
Kiana tersentak kaget saat ia merasakan tangan Agha menahan lengannya.
"Ada apa, Mas?" Tanya Kiana dengan wajah panik.
Agha tersenyum jahil lalu menari Kiana masuk ke dalam pelukannya dan langsung berkata sebelum Kiana menyemburkan protes, "Aku tiba-tiba ingin mengulang masa lalu"
"Mengulang masa lalu yang mana, Mas?"
"Saat kita berciuman di sini" Sahut Agha dan setelah berkata seperti itu, Agha langsung mengajak istrinya berciuman.
Kiana hanya bisa menyerah kalah mengikuti kemauan suaminya.
Sementara itu di dalam istana, Raja mulai merasakan kesehatannya menurun sejak Adnan menyuruh pelayan pribadinya raja mencampur obat dari Adnan ke dalam teh hijau yang biasa diminum oleh raja di pagi dan malam hari.
Saat pelayan pribadinya raja bertanya obat apa, Adnan menjawab kalau itu obat untuk menjaga stamina tetap prima.
Obat yang Adnan berikan ke ayahandanya adalah jenis racun yang tidak berwarna dan tidak memiliki rasa. Racun itu Adnan pesan secara sembunyi-sembunyi dari tabib sesat yang secara ridak sengaja ia kenal di tengah hutan.
Racun itu membuat orang yang mengonsumsinya lama kelamaan akan mengalami kelumpuhan dan setelah mengalami kelumpuhan tidak lama kemudian orang yang mengonsumsi racun itu akan mengalami gagal jantung lalu meninggal dunia.
Satu bulan. Adnan membutuhkan satu bulan untuk menjatuhkan ayahandanya dan merebut tahta ayahandanya.
Raja tiba-tiba jatuh dan terduduk di tepi ranjang saat raja merasakan kedua kakinya mengalami kesemutan.
Pelayan pribadinya raja spontan berteriak kaget, "Anda kenapa Yang Mulia?"
"Nggak papa. Keluarlah! Aku mau tidur" Sahut raja.
Kasim setia yang selalu berada di samping raja sejak raja naik tahta berpuluh-puluh tahun silam itu berkata, "Tapi, permaisuri ada di depan. Permaisuri ingin menemani Anda malam ini, Yang Mulia"
"Malam ini adalah malam peringatan kematian mendiang ratu dan putraku. Aku tidak ingin ditemani siapa pun malam ini. Seharusnya permaisuri tahu. Kenapa dia malah minta menemani aku malam ini? Apa dia sudah lupa malam ini peringatan kematian mendiang ratu dan putraku?" Raja berkata sembari memukul-mukul pelan kedua pahanya secara bergantian.
"Mungkin permaisuri ingin menghibur Anda malam ini, Yang Mulia" Sahut Kasim pelayan setianya raja.
"Keluarlah dan bilang pada permaisuri kalau aku tetap ingin sendirian di malam peringatan kematian mendiang ratu dan putraku"
"Baik, Yang Mulia. Saya pamit" Sahut pelayan pribadinya raja.
__ADS_1
Sesampainya di depan pintu dan setelah menutup pintu, pelayan pribadinya raja langsung membungkukkan badan di depan permaisuri lalu berkata, "Maaf, Permaisuri. Raja ingin sendirian malam ini"
Permaisuri mendengus kesal lalu berbalik badan untuk kembali ke paviliunnya sambil membatin, kenapa raja masih saja mengingat mendiang ratu dan putranya. Sejak mendiang ratu meninggal dunia, raja jarang berkunjung ke paviliunku dan jarang mengijinkan aku menemani beliau. Masih mending aku dikunjungi oleh raja karena aku memiliki putra mahkota. Selir lainnya bahkan tidak pernah dikunjungi raja. Ternyata raja masih sangat mencintai mendiang ratu. Sial! Mendiang ratu sudah lama mati tapi masih saja mampu membuatku kesal dan cemburu.
