan mendengar sendiri Aisyah mencintai pria lain yang jauh lebih hebat dari dirinya, hatinya terasa seperti dicabik-cabik burung pemangsa.


"Bagaimana menurut kamu? Ideku cemerlang, kan?" Tanya Aisyah dengan senyum bangga.


"Kita hanya berada berdua di sini. Kenapa kamu memakai bahasa formal padaku?" Tanya Aisyah.


"Karena sudah terbiasa" Sahut Saha acuh tak acuh sambil bersedekap dan memejamkan kedua matanya. Hati Saha masih dipenuhi kecemburuan.


Aisyah tersenyum geli melihat tingkah konyolnya Saha, sahabatnya sejak ia masih remaja. Lalu, Aisyah ikutan bersedekap dan memejamkan matanya.


Agha terbangun dan menoleh ke samping kirinya, lalu tersenyum saat ia mendapati wajah tirus istri kecilnya di dalam gelungan lengannya.


Agha mengecup kening Kiana, lalu ia menarik pelan lengannya. Setelah berhasil menarik lengannya, Agha merebahkan kepala Kiana dengan perlahan di atas bantal dan setelah menarik selimut sampai ke pundak Kiana yang tengah tidur miring, Agha bangun tanpa mengeluarkan suara.


Agha kemudian berjalan ke depan dan saat ia menyibak tirai, ia langsung duduk di belakang kursi pak kusir untuk bertanya pada Bora yang duduk di sebelah pak kusir, "Semua aman, kan? Tidak ada yang terjadi selama aku tidur?"


Bora menoleh ke belakang dan langsung berkata, "Aman" Sambil bangkit berdiri untuk berpindah duduk di belakang. Setelah duduk berhadapan dengan junjungannya, Bora berkata, "Apakah Yang Mulia sudah segar bugar sekarang ini?"


"Hmm. Ada apa? Ada hal penting apa yang ingin kau sampaikan padaku?" Tanya Agha sembari bersedekap dan menyilangkan kaki.


"Apakah Anda sudah mengatakan ke Ratu Kiana kalau Anda memberikan tanda persahabatan ke Ratu Asiyah, Yang Mulia?" Tanya Bora.


"Belum dan aku rasa itu tidak perlu. Nggak penting juga, kan?"


"Tapi, kenapa itu sangat penting bagi saya, Yang Mulia"

__ADS_1


"Jadi, itu hal penting yang sejak tadi ingin kamu sampaikan ke aku?" Sahut Agha dengan wajah santai.


"Iya, Yang Mulia dan saya rasa itu sangat penting karena tadi siang saya mendapatkan amarahnya Agni. Agni kebetulan melihat Ratu Aisyah memakai jubah tanda persahabatan dari saya dan Agni langsung mencecar saya dengan pertanyaan-pertanyaan penuh amarah, lalu Agni........."


"Pffftttt!" Agha sontak mengulum bibir menahan geli.


Bora sontak menautkan kedua alisnya dan bertanya, "Kenapa Anda tertawa, Yang Mulia?"


"Karena kamu itu bodoh. Tentu saja kamu bakalan ketahuan karena kamu kasih tanda persahabatan ke Aisyah berupa jubah.


"Tapi, Anda jangan tertawa dulu, Yang Mulia, bisa jadi Anda ..........


"Kalau aku lain. Aku kasih Aisyah belati. Belati tempatnya di balik ikat pinggang atau di tumit dan tertutup celana panjang, kan. Jadi, aman" Agha tersenyum bangga.


"Tapi, tetap saja suatu saat bisa ketahuan, Yang Mulia. Kenapa sepertinya Anda tidak berniat memberitahukan Ratu Kiana soal belati keberuntungan Anda yang Anda berikan ke Ratu Aisyah, Yang Mulia?" Bora menarik kedua alisnya ke dalam.


"Kamu sendiri kenapa tidak kasih tahu ke Agni sejak awal?" Agha menaikan kedua alisnya.


"Itu karena saya lupa, Yang Mulia dan saya lihat Anda tidak lupa. Benar, kan?"


"Sial! Kamu sangat mengenalku, Bora. Iya, aku tidak lupa soal belati itu"


"Tapi, kenapa Anda saya lihat enggan memberitahukan soal belati itu ke Ratu Kiana? Kenapa Yang Mulia?" Sahut Bora masih dengan wajah yang dipenuhi tanda tanya.


"Karena, emm, Kiana sudah berkata kalau dia tidak menyukai Aisyah. Kiana juga berkata kalau aku tidak boleh menemui Aisyah sendirian. Kalau aku kasih tahu soal belati itu, kau bisa tebak, kan, apa yang akan terjadi?"


Bora langsung menggelengkan kepala dan berkata, "Saya tidak tahu apa yang akan terjadi karena Ratu Kiana bukan Agni"


Agha langsung menendang pelan kaki Bora sambil berkata, "Kiana akan cemburu, bodoh! Dia bisa ngambek lagi. Aku takut kalau dia ngambek lagi. Diabaikan wanita yang aku cintai itu rasanya sangat menyiksa, Bora. Kau pernah mengalami itu, kan?"


Bora kembali menggelengkan kepalanya dan berkata, "Saya belum pernah mengalaminya karena Ratu Kiana bukan Agni, Yang Mulia"


"Yeeeaahhh, kamu benar. Agni kalau marah memang meledak-ledak tapi dia nggak pernah ngambek. Tapi, Kiana beda. Kiana kalau marah nggak meledak-ledak kayak Agni, tapi tahu-tahu ngambek dan mendiamkan aku"


Bora langsung berkata dengan wajah sangat serius, "Meskipun begitu, saya sarankan Anda tetap memberitahukan soal belati Anda ke Ratu Kiana, Yang Mulia. Takutnya kalau Ratu tahu soal belati itu dari orang lain, maka Ratu akan lebih ngambek dan lebih marah. Kalau Anda yang memberitahukannya, meskipun marah dan cemburu, Ratu Kiana pasti bisa menghargai kejujuran Anda dan ........."


Agha langsung bangkit berdiri.


Bora sontak mendongak dan bertanya, "Ada apa Yang Mulia, kenapa Anda tiba-tiba berdiri?"


"Aku akan kasih tahu ke Kiana soal belati itu sekarang juga. Makasih Bora" Agha memeluk Bora lalu ia bergegas kembali masuk ke dalam kereta kuda.


Bora tersenyum senang karena junjungannya masih mau memeluk dirinya. Junjungan yang sudah ia anggap seperti Kakak laki-lakinya.


Bora kemudian bergumam, "Semoga saja Ratu Kiana bisa menerima soal belati itu"

__ADS_1


__ADS_2