
Di kamar sang raja, aktivitas panas dan liar masih berlanjut dan kali ini Agha mengajak Kiana bercinta di atas ranjang. Ranjang yang sudah sangat ia rindukan.
Setelah menciumi wajah Istrinya dan menjelajahi tubuh ramping istrinya yang sangat menggoda, Agha mengerang dan tanpa meminta ijin dia bergerak liar di titik kenyal favoritnya. Giliran Kiana yang mengerang frustasi. Agha kemudian bergerak ke atas dan mengajak Kiana kembali berciuman. Dengan lebih intens, liar, dan menuntut.
"Kau.........." Agha menatap Kiana dengan sorot mata sendu dan berkata dengan suara serak.
"Apa, Mas?" Kiana bertanya dengan suara gemetar.
"Kau sangat indah, Kiana" Suara Agha semakin terdengar serak.
Agha kemudian kembali ke titik kenyal favoritnya.
Puncak gunung kembar mengeras di bawah tatapan panas yang menuntut dan Kiana menjerit lirih saat pria tampan itu menyapukan jemarinya pada puncaknya. Kiana sampai harus menggigit bibir agar tidak menjerit keras.
Tidak lama kemudian penyatuan raga kembali terjadi. Penuh gairah, penuh cinta, dan penuh dengan kerinduan.
Sementara itu di dalam kamar tamu, terdengar gumaman lirih, "Kalau aku ingin memperjuangkan cintaku sebenarnya sangat mudah. Aku tinggal memberikan hadiah pasukan Padang pasir sebanyak tiga puluh ribu dan seratus elang hutan terlatihku untuk mendukung kerajaan pusat ini dengan balasan aku harus menikah dengan Agha. Menjadi selirnya pun tak apa" Gumam Aisyah dengan senyum lebar sambil terus mengusap belati kecil bersarung emas pemberiannya Agha. Belati kecil itu adalah belati yang selalu Agha bawa ke mana-mana dan Agha letakan di dalam sepatunya. Sebagai senjata rahasia yang bisa Agha gunakan pas ia terdesak.
Aisyah memandangi rusuk konde itu dan mengingat kembali momen di mana ia meminta kenang-kenangan dari Agha. Agha tampak kebingungan kala itu dan Aisyah sangat menyukai momen itu. Wajah Agha yang kebingungan kala itu, Aisyah anggap sebagai wujud kepeduliannya Agha padanya. Agha bingung memberikan kenang-kenangan berupa apa untuk Aisyah.
"Kamu sudah berikan setelan baju khas Padang pasir, satu set perhiasan, dan seekor elang hutan favorit kamu sebagai kenang-kenangan, sedangkan aku nggak punya apa-apa yang berharga yang bisa aku berikan. Emm, kalau Bora kasih apa ke kamu?"
Aisyah tersenyum dan berkata, "Saya kasih kenang-kenangan ke Bora satu ekor elang hutan dan tusuk konde emas khas Padang pasir sebagai kenang-kenangan. Lalu, Bora kasih kenang-kenangan ke aku jubahnya dan sebuah gelang giok yang sangat cantik"
__ADS_1
"Sial! Jubah Bora itu adalah jubah yang selalu Bora pakai selama ini dan jubah itu Bora anggap sebagai jubah keberuntungannya. Bora kasihkan begitu saja ke kamu?" Agha tersentak kaget.
"Benarkah? Wah, saya tersanjung kalau begitu. Bora sangat menghargai persahabatan saya dan dia" Sahut Aisyah.
"Sial! Aku mana mungkin kalah sama Bora. Tapi, aku harus kasih apa ke Aisyah untuk kenang-kenangan?" Gumam Agha.
Aisyah tersenyum lalu berkata, "Kalau tidak ada tidak usah dipaksakan, Jenderal. Anda sudah menebus saya dari penculik dan sudah membantu saya mendapatkan kembali tahta"
"Tidak, tidak! Kamu juga sudah berulangkali menyelamatkan aku dan Bora dari bahaya. Kedudukan kita sama soal penyelamatan. Lagipula Bora.kasih kamu jubahnya untuk kenang-kenangan tentu saja aku juga harus kasih kamu sesuatu untuk kenang-kenangan. Emm, aku tahu!" Agha memekik riang lalu mengangkat kaki kanannya. Agha merogoh sepatunya dan mengeluarkan pisau kecil bersarung emas yang sangat unik dan indah.
