
Sementara itu di dunia manusia, Agni berkata ke Bora, "Aku yakin kalau saat ini Kak Kiana dan Kak Agha berada di suatu negri dan itu bukan negri para manusia dan aku sangat yakin dengan ilmu bela dirinya Kak Agha yang disertai kecerdasannya Kak Kiana, mereka baik-baik saja saat ini. Kita tinggal menunggu mereka balik ke sini"
"Iya, semoga begitu" Sahut Bora.
Agni langsung menepuk bahu Bora dan berkata dengan mendelik tajam, "Kalau aku yakin, ya, pasti begitu!"
"Iya, iya, begitu" Sahut Bora sambil mengelus bahunya.
Kiana langsung melompat dari atas ranjang dan berdiri di depan Alvin untuk segera berkata, "Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Vin"
Alaric ikutan melompat dari atas ranjang, menutupi bahu Kiana yang telanjang dia tutupi dengan jubahnya, lalu ia merangkul bahu Kiana, dan berkata, "Ini seperti yang kamu pikirkan, Vin"
Kiana sontak menoleh ke Alaric dan menyemburkan, "Yang Mulia!"
Alaric menoleh ke Kiana, ia tersenyum lalu mendaratkan ciuman di pelipisnya Kiana.
Alvin sontak meringis dan garuk-garuk kepala di depan Kiana dan Alaric dan langsung menyahut, "Untungnya aku tidak memikirkan apapun saat ini, hehehehehe"
Alaric lalu melepaskan Kiana sambil berkata, "Mandilah! Aku akan bicara sama Alvin"
Kiana langsung berlari ke kamar mandi.
Alaric lalu mengajak Alvin berjalan ke ruang depan.
Alvin duduk di bangku dan berkata, "Saya tidak akan ikut campur kehidupan percintaan Anda, Yang Mulia"
"Bagus" Alaric lalu duduk di depan Alvin dan kembali berkata, "Aku ajak Kiana tidur di sini karena aku ingin menjaganya. Kemarin dia hampir saja dicelakai oleh Sofie"
"Oh, begitu. Saya menyetujui keputusan Anda. Saya setuju kalau demi keselamatan Kiana, Kiana tidur di sini" Sahut Alvin.
"Lalu, kenapa Kiana mengajakku meditasi di abwah air terjun perak dan dia membawa pot berbentuk aneh"
"Itu pot untuk menumbuhkan bibit Ganoderma hitam. Ganoderma hitam bisa membuat Anda mengendalikan racun naga hitam yang ada di dalam tubuh Anda, Yang Mulia"
"Aku kena racun naga hitam?"
__ADS_1
"Iya. Dan dengan Ganoderma hitam Anda bisa mengendalikan racun itu karena racun itu, tidak bisa disembuhkan"
"Maksudnya mengendalikan?"
"Anda bisa mendapatkan kembali semua ingatan Anda dan Anda bisa berubah menjadi naga hitam sesuai dengan keinginan Anda. Selama ini Anda berubah menjadi naga hitam kalau pas Anda dikuasai amarah yang sangat besar, kan, Yang Mulia. Nah, Ganoderma hitam itu hanya bisa ditumbuhkan dengan cara meditasi berdua di depan pot yang ada bibit Ganoderma hitam itu"
"Kenapa Kiana? Kamu, kan, bisa meditasi denganku?"
"Karena yang mampu menahan energi yang ada di dalam diri Anda hanyalah Kiana. Karena Kiana saya amati bahwa dia memiliki rasa cinta tulus pada Anda"
"Oh, begitu" Alaric tersenyum senang mendengar kata cinta tulus yang Kiana rasakan.
"Sekarang saya akan memeriksa kesehatan Anda dan setelah itu Anda bisa minum tonic-nya mumpung tonic-nya masih hangat"
"Hmm" Sahut Agha sambil mengulurkan tangannya di atas meja.
Sambil memeriksa kesehatannya Alaric, Alvin berkata, "Saya juga sudah menyelidiki siapa Anda sebenarnya. Di dunia manusia Anda adalah Agha. Agha adalah seorang Jenderal besar kesayangannya kaisar Abinawa. Saya yakin keluarga Anda pasti tengah mencari Anda saat ini. Jadi, besok saya akan menyuruh utusan yang saya percaya untuk mengirimkan pesan ke keluarga Anda kalau Anda ada di sini sementara"
"Terima kasih, Alvin. Kau sudah banyak membantu aku dan Kiana. Terima kasih banyak" Ucap Alaric.
