
Sementara itu di dalam istana, Pangeran Adyaksa datang ke paviliun Cendana tempat tinggal Permaisuri dan para selir kesayangannya kaisar. Pangeran Adyaksa datang ke paviliun tersebut untuk menemui Permaisuri.
Permaisuri bersedia menemui Adyaksa karena pangeran Adyaksa memiliki reputasi yang cukup bagus di kerajaan dan pangeran Adyaksa adalah keponakannya Kaisar.
Setelah duduk saling berhadapan di antara meja bundar besar yang terbuat dari keramik, permaisuri bertanya, "Tumben kamu mengunjungi aku sepagi ini? Ada hal penting apa yang ingin kamu sampaikan, Adyaksa?"
Pangeran Adyaksa meletakkan sebuah kotak cukup besar di atas meja lalu mendorongnya sampai di depan permaisuri dan berkata, "Saya tidak bisa menerima hadiah ulang tahun semahal ini, Permaisuri. Maafkan saya"
"Kenapa? Apa kau mau menghinaku dengan mengembalikan kado dariku ini?"
Karena Anda selalu meminta pamrih setiap kali Anda memberikan hadiah yang besar dan mahal. Batin Adyaksa.
"Bukan karena saya ingin menghina Anda, tapi saya tidak siap menerima konsekuensi di balik kado tersebut"
"Konsekuensi apa? Aku tulus memberikan kado ini untuk kamu"
Benarkah? Cih! Dasar wanita licik menjijikkan. Batin Adyaksa kesal.
"Saya tahu Anda tulus dan saya menghargai ketulusan Anda. Namun, hadiah dari Anda berupa pesta kejutan kemarin lusa, sudah cukup bagi saya" Adyaksa kemudian bergegas bangkit berdiri, membungkukan badan, dan berkata, "Maaf, saya pamit, Permaisuri" Adyaksa kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan permaisuri.
Permaisuri menatap punggung Adyaksa sembari bergumam, "Dia pria yang cerdas juga ternyata. Tapi, aku tidak akan kalah akal untuk menjadikan kamu sebagai bonekaku, Adyaksa. Tunggu saja!" Permaisuri kemudian menyeringai penuh arti.
Adyaksa pun bergumam, "Aku nggak akan jatuh ke dalam perangkap kamu. Aku juga nggak akan biarkan kamu menyakiti Agha dan Kiana"
__ADS_1
Dan di dalam kediaman Caraka, tampak tiga orang anak manusia tengah bercengkerama dengan asyiknya di tengah taman yang luas dan penuh bunga warna-warni.
"Kakak ipar hebat sekali! Kakak ipar bisa mengobati berbagai macam penyakit dan aku dengar Kakak ipar juga telah menyembuhkan luka di perut Kak Agha dan Kakak ipar juga menghilangkan racun di perut Kak Agha"
Kiana mengibaskan tangannya sambil tersenyum malu dan berkata, "Ah, biasa saja. Jangan terlalu memujiku. Aku bisa besar kepala nanti, hehehehe"
"Kakakku memang hebat dan juga cantik" Sahut Kendra yang masih berumur lima tahun lebih beberapa bulan.
Kiana mengusap pucuk kepala Kendra dan berkata, "Ssstttt! Jangan memuji Kakak terlalu berlebihan"
"Iya. Aku setuju sama Kendra. Kakak ipar memang cantik. Cuma, Kakak ipar terlalu kurus" Sahut Agni
"Kamu juga sangat cantik. Tubuh kamu sangat bagus. Kamu jauh lebih cantik dari aku Kamu tinggi dan keren" Sahut Kiana sambil menatap Agni dengan sorot mata penuh kejujuran dan kekaguman.
Kiana dan Agni kemudian saling berpelukan dan tertawa lepas secara bersamaan.
"Aku juga senang bisa bertemu dan berteman dengan wanita secantik dan sekeren kamu" Sahut Kiana.
"Jangan mengobrol lagi! Ayo kita bermain layang-layang!" Teriak Kendra yang sudah berdiri di tengah taman.
"Baiklah!" Teriak Agni dan Kiana secara bersamaan sambil berlari dan tertawa lepas.
Kendra, Kiana, dan Agni asyik bermain layang-layang di saat Agha masih menikmati sarapan sendirian di kamar pribadinya.
__ADS_1
Tiba-tiba Agni berbisik di telinga Kiana, "Apa Kak Agha memperlakukan Kakak ipar dengan baik? Kalau tidak aku akan hajar Kakak laki-laki ku yang kaku itu"
Kiana terkekeh geli dan berkata, "Kakak kamu baik, kok"
Iya, dia baik dan cukup sopan sama aku. Cuma, ya, gitu, deh, dia aneh. Apalagi pas dia mabuk semalam Aduh! Aneh banget. Batin Kiana sambil mengulum bibir menahan geli.
Tiba-tiba terdengar teriakannya Kendra, "Kak! Layang-layang ku telsangkut (tersangkut) di pohon"
Agni dan Kiana menoleh kaget ke Kendra. Mereka berdua kemudian berlari secara bersamaan ke arah Kendra yang tengah berdiri di depan pohon alpukat madu yang cukup tinggi yang ada di sisi timur taman bunga.
"Wah, cukup tinggi juga" Sahut Agni sambil mencari cara mengambil layang-layang itu karena dengan ilmu meringankan tubuh yang ia kuasai masih belum bisa menjangkau layang-layang itu. Sedangkan untuk.memanjat pohon itu, dia takut terkena gigitan ratusan semur merah besar yang menghuni pohon alpukat madu itu.
Saat Agni menoleh ke Kiana untuk berembuk cara mengambil layang-layang tersebut, Kiana tidak ada lagi di sampingnya.
"Kak! Jangan manjat pohon! Bahaya!" Teriak Kendra.
Agni pun sontak berteriak, "Iya, Kak! Cepat turun ada semut merah besar di sana dan kalau digigit sakitnya minta ampun"
"Aku sudah biasa dan sudah ahli soal manjat memanjat. Kalian jangan khawatirkan aku!" Teriak Kiana sambil terus memanjat pohon alpukat madu itu.
Saat Kiana berhasil mendapatkan layang-layang itu, Agni dan Kendra yang terus mendongak sedari awal Kiana memanjat pohon itu, langsung melompat dan berteriak secara bersamaan, "Yeaaayyy! Kak Kiana hebat!"
Namun, ada seekor burung terbang melintasi Kiana secara dadakan dan membuat Kiana hilang keseimbangan.
__ADS_1
Agha yang baru saja masuk ke taman bunga, sontak berlari dan menghentakkan kakinya saat ia melihat Kiana terpeleset dari ranting pohon. Dengan ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat, Agha berhasil terbang ke atas dan menangkap tubuh istri kecilnya. Agha berhasil menapakkan telapak kakinya dan telapak kaki istrinya di atas rumput.
Suami istri itu kemudian bersitatap dengan posisi masih saling memeluk. Jantung keduanya kembali berdegup kencang dan mereka berdua diam membeku. Tanpa mereka berdua sadari, mereka saling memandang dengan debaran hati yang indah.