Setelah tertidur selama dua jam, raja tiba-tiba bangun dan langsung duduk di tengah ranjang dengan wajah penuh air mata. Setelah sekian puluh tahun lamanya baru di malam ini raja bermimpi bertemu dengan mendiang ratu yang sangat ia rindukan dan mendiang ratu berjaya di dalam mimpinya sang raja, "Putra kita masih hidup. Carilah dia sebelum waktu Anda di dunia ini habis, Yang Mulia"
"Apa maksud ucapan kamu, Jelita? Apa benar putra kita masih hidup atau yang barusan hanya Allah sebuah bunga tidur saja karena kau sangat merindukan kamu saat ini. Jelita aku akan tidur kembali dan datanglah lagi ke dalam mimpiku, ya?! Dan jelaskan lagi soal putra kita" Gumam raja sembari merebahkan kembali kepalanya di atas bantal.
Sementara itu, setelah menempuh perjalanan selama satu jam lebih, Bora, Agni, dan Maharani turun dari kereta kuda karena Agni tiba-tiba merasa lapar.
Bora, Agni, Maharani dan pelayan pribadinya Maharani, lalu melangkah ke sebuah kedai mie yang buka di sore hari sampai dini hari.
Karena ada banyak orang di kedai tersebut, Bora melepaskan tangan Agni yang dia genggam sejak ia membantu Agni turun dari atas kereta kuda.
Agni dan Bora naik kereta milik keluarga Caraka sedangkan Maharani memilih menaiki sendiri kereta kuda milik keluarganya.
Bora yang memiliki karakter hampir mirip dengan Agha itu yakni, selalu canggung untuk pamer kemesraan di depan umum, seketika membuat Agni kesal karena Bora dengan santainya melepaskan pegangan tangannya begitu saja padahal Agni masih menginginkan tangan Bora menggenggam hangat tangannya.
Agni langsung cemberut dan menghentikan langkahnya sambil menahan lengan Bora.
Agni tersenyum lebar lalu berjinjit sedikit dan mencium pipi Bora.
Bora mendelik kaget dan sontak bergumam lirih, "Ada Non Rani dan ada banyak orang di kedai mie"
"Kenapa memangnya kalau ada Rani?" Agni berkata dengan suara cukup keras sambil melirik Maharani karena Agni, memang menginginkan Maharani mendengar ucapannya. Dia ingin Maharani berbalik badan dan dia akan menunjukkan ke Maharani betapa ia dan Bora saling mencintai dengan dalam.
Bora kembali mendelik kaget dan membungkam mulut Agni dengan telapak tangan kanan sambil bergumam lirih, "Ada banyak orang juga di kedai mie"
Agni mengerjap jenaka dan menarik tangan Bora dari mulutnya.
Maharani langsung menghentikan langkahnya karena ia merasa terganggu namanya dipanggil Agni dengan nada ketus. Maharani bergegas berbalik badan untuk menyemburkan protes ke Agni.
Maharani seketika membeku dan tidak jadi menyemburkan protes saat ia melihat Agni mencium bibirnya Bora. Bora tampak membeliak kaget, namun Bora tidak menolak ciumannya Agni.
Gila! Agni sengaja pamer ke aku, nih, kalau dia sudah punya pacar dan sengaja menunjukkan ke aku kalau Bora adalah pria yang tepat untuk Agni. Dasar menyebalkan, huh! Batin Maharani.
Karena kesal dan iri, Maharani memilih duduk di meja yang terpisah dengan Agni dan Bora. Maharani makan dengan ditemani pelayan pribadinya.
__ADS_1
Maharani melirik Bora dan Agni yang terus saja bercanda dan saling menyuapi. Maharani yang belum pernah berpacaran langung mengepalkan tangannya dan bergumam kesal, "Dasar tukang pamer! Lihat saja sebentar lagi aku akan kasih lihat ke kalian berdua kalau aku akan segera menikah dengan Kak Agha dan kalian akan aku pamerin kemesraanku dengan Kak Agha"
Empat puluh lima menit kemudian setelah selesai makan di kedai mie, Bora, Agni, Maharani, dan pelayan pribadinya Maharani, kembali ke kereta kuda mereka masing-masing.