"Tidak usah berterima kasih, Yang Mulia. Ini saya lakukan karena saya, menyukai Anda dan Kiana. Saya juga merasa perlu menolong Anda dan Kiana kembali ke dunia manusia karena ini bukan dunia untuk Anda dan Kiana. Lagipula ada Sofie di sini. Saya tidak ingin Kiana dicelakai Sofie"
"Dia wanita yang sangat jahat. Saat ini saya masih menyelidiki kematian Paman saya, Jenderal Luis. Jenderal kerajaan bunga yang kematiannya masih misterius bagi saya"
"Siapa Jenderal Luis?"
"Jenderal Luis adalah suaminya Sofie sebelum Anda"
"Hah?!"
"Saya juga sedang mencari cara agar Anda dan Kiana diijinkan balik ke dunia manusia tanpa pertempuran dengan para tetua karena para tetua pasti tidak mengijinkan raja mereka pergi"
"Kalau harus bertempur aku tidak masalah. Cuma Kiana pasti tidak menyukai hal ini. Dia wanita pecinta kedamaian" Sahut Alaric.
"Iya" Sahut Alvin.
__ADS_1
"Siapa pecinta kedamaian?" Tanya Kiana yang muncul tiba-tiba di tengah-tengahnya Alaric dan Alvin.
Alvin hanya meringis di depan Kiana.
Dan Alaric langsung bangkit berdiri dan berkata, "Aku akan mandi dan katakan ke semua dayang mulai hari ini dan seterusnya mereka tidak usah mendadani aku"
"Lalu, siapa yang mendandani Anda, Yang Mulia?"
Alaric mendaratkan ciuman di pucuk kepala Kiana lalu ia berjalan ke kamar mandi sambil berkata, "Kamu yang mendandani aku"
"Hah?!" Kepala Kiana sontak mengikuti arah perginya Alaric.
Alvin langsung menyahut, "Sekarang aku akan umumkan ke semuanya kalau kamu adalah perkataan pribadinya raja Alaric. Kamu tidak boleh pergi jauh dari sisi raja Alaric. Mengerti?! Di luar sana sangat berbahaya"
"Hmm" Sahut Kiana sambil manggut-manggut.
"Jangan hanya menyahut hmm dan manggut-manggut! Harus benar-benar kamu laksanakan. Kamu, kan, suka bertindak sesuka hati kamu dan mengabaikan bahaya mengancam yang ada di sekeliling kamu"
"Iya. Aku nggak akan bertindak sesuai hari kali ini" Sahut Kiana.
"Bagus" Alvin mengusap pucuk kepalanya Kiana.
Kiana menggenggam tangan Alvin dan berkata, "Terima kasih banyak, Vin"
Alvin kemudian bangkit berdiri dan berkata, "Aku balik dulu ke paviliun. Setelah itu aku akan menghadap para tetua untuk mengumumkan bahwa kamu sekarang ini adalah pelayanan pribadinya raja Alaric. Setelah itu aku akan suruh pelayan membawa baju kamu yang masih ada di paviliunku ke sini" Sahut Alvin.
"Hmm" Sahut Kiana sambil bangkit berdiri dan mengulas senyum lebar.
Saat Alvin menutup pintu, Kiana tersentak kaget karena Alaric memeluk pinggang ramping Kiana dari arah belakang dan pria tampan itu mendaratkan dagu di atas pundak Kiana. Lalu, pria tampan itu mencium telinga Kiana dan berbisik di sana, "Iya, ada tanda lahir di pantatku. Bentuknya lucu, emm, seperti........"
"Burung merpati yang tengah terbang" Sahut Kiana.
Alaric mencium kembali telinga Kiana dan berbisik di sana, "Iya, benar. Kau hapal betul bentuknya. Apa kau sering melihat tanda lahir di pantatku?"
Kiana sontak memukul pelan tangan Alaric yang menempel di atas perutnya sambil berkata dengan nada malu, "Yang Mulia!"
__ADS_1
Alaric kemudian menyusupkan wajahnya ke leher Kiana dan berkata, "Dandani aku sekarang! Kalau aku tidak harus segera menghadap para tetua, aku akan menciumi wajah cantik kamu sampai puas saat ini, Kiana"
Kiana Kembali menepuk pelan tangan Alaric sambil berkata dengan nada malu, "Yang Mulia!"