Agha menyerahkan belati bersarung emas itu dan berkata, "Bora menganggap jubahnya adalah keberuntungannya dan aku menganggap belati emas ini adalah keberuntunganku. Jadi, aku dan Bora sama kedudukannya saat ini. Ini untukmu"
Aisyah menerima pemberian Agha dengan wajah semringah dan hati berdesir indah. Saking bahagianya, Aisyah langsung menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Aisyah kemudian berkata, "Terima kasih, Jendral. Ini adalah kenang-kenangan yang sangat berharga bagi saya"
Aisyah mengangkat wajahnya saat tidak ada sahutan dari Agha dan ia menatap punggung Agha kala itu dengan senyum semringah. Dia berasumsi Agha bergegas pergi karena Agha merona malu. Padahal Agha bergegas pergi karena ingin mencari Bora dan melancarkan protes. Gara-gara Bora, Agha kehilangan belati keberuntungannya.
Asiyah kemudian tertidur sambil memeluk belati dari Agha.
Keesokan harinya..............
Agha mengusap lembut pipi Kiana dan tersenyum penuh cinta saat Kiana membuka mata dengan malas.
"Selamat pagi, Cantik"
__ADS_1
"Selamat pagi, Tampan" Kiana tersenyum malu-malu menatap Agha karena ia baru saja memuji ketampanan suaminya.
Agha tertawa senang dipuji tampan oleh istri cantiknya, lalu pria tampan itu mencium kening Kiana, menatap Kiana dan mengusap lembut pipi Kiana sambil bertanya, "Apakah semalam kamu kesakitan, Sayang?"
Kiana memeluk tubuh atletis suaminya lalu menyusupkan wajahnya di dada bidang suami tampannya untuk menyembunyikan rona malu dan berkata di sana, "Tidak sakit, Mas. Rasanya.....emm, sangat luar biasa" Kiana berkata sangat lirih karena malu.
Agha mengusap lembut rambut Kiana dan membenamkan wajahnya di pucuk kepala Kiana lalu berkata di sana, "Tapi, kenapa kemarin kamu menitikkan air mata, Sayang? Maafkan aku kalau semalam aku terlalu liar"
Kiana menarik wajahnya dari dada Agha lalu berkata dengan senyum bahagia, "Mas, nggak menyakitiku. Aku justru merasa sangat utuh menjadi seorang wanita dan aku merasa sangat bahagia. Semalam, Mas sudah membuatku merasa sempurna sebagai seorang Istri sampai aku menitikkan air mata"
"Kau juga sudah membuatku sangat bahagia, Kiana. Tidak aku sangka kalau membikin anak itu rasanya sangat,emm, seperti yang kau katakan tadi, sangat luar biasa"
"Aku berdoa semoga aku cepat hamil" Kiana mengusap perut ratanya.
Agha kemudian menarik Kiana semakin dekat hingga tubuh mereka yang masih polos menempel. Kulit tubuh mereka bersentuhan dan membuat gelombang hasrat kembali menggelora di dalam diri sepasang suami istri yang saling mencintai sangat dalam itu. Lalu, Agha menangkup wajah Kiana dan berkata, "Kiana Istri kecilku, mengingat performaku semalam yang sangat hebat, aku jamin kau akan cepat memiliki bayi imut di dalam sini" Agha ikut mengusap perut raya istri kecilnya.
Kiana terkekeh geli dan berkata, "Aku ingin terus menatap wajah kamu, Mas"
Agha mengecup bibir Kiana lalu berkata, "Aku tidak akan pernah membiarkan kau lepas dari pandanganku dan kau tahu tidak kalau saat ini aku sangat ingin memiliki keluarga kecil denganmu. Satu anak laki-laki yang gagah seperti diriku dan satu anak perempuan yang cantik seperti kamu. Aku mengingnkan itu, Sayang"
Kiana mengangguk, desakan perasaan bahagia menyebar dari hatinya ke seluruh tubuhnya. Air mata kembali menitik dan membuat pandangannya kabur. "Aku juga menginginkannya, Mas. Aku mencintaimu, Mas. Sangat"
"Aku juga mencintaimu Kiana. Sangat"
__ADS_1
Agha dapat merasakan jantung Kiana berdegup seirama dengan degup jantungnya. Ketika bibir kIana membuka pasrah di bibirnya, pria tampan itu menarik Kiana lebih dekat lagi, dan Agha tidak bisa untuk tidak menuntut lebih.