Satu jam setelah melakukan perjalanan darat dengan kereta kuda, Bora, Agni, Maharani dan pelayan pribadinya Maharani sampai di kediamannya Caraka.
Maharani langsung berlari ke kamarnya karena jengah dan iri saat ia teringat kembali kejadian di kedai mie, ia mendengar dan melihat Agni terus pamer kemesraan dengan Bora.
Sementara itu Bora kembali membeliak kaget saat Agni kembali mencium bibirnya. Sebelum Agni memperdalam ciumannya, Bora mendorong pelan kedua bahu Agni samb berkata, "Ada bunyi langkah kaki mengarah ke sini"
Bora kemudian membeku untuk mempertajam telinganya karena ia merasa bunyi derap langkah kaki itu adalah bunyi derap langkah kaki yang sangat ia kenal.
Bora berbalik badan dan menunggu kemunculan orang si pemilik derap langkah kaki yang terdengar tidak asing di telinga Bora sambil bergumam, "Apakah benar Yang Mulia Agha akan muncul sebentar lagi? Semoga saja benar. Semoga kali ini benar"
"Hah?! Kak Agha? Kau mendengar bunyi derap langkah kakinya Kak Agha?" Pekik Agni kaget.
Bora mengangguk secara perlahan karena ia takut kalau itu hanyalah ilusinya dan dia takut dikecewakan lagi oleh telinganya.
Agni langsung tertawa renyah dan menepuk pundak Bora lalu berteriak riang, "Ternyata kali ini telinga kamu benar, Bora! Itu Kak Agha dan Kak Kiana! Kak Agha! Kak Kiana!" Agni langung melambaikan tangannya sambil melompat-lompat kegirangan sedangkan Bora mengusap titik air mata yang jatuh di pipinya. Bora kemudian tersenyum lebar diiringi rasa syukur yang ridak terkira. Dia masih bisa melihat junjungannya pulang dengan selamat.
Kiana langsung melesat berlari dengan wajah ceria ke Agni. Agni pun melakukan hal yang sama. Lalu kedua gadis cantik itu saling berpelukan kemudian melompat-lompat secara bersamaan dengan tawa renyah. Kiana terus melompat-lompat sambil berteriak, "Aku sangat merindukan kamu, Agni!"
Agni yang juga terus melompat-lompat dan tertawa ikutan berteriak, "Aku juga sangat merindukan kamu, Kakak ipar!"
Agha tertawa lebar melihat Kiana dan Agni saling melepaskan rindu dengan tawa lebar. Agha tanpa sadar menarik Bora ke dalam pelukannya.
Bora yang belum pernah dipeluk oleh Agha sebelumnya sontak membeku di dalam pelukan hangatnya Agha.
Agha pun tersentak kaget dengan sendirinya. Dia heran pada dirinya sendiri kenapa dia bisa memeluk Bora dan karena sudah terlanjur memeluk Bora, maka dengan kaku ia menepuk punggung Bora sebanyak satu kali sambil berkata, "Syukurlah kamu baik-baik saja" Lalu, Agha mendorong dada Bora dengan canggung.
Bora menautkan kedua alisnya di depan junjungannya lalu berkata, "Bukankah seharusnya saya yang berkata begitu, Yang Mulia? Anda dan Nyonya muda ke mana aja selama ini dan syukurlah kalian berdua baik-baik saja"
"Kita ke kamarku. Aku akan ceritakan semua di sana" Sahut Agha sambil berputar badan lalu melangkah mendahului Bora, Agni, dan Kiana.
"Baiklah. Saya juga punya banyak cerita yang ingin saya sampaikan ke Anda, Yang Mulia" Sahut Bora sambil bergegas mengekor langkah lebar junjungannya.
Kiana dan Agni menghentikan lompatan-lompatan kecil mereka lalu dengan saling merangkul bahu, Agni dan Kiana melangkah lebar mengekor langkah Bora dan Agha.
__ADS_1